Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 11


__ADS_3

“Apa? Kau dikejar fotografer?!”


Tracy mengangguk-angguk dengan kesal. Violetta baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Candice dan seluruh Tim Naka keluar untuk membeli makan malam, Violetta tidak ikut karena ia sudah makan malam dengan salah satu pembelinya sehinnga Tracy memutuskan ini adalah waktu yang tepat untuk mengadu.


“Iya, dia mengira aku adalah Gracy. Tapi yang gila bukan itu, Vi, dia bilang di fotografer untuk J&K, Jasper pasti


tahu sesuatu tentang ini.”


Violetta mengernyit lalu menghela napasnya. Ia dengan cepat meraih ponselnya yang ada di samping tempat tidur.


“Orang gila.”


Ia dengan cepat memencet nomor seseorang lalu mengangkat ponselnya ke telinga.


“Hey Jas, sedang sibukkah?”


Violetta berjalan pelan-pelan lalu duduk di tempat tidur, disebelah Tracy. Tracy berusaha mendengar suara Jasper dari seberang telepon tapi ia tidak bisa mendengar apa-apa dengan terlalu jelas.


“Kau kenal seseorang bernama Louis? Fotografer kalau memang benar.”


Jasper menjawab sesuatu lalu Violetta mengangkat alisnya sambil menoleh ke arah Tracy.


“Begitukah? Tadi siang Tracy dikejar-kejar di pinggir jalanan Kyoto oleh orang gila itu, lalu…. Entahlah Tracy kesal


sekali.”


Tracy menunjuk telepon di telinga Violetta dan Violetta menyalakan pengeras sauranya.


“—sudah kubilang tidak perlu. Dia ngotot sekali ingin dapat Gracy Manson sebagai model Spring Collection milik J&K kali ini. Ia sedang ambisius akhir-akhir ini, entah kenapa. Aku juga sudah bilang, Gracy Manson bayarannya akan mahal, J&K juga tidak akan setuju meminta Gracy Manson hanya untuk koleksi kali ini, karena koleksi ini hanya akan dipajang di majalah, tidak akan masuk ke runway.”


“Aku juga bilang begitu pada orang gila itu, Jasp, tapi entahlah, maafkan aku kalau dia temanmu, tapi dia benar-benar tidak punya etika.” Kata Tracy. Jasper tertawa di seberang telepon.


“Maafkan temanku, Trace. Kalau dia sudah menginginkan sesuatu, dia harus mendapatkannya. Aku tidak bisa apa-apa. Oh, by the way, selamat atas presentasi kalian kemarin. Koleksimu indah, sayang, kerja bagus seperti biasanya dan Tracy, wow, aku tahu kau benci dipuji soal skill modellingmu, tapi kau sesuatu. Aku bisa merasakan auramu bahkan dari layar TV.”


Tracy menutup wajahnya. “Yeaah, terimakasih, Jasp. Sekarang kau harus relakan aku jadi pacar kedua Violetta,


kau lihat kan? Hal-hal yang aku rela korbankan untuk pacarmu ini?”


Jasper tertawa.


“Menikahlah di Kyoto, nanti kukirimkan gaun buatan J&K.”

__ADS_1


Violetta tertawa kecil dan mendekatkan ponselnya ke bibir. “Hey, kalau kau membuat pernikahan kita sebagai strategi pemasaran berarti kau teman dan pacar brengsek namanya Jasp.”


Jasper tertawa lebih keras.


“Eh, aku tidak masalah loh di sponsori gaun pernikahan oleh J&K, lalu setelah pernikahan kita aku akan jual gaun


itu dengan harga mahal, akan kutuliskan ‘dirancang langsung oleh Jasper Kendrick, dipakai oleh Gracy Manson dan telah disentuh oleh Violetta Nakajima’, fans fanatik mungkin saja akan rela membayar gaunnya seharga rumah, dan aku jadi bisa beli rumah baru kan. Ayo kita menikah besok, Vi.”


Keduanya tertawa. Tracy naik lebih atas ke tempat tidur Violetta.


“Ah, sudahlah pacaran dulu sana. Aku mau merevisi artikelku sedikit supaya Violetta bisa melihatnya malam ini.”


Violetta masih tertawa lalu pergi keluar kamar. “Baiklah” bisiknya sebelum mematikan speaker telepon.


Tracy membuka laptopnya dan sembari menunggu laptopnya menyala, Tracy meengecek ponselnya.


“Kau sedang apa?”


Kata chat dari Steve. Tracy tersenyum kecil.


“Sibuk memberitahu semua orang kalau aku bukan Gracy Manson. Kau?” Balasnya.


Tracy lalu melihat kembali ke e-mailnya, seperti biasa, tidak ada e-mail dari Gracy. Bukan hal aneh. Ponselnya bergetar, dan ia membuka notifikasi yang masuk.


“Oh, seperti biasa saja kalau begitu? Aku lihat tayangannya di TV. Kamu cantik sekali Trace.”


Tracy menghela napas sebelum membalas.


“Ayo bahas sesuatu yang lain. Apa kesibukanmu hari ini?”


Steve langsung membalas.


“Seperti biasa, aku ke gym, melakukan pekerjaanku sebagai personal trainer, pulang, dan chat denganmu. Bagaimana Kyoto? Pasti indah.”


Tracy tersenyum kecil, lalu berjalan ke arah jendela dan menyibak tirainya untuk memfoto pemandangan malam yang terlihat seperti ribuan kunang-kunang berbagai warna di langit hitam.


“Sekali. Makanannya juga enak, orang-orangnya ramah.”


“Kuharap kita bisa melihat pemandangan itu bersama-sama suatu saat nanti.”


Tracy terkikik kecil. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

__ADS_1


“Aku pun. Aku ingin kesini dan benar-benar menikmati semuanya, tidak untuk bekerja.”


Tracy kembali ke tempat tidur Violetta, dan ia mendengar langkah kaki sahabatnya itu kembali memasuki kamar.


“Eh, kau sudah selesai telepon?” Tracy bertanya. Violetta masih menatap ponselnya, sambil mengangguk-angguk.


“Sudah, Jasper punya deadline yang harus diselesaikan, jadi ia harus kembali mengerjakan desainnya. Aku juga perlu melihat artikelmu kan? Mana?” Violetta melompat naik ke atas tempat tidur dan mengintip layar laptop Trace.


 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


“Tracyyyy.”


Trace menoleh ke arah pintu kamarnya yang sekarang terbuka sedikit. Dari celah itu muncul kepala Violetta.


“Jangan lupa ya, kita berangkat jam 11.” Katanya, sebelum kembali menghilang. Trace mengangguk.


“Okaaay.” Balasnya keras, sambil mengeringkan rambut. Ia mengenakan make up tipis, baju lengan panjang putih


rajut, rok span hitam, dan mantel abu-abu panjang yang kemarin ia pakai ke fashion show.


Setelah yakin dengan penampilannya dari ujung kepala ke ujung kaki, ia mengunci kamarnya dan menuju Violetta dengan timnya yang sudah siap. Mereka berjalan ke restoran omakase di dekat hotel. Kata Violetta dia akan bertemu dengan beberapa tim fotografer dan panitia yang akan membantunya untuk fashion show Tokyo nanti, sambil makan siang.


Violetta sudah mereservasi satu ruangan VIP bergaya tradisional Jepang yang masih menggunakan tatami, jadi semua tamu duduk di lantai. Meja-meja kecil sudah diatur membentuk kotak melingkar untuk kurang lebih lima belas orang.


Tidak lama kemudian orang-orang mulai berdatangan. Kali ini tidak hanya orang Jepang, tapi beberapa tim adalah


perwakilan dari Paris Fashion Week, dan beberapa fotografer Amerika.


Ponsel Juan berdering, dan ia mengangkatnya. Tracy tidak terlalu memperhatikan karena ia ikut merasa repot dengan hadirnya banyak orang di ruangan itu, tapi lalu Juan pergi ke luar ruangan, sepertinya untuk menjemput temannya yang sudah menunggu di luar.


“Aku tidak perlu melakukan apa-apa kan Vi?” Tracy berbisik sambil menyenggol Violetta sedikit. Violetta tertawa kecil.


“Tidak, kau hanya perlu tampak cantik dan makan, aku yang akan melakukan pekerjaannya.”


Tracy menghela napas lalu mengangguk-angguk. Dia bisa melakukan itu. Beberapa orang tampak memperhatikan


Tracy, meliriknya dengan maksud yang begitu ketara lalu berbisik kepada teman atau rekan mereka. Tracy mencoba untuk menghindari tatapan semua orang, agar hatinya tidak terlalu kesal.


“Hey, Vi, kenalkan, ini temanku.”


Tracy mendengar suara Juan di belakangnya dan sontak ia menoleh ke arah Juan, dan detik itu juga matanya membelalak dan dengan cepat ia kembali memutar badannya memunggungi Juan dan temannya yang ternyata Tracy kenali.

__ADS_1


“Hai, salam kenal, Louis Troya, dari In the Moment Photography, aku akan bekerja dengan J&K untuk Spring Collection mereka, jadi mungkin kita akan bertemu lebih sering nanti.”


Tracy menggertakan giginya. Louis Troya.


__ADS_2