
Tracy tertidur di pesawat, dan ia kembali terbangun saat pengumuman dari pilot dikumandangankan, mengabari bahwa pesawat akan segera mendarat. Tracy menengok ke arah jendela pesawat, langit terlihat indah.
“Kau mau ke kantor dulu setelah ini?”
Tracy menengokan kepalanya ke arah berlawanan, menatap Violetta yang sedang merapikan rambutnya di pantulan layar ponsel. Tracy mengangguk kecil.
“Hm, iya. Sepertinya begitu, biar aku pindahkan dulu artikel show Jepang, supaya aku bisa beristirahat dengan tenang.” Tracy menguap. Matanya terasa berat dan silau dari cahaya pesawat.
“Kapan kau mau pindah ke kantor? Reth sudah tidak bisa sering stand by di sana karena sekarang ia harus lebih sering ada di rumah. Istrinya mulai kewalahan setelah Daisy bisa bicara. Aku akan memberikan Reth waktu kerja di rumah, dan ke kantor saat dia mau saja. Lagipula ada kau kan yang bisa tetap menjaga kantor.”
“Apa kau yakin dengan keputusan ini, Vi?” Tracy bersandar ke pegangan kursi, mencondongkan badannya ke arah Violetta sambil berharap gadis itu mau memperhatikan mata memelasnya. Tapi Violetta merasa kerapihan bulu matanya lebih penting dan memutuskan untuk tetap memperhatikan pantulan dirinya di ponsel.
“Tentu saja, Tracy. Jangan sungkan.”
“Tapi, maksudku, aku seperti numpang tanpa bayar.”
“Rumah itu sudah kubeli, bukan kusewa, jadi aku sudah tidak membayar apapun untuk rumah itu. Lagipula modal yang kupakai untuk membeli rumah itu sudah hampir kembali sepenuhnya padaku. Ada atau tidak ada kau, rumah itu akan selalu jadi kantor dan studio Tim Naka. Jadi pakailah sesukamu, kumohon.” Violetta kali ini menoleh sedikit, hanya untuk menepuk-nepuk kepala Tracy.
Setelah itu pramugari memeriksa kondisi sabuk pengaman semua orang dan pesawat mendarat.
Tracy yang masih setengah mengantuk pelan-pelan mengikuti arus semua orang berjalan dan menyesuaikan langkah Violetta yang lumayan cepat karena kaki panjangnya, dan tidak lama ia sudah berada di lobby bandara.
“Hey.”
Tracy dan Violetta menoleh ke sumber suara—Louis Troya.
“H-hey, apa yang kau—“
“Cepatlah, Jasper sudah mau sampai.” Violetta menarik tangan Tracy pelan sebelum melepasnya dan berjalan mendekat tepi jalan dengan tas-tasnya yang besar-besar. Louis menghela napas.
“Aku ikut mobil Jasper juga, kalau itu yang ingin kau tanyakan.” Jawab Louis sambil tanpa basa-basi mendorong trolley milik Tracy ke arah mobil. Tracy menyusulnya dengan cepat, dan mendorong trolleynya sendiri. Tapi hal itu tidak membuat Louis melepaskan genggamannya di trolley Tracy.
Tidak lama mereka berdua bisa melihat Jasper dari balik mobil, dan muncul di dekat pintu belakang. Violetta langsung menghambur ke arahnya, memeluk dan mencium tunangannya. Tracy hanya tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke arah koper-koper yang ia bawa. Sudah dua puluh dua tahun Tracy hidup, dan dari sekian banyak cerita roman yang telah ia baca, tidak ada yang bisa menyaingi manisnya cerita Jasper dan Violetta. Setidaknya begitu, menurut selera Tracy.
__ADS_1
“Hey, Trace! Lou!” Jasper mengangkat tangannya, masih dengan Violetta di pelukannya. Tapi lalu raut wajahnya yang tersenyum lebar berubah bingung melihat Tracy dan Louis bersbelahan.
“Bukannya kalian…” Jari Jasper menunjuk Tracy lalu pada Louis, dan terus begitu bergantian. Tracy menunggu, tapi Jasper tidak melanjutkan kalimatnya.
“Bilang saja kami mengenal satu sama lain lebih baik dan melupakan masa lalu.” Louis cepat menjawab, mengangkat bahunya. Tracy melirik ke arah Louis yang balas menatapnya dengan senyuman jahil. Ia membuka pintu belakang mobil Jasper dan mengangkat koper-koper Tracy tanpa pikir panjang, setelah itu ia mengangkat koper-koper Violetta. Tracy berlari ke arahnya untuk membantu, tapi tangannya yang cepat memindahkan semua tas-tas besar di sekelilingnya tanpa Tracy sempat membantu. Terakhir, ia menurunkan tas gendongnya dan menaruhnya di atas tumpukkan koper-koper besar Violetta dan Tracy.
“Kau… hanya bawa satu tas? Yang benar saja.” Tracy berbisik tidak percaya. Louis tertawa kecil dan menarik Tracy menjauh dari bawah pintu belakang mobil yang hendak ia tutup.
“Aku fotografer kan, bukan model.” Jawabnya sambil mendorong Tracy ke arah pintu samping mobil.
Mereka masuk ke mobil dan Tracy duduk di samping Louis, saat Violetta sudah duduk rapi di bangku depan, di sebelah Jasper tentunya. Mobil mulai melaju dan Tracy menengok ke arah Louis, mengingatkalimat terakhir yang ia katakan.
“Betul juga. Tinggi, wajah dan bentuk badanmu cukup cocok untuk jadi model. Kenapa kau memilih untuk berdiri di
belakang layar saja?” Tracy melemparkan pertanyaannya tanpa pikir panjang. Louis mengangkat alisnya.
“Wow, itu sanjungan atau bagaimana?” Balas Louis sambil membenarkan topinya, sedikit tersipu dari kalimat yang ia anggap pujian itu.
Jasper tertawa kecil.
“Yah, aku sedikit banyak ‘model’” Kata Tracy sambil menggerakan jari-jarinya membuat tanda kutip, “Jadi apa alasanmu?”
Louis tertawa kecil tidak percaya.
“Entahlah, bisa dibilang hal itu bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.” Louis menghindari tatapan Tracy dan duduk
bersandar di kursinya.
“Tapi kau kan bekerja di dunia fotografi, kau bertemu banyak model, jadi pasti kau pernah dengar soal ini barang sekali atau dua kali.”
“Yaaaaa….” Louis menghela napas. “Ketika aku memotret seseorang.” Louis berhenti sebentar, matanya menatap kosong ke bagian atas mobil. Mata Tracy menelusuri tulang rahangnya yang kuat dan tajam. Louis juga jauh lebih tinggi darinya, mungkin sekitar 180-an. Bahunya lebar dan kulit wajahnya mulus.
“Yang kupikirkan adalah bagaimana segala hal yang berada di depan kameraku bisa bersatu dan berkolaborasi untuk menciptakan suatu macam keindahan.” Louis mendengus mencibir dirinya sendiri. “Aku tidak pernah berpikir diriku bisa jadi bagian dari keindahan seperti itu.”
__ADS_1
“Hm… masuk akal.” Bisik Tracy bercanda. Louis tertawa kecil, dibarengi Jasper dan Violetta yang ikut terkekeh kecil. Louis hanya menyikut Tracy pelan.
“Begitulah… kira-kira.” Louis mengangkat bahunya. Masih menatap kosong ke depan.
Tracy baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab, tapi ponselnya yang bergetar heboh membuatnya panic dan dengan cepat merogoh kantungnya.
“Halo?” Tracy mengangkat telepon itu tanpa melihat nama peneleponnya. Tracy jarang menerima telepon. Kalau ia ditelepon itu berarti cukup penting biasanya.
“Hai… Trace? Kau sudah sampai kan?”
Tracy mengernyit dan menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat nama peneleponnya. Senyumnya mengembang saat melihat nama di layarnya.
“Yup! Maaf belum mengabarimu—“
Violetta, yang tahu jelas seberapa jarang Tracy menerima telepon langsung melihat ke belakang dan berbisik kecil, “Siapa?” katanya.
“Steve.” Tracy menyambung. Mulut Violetta langsung terbuka lebar dan ia menyeringai.
“Tidak masalah! Yang penting kau sudah sampai dengan selamat. Setelah ini tidurlah dan istirahat, karena sehabis itu aku benar-benar ini ketemu denganmu.” Tracy merasa ia dapat merasakan seberapa antusias lelaki itu untuk bertemu dengannya. Hal itu membuatnya ikut antusias. Tracy tersenyum ke arah Violetta yang lalu kembali duduk tegak.
Kali ini Tracy yang mengubah posisi duduknya mendekat ke jendela, merasa pembicaraannya dengan Steve bukanlah pembicaraan yang seharusnya terjadi di depan umum.
“Aku mau ke kantor Violetta dulu, lalu setelah itu barulah aku akan pulang.”
“Begitu? Jangan paksakan dirimu, pekerjaan adalah nomor dua, dirimu harus selalu dinomorsatukan!”
Tracy tersenyum. “Aku tahu, Steve, terimakasih sudah mengingatkan.”
“Jadi… kapan kita bisa ketemu lagi?”
Senyum Tracy semakin melebar. “Hm… kau mau bantu aku pindahaan ke kantor Violetta besok? Kalau tidak merepotkan tentunya.”
“Merepotkan? Tentu saja tidak Trace! Aku akan selalu ada disana ketika kau butuh aku. Tapi setelah itu kau berhutang makan siang ya denganku.”
__ADS_1
Tracy tertawa kecil. “Akan kutraktir, tenang saja.”
“Hari ini hebat by the way!” Lalu Steve mulai bercerita tentang salah satu langganan di tempat ia mengajar fitness yang membuatnya kewalahan hari ini. Tracy tersenyum, mendengar suara antusias itu berbicara panjang lebar. Tracy tidak tahu apa ini yang namanya cinta, tapi setidaknya ia merasa senang, ia tahu itu.