Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 24


__ADS_3

Tracy sontak merasa ia telah salah bicara saat raut wajah Louis berubah keras.


“Sorry… kalau aku—“


“Hey, santai saja.” Louis mendesis, dan memasukan buku terakhir dari box kedua ke rak sebelum ia duduk kembali dan menghadap ke arah Tracy. Sinar bulan yang masuk dari jendela di belakang Tracy menyinari wajah Louis, membuat Tracy dapat melihat jernihnya mata biru Louis yang membuatnya semakin merasa tenang.


“Kalau pertanyaanmu begitu…” Louis menghela napas. “Aku juga kurang bisa menjawab. Kata orang kalau seseorang jatuh cinta itu katanya dunia serasa milik berdua. Tapi pengalamanku tidak begitu.”


Louis tertawa kecil dan mematahkan keseriusannya sendiri. “Ah sorry Manson, tapi kurasa kisahku terlalu gelap untuk bisa disebut kisah cinta.”


“Hey, santai saja.” Kali ini Tracy meniru kata-kata Louis. “Kau kan yang tadi bilang kau malas pulang. Kau bisa cerita apa saja padaku. Aku juga bukan tukang gossip, aku di rumah sendirian, aku tidak punya pacar, teman gossipku hanya Violetta tapi kurasa kita akan jarang gossip sekarang.”


Louis tersenyum mengejek. “Aku jadi ingat genjatan senjata kita kemarin.”


Tracy tertawa kecil, memeluk lututnya dan membaringkan kepalanya disana. “Aku juga.”


“Baiklah.” Louis menghela napas danmenegakkan posisi duduknya. “Asal kau tahu, Manson. Aku juga tinggal sendiri, bukan tukang gossip juga. Aku mau membuat sebuah penawaran padamu.”


Tracy hanya mengangkat alisnya, tidak menjawab,


“Setiap kali salah satu dari kita ada yang bilang…” Louis menengok ke arah kiri dan kanan, dan matanya berhenti pada buku-buku Tracy di rak. “Novel.” Lanjut Louis. Tracy menahan tawanya. Lelaki itu benar-benar punya sisi kekanak-kanakan.


“Itu berarti pembicaraan yang terjadi setelahnya adalah rahasia diantara kita saja, dan pembicaraan itu harus diterima lawan bicara dengan pemikiran yang seterbuka mungkin.”


Tracy menunggu Louis melanjutkan, tapi sepertinya itu saja yang mau ia katakan.


“Oke. Kau bisa percaya aku.” Tracy menyodorkan jari manisnya ke arah Louis. Kali ini Louis yang merasa hal ini


kekanak-kanakan, tapi ia menyambutnya.


“Oke, kalau begitu, kau juga bisa percaya aku. Novel. Sekarang aku mau cerita.” Louis membenarkan posisi duduknya, menyingkirkan dua box kosong di depannya ke samping—tidak lupa menumpuknya dengan rapi—lalu bergeser mendekat ke rak buku untuk bersandar. Tracy juga sedikit mundur untuk bersandar pada sofanya. Pantatnya mulai terasa sakit duduk di lantai yang keras dan dingin, padahal Tracy punya sofa yang nyaman dan hangat tapi mereka berdua sedang terlalu seru untuk peduli.


“Jadi begini. Aku pernah pacaran sekali.”


“Bohong.” Belum sepuluh detik pembicaraan berlangsung, Tracy sudah benar-benar merasa akan dikerjai oleh Louis. Padahal tidak seperti itu maksudnya.


“Sumpah, Manson, aku benar-benar hanya pernah punya satu pacar.” Louis menahan tawa, “Memang sih, maksudku kemarin kau kan bilang aku ini tinggi dan ganteng, jadi kau pasti berpikir tidak mungkin aku ini—“


“Sudah, lanjutkan saja. Kau hanya pernah pacaran sekali, lalu mana pacarmu itu sekarang?”


Tawa Louis terhenti dan senyum itu pelan-pelan memudar. “Namanya Lisha. Aku bertemu dengannya di universitas, tapi kami beda jurusan. Aku ada di DKV, dan dia ambil jurusan Ilkom. Tapi kami punya satu hobi yang sama.”


“Fotografi?” Tebak Tracy. Mata Louis menatap Tracy, lalu ia mengangguk, sebelum sekali lagi menatap kosong ke lantai di sebelah Tracy.


“Jadi kami dan tim klub fotografi kampus sering jalan-jalan keluar untuk cari foto bareng, kurang lebih tim yang selalu aktif ada lima, salah satunya sahabat dekatku, namanya Grant.”


Tracy mengangguk-angguk kecil. Matanya terus mengikuti pergerakan bola mata Louis yang indah tersorot sinar bulan itu, tapi Tracy tetap mendengarkan.


“Saat itu aku masih kecil, aku masih Sembilan belas tahun, dan saat itu akhirnya aku memutuskan, mungkin sudah waktunya aku belajar soal cinta-cintaan.” Louis tertawa kecil. “Bukannya aku tidak laku Manson, sumpah, tapi aku dulu kutu buku. Aku anak paling tua di keluargaku, jadi cepat atau lambat aku akan jadi tulang punggung keluarga kan? Dan aku jujur saja bukan orang yang peka. Setiap kali aku tahu ada perempuan yang suka padaku, perempuan itu sudah jadian dengan laki-laki lain, atau sudah entah ada dimana.” Louis tertawa lagi, kali ini mata Tracy menatap ke arah lesung pipinya dan ikut tersenyum, membayangkan rupa Louis yang masih kecil,


memakai kacamata dengan potongan rambut mangkok. Tracy tersenyum sedikit lebar, setelah ini ia akan mengingatkan dirinya sendiri untuk memaksa Louis menunjukkan fotonya waktu masih kecil.


“Aku juga pernah suka pada anak-anak perempuan di sekitarku tentunya, tapi tidak pernah ada yang benar-benar

__ADS_1


berkesan. Karena buatku…” Louis mendesis, “Alasan suka pada seseorang hanya karena mereka cantik, baik, pintar, dan segalanya itu omong kosong—setidaknya di pikiranku yang mungkin seperti sastrawan juga.”


“Jadi buatmu alasan suka itu apa?” Mata Louis kembali naik untuk menatap Tracy, Tracy suka saat mata itu bersibobok dengannya.


Louis mengangkat bahunya.  “Entahlah. Maksudku kalau kau bisa menyebutkan karena kau suka pada seseorang karena suatu hal, ketika orang itu berubah lalu apa yang akan kau lakukan? Jadi di masa-masa itu aku menganggap cinta itu bohongan. Cinta itu karangan orang dewasa dan orang-orang dunia hiburan.”


“Hm.. masuk akal. Lalu apa yang membuatmu bisa mencintai Lisha?” Sahut Tracy singkat. Lagi-lagi raut itu kembali, sebuah ekspresi pahit yang Tracy tidak bisa artikan dengan mudah.


“Aku juga tidak bisa bilang ini cinta, setelah aku mencoba untuk membuka diri pada Lisha—yang waktu itu ya kudekati hanya karena dia oke dalam segala hal. Lisha lumayan manis, sopan dan baik, nilainya juga oke. Tapi paling penting, aku merasa nyaman saat aku bicara dengannya. Seolah-olah ia selalu mendengarkan, membuatku merasa…. Penting.”


Tracy mengangguk-angguk. Ia mengerti perasaan itu.


“Tapi setelah aku pacaran dengan Lisha, pertemananku dengan Grant jadi merenggang. Aku tidak tahu apa karena ia memang hanya sekadar tidak nyaman jadi nyamuk saat kami jalan berdua, atau dia suka pada Lisha—“


“Mungkin dia suka padamu.” Tracy menyela. Louis hampir tersedak ludahnya sendiri.


“Tracy!” Louis tertawa. “Diam dan dengarkan.” Tracy menjawabnya dengan anggukan sambil menahan tawa.


“Mendadak sulit saja buatku untuk bisa kembali dekat dengan Grant, padahal kami betul-betul dekat, dan tidak ada


alasan yang membuatnya harus merasa canggung diantara kita. Aku, Lisha dan Grant sudah sering main bertiga saja sebelum kami pacaran, jadi aneh kalau ia merasa canggung sekarang.”


“Lalu?” Gumam Tracy.


“Yah, singkat cerita selama ini Lisha itu friends with benefitnya Grant.”


Tracy mengangkat kepalanya dari lututnya dan seketika mulutnya menganga. “Sumpah?”


Tracy menggeram. “Wow! Lalu?”


“Hebatnya ternyata bukan hanya Grant yang jadi lelaki simpanan Lisha, ada satu cowok lain, yang jelas-jelas bukan anak baik-baik, namanya Darius. Ia salah satu preman dan mahasiswa abadi di kampus kami. Tapi kalau cowok itu sih jelas-jelas di tipu Lisha yang janji akan menikah dengannya setelah ia lulus dan puas main-main denganku.” Louis menutup wajahnya dengan tangannya dan menggeram.


“Arrghh aku merasa bodoh.”


“Tapi setelah itu setidaknya kau tahu kan rasanya mencintai orang lain?” Tracy tidak melupakan intinya, karena itulah yang ia perlukan untuk bahannya menulis.


“Entah, Trace.” Louis melepaskan tangannya yang menutupi wajah. “Saat aku bersama Lisha, aku hanya merasa


senang. Deg-degan wajar kalau kami sedang mesra-mesraan, tapi ya sudah, hanya sebatas itu. Tidak ada kecemasan berlebihan saat dia menghilang—kalau terlalu lama, seperti tiga, empat hari tanpa kabar ya aku pasti akan mencarinya—tidak ada rasa cemburu ataupun posesif saat ia digoda cowok lain.”


“Mungkin karena kau yakin sekali kau pasti menang dari cowok-cowok lain itu.” Maksud Tracy ingin menyebut laki-laki itu narsis, tapi sepertinya maksudnya tidak sampai pada Louis.


“Tidak, Trace, aku hanya… merasa kalau hubungan kami memang sedang baik-baik saja ya tidak akan ada kemungkinan putus di antara kami.”


“Tapi kau sakit hati kan ketika tahu kenyataannya?”


Louis terdiam beberapa saat.


“Hm… aku hancur tentu saja. Tapi aku pikir aku hancur karena aku merasa rasa kepercayaan yang aku berikan pada Grant dan Lisha digunakan semena-mena. Aku jadi satu-satunya orang di lingkaran terdekatku yang tidak tahu apa-apa, ketika mereka berdua mungkin cekikikan di belakangku, mentertawakan kepolosanku.” Louis tertawa pahit. “Pada akhirnya aku hanya bisa bilang, ah sial ternyata kenyataannya perasaanku yang dimainkan wanita lain, dan bukan aku yang main-main dengan perasaan orang.”


“Wah…” Tracy terkesima. “Berarti masih ada di dunia ini seorang laki-laki yang belum pernah mematahkan hati seorang wanita, dan itu kamu.”


Louis mendengus, “Ya, tidak begitu juga. Kurasa gadis-gadis yang suka padaku di masa-masa SMP dan SMA lumayan patah hati mengira aku sok berstandar tinggi dan tidak tertarik pada mereka, padahal aku tidak sadar juga mereka suka padaku.”

__ADS_1


“Lalu di belakang mereka pasti gossip tentang bagaimana kau pilih-pilih soal cewek. Beberapa di antaranya


jangan-jangan malah menebar gossip kalau kau gay. Diam-diam reputasimu jelek di antara cewek-cewek SMP dan SMA-mu.”


Louis tertawa. “Ah ya sudahlah, biarkan saja. Gay nggak sih, aku sudah pastikan aku sama sekali tidak punya ketertarikan pada kaumku sendiri.” Louis bergidik. “Tidak, aku yakin.”


“Yang benar? Matamu sering berbinar-binar lho saat melihat Jasper, jangan kira aku tidak lihat.” Tracy bercanda, dan Louis dengan cepat mendengus kesal.


“Manson! Jangan mulai gossip yang aneh tentangku sekarang, atau kita musuhan lagi.”


“Iya deh kawan, maafkan aku ya. Jadi intinya percakapan ini sedikit banyak tidak bisa membantuku menulis buku kan?” Tracy menghela napas. Sudah ia duga. Yah, tidak juga, tapi kemungkinan ini sempat ia pertimbangkan.


“Jangan membuatku merasa bersalah. Lagipula ceritaku belum berakhir di sana.”


“Hm?” Tracy menegakkan duduknya, penasaran dengan kelanjutan cerita kelam Louis yang berakhir lumayan tragis


itu.


“Singkat cerita ada orang yang masih berpihak padaku—salah satu rekan klub fotografi—yang tidak sengaja mengambil foto Grant dan Lisha sedang bermesraan. Foto itu kujadikan bukti untuk mengkonfrontasi Lisha. Lisha akhirnya mengaku, setelah kuancam dengan omong kosong kalau aku punya foto-foto yang lebih parah dan kalau ia tidak mau menceritakan semuanya padaku aku akan pasang foto itu di papan pengumuman sekolah dan seluruh media sosial. Lisha menceritakan semuanya dan aku memutuskan hubungan dengannya saat itu juga, tapi ternyata Lisha punya rencana lain.”


Tracy mencoba untuk membayangkan Lisha. Awalnya di kepalanya ia membayangkan seorang perempuan berambut bob pendek yang manis, tapi karena sekarang karakternya berubah, Tracy bingung seperti apa karakter Lisha yang perlu ia bayangkan.


Louis lalu melanjutkan. “Ternyata ia benar-benar mau aku menjalankan hubungan serius dengannya, bahkan ia ingin menikah denganku. Katanya ia sudah suka padaku semenjak SMA, padahal aku tidak ingat pernah bertemu dengan orang sepertinya.”


“Tapi dia memang anak SMA-mu?”


“Ternyata memang begitu, tapi kami tidak pernah sekelas jadi aku juga tidak terlalu hafal wajahnya. Ketika mendengar nama Lisha aku tahu ada anak di SMA-ku bernama Lisha tapi kukira mereka dua orang yang berbeda.” Louis menghela napasnya. “Lalu setelah aku menolaknya—camkan ya—baik-baik, dia menangis, memohon untuk diberikan kesempatan, lalu aku menjelaskan panjang lebar padanya dengan kata-kata terbijak yang bisa dikeluarkan seorang anak umur Sembilan belas dan lalu meninggalkan dia di ruang klub menangis sendirian, karena aku juga kelabakan, bingung harus kuapakan lagi.


“Tapi setelah itu mulai banyak ancaman-ancaman dan terror-terror yang dikirimkan untukku. Mulai dari paket


berisi bajuku yang disobek-sobek—baju ini entah dia dapatkan dari mana, atau memang baju ini pernah kupinjamkan padanya aku tidak ingat—dan disana ada bekas lipstick Lisha yang ia tinggalkan dengan sengaja. Lalu mulai ada foto-foto aneh juga masuk ke e-mailku.”


“Foto-foto mesum maksudnya?” Tracy terus melemparkan candaan-candaan untuk menyela cerita menyeramkan ini setiap mata Louis mulai terlihat dingin dan sedih. Lama-lama Tracy juga bisa merasakan apa yang ia rasakan.


“Bukan.” Louis tertawa kecil. “Foto-foto boneka beruang yang disobek kepalanya, lalu dilumuri cat merah. Lalu foto


pergelangan tangan Lisha yang ia sayat-sayat. Lalu foto namaku di tulis di kaki Lisha dengan menggunakan pisau.” Louis bergidik, memegang kepalanya. “Aku hampir gila waktu itu, makanya aku keluar dari klub fotografi, memaksakan mengambil semester pendek agar kuliahku cepat selesai dan segera pindah ke tempat yang jauh, mengganti nomor teleponku, mengganti suasana baru.”


Hati Tracy terasa sakit. Apakah perempuan itu gila?


“Lalu setelah itu semuanya berhenti?”


Louis mengangguk-angguk. “Ya. Tapi tentu saja aku sempat trauma beberapa saat, kalau bukan karena Jasper, aku mungkin tidak akan pernah kembali lagi ke fotografi.”


Tracy menyeringai jahil. “Tuh kan. Kurasa memang kau belum mengerti cinta saja dan sekarang kau sebenarnya sedang jatuh cinta pada Jasper. Aku tidak akan judgemental, Louis tenang saja, aku mendukung LGBTQ+ sepenuhnya, kejarlah dia.”


Louis memicingkan matanya pada Tracy.


“Dia sudah tunangan, Tracy.”


“Ah, sayang sekali ya, andai saja Jasper masih lajang.”


“Betul sekali.”

__ADS_1


__ADS_2