Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 26


__ADS_3

Tracy memutar bola matanya. Dia hanya dengan kasual dan tidak sengaja menyebut Louis ganteng, satu kali. SATU kali. Dan lelaki itu telah menggunakannya berpuluh-puluh kali untuk menggoda Tracy. Kesalahan besar memang.


“Jangan marah, setidaknya kan sekarang kau bisa bolak-balik Kelly’s tanpa menggunakan masker ataupun topi, dan bisa saja menggunakan alasan yang sama, mereka tidak akan curiga.”


“Ada benarnya.” Tracy menyelesaikan kunyahannya dan menelan sebelum kembali membahas topik yang ingin ia singgung sedari tadi.


“Tapi hey, apa menurutmu tidak aneh? Tadi mereka bertanya apakah aku Tracy Manson?” Tracy mencondongkan badannya ke arah Louis. Louis—yang kelihatan sangat kelaparan—melirik sedikit ke arah Tracy dengan mulutnya yang masih penuh, lalu kembali menatap makanannya untuk memotong potongan baru yang bisa ia masukkan ke mulutnya.


“Lalu? Apa yang aneh dari itu?”


“Yah, maksudku kan biasanya orang-orang akan tanya, apakah kau Gracy Manson?”


“Tadi juga dia sempat bertanya kan kalau kau Gracy atau bukan?”


Tracy menggeram kesal. “Maksudku.” Tracy menghela napasnya untuk menenangkan diri. “Kenapa sekarang aku mendadak jadi terkenal?”


Louis hanya menatap Tracy dengan matanya yang polos, masih dengan mulutnya yang penuh.


“Karena kau masuk TV berkali-kali kemarin. Mungkin masih disiarkan juga hari ini.” Jawab Louis santai.


Tracy mendengus, “Kau aneh, Louis.”


“Apanya?” Lelaki itu masih bertanya seperti orang bodoh.


Tracy menggelengkan kepalanya dan melanjutkan makan, mengabaikan Louis.


“Hey, jangan bete, maksudku kan mungkin dia melihatmu di televisi lalu ya kau terlihat lebih mirip Tracy disbanding Gracy, karena, yah.. tahulah…” Louis melanjutkan, merasa bersalah jawabannya tidak memuaskan Tracy.


“Hanya kau yang bisa bilang begitu kurasa. Aku tidak yakin dia bisa membedakan aku dengan Gracy hanya dengan lihat di TV.” Tracy menggelengkan kepalanya, tidak ingin berpikir macam-macam juga. “Yasudah, lupakan. By the way, soal Gracy, biar aku coba kontak dia nanti. Berdoa saja dia menjawabku.”


“Kontak dia untukku?” Kata Louis, setengah tidak percaya. Tracy bahkan tidak menatapnya, tapi ia yakin Louis


super bahagia sekarang. Tracy hanya mengangguk-angguk, karena buatnya sekarang memasukkan suapan kentang tumbuk di garpunya ke dalam mulut adalah hal yang paling penting.


“Untukku?!” Tanya Louis sekali lagi.


“Iyaaaa.” Jawab Tracy sebelum memakan kentangnya. “Tapi aku tidak bisa janji apa-apa. Aku mau telepon dia juga karena aku penasaran, apa sebenarnya yang sedang ia lakukan, dan aku juga ingin memaki managernya.”


Louis tidak menjawab dan hal itu membuat Tracy ‘terpaksa’ melihatnya dan menemukan wajah Louis yang memelas karena terharu.


“Aku tidak tahu harus bilang apa.” Louis menghapus air mata palsunya. Tracy menahan tawa melihat acting jelek itu.


“Jangan terlalu besar kepala, sedikit banyak kita teman baik lah sekarang karena kau jadi orang pertama yang menginap di rumah baruku.”


Louis terkekeh jelek, “Thanks, ternyata kau tidak buruk-buruk amat. Kutarik semua kata-kata makianku padamu.”


Tracy tidak menjawab, hanya tersenyum.


Paling-paling setelah satu, dua jam Louis akan kembali memakinya seperti biasa. Apa yang membuat Tracy berpikir begitu? Ia juga tidak yakin, tapi melihat sifat Louis yang cuek, mungkin itulah alasan dibalik kenyamanannya yang instan dengan Louis.


Bukan hal yang buruk kan?


Nini, dan Greg anaknya, tersenyum lebar saat Tracy dan Louis pulang membawa makanan untuk mereka. Mereka berterima kasih berkali-kali dan lalu pamit pulang untuk libur akhir pekan dan akan kembali lagi hari Senin. Louis menguap dan meregangkan badannya setelah mengantar mereka pulang.


“Aku ikut pulang ya, thanks untuk tumpangan tempat tidurnya. Tolong jangan anggap aku kurang ajar.” Louis


mengerang seperti badannya sudah sangat rentan.


“Reputasimu sebagai lelaki kurang ajar sudah aku maklumi. Terimakasih juga makan siangnya.” Bahas Tracy, yang


mengingatkan Louis soal janjinya untuk mentraktir yang ia lindurkan di pagi hari. Tracy bahkan sudah siap untuk memainkan rekaman suaranya untuk mengancam Louis tapi ternyata lelaki itu ingat.


“Anggap saja uang sewa. Dah, sampai ketemu nanti malam.” Louis melambaikan tangan dan keluar dari kantor Naka, menaikkan hoodie jaketnya dan mulai berjalan. Tracy mengernyit, sepertinya lelaki itu tadi datang bawa lebih banyak barang, jangan-jangan ia ketinggalan sesuatu?

__ADS_1


Tracy menengok kanan dan kiri, mencari barang Louis yang tertinggal, tapi tidak ada apa-apa. Ditinggal Louis, kantor Naka terasa sangat sepi. Tracy baru menyadari. Dulu ia tinggal di apartemen kecil berdesain studio. Ia sudah terbiasa hidup di rumah kecil dan sekarang ia tinggal di rumah tiga lantai. Ia tidak akan pernah terbiasa dengan keheningan ini.


Setelah kepergian Louis—dan mungkin karena perut yang telah terisi—Tracy merasa rasa kantuk menyerangnya


habis-habisan. Wajar, ia baru tidur tiga jam. Tracy memutuskan kalau ia akan tidur dulu sebelum Jasper datang. Tracy mengunci pintu depan dan naik ke lantai tiga, dan langsung membuka pintu kamarnya dan melompat ke kasurnya yang empuk dan hangat. Ia mengambil ponselnya dan memencet perekam suara untuk voice note kepada Jasper.


“Jas, aku mau tidur. Kalau kau sudah sampai di kantor telepon saja ya. See you!” Tracy berbicara ke arah ponselnya, menunggu sampai voice note itu terkirim lalu memejamkan matanya.


Tidak butuh waktu lama untuk Tracy tertidur, dan ketika ia merasa waktu baru saja berjalan sepuluh menit,


teleponnya sudah berdering.


Tracy terperanjat bangun dan kamarnya sudah gelap, hanya diterangi secercah cahaya dari jendela kecil di samping tempat tidurnya. Tracy dengan cepat mengangkat telepon itu.


“Halo?” Tracy berdeham, suaranya serak karena bangun tidur.


“Trace, maafkan aku harus membangunkanmu. Aku sudah di bawah.” Suara Jasper mengalun dari seberang telepon. Tracy langsung melompat turun dari tempat tidurnya dan menyalakan lampu.


“Oke, tunggu sebentar yaa.”  Tracy mencoba untuk terdengar lebih ceria. Ia berlari ke luar kamar dan dengan cepat mengambil minum dan turun ke bawah. Di depan sudah ada Jasper dengan mobil hitam kerennya. Tracy membuka kunci pintu depan dan terdengar suara mobil Jasper di matikan dan lelaki itu keluar dari mobil.


“Yo! Kau terlihat lelah.” Jasper langsung membuka pintu belakang mobilnya dan mengeluarkan setumpuk beberapa gaun putih gading. Tracy menahan pintu depan untuk Jasper masuk.


“Hanya kurang tidur. Mungkin karena ini tempat baru, aku belum terlalu terbiasa.” Tracy menguap dan mengucek matanya. Jasper berjalan masuk dengan cepat dan langsung naik ke lantai dua.


“Tapi tempatnya cukup nyaman kan?” Jasper bertanya dari kejauhan dan Tracy berusaha untuk menyusul langkah Jasper yang cepat menuju studio.


“Sangat nyaman Jas, aku hanya perlu membiasakan diri, jangan khawatir.” Tracy menyalakan lampu studio, dan sontak lampu-lampu Kristal berbagai macam bentuk yang tergantung di langit-langit lantai dua menyala. Jasper menaruh gaun-gaun itu di bagian rak yang masih kosong dan mengangguk-angguk.


“Hey, sorry aku telat.”


Tracy dan Jasper menoleh ke arah suara dan menemukan Louis berdiri dekat tangga, dengan baju yang berbeda kali ini, sebuah hoodie abu-abu dan celana training Adidas berwarna senada.


“Oh topiku! Pantas saja aku merasa ada sesuatu yang lupa kubawa saat pulang tadi.” Louis menunjuk ke arah Tracy dan berjalan mendekat ke arah mereka.


Saat itu Tracy baru tersadar kalau topi itu masih ia pakai bahkan sampai ke tempat tidur.


“Kenapa topimu bisa ada di Tracy, Lou?”


Tracy dan Louis langsung menoleh ke arah Jasper yang sedari tadi mengusap-usap dagunya, memperhatikan Tracy dan Louis dengan curiga. Tapi kedua orang itu sama tidak pekanya, dan tidak menangkap kecurigaan di mata Jasper pada mereka.


“Tadi siang Tracy dikenali oleh staff di Kelly’s, jadi kupinjamkan topiku pada Tracy.” Louis mengangkat bahunya, seolah hal itu bukan masalah besar.


“Tadi siang?” Tanya Jasper, “Kau tadi siang sempat kesini dulu?”


“Bukan, aku—“ Kali ini keduanya menyadari apa yang terjadi, tapi sudah terlalu terlambat. Louis melirik ke arah Tracy dengan mulut menganga, dan begitupula sebaliknya.


“Jasp, sumpah, jangan salah paham, aku—“


“Jangan bilang menginap di sini tadi malam?” Jasper memicingkan matanya.


“Um…” Louis kembali melirik ke arah Tracy tapi gadis itu juga dalam situasi yang sama bingung dengannya.


“Kalian tidak…” Lanjut Jasper lagi sambil menunjuk Tracy lalu Jasper dan kembali lagi.


“Tidak, tidak, kami cuma beli makan malam super larut, sekitar jam setengah satu pagi, lalu karena aku paranoid dengan rumah baru dan Louis pun paranoid pulang jam tiga pagi, kami mengobrol dan ketiduran.” Kali ini Tracy yang dengan cepat menjelaskan. Ia tidak bisa bohong pada Jasper, dan menurut penilaian singkatnya Louis pun tidak bisa bohong pada Jasper. Lagipula mereka akan sering bertemu, kalau ada rahasia di antara mereka akan cepat tersebar juga pada akhirnya.


Jasper hendak membuka mulutnya lagi namun Tracy dengan cepat menambahkan, “Di sofa.” Berbarengan dengan Louis.


“Dan tidak bersebelahan, jauh-jauh, di sofa yang berbeda.” Kata Louis dengan pose yang—mendadak—sopan dengan satu tangan memegangi yang lain di depan badannya.


Jasper menahan tawanya. Dua orang di depannya mendadak terlihat seperti dua murid yang baru saja melakukan kenakalan dan takut dimarahi wakil kelasnya. Jasper benar-benar tertawa kali ini.


“Santai saja, kalian. Di tempat tidur pun aku tidak peduli.” Jasper tertawa, lalu tiba-tiba berhenti, “Sorry, ralat, aku

__ADS_1


peduli, jangan macam-macam dengan Tracy.” Jasper menunjuk pada Louis dan lelaki itu dengan cepat memberi hormat salute pada Jasper.


“Tidak, dan tidak pernah berpikir untuk macam-macam, kapten.” Jawab Louis tegas. Tracy menghela napasnya lega.


“Ok, mari kita kesampingkan hal ini dan mulai bekerja.” Jasper mengambil salah satu gaun yang ia bawa. “Trace, apa disini tidak ada manekin?”


Tracy menengok ke kanan dan kiri, “Kurasa ada di bawah, apa kau mau manekinnya di bawa kesini?”


Jasper mengusap-usap dagunya dan melihat ke gaun yang berada di tangannya.


“Aku punya ide lain.” Jasper menyeringai dan berjalan ke arah Tracy lalu memberikan gaun itu pada Tracy.


“Pakailah.”


Tracy mengernyit, “Eh?”


“Iya, pakailah itu.” Jasper lalu meninggalkan Tracy, menarik Louis ke depan background dan membicarakan sesuatu yang kelihatan penting. Tracy dengan cepat berlari ke ruang ganti dan memakai gaun itu, tapi seperti kebanyakan gaun, ia tidak bisa memakai gaun itu dengan benar karena bagian belakangnya yang rumit. Tracy hanya bisa meraih kancing paling bawah dan paling atas, namun sisanya tidak bisa ia raih. Di saat seperti inilah ia merutuki ketidaklenturan badannya sendiri.


“Um… apa ada yang bisa bantu aku pakai gaunnya?” Panggil Tracy malu-malu. Tidak lama kemudian Tracy bisa mendengar seseorang datang mendekat.


“Aku boleh masuk?”


Suara Jasper, untuk satu, dua detik Tracy khawatir Jasper akan menyuruh Louis untuk membantunya, dan hal itu membuat jantungnya berderap keras. Tapi ternyata Jasper belum sebodoh itu.


“Yup.”


Setelah persetujuan Tracy, Jasper menyingkap tirainya dengan hati-hati dan memutar badan Tracy agar punggung


Tracy menghadap ke arahnya. Gaun yang dikenakan Tracy bermodel halter, dengan satu kancing di belakang leher yang mengetatkan turtlenecknya, dan banyak kancing-kancing yang berbaris ke bawah menutupi punggungnya. Seluruh bagian atas gaun ditempeli kupu-kupu putih yang sayapnya akan bergoyang-goyang ketika ia berjalan. Setelah Jasper selesai membantu memasangkan kancing gaun Tracy, Jasper menyibakkan tirainya dan menuntun Tracy ke arah pedestal yang berdiri tepat di tengah-tengah ruangan.


“Gaunnya tidak berat, kan?” Tanya Jasper sambil mendorong Tracy pelan untuk naik ke podium. Tracy menggelengkan kepalanya lalu melepas sepatunya untuk naik ke podium. Malah gaun itu terasa ringan. Dengan petticoat yang mengembang ia merasa telanjang bahkan.


“Coba berputar?” Jasper menyuruh Tracy dan gadis itu menurutinya, berputar pelan-pelan di podium dengan kakinya yang telanjang.


“Nice.” Komentar Louis. Tracy menoleh ke arah Louis yang berdiri beberapa langkah di belakang Jasper. Lelaki itu tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk. Matanya menelusuri gaun cantik di badan Tracy dari atas sampai ke bawah, dan hal itu membuat Tracy tersipu. Louis lalu mengangkat kameranya untuk mengambil momen itu, tapi sebelum Tracy sempat tersenyum ke kamera, Jasper memasangkan sepasang sarung tangan putih ke tangannya tanpa aba-aba dan membuatnya menoleh ke arah Jasper. Sarung tangan yang jadi pasangan gaun itu adalah sarung tangan jaring yang pangjangnya berhenti sebelum siku, dengan kupu-kupu yang sama dengan ukuran lebih kecil mengitari ujungnya.


Ini pertama kalinya Tracy menggunakan gaun pernikahan. Rasanya… magis.


Jasper berjalan beberapa langkah ke belakang untuk mengamati gaun itu sepenuhnya, dan berhenti di sebelah Louis. Kali ini Tracy bisa tersenyum ke arah kamera dan Louis menekan tombol shutternya tepat waktu untuk menangkap senyum itu.


“Bagaimana menurutmu, dude?” Jasper menopang dagunya. Louis mengangkat bahu.


“Cantik sekali.”


Jantung Tracy seolah berhenti berdetak untuk satu detik. Ketika Louis mengatakan itu. Saat kalimat itu keluar dari


mulut Louis, matanya bersibobok dengan mata Tracy, dan senyum Louis mengembang. Tracy dengan cepat menunduk, pura-pura memperhatikan gaun di badannya juga.


“Dengan heels putih permata pasti cocok, tapi untuk Tracy mungkin tidak pakai heels ya, model prianya pasti tersaingi.” Jasper bergumam kepada dirinya sendiri.


“Apa tinggi model gaun ini nantinya akan setinggi aku?” Tanya Tracy. Jasper mengangkat alisnya.


“Lho, kan modelnya memang kamu.” Jawab Jasper seolah-olah memang seharusnya sudah begitu. Tracy mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali.


“Begitu?” Tracy tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


“Kau sedang sensasional, kalau kau tidak keberatan sih aku sangat ingin kau bisa foto dengan gaun ini. Jangan khawatir, kau pasti di bayar untuk ini.” Kata Jasper, masih mengusap-usap dagunya.


“Apapun untuk kalian, Jas.” Jawab Tracy akhirnya. Sungguh, bisik Tracy dalam hati pada dirinya sendiri. Kalau bukan Jasper yang meminta ia tidak akan mau.


“Good, bagaimana menurutmu, Lou?” Jasper menoleh pada fotografernya. Louis hanya mengangkat bahu.


“Aku sih oke saja. Ini kan Tracy Manson  yang kita bicarakan.” Louis menyeringai penuh arti. Tracy memutar bola matanya.

__ADS_1


“Seleramu memang bagus.” Kata Jasper dengan nada dramatis, lalu memberikan gaun lain pada Tracy.


“Satu lagiii saja kalau tidak cocok aku akan berikan baju ini pada model lain.”


__ADS_2