Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 17


__ADS_3

Setelah itu MC langsung menutup acara perbincangannya dan mempersilakan Violetta turun dan mempersembahkan Aya Eiko ke atas panggung. Tracy menghela napasnya dan berdiri, masih memerankan Gracy dengan sempurna. Ia sudah tidak peduli dengan orang yang menyebut-nyebutnya Tracy Manson. Tracy juga cukup terkenal, jadi mungkin saja orang-orang itu salah mengira ia Tracy. Bukan berarti Gracy yang lebih terkenal maka mereka tidak terlihat kembar kan?


Aya Eiko memulai lagunya dengan halus. Tracy ikut menggerakan bibirnya terhadap lirik lagu Aya yang sudah ia hafalkan semenjak kemarin. Saat lagu memasuki bait ke duanya, Nana masuk dengan payung besar putih bertirai itu. Tracy mencoba untuk mengintip, tapi ia ada di barisan paling belakang, ia tidak bisa melihat apa-apa.


Derrian menyorot semua kegiatan di belakang panggung, dan kameranya lalu berhenti di Tracy. Tracy masih dengan santai membisikan lirik nyanyian Aya Eiko, sambil mengangkat bahunya kecil sambil memamerkan gaunnya sedikit, ia lalu meniupkan ciuman kecil ke kamera dengan centil lalu kamera meninggalkannya.


Barisan di depan Tracy mulai memendek, dan Tracy semakin dekat dengan pintu belakang panggung. Bunyi gitar listrik mulai bermain dan tersisa satu lagi model di depan Tracy.


“Aku terus berlari walau aku tidak tahu kapan badai akan berakhir.”


Tracy masuk menerobos pintu masuk, tepat ketika model terakhir kembali masuk ke belakang panggung. Tracy berjalan lebih cepat kali ini, senyumnya simpul dan bibirnya masih mengikuti lirik Aya Eiko.


“Aku tidak bisa memilih jalanku, aku harus selamat.” Tracy berjalan menghampiri Aya yang bernyanyi menghadapnya dan mengulurkan tangannya ke arah Aya. Aya menyambutnya, Tracy terus berjalan, lalu membiarkan dirinya berjalan mundur beberapa langkah sebelum melepas genggaman tangan Aya lalu kembali


menghadap ke depan.


“Tidak adanya rasa percaya, memberimu rasa sakit yang bernama kebebasan.” Tracy melepaskan selendang bulunya yang ia sampirkan di bahu, dan menyampirkannya di lengan sambil memindahkan berat badannya ke kaki kiri.


“Jadi sekarang berdirilah, lagi, dan lagi.”


Tracy menyibak ujung roknya yang pendek sedikit, membuat ekor gaunnya ikut bergelombang. Ia mengedipkan matanya ke arah kamera, lalu berjalan kembali ke arah Aya.


“Di ladang yang kau tuju sekarang salju sudah berkumpul.” Tracy mengitari Aya, pelan-pelan sambil menatap penyanyi itu, Aya tenggelam dalam lagunya sendiri.


“Masa depan putih yang sederhana.” Aya menatap Tracy yang sudah menyelesaikan putarannya dan kembali meraih tangan Tracy yang menyambutnya, sebelum ia lepaskan dan Tracy kembali berjalan balik.


Lagu perlahan berakhir dengan alunan biola dan vocalizing Aya. Kini lantai runway seperti dipenuhi salju dan


setiap langkah yang menyentuhnya seolah mereka benar-benar menyentuh tumpukan salju dan meninggalkan jejak kaki. Tracy berhenti di tengah-tengah dan berputar menghadap Aya Eiko, lalu melakukan curtsy dan meniupkan ciuman ke depan, entah siapa yang lihat karena Aya Eiko berada di depannya dan semua mata tertuju pada Aya. Tapi Tracy juga sudah tenggelam di suasana itu, dan ia lalu berjalan kembali ke belakang panggung, disambut pelukan beberapa model, Candice, dan kamera yang selalu siap.


“Kau hafal lagu itu?!” Candice berbisik keras-keras, menyadari lagu sudah mati dan tepuk tangan penonton juga mulai mereda. Tracy terkekeh kecil, ia sudah kembali ke dirinya sendiri.


“Violetta hafal lagu itu, aku jadi terpaksa hafal lagu itu.” Setidaknya hal itu membawa hal baik untuknya.


“Kerja bagus.” Bisik Shu yang menghampiri Tracy untuk memeluknya.


“Kau juga.” Bisik Tracy, lalu model-model lain mulai saling berpelukan, lega dengan presentasi yang sudah selesai.


Tracy berjalan ke arah meja rias dan melepas bootsnya yang sebelah kanan, dan melihat bengkak kecil mulai membiru di sana, tepat di dekat mata kakinya. Tracy kembali memasukan kakinya ke sepatu itu.


Apapun yang terjadi ia tidak mau se-orang pun tahu.


 ------------------------------------------------------------------------------------------


“Cheers!”


Gelas-gelas champagne bersulang. Ruangan ballroom hotel yang ditempati oleh Tim Naka sudah disewa malam itu, dan setelah pers, semua tamu VIP, beberapa selebriti, beberapa tokoh-tokoh besar di dunia fashion, kecantikan, dan fotografi berkumpul di ruangan itu. Lampu di matikan, dan lampu warna-warni spotlight dinyalakan. DJ memainkan lagu-lagu Jazz dan R&B bahkan sudah dari sebelum tamu-tamu memasuki ruangan. Beberapa pelayan dengan seragam one piece dress berlengan panjang hitam berjalan kesana-kemari, membawa minuman dan makanan kecil di atas nampan putih.


“Penampilanmu luar biasa, Manson. Sudah berapa lama kami tidak melihatmu di dunia fashion?”


Tracy tertawa kecil. Pertanyaan yang sama ini sudah dilemparkan kurang lebih tujuh kali semenjak pesta dimulai. Tracy sudah mengosongi empat gelas champagne, semenjak itu. Entah apa jadinya Tracy, dia yakin ia tidak akan mabuk.


“Dua tahun? Mungkin ada.” Jawab Tracy. Gadis itu mengangkat alisnya.


“Wah, kenapa sih kau memutuskan untuk tidak lagi modelling? Padahal skillmu sudah professional. Sayang sekali.”


Tracy hanya mengangguk kecil. Ia ingat, gadis ini adalah gadis yang melakukan foto editorial bersamanya untuk majalah Eye waktu itu. Ia model yang cukup terkenal, model muda yang sering kali bergaya untuk majalah-majalah High-fashion. Namanya Leah? Tracy juga tidak terlalu ingat, tapi gadis itu nampaknya masih betul-betul ingat.


“Aku tidak menganggap modelling hal yang akan aku tekuni dengan serius. Aku harus fokus dengan buku-buku dan tulisanku.” Tracy kembali menjawab, seperti sedang membaca naskah drama yang sedang terus ia ulang-ulang.


“Padahal aku sangat terinspirasi dengan runway hari ini. Aku jarang melakukan runway kau tahu, tapi karenamu aku jadi ingin kembali naik kesana.” Leah menoleh untuk melihat ke arah panggung DJ, mungkin membayangkan runway hari ini. Tracy ikut menoleh menatap panggung DJ.


Ya, Tracy setuju. Sekali kau sudah naik ke sana kau akan terus ingin naik ke sana.

__ADS_1


Seperti candu.


“Lakukanlah! Kau akan terlihat cantik di atas sana.” Tracy memperhatikan baju yang dipakai gadis itu. Stelan jas putih dan celana bahan putih yang serasi. Rambutnya rapi ditata diikat di bawah. Gadis itu cantik, garis wajahnya tajam dengan struktur tulang yang kuat, hampir terlihat maskulin. Tapi bibirnya yang dibubuhi lipstick merah cherry terlihat tebal dan sensual, dengan sepasang bola mata biru yang tampak teduh.


Leah mengangguk, matanya masih terpasang di panggung, lalu ia kembali menatap Tracy dan tersenyum.


“Kalau aku dapat runway, aku akan kirimkan undangan untukmu. Kerja bagus Manson, aku harap kita bertemu di event fashion lainnya nanti.” Leah menepuk pundak Tracy lalu berjalan pergi untuk menghampiri tamu lain. Caranya berjalan seperti diatas runway. Model yang asli memang beda.


Tracy mengosongkan gelas champagnenya yang sedang ia pegang, dan mengambil gelas baru.


“Ini bukan pertama kalinya kan kau di runway?”


Tracy otomatis memutar bola matanya. Ia mendekatkan gelasnya ke bibir dan menyesap sedikit minumannya.


“Kau selalu bicara seperti kau kenal aku. Seharusnya kau tidak perlu menanyakan hal itu lagi kalau kau sudah kenal aku.” Tracy menjawab tanpa berbalik badan. Ia tahu, Louis Troya berdiri di belakangnya.


Tidak lama kemudian lelaki itu berdiri di sampingnya, membawa gelas yang sama.


“Kau minta di bayar berapa oleh Naka?”


“Kau ini fotografer atau wartawan?”


“Sebenarnya kau suka modelling kan?”


“Kau ini fotografer atau wartawan?”


“Jadi benar kau yakin akan kalah dengan Gracy?”


“Kau ini fotografer atau wartawan?”


Louis menghela napasnya.


“Aku fotografer, tapi kau ini sesuatu, Tracy Manson. Aku tidak bawa perekam suara, kameraku juga tidak menyala kau bisa jawab pertanyaanku. Semuanya off-the-record.”


“Aku bisa atau tidak menjawab pertanyaanmu bukan kau yang bisa menentukan.” Tracy menoleh ke arah Louis, benar-benar menatap fotografer itu kali ini. Louis balas menatapnya.


meninggalkan Louis, tapi Louis menahan lengannya.


Ya, menahan lengannya lagi seperti hari pertama mereka bertemu.


Tapi kali ini berbeda.


Tracy tidak sekuat hari itu, ia merasa oleng. Sedari tadi Tracy minum champagnenya tanpa bergerak, ia hanya berdiri dan diam. Dan sekarang setelah ia bergerak, efek minuman beralkohol itu mulai terasa.


Sekali lagi, sama seperti di belakang panggung, tepat sebelum lutut Tracy sempat menyentuh lantai, Louis menahannya.


Tracy merasa ia déjà vu.


“Kau terlalu banyak minum.” Louis menaruh gelas champagnenya sendiri di meja terdekat, lalu mengambil gelas Tracy dan menyingkirkannya juga. Louis menegakkan badan Tracy yang masih oleng.


“Ayo, kuantar ke kamarmu. Nomor berapa?”


“Berhenti memberikan aku pertanyaan.” Tracy mengusap dahinya, dan ia berusaha melepaskan tangannya yang dicengkram Louis. Ia benci di pegang orang yang tidak dekat dengannya.


“Jangan menyulitkan aku sekarang, berapa nomor kamarmu?”


“Berisik!” Tracy menarik tangannya sekali lagi. Louis menghela napas, dan membawa Tracy duduk di salah satu kursi, dan berjalan pergi entah kemana. Tracy kembali mengusap dahinya yang mulai terasa sakit. Ia baru sadar betapa mabuknya dia. Semoga semua orang yang tadi ia ajak bicara tidak merasa tersinggung.


Tapi menilai dari semua jawaban Tracy yang hanya diulang-ulang seperti kaset rusak, kemungkinan besar tidak ada yang menyadari kejanggalan di belakang topeng Tracy. Semuanya aman, mungkin.


Louis kembali berjalan ke arah Tracy dan kembali mencengkram tangannya dan membawanya ke luar dari ruangan. Tracy menyerah dan ikut dengan Louis kali ini. Ia merasa mual dan Tracy tidak mau muntah di tengah-tengah pesta.


“Kau… benar-benar harus belajar untuk tidak sembarangan memegang perempuan seperti ini.” Tracy kembali menarik tangannya dari Louis saat mereka sudah di dalam lift. Louis tidak melepaskannya, tapi cengkraman itu mengendur.

__ADS_1


“Kalian kira kami bisa kalian rendahkan, tapi kami juga masih manusia, kami punya perasaan.” Tracy mulai mengoceh. Louis hanya diam mendengarkan. Kamar Tracy ada di lantai sebelas, perjalanan mereka akan makan cukup banyak waktu.


“Apalagi fotografer seperti kau!” Tracy mendorong Louis ke sisi lift, dan kali ini juga menaruh jari telunjuknya di dada Louis. “Kau yang seolah-olah kau tahu semuanya, kau kenal kami seperti kau adalah teman dekat atau semacamnya.” Tracy mendengus. “Kami semua itu punya topeng kami masing-masing! Jangan naif! Untuk mengenal seseorang itu butuh waktu, amatir, biar kau kuberi tahu dari sekarang, supaya kau tidak semena-mena lagi dengan model-model lainnya.”


Louis hanya menghela napas dan menegakkan badan Tracy yang bersandar pada badan Louis dan kembali menghadap pintu.


“Kau…” Tracy menggeram. “Tadi kau sepertinya sangat-sangat-sangat ingin tahu kehidupan pribadiku, apa yang aku rasakan, apa yang aku pikirkan, apa yang aku mau, tidak mau, ini, itu dan segala omong kosong lainnya. Sekarang kau diam? Aku sudah bicara sekarang, brengsek, tanya aku biar kau puas, supaya setelah itu kau bisa tinggalkan aku sendirian!”


Bunyi bell lift terdengar keras, dan pintu terbuka di lantai sebelas. Louis menarik Tracy keluar dari lift dan membawanya ke kamar nomor 1128. Louis menunjuk pintu di depan mereka.


“Kunci.” Sebutnya singkat. Tracy mendecakkan lidah lalu merogoh tas rantainya dan mengeluarkan kartu kunci kamar, dan menempelkannya ke pintu yang langsung otomatis membuka kuncinya. Louis mendorong pintu itu terbuka dan dengan cepat mengambil kartu itu dari tangan Tracy dan menaruhnya di tempatnya di dinding, lampu dan pendingin ruangan langsung menyala dan Louis masuk ke dalam.


Tracy berdeham kecil, sedikit panic, tapi ternyata kamarnya cukup rapi. Sepertinya staff hotel sudah datang untuk


membereskan barang-barangnya. Louis melepas cengkramannya, dan mengambil tas rantai Tracy dan menaruhnya di meja. Ia menunjuk tempat tidur Tracy.


“Duduk.”


Tracy mendecakkan lidahnya lagi. Kenapa lelaki itu mendadak irit sekali berbicara?


“Aku memang mau duduk sebelum kau suruh.” Tracy menjatuhkan badannya di ujung tempat tidur dan memperhatikan Louis yang berlutut dan menyentuh sepatu Tracy.


Tracy hampir menendangnya, tapi cengkraman Louis cukup kuat di kakinya dan badannya betul-betul terasa lelah.


Tracy sudah tidak punya tenaga yang tersisa untuk melawan siapapun. Ia menyadari, ia belum istirahat sedari tadi. Ia baru makan satu kali, di pagi hari ketika hotel memberikan sarapan, lalu yang masuk ke perutnya adalah champagne dan beberapa potong tart susu yang disajikan di pesta tadi. Saat ia duduk di tempat tidurnya,


badannya langsung terasa lelah.


Tracy memperhatikan Louis yang melepaskan bootsnya satu persatu. Tracy tidak tahu Violetta akan mengadakan pesta di sini, jadi ia tidak datang dengan gaun pesta manapun. Violetta akhirnya mengeluarkan salah satu gaun yang ia bawa, gaun cocktail merah tua dengan rok mengembang. Tracy terpaksa kembali mengenakan boots berhak tinggi hitam yang ia pakai kemarin.


Louis menyentuh satu sisi kaki Tracy dan sontak rasa sakit yang menusuk menyerang Tracy dan ia langsung menarik kakinya sedikit dari tangan Louis. Tracy mengangkat kakinya sedikit untuk melihat.


Yup.


Bengkak tadi sudah membesar dan menghitam.


“Sudah kuduga kau menyakiti pergelangan kakimu saat jatuh di belakang panggung tadi.” Louis mendengus kecil. “Model amatir.”


Tracy mengernyit. Tapi memang benar, Tracy model amatir, jadi ia bahkan tidak ingin membalas ejekan itu. Tracy lebih kesal dengan fakta dimana ia yakin Louis sedari tadi diam karena sudah menyimpan serangan itu sedari tadi. Memikirkan julukan yang dapat ia berikan kepada Tracy sebagai balasan kata-kata kasar yang sudah Tracy katakan padanya selama ini.


“Tidurlah. Kalau kakimu masih bengkak besok jangan bodoh dan diam saja, bilang pada Reth atau Miss Naka.” Louis berdiri, matanya masih memperhatikan kaki Tracy yang bengkak.


“Hm.” Tracy mendengus kesal. “Jangan berlagak peduli, fotografer amatir.”


Louis menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.


“Jangan.Bodoh.” Ulangnya sambil menekankan kata-katanya. Ia berkacak pinggang dan menghela napas.


“Tidur.” Bisiknya, lalu fotografer itu berjalan keluar dari kamar Tracy dan pergi.


Tracy mendesis kesal dan berbalik badan untuk melemparkan tubuhnya ke Kasur dan menekan wajahnya ke selimut hotel yang tebal.


Tracy berteriak keras-keras ke selimut itu.


“Kenapa disaat aku tidak mau ada orang yang tahu tentang bengkak itu yang pada ujungnya tahu adalah si brengsek… Louis… Troya!!” Tracy berteriak lagi ke selimutnya lalu ia menghela napas dan berguling terlentang. Napasnya mulai habis di telan selimutnya.


Cahaya lampu kamarnya membuat mata Tracy memicing, ia benci ruangannya terang. Ia memaksakan dirinya berdiri, menyalakan lampu tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan riasan.


Rasa sakit di kaki kanannya terasa sekarang. Entah bagaimana tadi tapi Tracy bisa melupakan rasa sakit itu untuk


hari ini. Padahal sakit ini sakit sekali. Dan ia harus menghentakan kakinya di runway, dua kali dengan sepatu hak tinggi.


Tracy menatap wajahnya yang kemerahan karena alcohol di kaca. Ia tampak kacau. Kalau saja ruangan tadi tidak gelap, wajahnya akan terlihat sangat-sangat merona.

__ADS_1


“Hm…” Tracy tersenyum pada pantulan wajahnya di kaca.


“Hari yang menyenangkan dan menyebalkan.”


__ADS_2