Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 29


__ADS_3

 To: Gracy_Manson@mymail.com


From: Tracetheauthor@mymail.com


Gracy! Kau tidak akan percaya. Sekarang aku sudah punya pacar. Namanya Steve Elmer. Dia teman SMP kita dulu kalau kamu masih ingat, dan dia bilang dia penggemar novelku.


Tracy bercerita panjang lebar. Senyumnya tidak bisa ia hilangkan dari wajahnya, kejadian besar itu akhirnya terjadi pada Tracy, akhirnya Tracy bisa menceritakan sesuatu yang tidak membosankan pada Gracy.


Oh, ya! Apa bulan ini kau pulang? Please Grace aku kangen sekali padamu, kembar itu seharusnya tidak hidup terlalu berjauhan, dan kau yang terlalu lama bekerja membuatku kesepian T_T. Kumohon kabari aku, Please!


Tanpa ragu-ragu, Tracy mengirimkan e-mail itu, mengharapkan balasan. Tapi hatinya yang terlalu kegirangan karena kejadian yang baru saja lewat dua jam—mereka lalu teleponan selama dua jam, sampai Steve sampai di rumah dan lalu mematikan sambungan karena keluarga Steve sudah tidur semuanya dan ia tidak bisa terlalu berisik—dan karena itu Tracy merasa ia harus bercerita pada semua orang. Dua nama lain muncul di kepala Tracy, Violetta dan Louis. Louis bukan teman lamanya, tapi entah kenapa—mungkin karena kemarin malam ia baru saja curhat soal Steve, Tracy merasa Louis harus tahu perkembangan ini.


Tracy menekan nomor Violetta terlebih dahulu, tapi nomor itu tidak bisa dihubungi. Sepertinya Violetta sudah tidur.


Semenjak tinggal bersama Jasper, Violetta sudah tidak bisa dihubungi lewat jam 11, padahal Jasper selalu bisa dihubungi bahkan terkadang pukul dua pagi Jasper masih membalas chat Tracy kalau ia memang sedang benar-benar butuh. Jadi nomor telepon Louis lah yang ia hubungi. Begitu nada dering berhenti, suara Louis langsung menjawab dengan semangat.


“Manson! Syukurlah kau telepon, ada yang perlu aku—“


“Troya! Aku jadian dengan Steve!”


Louis tidak langsung menjawab, jadi Tracy menambahkan. “Dia menembakku lewat radio baru saja dua jam yang lalu kurang lebih, saat kami pulang kencan.”


“Dari radio? Lelaki itu umur berapa? Empat puluh?” Louis mendengus. Tracy cemberut, bukan respon itu yang ia harapkan.


“Hey, kau kan sahabat baruku, dan karena Violetta tidak bisa ditelepon kau lah satu-satunya tempatku menyombong, please, senang sedikit untukku.” Tracy merengek.


“Oh, Manson, syukurlah, aku turut bahagia! Akhirnya kamu nggak kesepian lagi kan sekarang.” Suara Louis dipaksakan untuk terdengar senang, tapi lalu lelaki itu tertawa dan suaranya kemblai normal. “Sungguh, Manson, aku turut senang juga. Jadi gimana? Seharusnya sekarang kau sudah tahu rasanya cinta.”


Pertanyaan itu seolah menyadarkan Tracy. Benar juga.


“Hmm….” Tracy berpikir. “Sebetulnya kencan kami hari ini sih biasa-biasa saja. Selera filmnya sama seperti seleranya pada bukuku, roman-roman picisan—eh tapi bukuku tidak picisan—padahal aku ingin lihat film thriller, tapi demi imageku jadi aku diam saja sih. Lalu makan siang kita juga biasa saja, tapi caranya menyatakan cinta—“ Tracy menghela napasnya. Di seberang sambungan Louis hanya mendengarkan dalam diam. “Dulu ketika aku baru pertama kali bertemu dengan Steve, aku merasa dia mengenal aku dengan sangat baik, seolah-olah dia tahu apa yang aku pendam dalam-dalam. Dan hari ini, dalam pernyataan cintanya dia membuatku merasa dialah jawaban dari semua rahasia yang kupendam itu.”


“Memangnya kau punya rahasia apa sih? Kau pernah jadi pengedar narkoba?” Louis bertanya dengan agak sentimental, Tracy memutar matanya, memaklumi ketidak-romantisan Louis, tidak seperti Steve.


“Soal aku dan Gracy, soal aku dan tujuan hidupku, soal ke rendahan hatiku yang berlebihan, dan lain-lain, kan kau juga sudah kurang lebih tahu semuanya.”


“Oh, itu. Nice then! Aku turut senang kalau kau senang.”

__ADS_1


Jantung Tracy seolah berhenti berdetak untuk sedetik ketika mendengar kata-kata Louis, tapi Tracy mengabaikannya.


“Jadi rasanya apa, jatuh cinta pada Steve?”


Tracy tersenyum lebar. “Waktu ia menyatakan cintanya, aku merasa hatiku hangat, seperti… dipeluk. Apa kau pernah merasa begitu pada Lisha?”


“Hm…” Louis berpikir untuk beberapa saat. “Yah, pasti pernah, tapi aku tidak begitu ingat apa saja yang terjadi. Momen-momen kami yang terasa indah waktu itu sekarang sudah tidak terasa indah jadi aku tidak bisa ingat yang mana.”


Sekarang Tracy merasa bersalah sudah mengungkit soal Lisha. Tiba-tiba sekelibat perasaan tidak enak lewat di hati Tracy.


“Lou?” Panggil Tracy.


“Hm?”


“Novel.” Sebut Tracy, mengatakan kode mereka. Sekarang Louis harus menyimpan apapun yang Tracy katakan setelah ini diantara mereka saja dan membuka pikirannya seterbuka mungkin. Mendadak nada bicara Louis jadi lebih semangat.


“Oke.” Balasnya singkat.


“Aku merasa semua ini terjadi terlalu cepat, bagaimana kalau aku ternyata…” Tracy mencari kata-kata yang tepat, “Memilih orang yang salah?”


“Hm…” Louis menghela napasnya. “Tidak ada acara buatmu untuk tahu kalau ini keputusan yang benar atau salah. Ketika memilih Lisha buatku itu bukan keputusan besar. Aku pikir aku masih muda, masih ada waktu untuk main-main. Kalau kami putus, ya sudah, Lisha masih bisa cari lelaki lain, aku juga bisa cari perempuan lain. Yang lebih baik atau buruk, itu juga hanya akan aku ketahui kalau kita sudah kenal satu sama lain. Apa kau sudah kenal Steve?”


“Trace? Halo?”


“OH, iya, iya.” Tracy berdeham. “Aku… tentu kenal dia.” Tracy berbohong.


“Seperti?”


“Ah…” Tracy berpikir. “Dia ada tinggal dengan Ibu dan adiknya—“


“Di?”


“Apa?”


“Rumahnya di mana? Apa kau tahu?”


Tracy mengangkat alisnya. Benar juga.

__ADS_1


“Oke, menilai dari tidak adanya jawaban, kau tidak tahu. Bagaimana dengan hobinya?”


“Hm.. baca buku?”


“Lalu?”


“Entahlah, olahraga?”


Louis tertawa. Tracy menghela napas, betul juga kata Louis. Ia belum terlalu mengenal Steve.


“Begini Manson…” Louis menghela napas, “Aku tidak mau berpikir negatif, dan aku juga tidak mau menilai yang jelek-jelek soal Steve. Tapi sebagai sesama lelaki, aku hanya bisa bilang, hati hati padanya. Jangan biarkan hubungan kalian timpang. Anggaplah kalau dia tahu tentang alamat rumahmu, kau juga harus tahu tentang alamatnya, dan jangan sampai disitu. Kalau ia sudah lihat rumahmu—bahkan kurasa dia hafal denahnya karena ia yang membantumu pindahan—kau juga harus hafal denah rumahnya.”


“Kurasa itu… terlalu ekstrem, kan?”


Louis mendengus, “Jangan naif, Manson. Aku tidak bisa menceramahimu soal cinta. Hell, kau penulis cerita romansa, kau pasti sedikit banyak lebih mengerti soal emosi itu. Tapi aku laki-laki—dan bukannya aku brengsek—“


“Kau memang agak brengsek.” Sela Tracy dengan suara kecil secara spontan. Louis hampir tersedak ludahnya sendiri.


“Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Ok, aku brengsek karena aku laki-laki, dan kadar ke-brengsekkan laki-laki itu berbeda-beda tapi camkan, tidak ada lelaki yang tidak brengsek. Ada hal-hal yang hanya dibicarakan oleh laki-laki kepada laki-laki lain dan mendengarkan banyak cerita dari banyak jenis macam laki-laki—aku lumayan sosialita, asal kau tahu saja—aku jadi bisa tahu ada saja laki-laki yang di luar kelihatan super suci tapi di balik itu ternyata dia hanya selevel keset ‘Welcome’.”


Tracy menahan tawa. “Keset Welcome?”


“Iya, alas untuk membersihkan kotoran di sepatu yang biasa ada tuilsan ‘welcome’nya itu. Sopan di-luar tapi sebenarnya pantas untuk diinjak.”Louis tertawa kecil. *“*Tapi sumpah, Manson aku tidak mengada-ngada. Jangan lengah di dekat laki-laki.”


“Termasuk kamu?”


“Termasuk aku.”


Tracy hanya mengangguk-angguk, “Yah, nasi sudah menjadi bubur. Aku juga ingin lihat ke mana hubungan ini membawaku. Sedikit banyak dia membuatku bahagia.”


“Itu alasan yang cukup untuk sekarang. Karena aku temanmu dan bukan teman Steve, yang ingin aku bilang hanyalah kalau sampai memang dia ada tujuan main-main, aku ingin kau siap dengan senjatamu untuk membalik keadaan.”


Hati Tracy serasa dihujam, membayangkan bahwa ia harus menyakiti Steve membuatnya merasa sangat-sangat jahat. Lelaki itu sudah sangat peduli padanya, bahkan sering kali Tracy lah yang terlihat mempermainkannya.


Tapi Tracy mengakui kalau skenario itu tidak mustahil untuk terjadi. Setidaknya ia percaya pada Louis yang adalah laki-laki, dan ia tahu Louis tidak akan bohong padanya (karena untuk apa?).


“Kalau.”

__ADS_1


Louis mengiyakan. “Kalau.”


__ADS_2