Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 10


__ADS_3

“Koleksi Naka Modern Kimono baru saja selesai di presentasikan kemarin siang di Nishijin Textile Center Kyoto dan tidak seperti biasanya, saudari kembar Gracy Manson, Tracy Manson datang untuk mempersembahkan karya terbaik koleksi tersebut.”


Tracy menepuk jidatnya, dan menghela napas. Ia menyaksikan video dirinya berjalan di runway, mengenakan gaun Ocean Tears.


“Aku terlihat seperti Grace.” Trace berbisik kecil, lalu mendengus. Ia kembali menunduk untuk merampungkan


artikelnya.


”Tracy Manson bukanlah Gracy Manson, walaupun keduanya adalah kembar identik dan memiliki postur tubuh yang hampir sama. Saya sendiri adalah orang yang perfeksionis dan spesifik—“ Tracy kembali melirik TV flat yang menempel di tembok, tepat di depan tempat tidur yang ia duduki. Tracy mengambil remot dan mematikan televisi itu, lalu kembali menatap laptopnya.


Tracy menghela napas, jemarinya tidak mau bergerak.


“Kenapa mereka harus mengurusi kehidupan orang lain? Violetta tidak perlu memperjelas lagi kan kalau aku dan Gracy adalah dua orang yang berbeda walaupun kami kembar?” Bisik Tracy pada dirinya sendiri. Ia menutup laptopnya dan menghela napas sekali lagi.


Cuaca di luar cerah, ia menatap ke arah jendela besar di sisi kanan kamar hotel dan ia langsung disambut pemandangan kota Kyoto. Tracy mengangguk, ia harus keluar dari hotel ini, kalau tidak bisa-bisa artikelnya tidak akan selesai.


Tracy dengan cepat membereskan laptopnya, dan mengenakan turtle-neck putih beserta long-coat merah dan mengancinginya sampai bawah. Ia berjalan keluar dari hotel dan menelusuri toko yang berdiri di barisan hotelnya.


Setelah beberapa menit, Tracy memilih sebuah toko kopi yang juga menjual es serut dan makanan manis lainnya untuk jadi tempatnya singgah dan mengerjakan artikelnya.


Jemarinya mulai menari lagi, aroma kopi yang nikmat dan khas membuat Tracy merasa nyaman dan seperti kembali di rumah.


“Ya, aku masih berusaha, Jasper. Aku akan tinggal di Kyoto untuk beberapa saat, biar aku pikirkan lagi rencanaku.”


Tracy mengangkat kepalanya, seseorang yang berbicara dalam Bahasa Inggris di telepon, masuk ke toko itu, dan Tracy mengangkat alisnya. Jasper? Ia kembali menunduk menatap laptop, namun memasang telinganya untuk memperhatikan pembicaraan lelaki itu.


“Iya, kudengar Violetta juga baru saja selesai melakukan presentasi ya? Aku harus minta maaf padanya, aku tidak datang padahal aku ada di Kyoto juga.”


Tracy sontak kembali melirik laki-laki itu, mencoba untuk mengenalinya. Lelaki itu tinggi, tidak setinggi model-model pada umumnya, tapi lebih tinggi dari dirinya. Rambutnya coklat kemerahan, dan garis wajahnya tajam. Ia mengenali Violetta dan Jasper, tapi kalau laki-laki ini model seharusnya Tracy tahu siapa dia.


“Oh ditayangkan? Aku sedang ada di luar hotelku, aku tidak bisa menyetel TV.” Lelaki itu melihat ke sekeliling toko,


dan melirik TV di ujung toko lalu meminta staff di hadapannya untuk menyalakan TVnya dan memasang channel fashion.


Jantung Tracy langsung berdebar keras, iaikut menatap TV itu ketika dinyalakan, sembari menutup laptopnya pelan-pelan, bersiap-siap untuk kabur.

__ADS_1


“Acara selanjutnya, Asia’s Next Top Model. Jangan lupa saksikan sekarang!”


Tracy menghela napas, tampaknya liputan itu sudah selesai. Ia kembali membuka laptopnya.


“Ah, kelihatannya acaranya sudah selesai. Biar nanti aku cek internet. Media lain juga pasti menayangkan liputannya, setidaknya konferensinya. Aku ingin melihat karya Violetta di koleksi ini, pasti menyenangkan.”


Pria itu membawa kopinya dan duduk di kursi di seberang Tracy, memunggunginya.


Tracy memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan melihat lebih jelas ke arah lelaki itu. Ia cukup yakin ia tidak kenal orang ini, tapi ia berada di lingkup sosialnya, jadi cepat atau lambat orang ini akan mengenalnya. Yah, orang ini sih pasti mengenalnya, tapi Tracy belum tentu.


“Desain-desainnya sudah sampai ke e-mailku. Aku akan hubungi beberapa teman modelku yang aku pikir cocok untuk mengenakan gaunnya. Tapi ah… satu gaun itu, gaun bohemian warna persik yang terakhir, benar-benar akan bagus kalau dipakai oleh Gracy Manson.”


Tracy membelalak. Orang ini memperhatikan Gracy Manson. Kalaupun ia tidak tahu siapa Tracy, wajah Tracy terlalu berbahaya untuk berada di satu toko yang sama dengan orang ini.


Tracy menutup laptopnya, dan merapikan barang-barangnya. Dengan hati-hati ia mengendap-endap keluar dari toko. Bunyi bell pintu toko mengagetkannya dan ia melirik ke arah laki-laki itu, tapi ia kelihatan masih seru dengan pembicaraannya di telepon dan tidak memperhatikan Tracy.


Tracy berjalan keluar, dan menutup pintu kaca di belakangnya, dan berusaha berjalan meninggalkan toko sekasual mungkin. Ia terus berjalan melewati beberapa toko sebelum akhirnya ia bernapas lega. Ia menengok kebelakang untuk memastikan lelaki itu tidak mengikutinya.


“Gracy Manson?!”


Tracy terkesiap, dan hal pertama yang dilakukan instingnya adalah berlari secepat mungkin meninggalkan lelaki itu.


“Hey! Miss Manson, saya Louis Troya, dari In the Moment Photography.” Kata lelaki itu sambil masih berlari, Tracy terus mengabaikannya dan berlari secepat mungkin, menghindari arus orang-orang yang berjalan berlwanan arah dengannya.


“Saya sudah membuat janji dengan manager Anda, kalau Anda berkenan mohon waktunya sebentar, saya mewakili Jasper Kendrick dan mewakili J&K yang akan mengeluarkan koleksi gaun musim semi, kami membutuhkan jasa Anda!” Louis tetap berteriak-teriak sambil mengejar Tracy.


“A-Aku bukan Gracy Manson!”


Tracy mendengar tawa kecil Louis di belakangnya.


“Saya bukan orang aneh, saya janji, saya fans besar Anda saya akan mengenali Anda di manapun Anda berada.”


Louis berhasil meraih tangan Tracy dan dengan terpaksa Tracy berhenti dan menoleh ke arah Louis. Ia menatap mata Louis dengan kesal.


“Kalau kau memang fans besar Grace, kau tahu aku bukan dia.” Kata Tracy sambil terengah-engah. Kakinya terasa sakit sekarang setelah ia berhenti berlari. Berlari sekencang itu menggunakan heels memang tidak enak, sekarang ia mempertanyakan kenapa ia harus kabur dari orang ini?

__ADS_1


Louis mengernyit dan matanya mempelajari setiap sudut dari wajah Tracy.


“Namaku Tracy Manson, aku saudara kembar Grace.”


“Mustahil.” Bisik Louis.


Tracy memutar bola matanya. “Aku harus apa supaya kau percaya?”


“Bukan, maksudku aku tidak pernah menyangka ‘adik kembar’ Gracy Manson ternyata semirip ini.” Bisiknya sambil masih mempelajari wajah Trace.


Tracy mendengus.


“Kau tidak pernah nonton TV kah?!” Trace menaikkan nada bicaranya, dan dengan kasar menarik tangannya dari cengkraman Louis. Louis mengambil satu langkah mundur lalu menunduk.


“Tidak, maksudku—ah… sudahlah. Sedang apa kau disini? Jadi memang benar kan kau bohong pada Violetta saat kau bilang kau tidak tahu Grace ada dimana?!” Louis balik membentak Trace. Trace mengernyit dan mundur selangkah.


“Sekarang aku tahu kenapa aku tidak mengenalimu padahal kau orang dekat Jasper dan Violetta. Kau hanya fotografer amatiran yang ingin menggunakan Grace sebagai alat panjat sosial kan?” Trace mendengus. “Jangan pernah menghubungi Grace lagi, aku akan beritahu dia dan seluruh managemennya, siapa namamu? Louis Troya? Supaya kau tidak.akan.pernah.bertemu dengan idolamu itu! Kau tidak pantas bekerja dengan kakakku!”


Trace mendecakkan lidah dan berbalik pergi. Dia bahkan tidak minta maaf! Dia hanya salah satu dari banyak orang yang memandang Grace seperti alat dan tidak menganggap ia punya perasaan.


Trace mendengar langkah kaki cepat Louis kembali menghampirinya, dan sekali lagi mengambil lengan Trace untuk


menghentikannya.


“Kenapa kamu mengancam aku?! Benar, kan kalau kau menyembunyikan keberadaan Grace dengan bilang kau tidak tahu dia ada di mana? Aku minta Jasper untuk menyuruh Violetta menanyakan padamu tentang keberadaan Grace dan kau bilang kau tidak tahu, kan?” Louis mendengus. “Tapi nyatanya kau ada di Kyoto sekarang, kebetulan sekali! Grace juga dikabarkan sedang ada di Jepang dan berencana untuk foto di Kyoto sebelumnya.”


Trace mendesis, dan sekali lagi menarik tangannya dari cengkraman Louis.


“Dengar ya, satu, jangan sentuh aku sembarangan, aku bahkan tidak kenal siapa kau. Dua, alasanku ada di Kyoto bukan karena Grace, lalu apa? Aku tidak merasa punya kewajiban untuk memberitahumu. Tiga—“ Trace mendekat ke pada Louis dan menunjuk dadanya. “Jangan.ganggu.aku.”


Ia berjalan cepat kembali ke arah hotelnya. Lebih kesal kali ini.


“Kupikir pergi ke Kyoto adalah keputusan yang benar, tapi kenapa satu keputusan ini membawa banyak masalah konyol?” Tracy menepuk jidatnya dan menggelengkan kepala sembari mempercepat langkahnya.


Kali ini Louis tidak mengikutinya, tapi rasa kesal di hati Trace tidak hilang secepat itu.

__ADS_1


__ADS_2