
Violetta bilang akan makan waktu 12 jam untuk melakukan penerbangan ke Jepang, dan mereka memutuskan untuk mengambil jadwal sore, agar tim bisa sampai subuh-subuh di Jepang. Keberangkatan mereka pukul tiga sore, dan Tracy sudah duduk di kafe bandara semenjak pukul satu. Seperti biasa laptopnya terbuka dan earphonenya tersambung ke ponselnya yang tertidur di samping laptop.
“Iya, jadi begitu ceritanya. Semoga kamu nggak terlalu kesepian aku pergi ke Jepang.” Trace terkikik sendiri mendengar kalimatnya. Di sisi lain, Steve menjawab.
“Seminggu Trace. Wow, akan terasa seperti satu tahun, aku yakin.”
Trace memutar bola matanya.
“Gombal, Steve. Sudah sampai mana kau baca novelku? Bipolar, maksudku.” Trace berhenti mengetik dan menutup laptopnya. Violetta seharusnya sudah ada di bandara sekarang.
“Sudah selesai, tentunya. Aku terus-terusan berdecak kesal dengan judul yang kau pilih, alur ceritamu itu benar-benar digambarkan seperti bipolar. Tidak akan ada judul lain yang bisa lebih cocok.”
“Oh, sebelumnya aku sempat memikirkan akan menjudulkannya Kutub-kutub Magnet. Tapi entah mengapa kata ‘kutub-kutub’ itu membuatku merinding. Menjijikan.” Trace tersenyum pada suara tawa Steve yang menggelegar, dan ia ikut tertawa kecil. Trace mengirimkan pesan singkat pada Violetta, dan dalam hitungan detik gadis itu langsung membalasnya. Ia sudah sampai dekat pintu keberangkatan mereka. Trace membereskan laptopnya dan memasukannya ke dalam ranselnya yang cukup besar. Semoga saja mereka masih memperbolehkannya membawa tas itu ke dalam kabin.
“Aku bersyukur kau tidak menamai buku itu Kutub-Kutub Magnet. Aku pun akan merinding membacanya.”
Tracy tidak menjawab. Fokusya sedang sibuk merapikan barang-barangnya dan berusaha berdiri dari kursi sofa kafe yang sempit dan menarik kopernya mendekat ke arahnya.
“Kamu sudah mau boarding ya?”
Trace kembali tersadar bahwa ia sedang menelepon seseorang dan ia dengan cepat menjawab.
“Oh, ya, maafkan aku Steve, barang-barang yang kubawa sebanyak seperti aku akan pindah rumah, dan Violetta sudah sampai di dekat pintu keberangkatan. Kurasa aku harus tutup teleponnya sekarang.”
Trace berhenti bergerak ketika ia sudah berhasil keluar dari sofa itu dan menarik pegangan kopernya keluar, dan
menunggu Steve membalas dari seberang telepon.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa bersenang-senang di Jepang dan kirimi aku foto-fotonya.”
“Ok, aku tidak akan lupa, aku janji. Chat aku dan beri tahu aku kau mau kubawakan apa dari Jepang, ya?”
Steve tertawa kecil.
“Santai saja, sampai ketemu ya. Telepon aku kalau kau bosan.”
Trace tersenyum, dan mengangguk kecil kepada dirinya sendiri.
“Baiklah. Bye.”
Setelah Steve menjawab salam perpisahannya, Trace menutup telepon dan dengan cepat berjalan ke arah gate
dimana Violetta sudah menunggu.
“Oh, aku harap kau bisa memaafkan aku yang keras kepala ini. Sungguh aku tidak menyangka aku akan memberikan perkerjaan yang sangat-sangat mendadak ini kepadamu. Kuharap aku tidak terlalu merepotkan.” Kata Violetta sambil melepaskan pelukannya, dan memegang lengan Trace dengan cemas. Trace tertawa kecil dan menepuk-nepuk tangan itu.
“Jangan khawatir, Vi, ini kesempatan besar buatku. Aku harusnya berterimakasih banyak kepadamu karena kau mau memberikan kesempatan ini untukku. Semoga kinerjaku nanti sesuai harapanmu.” Trace memasang wajah bisnisnya. Dia sadar jelas, tim di belakang Violetta bukanlah orang-orang sembarangan.
Violetta mengikuti arah pandang Tracy dan langsung tersadar, “Ah, ya, ini asistenku, Reth, fotograferku, Juan, dan stylistku, Candice. Semuanya, ini Tracy, sahabat baikku.”
Trace menyalami mereka satu-satu. Melakukan hal itu, Tracy menyadari betapa jauh Violetta sudah berevolusi
semenjak Jesca. Satu atau dua langkah lagi, gadis ini mungkin akan bisa mendahului Jesca. Mendadak semangat di dalam Tracy terbakar dan ia merasa ingin mendorong dirinya lebih jauh lagi. Ia tidak mau tertinggal oleh sahabat baiknya sendiri.
Begitu mereka masuk dan duduk di dalam pesawat, Tracy tenggelam dalam film Titanic yang distelnya di pesawat, dan tertidur tidak lama setelah film selesai. Ketika ia membuka matanya, mereka sudah sampai di Kyoto. Pemandangan Jepang yang masih gelap dari atas membuatnya seperti lautan bintang yang warna-warni, membuat Tracy bersyukur setengah mati ia setuju untuk mengambil pekerjaan ini.
__ADS_1
Keluar dari bandara mereka langsung naik taxi dan menuju ke hotel mereka di tengah kota. Violetta menyodorkan kunci hotel pada Trace.
“Hey, maafkan aku, tapi kau tidur sendirian di hotel. Aku akan sekamar dengan Candice karena aku akan siap-siap
lebih awal dari semua tim. Lagipula kupikir akan lebih mudah dan nyaman buatmu kalau sendirian di kamar, karena jadwalku akan sangat padat.”
Trace tersenyum dan mengambil kunci kamarnya dari tangan Violetta.
“Santai saja Vi, kau ini seperti tidak kenal aku.” Violetta hanya membalasnya dengan senyuman, dan kembali membagikan kunci kepada timnya yang lain. Tracy sadar, di titik ini—dan mungkin sampai pekerjaannya di Jepang ini berakhir—Violetta bukan sahabat baiknya, tapi partner kerjanya. Ia pun harus mulai berpikir seperti itu.
“Baiklah, setelah ini kalian bisa mandi dan beres-beres. Jam 6 pagi kita sudah harus berangkat ke Nishijin Textile Center. Acaranya akan mulai jam 10 sampai jam 12, lalu dilanjutkan dengan makan siang di hotel. Yang datang hanya akan ada pemilik Nishijin dan spokespersonnya, serta beberapa investor yang hadir siang ini. Pukul 2 wartawan baru boleh diizinkan masuk, dan konferensi pers akan diadakan di lantai dua, di ruangan meeting VIP. Konferensi baru akan dimulai pukul 3, dibuka dengan pameran kimono sekali lagi, sekali putar saja sekitar lima, enam model dengan kimono-kimono terbaik kita. Jadi setelah show pendek, akan ada sesi foto untuk sekitar lima belas menit.” Violeta merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
“Aku akan kirimkan rundownnya ke semua orang. Ada teman-temanku yang akan jadi panitianya nanti, jadi kalian tidak perlu khawatir.” Ia berkutat dengan ponselnya sebentar, sebelum semua tim Naka mengeluarkan ponsel masing-masing dan memastikan mereka mendapatkan rundown yang dikirim VIoletta.
“Baiklah, mohon di baca dan di pelajari, sebelum kita berjalan ke kamar masing-masing dan beres-beres, apabila ada pertanyaan tolong ditanyakan sekarang, karena nanti kalian tidak akan ada banyak kesempatan untuk bicara denganku. Teman-temanku semuanya berbahasa Jepang, jadi aku rasa tidak perlu merepotkan mereka, mereka tidak akan terlalu mengerti.” Violetta menghela napasnya lalu mengangkat tas kopernya.
“Ayo, kita naik.” Violetta berbalik menuju lift dan Trace dengan cepat menyusul Violetta.
“Vi, apa aku bisa mewawancaraimu sebentar sebelum kita berangkat? Atau kau pikir akan lebih baik kalau aku mewawancarimu setelah pers? Aku perlu informasi soal show milikmu ini untuk memulai artikelnya.”
Violetta memencet tombol lift, lalu menghadap ke arah Tracy.
“Hm… lebih baik sekarang supaya kau tidak perlu kejar-kejar aku setelah show. Mandi saja dulu dan ganti baju, lalu kau ketok saja kamarku. Kamarku tepat di sebelah kamarmu.”
Lift terbuka dan Tracy melangkah masuk sambil melirik jam tangannya.
Pukul setengah empat pagi waktu Kyoto. Perut Tracy juga mulai terasa keroncongan.
__ADS_1