Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 4


__ADS_3

Trace melemparkan tubuhnya ke sofa. Itu pengakuan cinta pertamanya. Yah, dia tidak bilang cinta sih, dia bilang suka. Tapi tetap saja, setelah mengakui bahwa ia memahami dirinya sedalam itu, lalu menyatakan suka padanya itu terlau mengagetkan untuk Trace.


Foto Grace dengannya dan keluarganya yang tergantung di tembok dekat televisi mengingatkan dirinya akan janjinya yang baru saja ia ucapkan tadi, bahwa ia akan membertahu Grace ketika kejutan sudah sampai di hidupnya. Sekarang kejutan baru saja sampai di hidup Trace, apakah ia harus mengatakannya sekarang?


Trace mengehela napas lelah, lalu melirik ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukan pukul sembilan. Entah jam berapa di tempat Grace sekarang. Bahkan Trace tidak tahu ada dimana Grace sekarang.


Bunyi dering ponsel Trace membuat gadis itu terlonjak, lalu dengan cepat merogoh tas tangannya lalu mengeluarkan ponsel putihnya dan menempelkannya ke telinga.


“Halo?”


“Trace, belum tidur?”


“Belum, ya ampun, Vi, kau harus tahu apa yang baru saja terjadi padaku.” Tanpa perlu mengecek nama penelepon, Tracy sudah dapat mengenal dengan baik suara siapa yang berada di ujung sambungan.


“Baiklah, aku siap mendengarkan, tapi aku punya pertanyaan dulu untukmu baru kau boleh cerita.”


“Apa?”


“Jasper ingin aku tanya padamu kalau-kalau kau tahu tentang keberadaan Grace sekarang.”


“Oh? Hm…” Trace menguap, lalu mengerang kecil. “Belum lama ini Grace sempat mengirimiku e-mail sih, tapi dia belum cerita-cerita dia ada di mana, dan aku sudah membalasnya kemarin. Biasanya dia baru balas dua minggu kemudian. Kau tahu sendiri lah Gracy nggak suka pegang handphone. Ditambah managernya yang baru agak menyebalkan."


“Oh..” Suara di seberang sambungan terdengar kecewa. “Okelah kalau gitu. Tadi kau bilang mau cerita apa?" 


“Ah!” Hampir saja Tracy lupa soal pengakuan tadi, dan mendadak jantungnya kembali berpacu dengan cepat.“Aku, tadi baru saja bertemu dengan teman SMPku, dia mengirim pesan padaku katanya dia dapat nomorku darimu.”


“Hm…” Sambungan terdengar hening untuk beberapa saat. “Yang mana ya? Rasanya tidak sedikit yang minta nomormu.”


“Namanya Steve Elmer, kalau kau ingat.”


Sambungan hening lagi untuk beberapa saat.“Oh! Iya, iya, lelaki yang seleranya agak aneh itu ya.”


Trace tertawa, rupanya Steve memang dianggap pembaca yang aneh oleh penulis manapun. “Ya, seleranya agak aneh. Dan well, dia bilang dia suka padaku semenjak SMP, dan tiba-tiba saja seolah bisa menerawang perasaanku dari lapisan batinku yang terdalam.”


“Hm, kamu sih memang mudah untuk dibaca, Trace. Tapi sepertinya ini pertama kalinya kamu cerita soal cowok denganku semenjak...entahlah. Semenjak lama sekali."


“Aduh, bukan itu. Semudah-mudahnya aku dibaca, kurasa nggak bisa sampai sedetail itu. Lagipula kita sudah hampir lima tahun nggak ketemu. Kata-katanya itu rasanya seperti dia bahkan bisa menebak hal-hal yang bisa aku iyakan tapi nggak aku sadari sebelumnya. Kau ngerti, kan, maksudku?"


“Oh, ya? Hal-hal seperti apa?”


“Ya… seperti soal akuyangberlindungdibalikketenaranGracedanjadidikorbankan.”


“Ha? Apa?”

__ADS_1


Trace menghela napasnya. “Aku yang berlindung di balik ketenaran Grace dan jadi korban. Seolah-olah aku mengorbankan diriku untuk Grace.”


“A-ah…”


Trace mendengus, lalu berbaring di sofanya sambil melemparkan tas tangannya ke lantai. “Setelah sekian lama kita nggak ketemu, itu kurang lebih kan lumayan ajaib..”


“Dia ganteng?" 


“Luar biasa!" Tracy melempar tangannya ke atas dengan berlebihan. "Maksudku dulu dia culun dan biasa saja—walaupun aku sempat suka sama dia karena dia kelihatan keren waktu dia sedang konsentrasi, tapi sekarang tiba-tiba dia jadi kelihatan seperti pria-pria petualang yang berbadan seksi dan berkulit kecoklatan, dengan matanya yang juga coklat dan benar-benar menghanyutkan.”


“Kalau begitu tunggu apa lagi? Dia baik dan juga tampan, dan –pengertian kalau menurutmu. Ini kesempatan bagus, Trace.”


“Nggak.” Trace menepuk pipinya. “Lebih banyak hal lain yang butuh perhatianku saat ini.”


“Nggak." Violetta mendecakkan lidahnya. "Nggak ada banyak hal yang butuh perhatianmu kok. Kamu justru cuma punya dua hal yang perlu kamu hadapi, satu seri buku cinta dan satu pria ganteng. Aku yakin bakal mudah buatmu mensukseskan dua-duanya."


“Benarkah?” Trace mendadak merasa berharap. Suara tawa Violetta terdengar dari sana.


“Hei! Kamu Tracy Manson. Kamu cantik, menawan, serba bisa dan manis. Semua orang bisa mati untukmu.”


“Ih." Tracy nyengir jijik. "Bayangan semua orang mati untukku itu agak berlebihan. Kau terlalu banyak nulis novel fiksi, Vi.”


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Suara helaan napas berat terdengar dari sambungan telepon Louis Troya.


“Sayangnya tidak. Violetta sudah telepon Adik Gracy dan dia bilang kalau Gracy jarang pegang handphone dan mereka biasa kontak lewat e-mail yang biasa akan Gracy balas dua minggu sekali. Kelihatannya proyek kita nggak bisa menunggu selama itu." 


“Yakin dia nggak tahu? Bisa saja, kan, Grace sudah minta adiknya itu untuk beralasan kalau ada yang bertanya."


“Hm, kurasa nggak mungkin. Violetta sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Adik Grace. Dia yakin seratus persen itu bukan sekadar alasan.”


Kali ini Louis-lah yang menghela napasnya. “Kalau begitu biar aku cari lagi. Thanks Jasp. Nanti kabari aku lagi ya.”


"Oke, Lou." 


Lalu sambungan telepon ditutup. Sekali lagi Louis menghela napasnya untuk menenangkan segumpal kekesalan yang mulai menumpuk di hatinya.


Harus kemana lagi ia mencari Gracy Manson? Kenapa sulit sekali menemui dia? Louis juga fotografer ternama, kalau manager Gracy sudah mendengar namanya mungkin dia akan berubah pikiran. Louis tahu sih, Gracy memang sedang terkenal-terkenalnya. Dia berpindah-pindah antar negara sekarang untuk pemotretan dan berkolaborasi dengan penyanyi-penyanyi luar. Jelas akan sulit untuk mencari Gracy.


“Louis.”


Fotografer muda itu menoleh kebelakang, dan Paul berjalan menghampirinya..

__ADS_1


“Aku dapat nomor telepon manager Gracy Manson, apa kau masih perlu?”


Mendadak cahaya di wajah Louis kembali, dan ia melompat berdiri.


“Yes! Paul! Kau menyelamatkan aku. Thanks.”


Paul hanya melambaikan tangannya dan berjalan kembali ke depan komputer untuk melihat hasil-hasil foto Louis dari Perancis tempo lalu.


Tanpa pikir panjang Louis mengambil ponselnya dan menghubungi nomor yang baru diberikan Paul di secarik kertas kecil di tangannya. Louis menunggu sambungan itu untuk diangkat, tapi seperti dugaannya, percobaan pertama tidak mungkin berhasil dan ia kembali mencoba. Hasilnya tetap sama, tidak diangkat. Louis menghembuskan napas keras.


Ia tahu, ia harus sabar. Dengan kesabaran itu, akan ada peluang Louis bisa benar-benar memotret Gracy Manson.


Semoga.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sudah dua minggu semenjak nomor telepon manager Gracy berada di tangannya. Dan ia mencoba untuk mengontaknya setiap hari. Sungguh.Tapi tidak satu telepon pun berhasil masuk. Entah itu karena sibuk, diluar jangkauan, ataupun sedang tidak aktif.


Tapi hal itu tidak menghentikan seorang Louis untuk mengejar Gracy Manson. Sekali lagi lelaki itu mencoba untuk


mengontak nomor yang diberi managernya. Kali ini tersambung, namun belum tentu diangkat, seperti sebelum-sebelumnya..


“Halo?”


Louis terperanjat, lalu duduk tegak. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan tenggorokannya terasa luar


biasa kering.


“Ha-halo?” Louis berdeham saat suaranya terlontar dengan serak.


“Dengan siapa ini?”


“Ah, s-saya Louis Troya, fotografer, kebetulan saya sedang melakukan sebuah proyek dengan Jasper Kendrick, saya rasa Anda pasti pernah dengar."


“Oh..” Lelaki itu terdiam sesaat. “Ya, ya. Kami pernah ketemu sekali. Ada apa?”


"Kebetulan Mr. Kendrick dan tunangannya Miss Nakajima dari Naka Team akan membuat merk dan butik baru yang menjual baju-baju kasual, kami ingin menawarkan kerjasama dengan Miss Manson untuk mempromosikan baju kami di katalognya. Apa bisa saya bertemu dengan Anda dan Miss Manson untuk membicarakan kerja sama ini?" Louis mencoba untuk menjelaskan sebaik yang ia bisa.


“Hm…” Lelaki itu menghela napas panjang.“Kebetulan jadwal Grace sedang sangat padat. Tidak sedikit juga fotografer yang mengantri untuk waktu luang Grace, tapi sayangnya tidak sekarang, Mr…”


“Troya, Louis Troya. Apakah Anda mau mempertimbangkan sebuah pertemuan untuk saya menjelaskan konsep ini, Sir? Saya yakin seratus persen, kontrak ini akan memberikan keuntungan untuk pihak Ms. Manson.”


“Boleh kalau begitu. Gracy akan berada di Kyoto minggu depan, tepat 7 hari lagi. Dan mungkin kita bisa bertemu di sana saat Gracy sedang ada waktu kosong. Soal tempat dan waktu akan kami hubungi lagi. Maaf, Mr. Troya, tapi saya harus pergi sekarang.”

__ADS_1


Lalu tanpa pamit, sambungan telepon itu diputuskan. Louis tertawa kecil, lalu bersorak gembira. Ia benar-benar merasa senang sekarang, sedikit kelegaan menghampiri hatinya, setelah sekian lama merasakan begitu banyak kekhawatiran. Setidaknya ia tahu Gracy ada di mana minggu depan.


__ADS_2