Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 13


__ADS_3

 “Wah aku tidak menyangka sama sekali akan bertemu dengan kau lagi disini.”


Tracy berbalik, dan menemukan Louis berdiri di belakangnya. Ia baru saja meninggalkan kamar kecil untuk cuci tangan setelah semua hidangan telah di sajikan, dan tamu-tamu mulai pamit pulang.


Tracy memutar bola matanya lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


“Aku kan sudah bilang padamu, aku ada di Kyoto untuk alasan tertentu. Kau yang keras kepala seolah-olah kau tahu semuanya. Kau sudah tahu kalau aku tidak bohong, kan, sekarang? Puas?” Tracy menghela napasnya. Ia tidak bisa merasa tidak kesal dengan lelaki ini. Apapun yang keluar dari mulutnya selalu terdengar menyebalkan. Apakah telinganya yang bermasalah?


“Aku bilang kau bohong tentang kau tidak tahu keberadaan Gracy, bukan soal kau jadi jurnalis atau sebagainya. Peduli setan aku tentang kau jadi jurnalis, model atau supir bus.” Louis melangkah mendekat. Tracy mendesis.


“Kalau aku tahu keberadaan Gracy kau pikir aku akan berada di sini sekarang? Aku jelas akan berada entah dimana bersamanya.” Tracy berbisik. Ia tidak suka berdebat dengan orang lain, karena ia akan selalu berakhir menangis.


“Lalu kenapa kau bisa berada di Kyoto di waktu yang bersamaan dengan Gracy?” Louis ikut melipat tangannya di depan dada. Tracy memutar bola matanya.


“Aku tidak akan berada di Kyoto kalau Naka tidak meminta bantuan padaku, bodoh.”


Louis mendengus. “Hah, alasan.”


“Hey, fotografer amatir, begini. Bilanglah aku ini bohong kepadamu soal aku tidak tahu keberadaan Gracy, memangnya aku punya hutang budi apa padamu sehingga aku harus memberikan informasi itu kepadamu? Gracy itu artis! Kau bisa saja fans fanatik yang ingin melukai Gracy, aku tidak kenal kau, aku tidak punya kewajiban untuk memberitahukan keberadaan Gracy pada siapapun, termasuk kau!” Tracy menunjuk dada Louis.


Louis menghela napas.


“Sudahlah, kurasa bukan waktunya kita berdebat sekarang di tempat ini. Tapi jangan harap hanya karena kau punya wajah Gracy, aku akan baik-baik kepadamu. Kau beruntung aku fotografer dan bukan reporter, kalau aku reporter, nama Gracy akan tercoreng besok setelah aku membuat artikel tentang betapa kasarnya saudara kembar Gracy Manson.” Louis berkata lalu berjalan pergi.


Tracy terkesiap. Ia merasa semakin kesal sekarang.


“Hey, Trace, Louis bilang apa padamu? Aku mau menguping tapi dia keburu pergi.” Violetta menghampirinya sambil mengeringkan tangannya yang basah.


“Oh, Tuhan. Kau telat, Violetta. Dia bilang, ‘Kau beruntung aku bukang reporter, kalau tidak nama Gracy sudah


tercoreng karena aku akan membuat artikel tentang betapa kasarnya saudari kembar Gracy Manson.’” Tracy meniru cara bicara Louis sambil mencibirnya. Tracy menggeram.


“Jangan biarkan aku terlalu dekat dengan orang gila itu, atau aku bisa cakar wajahnya! Ya, memang aku ini kasar tidak seperti Gracy Manson yang anggun dan lembut! Apa masalahnya?”


Violetta menepuk-nepuk punggung Tracy sambil tertawa kecil.


“Wah, dia main-main dengan orang yang salah.” Kata Violetta sambil melihat ke arah Louis berjalan, kalau-kalau lelaki itu berbalik kembali.


“Iya kan?!” Tracy mengangkat kepalan tangannya. Violetta tertawa kecil.


“Sudahlah. Setelah ini kita akan langsung ke hotel untuk membereskan barang-barang dan mencoba beberapa dress sebelum dimasukan ke koper. Besok subuh kita sudah berangkat, jadi ada baiknya hari ini kita tidak banyak kemana-mana.” Viotampak bagusletta menepuk pundak Tracy dan berjalan melewatinya.


Tracy mengangguk, sambil menghela napas.


“Kenapa sih orang-orang di industri ini banyak yang menyebalkan?” Tracy berbisik dan berjalan kembali ke ruangan VIP untuk mengambil tasnya.


Perjalanan kereta ke Tokyo tidak terlalu menyenangkan. Selain udara pagi dingin, ia harus satu gerbong dengan Louis Troya. Itu saja sudah cukup buruk.


Tapi suasana Tokyo adalah hiburan yang cukup baginya. Begitu mereka sampai, Violetta langsung mengajak mereka untuk sarapan di dekat sasiun, semangkuk udon hangat untuk menghangatkan diri. Tracy bersyukur semua tim berpisah untuk makan di tempat yang mereka mau selama masih di lingkungan stasiun dan diminta untuk kembali dalam satu jam.


Tracy mengaduk-aduk udonnya. Ia tidak bisa berbohong tapi fakta dimana beberapa gaun Frozen Flower ternyata cantik di badannya, membuatnya semakin memikirkan perasaan Gracy ketika berita itu sampai di telinganya. Karena tidak mungkin ia bisa menyembunyikan hal ini dari Gracy. Tidak mungkin.

__ADS_1


Mengingat itu, Tracy langsung mengambil ponselnya dan mengecek e-mail yang masuk. Tracy was-was. Bagaimana kalau ternyata Gracy sengaja tidak balas e-mail karena ia kesal pada Tracy? Bagaimana kalau ternyata Gracy marah?


Sebenarnya selama ini Gracy memang tidak pernah langsung membalas e-mailnya. Bisa memakan waktu satu minggu malah untuk Gracy membalas e-mailnya. Bahkan pernah satu kali waktu, Gracy baru membalas satu bulan kemudian karena dirinya terlalu sibuk. Tapi Tracy tidak bisa menahan rasa khawatir ini.


“Vi, fashion show Tokyo ini jauh lebih besar kan daripada yang di Kyoto?”


Tracy menatap Violetta, berusaha menyembunyikan kecemasannya. Violetta masih fokus terhadap makanannya, dan tanpa menoleh ia menjawab.


“Tentu saja, Trace. Presentasi di Kyoto tidak bisa dibandingkan dengan Tokyo. Venue yang nanti kita gunakan bahkan adalah venue yang dipakai Tokyo Fashion Week biasanya. Di Kyoto bahkan tidak ada runway kan? Di Tokyo nanti runwaynya besar, dengan lampu-lampu mewah dan yang datang juga banyak.”


Tracy mengangguk-angguk. Tapi dia sudah mengiyakan semuanya, ia tidak bisa berbalik sekarang.


“Oh ya, karena shownya besok, nanti siang kita bisa latihan dulu, tempatnya sudah beri aku izin.” Violetta mulai


menyeruput mie nya, dan membuat Tracy ingat bahwa ia juga perlu mulai makan sekarang sebelum mie nya dingin.


“Um… maaf—“


Tracy baru saja akan memasukan udonnya ke mulut ketika seorang gadis muda menghampiri mereka. Tracy dengan cepat kembali menurunkan sumpitnya dan menatap gadis itu, didekapannya ada sebuah buku bersampul hitam.


“Miss Manson dan Miss Nakajima? Saya pembaca setia Anda.” Gadis itu berbicara Bahasa Inggris dengan logat Jepang kental, dan ia membungkukan badannya sedikit.


Violetta tertawa kecil, dan langsung


berbicara Bahasa Jepang.


“Kau membaca buku kami? Itu pasti ‘Logika’ ya?” Violetta menunjuk buku yang ada di dekapan gadis itu. Violetta dan Tracy menulis beberapa buku bersama-sama, tapi hanya satu yang punya sampul berwarna hitam, buku ringan yang menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis yang selalu lebih memilih logikanya dibandingkan hatinya.


“Foto dan tanda-tangan?”


Violetta tertawa kecil lalu mengangguk.


“Iya, boleh kan?”


Tracy mengangguk-anggukan kepalanya, “Ya, tentu saja.” Ia menyodorkan tangannya ke arah gadis itu, dan ia memberikan Tracy pena serta buku yang ia dekap.


“Siapa namamu?” Tanya Tracy pada gadis itu. Buku yang di bawa gadis itu adalah versi Bahasa Inggris, jadi Tracy yakin gadis itu pasti mengerti apa yang ia tanyakan.


“Uh, Natsuki.” Jawabnya malu-malu. Tracy tertawa kecil dan menandatangani halaman pertama buku itu, lalu menuliskan di bawahnya, “Terimakasih, Natsuki.” Lalu memberikan tanda hati kecil di sebelahnya. Ia lalu mengoper buku itu kepada Violetta yang memberikan tanda tangan serta kata-kata singkat dalam huruf hiragana sebelum mengembalikan bukunya kepada anak itu.


Tracy berdiri dan membiarkan anak itu duduk di antara Tracy dan Violetta untuk lalu mengambil foto bersama dengan kamera depan ponsel anak itu. Setelah itu dengan sopan ia membungkuk sambil berterimakasih berkali-kali sebelum pergi.


“Wah, Logika ya? Sampai juga ke Jepang.” Tracy mendesah kecil dalam bisikan. Violetta terkekeh.


“Partnermu ini berdarah Jepang, tentu saja sampai kesini. Karya itu karya paling bodoh yang kita kerjakan, menurutku. Hasilnya bagus sih, aku suka. Tapi ingat tidak? Awalnya kita ingin membuat buku seri fantasi, tapi lalu entah bagaimana kita berakhir bikin lagi buku roman picisan.” Violetta mendengus. “Aku belum berubah pikiran, aku ingin kita menulis buku seri fantasi setelah ini, yang bisa menyaingi populernya Harry Potter dan Mortal Instrument.”


Tracy tertawa kecil, dan benar-benar mulai makan kali ini. Ya, lucunya Tracy dan Violetta, keduanya adalah pencinta buku-buku fiksi fantasi, tapi keduanya selalu berakhir dengan buku-buku roman, atau chicklit.


 “Biarkan aku selesaikan seri yang terakhir ini lalu kita bisa bicarakan mimpi besar itu, kawan.”


Violetta terkekeh lagi, “Ya, buatku juga itu mimpi besar.” Ia menghela napas. “Tapi entahlah, aku akan sibuk dengan Naka, tapi sungguh aku ingin menulis lagi.”

__ADS_1


“Kau sanggup lah, membuat satu seri alpha-beta denganku. Biarkan aku jadi betanya jadi kau tidak perlu banyak berpikir, ketika kau sudah buntu langsung lempar saja padaku.”


Violetta mengangguk-angguk.


“Oh, ya, kita belum sempat membicarakan Steve si ganteng secara langsung. Bagaimana ceritanya?”


Tracy memekik kecil, sedikit antusias membicarakan topik yang terlupakan ini.


“Ugh, Vi! Hubungan kita berprogres cepat sekali! Dia sering telepon sekarang, dan kemarin dia baru saja bilang, Bagaimana indahnya Kyoto? Aku ingin melihatnya bersamamu.” Tracy meniru Steve lalu memekik lagi sambil mengepalkan jemari-jemarinya karena geli.


Violetta tertawa, lalu bertepuk tangan.


“Luar biasa! Aku tidak menyangka dia akan sebegitunya terus terang denganmu. Kukira dia tipe cowok sok keren yang ingin dipuja-puja dulu sebelum luluh.”


Tracy memutar bola matanya.


“Tidak, Vi, dari detik pertama saja dia langsung seolah-olah bilang, kalau dia itu tidak suka orang lain


membandingkanku dengan Grace, kalau dia lebih tertarik padaku dibandingkan Grace, dan omong kosong lainnya.” Tracy mendesah, “Itu omong kosong atau tidak aku tidak peduli, rasanya aku mulai jatuh untuk dia.”


Violetta bergumam, lalu berhenti dan menyelesaikan kunyahannya.


“Hati-hati Trace, aku merasa ini terlalu seperti roman novel. Aku penulis novel tapi aku tahu jatuh cinta tidak bisa


semudah itu.”


“Yaaa, aku tahu Vi.” Trace menghela napas. “Tapi mungkin karena dia adalah pembaca novel jadi dia bisa seterus terang itu? Lagipula kita sudah lama kenal.”


“Iya, kau kenalan dengannya saat SMP, lalu apa? Kalian kan belum pernah bicara soal topik-topik sensitive, kalian bahkan belum pernah mencoba untuk mengenal satu sama lain kan.”


Trace mengangguk-angguk. Violetta ada benarnya juga, tapi mau bagaimanapun, ia ingin jatuh cinta pada Steve, dan rasanya hal itu tidak jauh lagi untuk terjadi.


“Yah… setidaknya aku lumayan kenal dia karena dulu juga aku suka padanya.”


“Iya, kau suka padanya, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Waktu yang singkat bukan?” Violetta bertanya dengan sarkasme. Tapi sarkasme setajam apapun tidak akan pernah terdengar tajam dari lidah Violetta. Cara gadis itu berbicara sangat halus, terkadang bisa terdengar tegas kalau ia sudah mulai marah, tapi sarkasme tidak cukup untuk membuat kata-kata itu menusuk hati Trace.


“Ah… kau tidak salah sih.” Trace menghela napas lagi.


“Santailah, Trace, nikmati momen-momen ini, jangan terburu-buru.”


Trace mengangguk-angguk. “Aku iri padamu dan Jasper.”


“Aku tahu.” Violetta tertawa kecil.


“Cinta itu sulit, kenapa sih aku ini penulis novel cinta?”


“Tanyakan pada otak dan jari-jarimu.”


“Kau juga, Vi. Jangan berakting seolah kau sudah ada di level penulis fiksi.”


“Setidaknya aku punya pacar.”

__ADS_1


Ah… Tracy Manson tidak akan pernah bisa menang debat dengan Violetta Nakajima.


__ADS_2