Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 2


__ADS_3

Dari: Gracy_Manson@mymail.com


Apa kabar, Trace? Maaf aku lebih memilih untuk mengabarimu telat lagi, aku hanya punya waktu tengah malam, dan zona waktuku sering berganti-ganti, jadi sulit untuk mencari cara terbaik untukku berkontak denganmu. Apa kau lihat acara Star Award beberapa waktu lalu? Begitu kakiku memijakan kaki di belakang panggung, aku menangis. Aku langsung teringat kau, Mama, dan Papa, dan betapa aku merindukan kalian semua. Apa kau sering bertemu dengan Mama dan Papa akhir-akhir ini, Trace? Kalau iya, bagaimana keadaan mereka?


Oh ya, aku minta maaf menyebut seri novelmu waktu itu. Aku tahu mendadak fansmu jadi histeris dan antusias kelewat batas dan jadi memaksamu untuk lebih cepat menyelesaikan karyamu. Aku mendoakan yang terbaik untukmu, dan well, aku juga tidak bisa bohong, aku juga menantikan seri barumu itu.


Kau tahu band bernama JetFunk yang baru saja mengudara? Gitarisnya ternyata senior kita sewaktu di kampus, dan adiknya baru saja membuat pesta ulang tahun besar-besaran. Benar-benar kelewat mewah untuk sebuah pesta ulang tahun umur ke-21. Aku benar-benar tidak mengira akan bertemu dengan seseorang yang kukenal di dunia sempit ini. Dan yah, aku juga sempat kaget juga melihat sampul majalah Eyes edisi tiga bulan lalu, aku bingung untuk sesaat karena rasanya aku sudah lama tidak foto untuk sampul majalah, dan barulah aku menyadari bahwa itu kau. Dan oh, kau cantik sekali di sampul majalah itu! Sebenarnya aku ingin mengeluarkan foto berdua denganmu sekali saja. Aku harap kau mau mempertimbangkannya.


Soal Carlyle… yah, aku tidak perlu menceritakannya. Sikapnya makin seperti seorang Kakak laki-laki terhadapku. Dia tahu aku membencinya, tapi tidak mau berhenti melakukannya. Lalu tiba-tiba saja datang Adik Carlyle yang katanya fansku. Yaampun, sifat dan sikapnya beda sekali dari Carl. Aku berharap kau bisa bertemu mereka suatu saat manti. Tapi aku tahu kau sama sibuknya dengan aku.


Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau sudah menyukai seseorang? Aku harap aku tidak lagi merepotkanmu. Maksudku..kau tahu lah. Aku selalu merasa bersalah sampai sekarang soal bagaimana aku jadi terkenal sendirian dan kamu terkena segala imbasnya hanya karena mimpiku.


Oh ya, kalau kamu melihat sebuah artikel tentang dimana aku sempat tercakar fans yang histeris beberapa saat lalu, jangan khawatir. Fans itu mencakarku tepat diwajah sampai berdarah, tapi lalu dokterku mengatasi semuanya, karena mengoprasi plastik bekas luka itu bahkan mendadak kulitku jadi nggak berjerawat lagi. Kelihatannya insiden itu malah membawakan keuntungan bagiku.


Aku menunggu balasanmu, Trace.Tulislah semua hari-harimu. Aku benar-benar merindukanmu. Aku menyayangimu, Trace, sampaikan salamku pada Mama dan Papa kalau kau bertemu mereka.


Gracy benci berkomunikasi lewat chat. Karena setiap kali ia pakai aplikasi chat, fansnya selalu menemukan cara untuk menemukan nomor Gracy dan menerornya. Lagipula Gracy juga benci mengetik panjang-panjang. Itulah kenapa mereka selalu berkomunikasi lewat e-mail.


Trace menghela napasnya, lalu membaca sekali lagi pesan singkat dari Grace itu. Apa yang akan ia ceritakan pada Grace? Hidupnya tidak sebegitu berwarnanya, tidak seperti hidup Grace. Bahkan Tracy bisa menyadari betapa berbedanya ia dan Grace dari pilihan kata-kata Grace di e-mail itu. Ia menyebut pembaca Trace dengan sebutan ‘fans’ seolah-olah pembacanya sama dengan fansnya. Itu manis menurut Trace, jelas kelihatan kalau Grace sudah benar-benar terbiasa dengan hidupnya sebagai seseorang yang dipuja-puja.


Tracy juga ingin berfoto berdua dengan Grace. Lalu foto mereka berdua jadi sampul majalah ternama. Gracy dan Tracy, memamerkan senyum yang hanya dimiliki si kembar Manson. Tapi Tracy selalu punya pikiran negatif tentang hal-hal yang akan terjadi setelah gambar semacam itu dipublikasikan. Orang-orang akan mungkin akan bilang kalau Tracy mencoba untuk menyabotase pekerjaan Gracy. Atau orang-orang akan mengatakan Gracy ingin membuktikan ke dunia bahwa saudara kembarnya tidak sebanding dengan dirinya.


Tracy bergidik dan cepat-cepat membuang pikiran-pikiran bodoh itu. Sekali lagi ia menyadari bahwa Grace—yang sekarang entah berada dimana—bisa merasakan perasannya, kekhawatirannya. Dan Trace juga bisa merasakan kebahagiaan Grace yang tidak ingin ia hancurkan.


Perlahan ia mengangkat jarinya ke atas keyboard laptopnya dan mengetikan sebuah balasan.


Kepada: Gracy_Manson@mymail.com


Dari: Tracetheauthor@mymail.com


Kelihatannya hari-harimu menyenangkan, Grace. Aku baik-baik saja di sini. Apa kau nggak kecapekan dengan jadwalmu yang sepadat itu?

__ADS_1


Tracy berhenti mengetik dan mulai kebingungan. Ia sudah kehabisan kata-kata setelah dua kalimat itu.


Aku menontonmu di acara Star Awards. Kau super cantik dengan gaun panjang yang kau pakai di sana. Aku tahu warna-warna lembut selalu kelihatan cantik kau pakai. Tapi jujur aku benci melihatmu pakai sepatu setinggi galah itu. Aku merasa kau bisa jatuh kapan saja ketika kau menuruni tangga panggung dengan sepatu itu. 


Tracy kembali berhenti mengetik. Seolah-olah ada sesuatu yang membuat lidahnya kelu, takut-takut ia bercerita 'terlalu banyak' kepada kembarannya sendiri.


Jangan khawatir soal kau mempromosikan bukuku. HIdupku masih sepi-sepi saja kok. Fansku nggak akan fanatik seperti fansmu. Mereka nggak pernah teriak-teriak kalau aku lewat, yah mereka mungkin teriak-teriak sih dalam hati. Oh ya, dan sorry soal majalah itu. Bukannya aku mau diam-diam ambil tawaran modelling di belakangmu tapi majalah itu bukan majalah besar dan aku merasa kau tidak akan tahu juga itu majalah yang mana kalau aku cerita. 


Tracy dengan cepat menghapus kalimat terakhitnya. Ia sedang bicara dengan Gracy Manson yang kemungkinan sudah jadi model di setiap majalah yang pernah di terbitkan di bumi. Mustahil Gracy tidak tahu majalah itu.


Lalu aku memang sempat baca soal kau dicakar fans. Aku langsung meneleponmu waktu itu tapi teleponku tidak diangkat. Eh, dia sempat mengangkatnya sekali sih, managermu, tapi ia langsung menutupnya setelah mengatakan sesuatu seperti "laskdjfaoihgwoeknfviudfb" dan jujur aku nggak ngerti. Sepertinya setelah itu dia juga nggak bilang-bilang padamu kalau aku telepon. Yah setidaknya aku senang kau baik-baik saja. 


Tracy menggigit bibir bawahnya. Ia sungguh-sungguh tidak tahu mau menceritakan apa soal dirinya sendiri. Di titik ini Tracy seperti hikikomori, orang-orang yang tidak punya kerjaan dan seharian berdiam diri di kamar tanpa bersosialisasi dengan siapapun. Jemarinya otomatis mengetik beberapa kalimat yang langsung ia hapus lagi karena merasa tidak sreg dengan apa yang ditulisnya. Begitu saja berulang kali. Tracy akhirnya memutuskan untuk jujur, daripada e-mailnya terlalu pendek, Tracy takut itu akan membuat Gracy sakit hati dan merasa Tracy menyembunyikan sesuatu darinya.


Aku yah masih sama seperti biasa. Konsultasi buku dengan Violetta, jalan-jalan ke taman untuk cari inspirasi, atau lompat dari satu kafe ke kafe lain. Aku harap hidupku bisa memberikan beberapa kejutan untukku, tapi kebetulan hidupku masih begini-begini saja. Tenanglah, Grace. Kalau hidup sudah memutuskan bahwa aku akan diberikan kejutan dan kejutan itu sampai padaku, kau akan jadi orang pertama yang tahu. 


Sebelum Tracy sempat mengirimkan e-mail itu, ponselnya berdering dan bergetar pelan. Tracy langsung meraihnya dengan cepat, menemukan sebuah pesan ditinggalkan di sana.


Dahi Tracy langsung berkerut membaca pesan singkat dengan nomor yang pertama kali di lihatnya itu. Steve? Ia punya beberapa kenalan dengan nama Steve.


Ya, ini Tracy. Sorry, Steve yang mana ya? 


Balas Tracy dan kembali menaruh ponselnya di meja. Tapi balasan pesan itu datang lebih cepat daripada perkiraannya.Tracy mendecakkan lidah dengan kesal dan kembali mengambil ponselnya.


Steve Elmer. Dulu aku satu SMP denganmu, semoga kau masih ingat. 


Tracy terdiam sesaat. Iya. Ia ingat nama itu.


Sesosok wajah langsung berkelebat di dalam kepalanya. Sesosok wajah yang membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Steve Elmer adalah nama cinta pertamanya. Cinta pertama yang tidak pernah ia harapkan untuk bersemi karena semua orang bilang cinta pertama tidak mungkin bersemi dan sebagai penulis cerita romansa, Tracy percaya betul kata-kata itu.


Aku jadi pembaca setiamu. Terutama untuk serian Dibalik Mata yang kau tulis sekitar dua tahun lalu. Tapi aku baru tahu juga kalau kau adalah Tracy teman SMP-ku belum lama ini.

__ADS_1


Tracy tersenyum geli membaca pesan itu. Rasanya serian Dibalik Mata itu cerita roman yang penuh gombalan sana-sini tentang cinta monyet gadis-gadis di masa puber. Apa yang dilakukan lelaki ini? Seingatnya, Steve adalah tipe lelaki serius yang serba tentang studi dan masa depan. Tiba-tiba saja lelaki yang kesannya dingin dan serius itu tertarik pada sastra?


Rasa pensaran Tracy langsung tersentil dan ia membalas lagi pesan itu.


Oh, terimakasih banyak. Iya, aku mengingatmu. Dari mana kamu dapat nomorku? 


Sekali lagi balasan pesan itu datang dengan cepat.


Aku dapat dari Miss Nakajima. Awalnya aku sedang mencari blogmu, tapi yang kutemukan malah blog Miss Nakajima dan ternyata dia aktif membalas pesan yang ditinggalkan pembacanya jadi aku meminta kontakmu padanya.


Tracy mendengus kecil. Tebakannya benar, Violetta-lah yang memberikan nomornya pada orang ini.


Kalau begitu ada apa kau mencariku? Semoga aku bisa membantumu. 


Tracy tidak menaruh ponselnya di meja kali ini dan menunggu Steve mengirimkan balasan sambil membaca ulang pesannya pada Grace. Tapi sekali lagi, sebelum ia sempat mengirimkan pesan itu, balasan dari Steve kembali masuk.


Oh, ya Aku ingin baca novel debutmu. Bipolar? Kalau tidak salah. Novel itu sudah tidak dicetak ulang, tapi aku betul-betul inign baca buku itu jadi aku mau membelinya langsung darimu. Kalaupun tidak berbentuk buku nggak masalah kok, akan jadi kehormatan buatku punya sebuah naskah asli milikmu.


Tracy tertegun, ternyata masih ada orang yang mengingat karya pertamanya itu. Buku itu rampung tepat ketika Tracy lulus SMA, dan tidak banyak yang membelinya karena novel itu tergolong roman sastra dengan bahasa yang sangat baku dan ia lebih banyak mempromosikannya ke pembaca yang masih muda atau ke sekolah-sekolah yang ingin mencari buku roman berbahasa baku untuk ditaruh di perpustakaan mereka.


Boleh saja. Nggak masalah buatku. Kapan kau mau mengambilnya? Atau kau mau aku paketkan saja naskah itu ke rumahmu?


Tracy bertopang dagu setelah mengirimkan pesan itu. Kenapa ia mengatakan mengambilnya? Itu seolah-olah menyuruh lelaki itu untuk datang ke rumahnya.


Kamu sudah makan malam, Trace? Kalau belum dan kau tidak keberatan, maukah kita bertemu di restoran ini?


Lalu dibawahnya Steve menyelipkan sebuah alamat lengkap restoran grill. Tracy melirik ke jam di ponselnya. Sekarang waktu yang sangat tepat untuk makan. Sepiring steak mungkin bukan keputusan yang salah, malah setelah membayangkannya Tracy betul-betul ingin makan steak sekarang, dan ia juga belum masak. Dengan mantap Tracy mengangguk.


Oke. Untungnya restoran itu nggak jauh kok dari tempatku. Jam enam ya. Nanti kubawakan naskahnya. Sampai ketemu. 


Tracy menunggu balasan terakhir Steve yang hanya mengatakan ‘sampai jumpa’ dan lalu menaruhnya di atas meja. Ia memandangi pesannya untuk Grace, menambahkan beberapa kalimat penutup sebelum mengirimnya.

__ADS_1


Tracy menghela napasnya sebelum bangkit berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Jujur Tracy malas pergi keluar, tapi kalau ia jarang keluar ia tidak akan bisa mengirimkan e-mail yang lebih panjang untuk Gracy. Demi e-mail itu, Tracy masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap.


__ADS_2