Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 31


__ADS_3

“Oke…. Bagus, lihat ke kanan sedikit.” Kamera Jasper menjepret bersamaan dengan lampu yang berkedip sedikit. Tracy masih menunggu diluar, ruangan foto Naka tidak terlalu besar dan itu membuat udara jadi terasa sedikit pengap di dalam, ditambah dengan dua lampu besar yang menguarkan hawa panas itu.


Tracy terus-terusan membenarkan gaunnya. Iya sih, dirinya kelihatan cantik memakai gaun itu. Tapi gaun ini sangat…. Sangat…. Sangat menyiksanya. Mana bisa ia melakukan prosesi pernikahan dengan tersiksa begini?


Louis berjalan keluar dari ruangan dan matanya langsung bersibobok dengan Tracy yang sedang kepayahan.


“Hey, kamu nggak apa-apa?” Tanyanya dan ia mendekat beberapa langkah.


Tracy merengek kecil. “Kalau aku menikah nanti, aku pakai daster saja lah. Tapi daster rancangan Jasper, jadi aku tetap kelihatan oke.”


Louis tertawa kecil.


“Kenapa sih? Gaunnya ketat sekali ya?” Louis berjalan mengitari Tracy untuk menyentuh punggung Tracy.


“Tidak bisa dilonggarkan.” Sebut Tracy cepat sebelum Louis bahkan mencoba. “Kembennya ada di dalam, dan itu yang sedang menggerus paru-paruku sekarang.” Tracy megap-megap sekali lagi.


“Ya sudah aku tidak bisa apa-apa kalau begitu.” Louis kembali menatap Tracy dari depan, dan Tracy langsung mendecakkan lidah melihat Louis dari kepala sampai kaki.


“Sungguh, hoodiemu kelihatan super nyaman sekarang.”


Louis terkekeh lagi.


“Mau kau masuk ke majalah Jasper dengan hoodie ini? Kau bakal kelihatan seperti kentang.” Louis berkata sambil melarikan diri ke dalam.


Tracy mendecakkan lidah. “Teman tidak tahu diuntung.” Makinya pelan-pelan.


“Tracy? Masuklah.” Panggil Jasper, dan tidak lama setelah itu, model yang sedang difoto berjalan keluar dan Tracy


masuk ke dalam. Hawa panas di dalam langsung membuatnya merasa lebih sesak begitu kakinya melangkah ke dalam.


“Kau tampak cantik, Trace.” Panggil Jasper sambil mengatur-atur kameranya.


“Thanks, Jasp.” Tracy menghela napasnya dan naik ke pedestal di mana seorang model laki-laki sudah menunggunya.


“Hai, aku Tristan. Salam kenal.” Model itu menyalami Tracy. Tracy ingat laki-laki ini. Dia pernah jadi model Jasper


sebelumnya tapi kelihatannya dia tidak begitu ingat Tracy.


“Hai, Tracy. Salam kenal.” Balasnya singkat.


“Hm… coba kalian bergeser lebih dekat sedikit.” Arah Jasper, dan mereka langsung lebih merapat. Tracy langsung


tersenyum secara otomatis begitu matanya bersibobok dengan kamera. Tapi Jasper tidak kunjung menekan tombol kameranya.


“Sorry, Tristan, boleh turun sebentar?” Suruh Jasper dan ia berbisik ke arah Louis yang langsung melesat keluar dan membawa masuk model laki-laki lain.


“Kenapa Jasp?” Sebut Tracy.


“Nggak apa-apa, tingginya kurang enak kalau dipasangkan denganmu. Sorry, aku agak perfeksionis.” Sebut Jasper sambil dengan cepat menyuruh model lain untuk berdiri di sebelah Tracy.


Model itu tidak memperkenalkan dirinya karena di titik ini Tracy tahu model itu merasa sama tegangnya dengan Tracy. Jasper mendecakkan lidahnya setelah beberapa detik melihat ke kamera.


“Masih kurang cocok.”


Tracy langsung menarik napasnya, semakin merasa tegang.

__ADS_1


“Sorry, Jasp.” Bisik Tracy tanpa pikir panjang.


“Jangan minta maaf, ini bukan salahmu.” Jasper tertawa. “Santai saja.”


Jasper lalu menoleh ke arah Louis dan memandanganya lama-lama. Louis masih menatap Tracy yang kelihatan semakin bete ditambah dengan sesak napasnya. Semakin lama ia semakin merasa khawatir.


“Lou?” Panggil Jasper dan lelaki itu langsung menoleh cepat.


“Coba berdiri di sebelah Tracy. Kris, turunlah dulu.” Jasper melambaikan tangannya meminta model yang sedang berdiri bersama Tracy untuk turun.


Louis jelas kebingungan, tapi ia tidak bisa membantah dan berlari kecil ke arah tempat Tracy berdiri dan naik.


Tangannya otomatis merangkul bahu Tracy yang sedikit cemberut.


“Nah, oke. Louis, maafkan aku, sumpah aku akan menambahkan bayaranmu. Ganti bajulah.” Arah Jasper.


“Hah?” Tracy dan Louis sama-sama terbelalak.


“Iya! Cepatlah aku perlu jemput Letta dua jam lagi nanti kita nggak selesai.” Jasper dengan cepat melambai-lambaikan tangannya mengusir Louis dari pedestal dan lelaki itu melompat turun tanpa basa-basi dan bertukar baju dengan Tristan.


Stylist Jasper dengan cepat merapikan rambut Louis dan menepuk-nepukkan wajahnya dengan sedikit loose powder dan mendorong lelaki itu untuk kembali ke sebelah Tracy.


“Bagus!” Kata Jasper sambil mengangkat kameranya.


“T-tolong arahkan aku, aku belum pernah—“ Bisik Louis.


“Santai saja dan lihat aku.” Bisik Tracy.


“Taruh tanganmu di pinggang Tracy Lou!” Arah Jasper dan Louis dengan cepat menurut. Tracy menunduk sedikit untuk mengambil tangan Louis dan tersenyum ke bawah, Jasper kembali menjepretkan kameranya.


“Sekarang coba lihat satu sama lain, Tracy, hadap serong sedikit.”


Tracy kembali tersenyum dan Louis mau tidak mau ikut tersenyum, kali ini sedikit mengusap dagu Tracy.


“Bagus! Tahan sebentar seperti itu!”


Tracy bisa meliht mata Louis mencari-cari di matanya. Mau tidak mau mereka berdua sama-sama merasa jantung mereka berdetak lebih keras daripada biasanya. Untuk satu detik Tracy merasa ia berbuat salah pada Steve, tapi di detik itu Tracy merasa… tepat. Tracy merasa ini momen yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, entah maksudnya apa, tapi Tracy ingin waktu berjalan lebih lambat saat itu.


 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


 


Setelah kantor Naka di buka, Tracy langsung merasa ia super sibuk. Hari Senin kemarin studio tidak terlalu ramai karena belum banyak orang yang tahu kalau studio sudah buka. Tapi—setelah Violetta mengoper Instagram Naka pada Tracy—setelah Tracy membuat pengumuman bahwa studio sudah dibuka di semua media social Naka, mendadak studio ramai di hari ini.


“Kau model yang waktu itu tampil di Tokyo kan? Wah, apa kami juga bisa menyewamu untuk tampil di show kami?”


“Bagaimana kalau membawakan acara? Apa kau pernah jadi MC?”


Semua pertanyaan itu sontak memborbardirnya di hari pertama toko ramai. Sialnya Tracy harus berdiri di paling depan toko. Semua orang yang masuk harus menemuinya dulu dan semua orang yang masuk juga selalu menanyakan hal-hal yang kurang lebih sama.


Tapi sudah jelas, yang paling banyak ditanyakan dan diutarakan hanya satu.


“Kau benar-benar mirip dengan Gracy Manson. Kalau kau jadi model kami, brand kami akan laku keras!”


Ya. Tracy hanya bisa tersenyum dan mengangguk-angguk, mengatakan bahwa untuk sekarang ia hanya jadi model personal Naka dan J&K. Untuk ke depannya masih belum tahu akan  bagaimana. Setidaknya itu jawaban terbaiknya untuk sekarang.

__ADS_1


Tapi semua kejadian itu tidak ada yang sebanding dengan saat Louis dan Steve masuk ke kantor Naka di waktu yang sama, dan mengumandangkan satu pertanyaan yang sama.


“Trace, ayo kita makan siang.”


Dan sontak kedua lelaki itu bertatapan canggung. Louis sudah ada di kantor dari awal, tidak masuk jam delapan seperti Tracy tentunya, tapi ia datang untuk meeting dengan Violetta jam sepuluh dan selesai tepat jam dua belas. Violetta langsung menghilang lagi untuk meeting lain dengan kliennya sambil makan siang jadi mereka tidak bisa bergabung dengannya. Steve juga tidak meneleponnya lebih dulu, lelaki itu tiba-tiba saja ada di depan kantor.


“Oh, aku tidak masalah kok makan sendiri. Silakan, aku tidak mau mengganggu kalian.” Louis bilang, dengan sangat baik hati. Tracy tersenyum—saat Steve tidak lihat—ke arah Louis dan mengacungkan jempolnya. Louis balas mengacungkan jempolnya sambil tersenyum jelek dengan hidung kembang-kempis.


“Eh, kalau kau mau bergabung dengan kami tidak masalah kok, iya kan? Sayang?” Panggil Steve.


Tracy berdeham, hampir tersedak air liurnya sendiri.


“B-bertiga? Sungguhan? Kau tidak apa-apa? Dia ini hobinya merecoki obrolan orang lho, kita tidak akan bisa pacaran dengan dia ada di tengah-tengah kita.” Jelas Tracy blak-blakan, dan Louis malah mengangguk setuju.


Steve hanya tertawa kecil dan menarik Tracy dengan lembut keluar kantor.


“Nggak apa-apa. Kan dia teman baikmu. Ayo, makan di Kelly’s nggak apa-apa kan?” Tanyanya. Tracy mengangguk-angguk sambil melirik ke arah Louis dengan kesal dan Louis hanya mengedikan bahunya sambil mengikuti mereka ke restoran sebelah.


Mereka duduk tidak jauh dari kasir sekarang, dan Tracy kembali merasa khawatir. Staff yang berada di sana bukan staff yang ada waktu Tracy datang berdua dengan Louis saja, mereka mungkin akan sekali lagi menanyakan kalau dia adalah Tracy Manson.


Dan jawaban dari keraguan itu datang tidak lama setelah itu.


“Maaf mengganggu. Anda Tracy Manson, ya? Adiknya Gracy Manson?” Tanya salah satu staff perempuan.


Tracy hampir tersentak kaget saat ia dan Louis menjawab di satu waktu yang sama.


“Tidak. Operasi plastik!” Sebut keduanya bersamaan. Sontak keduanya pun tertawa keras-keras.


“S-sorry, iya, saya Tracy Manson. Ada yang bisa saya bantu?” Akhirnya Tracy memutuskan untuk mengaku. Ia bekerja di kantor Naka yang letaknya tepat disebelah. Cepat atau lambat mereka akan tahu juga.


“Ah! Kami fans besar. Karena kantor Naka Team ada di sebelah jadi banyak diantara kami yang bekerja di sini karena ingin punya peluang untuk bisa bekerja sebagai model Naka.” Kata staff itu sambil menunjuk teman-temannya yang menurut Tracy bahkan terlalu cantik untuk jadi model—dan yang jelas juga terlalu cantik untuk tidak tampil di dunia hiburan.


“Apa kami boleh foto bareng?” Tanyanya, didukung oleh staff-staff perempuan di dekat kasir yang mengangguk-angguk semangat.


Tracy tersenyum kecil sebelum berdiri.


“Boleh.” Tracy menarik Louis bersamanya.


“Temanku ini fotografer, biar dia saja yang foto.” Tracy tersenyum dengan penuh maksud ke arah Louis dan lelaki itu hanya tertawa kecil sambil nurut-nurut saja. Ia mengambil ponsel staff yang mengajak Tracy foto dan mengarahkan mereka untuk foto di depan counter Kelly’s yang dihiasi banyak lampu neon shocking pink.


Louis cukup puas dengan hasilnya. Cewek-cewek itu lumayan ideal untuk juga bisa bekerja jadi model.


Louis akhirnya berbaik hati dan meminta nomor mereka semua serta jadwal untuk foto portofolio di dalam studio Naka kalau-kalau ada orang yang perlu model dengan kriteria seperti mereka. Tracy kembali duduk di sofanya dan detik itu ia baru menyadari mereka mengabaikan Steve yang hanya tersenyum saja menonton apa yang terjadi di depannya.


“Sorry ya. Aku nggak nyangka jadi begini. Harusnya tadi kita take-out order saja. Di Naka ada nomor telepon mereka padahal.” Tracy lansung merasa sangat bersalah. Terlalu banyak inside jokes, candaan-candaan yang hanya dimengerti Louis dan Tracy, dan itu pasti membuat Steve sedikit banyak merasa curiga dengan Tracy.


“Eh, aku senang kok lihat kamu disukai banyak orang. Itu bukti bahwa kamu juga punya warnamu sendiri. Kamu itu keras kepala soalnya, aku harap lebih banyak orang bisa menunjukkan kamu kalau kamu itu special juga, bukan sekedar bayangan Gracy.” Steve mengusap kepala Tracy. Tracy langsung merasa lega. Steve tidak merasa tersisihkan dengan candaan tadi. Baguslah.


Louis kembali duduk di bangkunya yang berhadapan dengan Steve dan Tracy, dan langsung berkutat dengan ponselnya.


“Lou, ini kesempatanmu untuk pilih salah satu dari mereka dan jadikan pacarmu, jadi kau bisa ikut kumpul di rumahku Sabtu ini.” Bisik Tracy keras-keras yang hanya di balas dengan dengusan kecil oleh Louis yang masih terfokus pada ponselnya.


“Yang benar saja. Aku minta nomor mereka supaya aku bisa mempekerjakan mereka. Lagipula mereka lumayan loh, beberapa di antaranya punya pengalaman yang sudah cukup oke. Mereka hanya belum bertemu dengan orang yang tepat.” Louis mengunci layar ponselnya sebelum menaruhnya terlungkup di meja. “Dan orang itu sepertinya aku.” Ia nyengir lebar ke arah Tracy dengan sombong.


Tracy memutar bola matanya, dan hendak menimpali omongan itu tapi Steve dengan cepat menyela.

__ADS_1


“Memangnya ada apa di rumahmu Sabtu ini?” tanya Steve.


Tracy mendesis dan menepuk keningnya.


__ADS_2