
“Berapa box lagi Trace?” Steve mengerang, sambil menaruh box ke-empat yang ia angkut dari mobil ke kantor Naka.
Hari itu hari Kamis, tapi kantor sudah terlanjur di tutup satu minggu ini karena kepegian Violetta dan akan dibuka
kembali Senin depan. Tapi di tutup bukan berarti tempat itu kosong. Kantor Naka berbentuk ruko tiga lantai, dimana lantai pertama dipenuhi dengan manekin-manekin yang mengenakan gaun-gaun buatan Violetta, dan dua buah meja dengan computer tempat klien duduk dan para staff bekerja. Sedangkan lantai dua adalah foto studio beserta gudang semua koleksi pakaian Naka, yang dipublikasi maupun yang merupakan “percobaan”.
Baru saja ditinggal berapa hari, Tracy merasa kehadiran banyaknya bunga-bunga plastik yang menjadi dekorasi kantor itu membuat udara diselimuti banyak debu. Itulah mengapa Tracy berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga dari lantai dua, mengenakan sarung tangan kain yang dapat ia temukan, dan juga masker. Ia membawa sepasang lagi sarung tangan dan masker yang ia berikan untuk Steve. Lelaki itu mengelap keringatnya sebelum mengambil tawaran Tracy dan tertawa kecil.
“Kotor sedikit bukan masalah, Trace. Santai saja.” Kata Steve yang mengembalikan sarung tangan itu dan mengambil maskernya.
“Tidak, biar kau nyaman. Pakailah, kumohon.” Tracy merasa risih. Ia tahu, yang akan penuh debu adalah tangan Steve, tapi ia bisa membayangkan rasanya.
Steve teratawa kecil dan memakainya, lalu mengulang kembali pertanyaannya.
“Berapa box lagi?” Ia berjalan kembali ke luar ke arah mobil.
“Tiga, kurasa. Apa perlu kubantu?” Tracy mencoba untuk menyusul Steve tapi ia merasa hanya menghalangi jalannya.
“Tidak—perlu—“ Bisik Steve sambil mengangkut box berat lain turun ke kantor Naka. Ia menaruhnya dengan hati-hati dekat box-box lain dan mengatur napasnya.
“Kau mulai bereskan saja satu persatu. Masih ada beberapa barang besar seperti lampu, microwave dan peralatan dapur lainnya yang perlu aku turunkan.” Steve menunjuk box terjauh, dan Tracy hanya bisa nurut.
Gadis itu berlutut di depan boxnya, dan mulai membukanya. Pantas saja berat, tiga box pertama sepertinya dipenuhi oleh buku-buku Tracy dan buku-buku koleksinya. Tracy bersyukur di lantai tiga ternyata ada rak buku yang masih lumayan kosong yang bisa ia pakai. Tracy menghela napas.
“Steve… aku lupa, kamarku ada di lantai tiga jadi kita perlu membawa ini semua ke atas sekarang.” Tracy berteriak agar Steve yang ada di luar bisa mendengarnya lalu terisak—tanpa benar-benar menangis tentunya. “Maafkan aku.”
“Kau perlu bantuan?”
Tracy mengernyit, suara itu bukan suara Steve. Ia mengangkat kepalanya dari buku-buku yang sedang ia bawa nostalgia, dan menemukan sesosok tinggi familiar yang mengagetkannya.
“Louis? Apa yang kau lakukan disini?” Tracy langsung berdiri. Louis mengenakan stelan yang mirip dengan yang ia
kenakan di bandara kemarin. T-shirt polos, dan celana jeans. Tapi yang jelas Tracy yakin jaket dan topi bisbol abu abu yang ia kenakan sekarang adalah jaket dan topi yang sama yang ia kenakan kemarin. Sedikit banyak Tracy mulai menduga kalau alasan di balik keengganan Louis dalam modelling adalah selera fashionnya. Yang ngomong-ngomong tidak jelek-jelek amat, tapi… tidak bagus juga.
“Aku cari Jasper. Dia bilang dia akan datang pukul enam ke kantor Naka, dan aku mau meeting dengannya.” Louis mengangkat tangan untuk melirik arlojinya yang menunjukkan pukul setengah enam lewat beberapa menit.
Tracy mengangkat alisnya. “Yang benar saja? Jasper mau ke sini? Dalam keadaan seperti ini? Kalian mau meeting di mana?”
“Oh, wow, santai Miss Manson, biar kuberi tahu Jasper kita meeting di sebelah saja. Kelly’s masih buka kan?” Louis mulai mengintip kesana kemari, terutama ke dalam dus-dus yang sedang dibuka Tracy.
“Kelly’s?” Mendengar nama kafe di sebelah kantor Naka disebut, bayangan sosis bakar dan kentang tumbuk spesialnya membuat Tracy menelan ludah. “Iya, kurasa buka. Kalau kau berbaik hati bisakah kau belikan sesuatu dari sana? Kalau kau selesai cepat.”
“Tentu saja.”
__ADS_1
Lalu di saat itu, Steve datang sedikit terhuyung, membawa dua box sisanya dengan paksa. Louis dengan cepat menyambar satu dan mengambilnya dari tangan Steve.
“Sudah Trace, tidak per—“ Pandangan Steve yang tadinya tertutup box itu sekarang dapat melihat sosok Louis dengan jelas.
“Oh… hai?” Sapa Steve ragu-ragu. Ia melirik Tracy.
“Hm? Oh… ya, Steve, ini Louis, fotografer Naka, Louis, ini Steve, temanku semenjak SMP.” Tracy sontak merasa canggung. Tapi Louis tidak terlalu menghiraukan kehadiran Steve dan kecanggungan Tracy.
“Hai, kukira kau pacar Tracy.” Kata Louis sambil menaruh box itu di tempat kosong dekat kakinya sambil tetap menatap Steve. Nada bicaranya keterlaluan santai sampai Tracy merasa sedikit kesal. “Maaf, maksudku aku… sempat dengar kalian teleponan kemarin saat di bandara, bukannya aku dan Tracy sering curhat atau apa… aku—“
“Ya, ya, santai saja, Tracy—“ Steve ikut menurunkan boxnya, lalu melirik Tracy canggung saat hendak menjawab pertanyaan itu. “Kami teman. Kami… dekat…jadi…” Steve kembali terbata-bata, masih melirik-lirik ke arah Tracy, memastikan jawabannya tidak menyinggung Tracy.
“Ya, ya! Kami dekat, jadi begitu… kami…” Tracy ikut menambahkan, tapi ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia tambahkan.
“Ok, Steve, Tracy, santai.” Louis berdeham. “Aku akan menunggu Jasper di sebelah.” Ia menunjuk ke arah kiri
dengan ke dua ibu jarinya dan tersenyum canggung. “Kalian teruskanlah. Kalau aku sudah selesai meeting nanti aku akan kembali untuk membantumu—“ Kini Louis menunjuk Tracy. “Pindahan. Ok?”
Tracy mengangguk cepat. “Ok.” Balasnya sambil mengakat tanda A-OK dengan jarinya. Louis dengan cepat keluar dari kantor Naka dan menghilang ke luar.
“Dia fotografer?” Kata Steve setelah Louis menghilang.
“Yup.”
“Tinggi sekali, kukira model.”
“Yup.”
“Hm… yup.”
Lantai tiga kantor Naka tidak terlalu besar ternyata, Tracy lumayan lega, karena dengan begitu tidak terlalu banyak
tempat yang perlu ia bersihkan. Sedangkan untuk showroom, studio dan kantor sudah ada staff yang akan selalu bersih-bersih. Lantai tiga berdesain studio, dengan satu ruangan terbuka, dan dua ruangan kecil yang merupakan kamar mandi dan kamar tidur. Tiga box Tracy sudah ia keluarkan dan rapikan. Dengan bantuan Steve dapur Tracy terlihat rapi dan cantik. Lelaki itu terduduk di sofa sambil meminum air putih yang dibawakan Tracy.
“Kau mau makan malam di Kelly’s? Menu mereka enak.” Kata Tracy sambil melepaskan sarung tangannya. Ia melirik ke arah tiga box yang tersisa penuh dengan buku. Setidaknya ia tidak perlu kerja berat untuk merapikan yang itu.
“Kurasa aku tidak bisa. Aku ditunggu keluargaku di rumah. Mamaku selalu masak demi kesehatan adikku, jadi dia agak bete kalau aku tidak makan di rumah.” Steve tertawa kecil dan menghampiri ke arah Tracy untuk cuci tangan.
“Ini akan terdengar menyebalkan, tapi betapa inginnya aku kembali ke rumah untuk bisa makan malam dengan keluargaku.” Tracy menghela napas, memikirkan apa yang sedang dilakukan mamanya saat ini. Sudah seharian ini mereka tidak bertukar pesan.
“Menyenangkan sekali sih kalau berkumpul seperti itu.” Steve tertawa kecil. “Tapi untuk kita yang sudah bekerja kadang lumayan menyulitkan.”
Tracy mengangguk-angguk. “Itu juga alasan kami keluar dari rumah. Well, orang tuaku masih mengira aku serumah dengan Gracy, tapi nyatanya Gracy bahkan akan jarang di rumah kalau ia tinggal bersamaku.”
__ADS_1
“Memang dia sesibuk itu ya? Gracy.” Steve mengeringkan tangannya dengan kain yang Tracy gantung di knop lemari di atas wastafel, lalu bersandar miring menghadap Tracy.
“Sangat. Sulit bahkan untukku tahu apa kabarnya.” Tracy berbisik. Ia lalu merasakan sentuhan di jemarinya, dan
perlahan tangan Steve bertautan dengan jemarinya.
“Pasti ada saat-saatnya kau kesepian. Maksudku aku bukan anak kembar jadi aku juga tidak tahu apakah kembar bisa merasakan perasaan satu sama lain atau tidak adalah mitos atau bukan, tapi apapun jawabannya kau pasti kesepian.” Steve mengusap jari Tracy. Jantung Tracy mulai berdetak sedikit lebih keras dan menghindari tatapan mata Steve.
“Kadang-kadang. Ketika aku melihat Gracy di TV, atau ketika orang tua kami telepon dan menanyakan kabar kami berdua.” Tracy mendengus kesal. “Gracy ingin aku merahasiakan kalau ia sudah tidak tinggal denganku. Jadi aku akan selalu bicara mewakili Gracy. Mengarang cerita, menenangkan Mama.”
Kali ini Steve menarik Tracy mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang Tracy. Tracy dikagetkan pelukan itu, tentu saja. Tapi ia balas menarik Steve mendekat dan melingkarkan lengannya di leher Steve sambil mengubur wajahnya di pundak lebar lelaki itu. Jadi ini rasanya dipeluk seseorang yang menyayangimu? Bisik Tracy dalam hati. Rasanya ia tidak mau melepas pelukan itu selamanya.
“Sekarang ada aku. Kapanpun kau merasa kesepian tolong hubungi aku. Aku ingin kau punya seseorang yang bisa kau percaya, dan untuk saat ini aku ingin orang itu adalah aku.” Bisik Steve lembut. Tracy dapat merasakan usapan pelan tangan Steve di punggungnya. Gerakan kecil itu seolah memberikan Tracy rasa aman dan membuatnya menganggukkan kepala.
“Tentu saja.”
Tracy lalu melepaskan pelukan itu, dan menatap Steve. Steve menaruh kedua tangannya di sisi wajah Tracy, lalu
tersenyum.
“Baik-baik ya saat aku tidak ada. Setelah ini fotografer itu akan kembali kan? Jangan lengah hanya karena dia ganteng.” Steve menasehati panjang lebar. Tracy tertawa akan fakta ia menyebut Louis ‘ganteng’.
“Santai, Pak Polisi, aku dan dia agak seperti kucing dan anjing. Jangan khawatir. Dia fans berat Grace, bukan aku.”
Steve langsung memutar bola matanya, mendengar kata-kata itu.
“Sudah kuduga. Kalau begitu aku pulang dulu ya.”
Tracy menyentuh tangan Steve yang masih berada di pipinya.
“Ya, hati-hati. Chat aku kalau kau sudah sampai.”
Steve mengangguk, lalu dengan ragu melepaskan Tracy dan mengambil tas punggungnya. Mereka berjalan menuruni rumah dan ketika mereka sampai di lantai 1, dari dalam dapat kelihatan dua pria jangkung sedang berbincang-bincang di depan pintu kantor Naka yang terbuat dari kaca. Tracy memicingkan matanya. Louis dan Jasper.
“Hei, kalian.” Panggil Tracy sambil membuka pintu. Kedua pria itu menoleh ke arah Tracy, dan Steve yang hendak ke luar.
“Hai, man, sudah mau pulang?” Panggil Louis santai pada Steve. Steve tersenyum lebar sambil mengangguk.
“Aku pulang dulu, sampai ketemu lagi.” Jawabnya dan berjalan ke luar kantor, dan menaiki taxi yang sudah dipanggilnya.
“Jas, maafkan aku, sungguh. Kantor masih kacau jadi kalian harus meeting di sebelah.” Tracy menyatukan telapak tangannya dan memandang Jasper dnegan memelas. Jasper terkekeh lalu mencubit pipi Tracy.
“Baik-baik dengan tempat ini ya. Banyak hal-hal yang kulakukan untuk pertama kalinya dengan Letta disini.” Kata Jasper, masih sambil mencubit pipi Tracy. Tracy mengerang kesakitan dan juga tersipu mendengar kata-kata itu.
__ADS_1
“Oh, begitu? Apa saja?” Bisik Tracymendekat ke arah Jasper yang sudah menarik kembali tangannya. Jasper menggeram lalu mendorong dahi Tracy dengan telunjuknya sampai gadis itu mundur dua langkah kecil ke belakang.
“Anak kecil jangan penasaran.”