Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 30


__ADS_3

Ketika Tracy terbangun di pagi hari, teleponnya masih menyala dan terhubung pada Louis namun tidak ada suara dari seberang sana. Tracy mematikan teleponnya dan langsung membaca chat dari Steve yang mengkhawatirkannya.


“Tracy? Aku mencoba telepon tapi sambungannya sibuk.”


Lalu, “Kau sedang telepon siapa?”


Tracy langsung panik. Masa baru sehari berpacaran dengan Steve dia sudah selingkuh? Tracy menepuk dahinya dan dengan cepat membalas.


“Tadi Mama telepon pagi-pagi, setiap minggu begitu mentang-mentang dia libur.” Balas Tracy bohong. Karena tidak


mungkin dia bilang kalau ia dan Louis ngobrol sampai tertidur. Lagipula setelah ‘Novel’, mereka—termasuk yang punya topik—pun tidak boleh membeberkan pembicaraan itu pada siapapun.


Kali ini Steve membalas dengan cepat.


“Oh, begitu. Aku sudah khawatir akan membangunkanmu, tapi aku kangen.”


Tracy tersenyum lebar, “Aku juga. Apa kesibukanmu hari ini?”


“Tidak banyak, entahlah, aku belum turun dari kamar. Setelah turun Mama pasti menyuruhku ini itu.”


Mengingat pembicaraannya dengan Louis tadi malam, Tracy merasa ini adalah kesempatannya untuk bertanya.


“Rumahmu di mana?”


Steve langsung menjawab dengan cepat lagi.


“Lumayan jauh denganmu, dekat SMP kita dulu, di Clementine blok Y8. Kenapa? Kamu mau main ke sini?”


Wajah Tracy langsung memerah. Mereka baru pacaran satu hari, terlalu cepat rasanya untuk langsung ketemu orang tua Steve hari ini. Tapi ada alasan lain yang lebih kuat untuk Tracy tidak ke sana hari ini.


“Sayangnya tidak bisa. Besok Naka mulai buka, jadi banyak yang perlu aku urus. Lagipula aku tidak mau mengganggu waktumu dengan keluarga.”


Tracy membayangkan senyum Steve yang tersenyum lembut padanya.


“Baiklah kalau begitu. Jangan bekerja terlalu keras, nanti ku telepon ya.”


Tracy membalas singkat dengan, “Ok, Happy Sunday.” Dan mengunci layar ponselnya.


Tracy turun dari kasurnya, meregangkan badan dan duduk di depan komputernya. Sebuah notifikasi e-mail langsung masuk ketika ia menyalakan browser dan membuka e-mailnya.


“Ya Tuhan…” Bisik Tracy tidak percaya. Ada e-mail balasan dari Gracy, padahal ia baru saja mengirim e-mailnya kemarin. Sontak jantung Tracy berdegup tidak karuan, ia menceritakan sangat banyak hal yang penting baginya kepada Gracy di e-mail kemarin, dan ini adalah respon Gracy tentang hal itu.


From: Gracy_Manson@mymail.com


Tracy!


Ampuni aku karena lagi-lagi meninggalkan e-mailmu tidak terbalas untuk waktu


yang lama sampai-sampai kau mengirimi aku dua e-mail dalam waktu yang tidak


terlalu berjauhan. Aku merasa sangat senang untukmu! Tapi apa Steve itu


seseorang yang pernah kau kenalkan padaku? Karena entah kenapa nama itu kok


terdengar sama sekali tidak asing ya di telingaku?


Dan ada kabar baik! Karena tanggal 21 itu jatuhnya di hari Jumat, aku bisa menginap


di rumah untuk tiga hari, sampai hari Minggu!! Sangat-sangat menyenangkan


bukan? Oh! Karena itu, aku memohon-mohon-mohon padamu, aku ingin kita quality


time di tanggal 21—tidak ada yang boleh mengganggu kita, Violetta, Steve atau


siapa pun aku TIDAK PEDULI—lalu di tanggal 22 ayo bikin pesta kecil-kecilan di


rumah dengan Mama Papa dan ajak saja teman-temanmu beserta pacarmu karena


OOOOHH sudah jelas aku ingin bertemu dengannya! Aku. Tidak. Sabar. Lalu hari


Minggu ayo pergi ke suatu tempat di luar, tidak perlu jauh-jauh dan mewah,


pulang ke rumah Mama dan Papa juga oke, aku ingin kita kumpul ber-empat, karena


ada sesuatu yang ingin aku bicarakan juga dengan kalian. Aku juga merasa perlu


berhenti berbohong soal tinggal bersamamu dan sejenisnya. Bohong pada Mama dan


Papa itu berat, kan? Aku juga merasa sudah membebanimu.


Kurasa segini saja pesanku padamu, karena toh kita akan bertemu kan sebentar lagi?


Aaaaahh aku nggak sabar! Sampai ketemu minggu depan Trace, jaga dirimu!


Pesan itu membuat Tracy senang, sekaligus panik. Ia melihat ke sekelilingnya. Ia lupa memberitahu Gracy bahwa sekarang ia sudah pindah rumah. Dengan cepat Tracy langsung mengirimkan e-mail balasan berisi pemberitahuan bahwa sekarang ia tinggal di kantor Naka dan mencantumkan alamatnya. Tapi Tracy juga tidak yakin kalau Gracy akan membaca pesan itu tepat waktu, jadi ia menelepon manager Tracy dan nomornya—seperti biasa—sibuk.


Tiba-tiba saja sebuah telepon masuk ke nomor Tracy saat telepon itu masih menempel di telinganya dan Tracy hampir melompat karena kaget. Ia melihat ke layar teleponnya dan melihat nama Louis.


“Hey.” Jawab Tracy sambil mengangkat teleponnya. Ia memasang teleponnya di mode pengeras suara dan menaruhnya di meja lalu berdiri.


“Hey, sorry tadi malam sepertinya aku ketiduran di tengah-tengah pembicaraan kita.” Suara Louis terdengar serak dan sontak Tracy ingin tertawa. Lelaki itu kelihatannya langsung meneleponnya begitu membuka mata.


“Aku juga sama kok. Telepon kita bahkan masih tersambung sampai pagi, tapi aku matikan begitu bangun.”


“Ah… baiklah. Jadi aku tidak melewatkan apa-apa kan?”


Tracy tertawa sambil membereskan tempat tidurnya. “Tidak kok. Aku juga bahkan tidak ingat bicara apa sebelum tertidur. Sibuk apa kau di hari Minggu sampai bangun jam segini? Kau kan tukang tidur.”


Louis tertawa kecil dengan suaranya yang seperti radio rusak.


“Aku ini mahkluk pagi. Kau saja yang langsung stereotype hanya karena aku tidak sanggup bangun waktu itu.” Louis mengerang dan kalau Tracy boleh menebak, ia baru saja turun dari tempat tidurnya.


“Aku menolak untuk percaya.”


“Terserah padamu. Aku mungkin mau olahraga sebentar lalu mau pergi ke supermarket sebentar. Mau ikut tidak? Kurasa aku butuh cewek yang tahu harus belanja apa untuk pulang ke rumah.”


Tracy berpikir, benar juga, ia baru saja pindah rumah dan kulkasnya tidak punya banyak bahan makanan.


“Ide bagus. Jam berapa kau mau pergi?”


“Mungkin jam 11 aku baru jalan. Kau tunggu saja di kantor ya, biar aku ke sana.”


“Oke, kalau gitu. Aku mau beres-beres dulu jadi sana lakukan yang perlu kau lakukan.”


“Oke.” Jawab Louis singkat dan mematikan teleponnya.


Tracy berkacak pinggang, senang melihat tempat tidurnya yang didominasi warna putih itu rapi sekarang. Ia cepat keluar dari kamar dan turun ke lantai dua, merapikan bekas-bekas gantungan baju dan podium yang bergeser dari tempatnya, memastikan ruangan itu siap menerima pelanggan besok, ataupun untuk digunakan Jasper yang akan mengambil foto. Setelah itu Tracy turun ke lantai satu dan menemukan bunga-bunga hiasan di sekitar sana sudah bersih mengilap, dibersihkan Nini. Ia mengatur letak kursi dan memastikan lampu neon yang berbentuk tulisan Naka & Team bisa menyala, sebelum kembali ke atas untuk mandi.


Semua persiapan Tracy selesai sebelum jam 11, dan ia sudah siap dengan jeans kasual, dan kaus lengan panjang berwarna putih. Ia lalu mengambil dompet, ponsel, tissue dan kebutuhan-kebutuhan lainnya untuk di masukkan ke tas dan turun ke lantai satu. Tracy menemukan pantulan wajahnya di kaca yang berdiri dekat pintu dan merapikan rambutnya. Wajahnya terlihat sedikit lelah tanpa make-up, tapi ia tidak merasa perlu cantik-cantik ke supermarket.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu bunyi derungan kendaraan terdengar dari luar dan muncullah sebuah motor besar putih di depan kantor Naka. Pengemudi motor itu menaikkan kaca helmnya dan Tracy langsung mengenali mata biru itu. Tracy mengambil jaketnya dan berlari ke luar, mengunci pintu kantor dan berbalik ke arah Louis.


“Motormu?” Tracy bertanya sambil mengambil helm yang ditawarkan Louis padanya.


“Bukan, curian. Tentu saja motorku.” Tracy menebak Louis sedang tersenyum lebar dari matanya yang ikut tersenyum.


Louis memiringkan motornya sedikit untuk Tracy naik, tapi kaki panjang gadis itu membuatnya bisa naik dengan mudah.


Tracy menaruh tangannya di pundak Louis, dan lelaki itu menoleh sedikit.


“Jangan cekik aku ya.”


“Tergantung ngebut tidaknya motormu. Kalau tanganku sudah dekat-dekat lehermu itu berarti kau sudah terlalu ngebut.” Tracy bilang. Louis hanya tertawa dan melajukan motornya.


Tapi ternyata dugaan Tracy salah, Louis bukan tipe pengendara motor yang hobi ngebut—atau dia hanya takut dicekik Tracy—dan hal itu membuat Tracy merasa tidak terlalu khawatir dengan keamanannya selama perjalanan.


Sore itu supermarket lumayan ramai, tapi tidak ramai sampai berdesak-desakkan juga.


“Kau tinggal sendiri juga ya?” Tracy membuka pembicaraan saat mereka sudah masuk ke supermarket. Louis mengangguk sambil mendorong keranjang belanja yang lumayan besar di sebelah Tracy.


“Yup.”


“Lalu memangnya kau bisa masak?” Tracy mendengus, meremehkan Louis yang—menurut Tracy—tampangnya sedikit banyak seperti anak manja.


“Hey, aku hampir ambil jurusan kuliner kalau dulu aku tidak diterima di DKV.” Kata Louis sambil merogoh kantungnya dan mengeluarkan secarik kertas seperti Ibu rumah tangga. Tracy hendak tertawa tapi rasanya itu lumayan berguna juga disbanding dirinya yang sekarang mendadak bingung dan tidak tahu apa yang perlu ia beli.


“Oh ya? Coba masak buatku kapan-kapan kalau kau ke kantor. Biar aku tahu seberapa oke skillmu, Chef Troya.” Tracy berhenti di pendingin besar berisi sayur-sayuran, dan mengambil beberapa jenis jamur dan sayuran untuk hari-hari dimana ia perlu makan vegetarian.


“Kamu vegetarian?” Tanya Louis, memperhatikan barang-barang yang diambil Tracy dan ikut mengambil satu kantung jamur shiitake dan paprika.


“Bukan, tapi kalau aku tidak punya jadwal rutin makan sayur, aku akan benar-benar lupa kalau aku sudah cukup makan sayur atau belum.” Tracy mengambilkan beberapa sayur hijau dan menaruhnya di sisi belanjaan Louis.


“Jangan seperti anak kecil yang hanya ingin makan daging.”


Louis tertawa kecil. “Jangan seperti orang tua, Tracy. Tapi okelah, aku juga bukannya tidak bisa makan kok.”


“Jadi?” Tracy melipat tangannya, siap menerima alasan Louis yang ia yakin tidak masuk akal.


“Aku tidak bisa mengolahnya.” Louis tertawa. Tracy mendecakkan lidahnya.


“Kau bilang kau anak culinary?”


“Aku anak pastry   Lalu jenis masakan dapurku lebih ke masakan Eropa, seperti pasta dan daging-daginan.”


Tracy menghela napas, “Ya sudah, tiap kau ke kantor Naka biar aku yang masak sayurnya.”


Louis mengangguk, “Ide bagus.”


Mereka langsung menitipkan barang belanjaan mereka seusai membayar, dan Louis ternyata sudah siap dengan rekomendasi restoran Jepang di lantai dua yang langsung mereka datangi begitu selesai berbelanja.


“Kau bilang Steve tidak soal akan pergi denganku hari ini?” Louis bertopang dagu. Tracy menggelengkan kepalanya.


“Tidak, buat apa?”


Louis tertawa, “Ya… kau perlu izin, Tracy Manson. Dia kan sekarang pacarmu, dan mungkin kau tidak punya maksud padaku dan aku juga tidak punya maksud padamu tapi dia kan hanya tau kau ‘pergi dengan cowok lain’.”


Mata Tracy membelalak, tapi lalu ia kembali tenang setelah memikirkan Steve.


“Hm, kurasa Steve bukan orang seperti itu.”


“Oh ya? Memangnya dia tidak tanya apa-apa setelah melihat kita kenal di waktu kau pindahan itu?”


Tracy memutar otaknya dan mengingat saat Steve bertanya soal bagaimana ia tidak ingin Louis terlalu dekat dengannya. Tracy menepuk dahinya dan merogoh sakunya untuk mencari ponselnya yang sudah ia telantarkan berjam-jam itu, seperti biasa.


Tracy tertawa kecil, “Iya, dia bilang kau ganteng jadi aku harus hati-hati denganmu.” Kata Tracy sambil masih


memperhatikan ponselnya.


Louis mendesis dan bersandar ke bangkunya. Ia mengelus dagu.


“Sudah kuduga, Trace. Dulu kau yang bilang aku ganteng, lalu pacarmu bilang aku ganteng, mungkin sudah waktunya aku beli kaca dengan kualitas yang lebih bagus.”


Tracy hampir mengabaikan kalimat itu saat melihat tidak ada notifikasi dari Steve dan Tracy sedikit banyak kecewa


melihatnya dan kembali memasukkan ponselnya ke saku.


“Dia bahkan tidak mencari aku, jadi kurasa dia juga tidak ingin tahu aku sedang apa.” Kata Tracy sedikit kesal.


Steve mengangkat alisnya.


“Oh, seriuslah, Tracy. Jangan jadi pacar yang seperti itu. Kalau Steve pergi dengan cewek lain memangnya kau tidak akan marah kalau kau tahu belakangan?” Louis kembali mencondongkan badannya ke depan dengan serius. Tracy melirik ke langit-langit.


“Entahlah. Kurasa aku bukan tipe yang cemburuan, Lou. Toh kalau memang dia semudah itu digoda cewek lain, dia tidak akan bertahan dengan perasaannya kan sampai sekarang.” Tracy mengangkat bahu.


“Kau terlampau cuek.”


“Benarkah?”


“Atau terlalu naif.”


“Atau dua-duanya.” Tracy menghela napas.


“Jadi kau sudah tahu rumahnya dimana?”


Tracy mengangguk kecil. “Sudah, tapi ya aku belum ke sana.”


Louis mengelus dagunya.


“Kau mau ke sana?”


“Ya, dia belum mengajakku ke rumahnya, jadi—“


“Ugh, bukan, Manson.” Louis mengusap wajahnya kesal. “Coba dengarkan kata-kataku. Entah karena mantanku adalah seorang psikopat, aku agak khawatir denganmu.”


Tracy menatap Louis yang tampak sangat serius. Di titik itu tentu saja Tracy merasa lebih percaya pada Louis daripada dirinya sendiri yang sama sekali tidak punya pengalaman.


“Aku merasa kau setidaknya lihat dia itu orang yang datang dari keluarga seperti apa.”


Tracy mencoba untuk menebak-nebak. Seharusnya ia pernah tahu kondisi keluarga Steve, setidaknya ketika mereka masih SMP.


“Ayah Steve adalah orang yang cukup terkenal, dia seorang ilmuwan, kalau tidak salah dia dokter spesialis paru.


Ibunya seorang pelukis. Steve sepertinya lebih condong mirip ayahnya yang ilmuwan, karena ia pintar, dulu ia sempat ditawari sekolah ke luar, dengan beasiswa lima puluh persen, tapi dia tidak mengambilnya karena katanya ayahnya meninggal.”


“Meninggal karena?”


Tracy mengangkat bahu. “Terlalu sensitif menurutku untuk ditanyakan.”


Louis bersandar ke bangkunya lagi. Ia merasa ada sesuatu yang janggal pada orang ini.

__ADS_1


“Tracy.” Louis menghela napasnya. Lalu pelayan datang dan membawakan pesanan mereka ke meja dan Louis berhenti sebentar untuk tersenyum pada pelayan yang membawakan makanan mereka dan berterimakasih sebelum kembali ke raut wajahnya yang serius dan menatap Tracy. Tracy berpikir, orang ini bisa saja jadi actor kalau dia mau. Tepatnya kalau ia lebih rapi sedikit dan bertingkah lebih dewasa.


“Kau dan aku baru kenal sebentar. Tapi aku tahu situasi keluargamu. Hell, kau tidak tahu situasi keluargaku sih, tapi kalau kau tanya aku yah aku akan cerita padamu—tapi dalam hal ini mungkin aku dan Steve berbeda—dan kurasa seseorang ketika akan memutuskan menjalin hubungan dengan orang lain, dia akan yakin bahwa ‘inilah orang yang aku inginkan jadi partnerku’ kecuali dia hanya main-main. Kau menganggap ini serius kan?”


Tracy mengangguk ragu. Apakah ia menganggap ini serius?


“Tracy, yakinlah dengan jawabanmu.” Tambah Louis yang seolah bisa membaca pikirannya.


“Oke! Bilang aku bodoh atau naif, tapi…” Tracy menghela napas, ia malu mengakui ini tapi ini Louis yang kita bicarakan, “Sebetulnya aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi sebelum hubungan kami sempat kemana-mana. Tapi pengakuan cintanya yang dia buat lewat radio itu terlalu romantis dan aku mendadak terbuai.”


Louis hendak membuka mulut untuk protes tapi Tracy dengan cepat menambahkan.


“Ditambah deadline novelku yang semakin lama semakin dekat. Aku merasa harus pacaran sekarang supaya bisa menyelesaikan novelku. Katakanlah aku tidak punya hati, tapi kemarin buatku cukup sekadar ia bisa membuatku nyaman, dia sudah oke untuk jadi pacarku. Mau apa lagi, Lou? Ini pacar pertamaku.”


“Ya, tapi kau dan Steve adalah orang dewasa Tracy, bukan anak-anak.” Louis mengangkat sumpitnya untuk memakan udonnya sebelum ia terlanjur dingin, dan Tracy pun ikut mengangkat sumpitnya.


“Lalu?” Tanya Tracy masih tidak mengerti.


“Kalau kalian adalah anak-anak dan hal ini terjadi, resiko yang paling parah terjadi adalah salah satunya menangis


karena salah satunya tidak melakukan suatu hal dengan benar, dan lalu anak yang salah akan minta maaf karena merasa ia pacarnya. Tapi orang dewasa punya pikiran yang aneh-aneh. Sebutlah aku parno tapi bisa saja Steve pacaran denganmu karena ada maunya. Numpang terkenal mungkin?” Kata Louis panjang lebar sebelum lalu mulai makan. Tracy yang hendak mulai makan kembali menurunkan sumpitnya sebelum sempat menyentuh sushi yang ia pesan.


“Jangan samakan Steve dengan kita, dia kan bukan orang industri. Lagipula kalau Steve ada maunya, aku sudah dicelakai dari kapan waktu. Masuk ke kantor Naka kan bukan hal yang sulit.” Tracy lalu mulai makan, merasa ia perlu menenangkan perutnya yang mulai berteriak-teriak.


Louis masih memandangnya prihatin dan saat kunyahannya selesai, ia kembali menceramahi Tracy.


“Tracy, kau perempuan, kau tinggal sendirian, setidaknya jaga diri sampai kau seribu persen yakin kalau Steve itu


orang yang tepat. Atau setidaknya sampai kau tahu semua tentang dirinya dan kau yakin ini semua betulan. Aku tidak peduli kalau kau memang hanya ingin main-main dengannya atau kau tidak anggap ini serius, tapi setidaknya egoislah sedikit dan pikirkan keamanan dirimu sendiri.” Kata Louis.


Tracy mengangguk-angguk. Merasa kata-kata itu memang ada benarnya juga.


“Ok, biar aku atasi itu nanti.” Tracy menghela napas dan mulai fokus makan.


“Besok Jasper jadi ke kantor?” Tracy mengubah topik pembicaraan.


“Yeah, jadi. Ada empat model lain yang akan datang juga untuk mencoba gaun-gaunnya.” Balas Louis, hampir menyelesaikan makanannya.


“Aku selalu suka pemotretan. Apalagi pemotretan gaun pengantin.” Tracy tersenyum sambil membayangkannya. Ini bukan pertamakalinya ia melakukan pemotretan, tapi ini pertama kalinya ia pemotretan untuk gaun pengantin.


“Kenapa? Supaya kau bisa mengeceng pasangan fotomu?” Louis membersihkan piringnya lalu meraih ocha dinginnya untuk membersihkan mulut.


Tracy mengernyit. “Pasangan foto? Bukan, memangnya besok aku akan ada pasangan foto?”


Louis memutar bola matanya.


“Dasar model amatiran, iya! Jasper itu kan spesialis baju pengantin, dan itu maksudnya pengantin perempuan dan pengantin laki-laki. Jadi kau akan difoto berpasangan.”


Tracy mendengus, menaruh kembali tangannya ke meja sebelum ia tersedak makanannya sendiri.


“Aku akan difoto berpasangan? Dengan model cowok?”


“Ya Tuhan, iya… Tracy, dengan model cowok.” Louis menggeram gemas. Tracy menelan ludahnya.


“Oke, oke. Oke. Aku akan difoto menggunakan gaun pengantin, dengan model pria, dan kita akan pura-pura jadi


pasangan pengantin, dan model pria itu bukan Steve. Ditambah foto itu akan terpampang di semua majalah Jasper—kemungkinan di banyak majalah fashion terkenal, dan Steve bisa lihat—“


“Oke, kau bisa bernafas sedikit, sebelum melanjutkan.” Louis mengoper gelas tehnya untuk Tracy minum dan gadis itu menenggaknya tanpa pikir panjang. “Ini masih baru awal, Tracy. Coba bayangkan. Okelah, Jasper itu desainer baju pengantin, tapi bagaimana kalau Violetta tiba-tiba memutuskan dia mau membuat koleksi baju musim panas? Bikini misalnya. Dan kau kebagian untuk pakai bra yang cuma terbuat dari dua kerang kecil—“ Louis mengangkat tangannya, menunjukkan jarak kecil diantara jari telunjuk dan ibu jarinya. “Sekecil ini dan tampil di Paris Fashion Week?”


Tracy menggeleng horror.


“Violetta tidak mungkin sejahat itu padaku.” Tracy mengoper kembali gelas Louis yang sudah tandas isinya. Louis tertawa.


“Itu bukan jahat, Tracy, kan kau harus professional. Kalau itu memang koleksinya dan badanmu yang cocok untuk memakainya lalu kau mau bilang apa?” Louis menahan tawa. “Itulah kenapa kau bilang kau harus agak lebih serius dengan Steve. Kalau ternyata dia orang yang cemburuan, akan sulit buatmu bekerja dengan Naka.”


Tracy menghela napasnya kesal dan menjejalkan potongan sushi lain ke mulutnya.


“Ya kau ada benarnya juga, dan aku juga tidak bisa mengorbankan kehidupanku, pekerjaanku untuk Steve. Tapi aku baru saja punya pacar, Louuuuu!!” Tracy merengek, dan mengunyah potongan sushi miliknya yang terakhir.


Louis tertawa kecil. “Cowok ada banyak kok, bukan hanya Steve, kau tidak perlu sekhawatir itu, Trace.”


“Iya, tapi aku tidak akan ketemu lagi cowok seperti Steve.” Tracy menepuk-nepukkan tissue ke bibirnya sebelum meminum tehnya sendiri.


“Memangnya apa sih yang kau temukan dalam Steve?” Louis mencondongkan badannya lebih dekat ke arah Tracy.


Tracy terkekeh bodoh.


“Hm… aku merasa Steve menghargai aku seutuhnya. Seolah-olah Steve bisa mengerti perasaanku yang terdalam tanpa perlu bertanya padaku. Aku juga merasa Steve nyambung dengan semua hal yang kusuka, dia puitis—dan kurasa jarang cowok yang puitis—dia peka, dan dia seksi, aku rasa tiga hal itu sudah bisa dibilang pacar idamannya Tracy Manson.” Tracy mengangkat bahunya.


Louis mengangguk-angguk. “Jadi seperti itu ya tipemu. Kurasa memang langka sih cowok seperti itu.” Louis kembali bersandar ke bangkunya.


Tracy terkekeh lagi. “Seleraku bagus, kan? Lagipula ini pacar pertamaku, Lou. Aku rasa kau mengerti kenapa aku takut kehilangan dia.”


“Itu yang aku selalu bingungkan.” Louis memicingkan matanya. “Kamu cantik, kenapa baru pacaran sekarang? Bohong kalau kau bilang tidak ada yang—setidaknya—mencoba untuk jadi pacarmu.” Louis mencondongkan lagi tubuhnya.


Untuk sesaat Tracy merasa lebih dari tersanjung saat Louis bilang ia cantik. Itu bukan pujian yang tidak lazim, tapi entah kenapa, pujian itu terdengar jauh lebih tulus dari mulut Louis.


“Lou, wajahku dan Gracy persis. Bedanya, karisma Gracy lebih oke daripadaku. Itu membuat orang otomatis lebih memilih Gracy daripada aku. Kesannya Gracy itu kan seperti aku yang sudah di upgrade.” Tracy mengangkat bahunya. Louis masih memicingkan matanya, lalu ia mendecakkan lidah.


“Itu masalahmu. Kamu terlalu rendah diri. Dan entah apa yang orang pikirkan sampai mereka bilang kau mirip dengan Gracy, kau jelas-jelas beda dengannya.” Jawab Louis. Tracy hampir memutar matanya. Sedari tadi dia merasa mereka sedang mengobrolkan sesi ‘novel’ di mana Louis selalu lebih berpikiran terbuka, dan disinilah Louis yang agak-agak judgemental.


“Kau adalah orang yang meneriaki mukaku di Jepang karena mengira aku Gracy, kan? Sudah lupa? Tuan fotografer?”


Louis tertawa kecil dan berhenti memicing.


“Oh iya, sorry. Tapi itu kan sebelum aku kenal kamu. Sekarang aku sudah sering liat mukamu makin kesini aku merasa kamu makin tidak mirip dengan Gracy.”


Tracy hanya memutar bola matanya.


“Kamu belum lihat Gracy secara langsung saja. Nanti kapan-kapan kita—oh iya, dia pulang minggu ini!” Tracy langsung tersenyum lebar. Betul juga, kenapa dia bisa lupa?


“Gracy akan ke rumahmu minggu ini?”


Tracy mengangguk dengan semangat.


“Iya, dia akan pulang selama tiga hari. Jadi mungkin di hari Sabtu kamu bisa ikut makan-makan sama kita. Jumat kita mau berduaan saja, dan Sabtu dia mengajaku ajak Steve dan teman-teman lain untuk pesta kecil-kecilan di rumah—atau mungkin di luar entahlah, aku ikut Gracy saja. Ayo, ikut kita makan-makan.”


Louis mendecakkan lidahnya.


“Aku akan jadi nyamuk kalau ikut. Lagian untuk apa aku ada di sana? Itu kan seolah-olah kamu mau memperkenalkan Steve ke keluargamu lalu tiba-tiba ada aku di tengah-tengah kalian.” Louis cemberut. Tracy langsung menggeram.


“Kedudukanmu kurang lebih sama dengan Violetta sekarang—di bawah Violetta sih tapi aku mau berbaik hati—jadi datang saja lah.”


“Lah, Violetta juga pasti akan datang dengan Jasper, kan? Nanti sajalah. Aku cari pacar dulu baru aku datang


makan-makan ke rumahmu. Bilang Gracy pulangnya nanti-nanti lagi.”


Tracy langsung mencubit lengan Louis keras-keras, membuat lelaki itu membuka mulutnya lebar-lebar. Ia menengok ke kanan kiri, menyadari mereka ada di tempat umum dan ia langsung membatalkan niatnya untuk menjerit.

__ADS_1


“Sumpah, aku janji aku nggak akan membuat kamu nggak nyaman nanti. Percayalah, aku jago multitasking.” Tracy tersenyum manis. Louis hanya mendelik ke arahnya.


“Terserah ah! Lihat nanti saja.”


__ADS_2