
“Saya sebagai kepala dari Tim Naka.” Violetta kembali berbicara di lingkaran yang sama, sama seperti kali terakhir
mereka di Kyoto, makan siang terakhir tim ini sebelum besok malam meninggalkan Jepang.
“Ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada tim ini. Acara kemarin tidak dapat berjalan lebih baik lagi, dan semua itu karena usaha dan kerja keras kalian.” Semua orang bertepuk tangan. Suasana tidak sekaku saat di Kyoto. Orang-orang juga sudah tidak banyak membicarakan Tracy dengan cara yang menyebalkan seperti saat Kyoto.
Restoran yang mereka datangi hari itu tidak se-tradisional restoran Kyoto. Restorannya masih seputar makanan tradisional Jepang, tapi mereka duduk di meja panjang kali ini.
Pelayan mulai membawakan makanan, dan semua tim dengan santai mengobrol satu sama lain. Tracy, duduk di sebelah Violetta dan ia dapat mendengar semua pembicaraan yang terjadi antara Violetta dan siapapun yang menghampiri dia saat itu.
Termasuk Louis.
“Kau mau kukirimkan foto-foto kemarin kapan?” Tanya Juan, mengawali pembicaraan. Louis ikut mencondongkan badannya untuk mendengarkan.
“Kau bisa mulai kirimkan malam ini, supaya bisa kau kirimkan satu persatu. Karena kita masih perlu memberikan logo kan? Jangan lupa, logo Naka di sebelah pojok kanan dan logo masing-masing di sebelah pojok kiri bawah.”
“Apa kita perlu memberi judul berdasarkan nama gaunnya?” Kata Louis.
“Hm..” Violetta menaruh sumpitnya rapi di tempatnya sebelum menjawab.
“Boleh, kalau itu tidak terlalu menyulitkan. Tolong pilihkan dua sampai tiga foto terbaik saja di setiap gaun. Kalau bisa yang memperlihatkan sisi depan, samping dan belakang.”
“Oh ya, selama kita di Jepang kenapa tidak hunting foto sedikit, Vi? Ternyata Louis juga akan pulang besok sore. Jadi kita bisa jalan-jalan sebentar di pagi hari untuk hunting foto.” Juan memberi ide.
Tracy berusaha keras untuk fokus pada makanannya, dan sesekali mengajak bicara Candice. Tapi gadis itu juga sedang asik berdiskusi dengan teman barunya, panitia Tokyo yang juga membantunya di belakang panggung kemarin.
Tracy akhirnya merasakan sikutan kecil Violetta.
“Kau mau? Aku perlu beberapa wajah yang bisa dipasang di majalahku. Shu juga akan ikut untuk hunting foto besok. Menyewa fotografer itu mahal lho, ini kesempatan langka untukmu bisa difoto dengan gratis.” Violetta berbisik ke arah Tracy.
Tracy tidak bisa mengelak sejujurnya. Apa yang mau ia katakan?
Tidak mau karena ia benci modeling? Sudah basi rasanya.
__ADS_1
Tidak mau karena ada Louis Troya? Terlalu murah dan kekanak-kanakan.
Tidak mau karena ada acara lain? Tidak mungkin, Violetta tahu kalau dia berbohong.
“Boleh…” Jawab Tracy lemas.
Violetta berteriak kecil girang. “Kalau begitu besok siang, saat ada cahaya. Kita bisa bawa tim make up dan lighting,
aku mau melakukan sesuatu yang ekstrim dengan saljunya.”
Tracy tahu hal itu tidak akan terlalu menyenangkan.
Yah, foto-foto menyenangkan. Tracy suka. Apalagi ia punya wajah Gracy. Semua orang pernah kan, berakting seperti idolanya? Membayangkan kalau ia melakukan hal ini, atau hal itu, mereka akan terlihat keren?
Orang lain tidak bisa hanya sekadar meniru idola mereka dan puas dengan hasil yang didapatkan karena mereka tidak tampak seperti idola mereka. Tapi Tracy punya wajah dan tubuh Gracy.
“Aku sempat berpikir, Trace.”
Tracy hampir melompat di kursinya saat Violetta berbisik ke arahnya. Tracy berpura-pura tidak kaget dan mencondongkan badannya ke arah Violetta.
Tracy hendak membuka mulutnya untuk protes. Tapi saat Violetta menyela protes itu dengan cepat, Tracy sudah tahu ia tidak akan bisa menolak apapun yang ingin Violetta tawarkan padanya saat ini.
“Kantor Naka nyaman, bentuknya ruko seperti yang kau tahu. Tapi karena aku sudah tinggal dengan Jasper sekarang, lantai atas yang dulu aku tempati jadi kosong. Aku tidak bisa menjualnya ataupun menyewakannya karena rumah itu menyatu dengan showroom dan kantor Naka. Aku akan memberikannya padamu untuk tinggal secara cuma-cuma.”
Tracy hendak membuka mulut lagi untuk protes, Cuma-Cuma terdengar menyulitkan.
“Air dan listrik jadi tanggung jawabmu tentunya, tapi kau tidak perlu bayar sewa, dan kau akan digaji pokok untuk jadi penulis konten Naka. Kau bahkan akan dapat uang tambahan di setiap artikel yang diposting ulang, atau kalau kau bersedia difoto untuk editorial ataupun untuk runway seperti ini. Uangnya besar, Trace.”
“Tapi novelku?” Bisik Tracy. Ia tahu ia tidak akan bisa menolak Violetta, tapi setidaknya ia ingin berusaha sebelum
menyerah.
“Kau tetap bisa mengerjakannya sambil kau bekerja di Naka. Bikin artikel untukmu kan sepele, kau tidak perlu berjam-jam atau berhari-hari untuk melakukannya. Selain itu jujur saja lah padaku seberapa besar sih penghasilanmu dari novel-novelmu itu?”
__ADS_1
Tracy mengangguk-angguk sedih. Benar kata Violetta, novelnya tidak terlalu banyak memberikannya untung. Kalau Tracy masih bisa hidup itu pasti karena penghasilan lain, kiriman uang dari Gracy, atau kiriman uang dari orang tuanya.
“Pikirkan, Trace, kau dapat uang, kau dapat tempat tinggal, kau tetap bisa mengerjakan yang kau suka.”
Tracy mengangguk lagi. “Iya, aku tidak berniat menolak Vi. Aku tidak akan bisa menolak aku tahu.”
Violetta tertawa sambil memeluk Tracy.
“Aku sayang padamu. Maafkan aku.”
“Jangan khawatir, selama kau menghidupi aku, aku akan terus sayang padamu.” Balas Tracy. Violetta tertawa.
“Oh, cintamu mahal. Dasar mata duitan.” Violetta mendorong Tracy main-main.
“Jadi… soal foto besok?” Tracy mulaimembahas.
“Oh ya,” Violetta meraih teh hangatnya dan meneguknya sekali sebelum melanjutkan. “Aku rasa ada beberapa gaun Frozen Flower yang perlu kufoto disini. Setidaknya dua belas baju yang aku bawa ke Jepang, aku akan foto disini, supaya sesuai temanya, di Jepang yang sedang bersalju. Kau akan bagi dua bajunya dengan Shu, karena aku ingin pembaca majalahku tahu kalau gaunku bisa dipakai untuk ukuran Asia dan Eropa.”
Violetta menghela napas dan bersandar.
“Betapa bagusnya kalau aku bisa punya model yang kulitnya berwarna gelap, atau mungkin aku akan membuat sebuah koleksi yang bisa cocok dipakai siapapun dengan etnis manapun.”
Tracy mengangguk, “Itu ide bagus, Vi. Tapi satu-satu, ayo selesaikan dulu Frozen Flowermu.” Tracy menyelesaikan
makanan di piringnya. Violetta tertawa kecil.
“Ide bagus. Besok bawa jaket saja dan baju yang mudah untuk diganti.”
Violetta mengangguk-angguk. “Oke.”
Satu persatu panitia di dalam ruangan mulai berpamitan setelah menyelesaikan santapan mereka masing-masing, dan Tracy diam-diam melirik Louis Troya yang tampak tidak terlalu menyebalkan hari ini, setidaknya ia tidak berakting seperti stalker gila.
Apa kata-kata Tracy terlalu kasar tadi malam?
__ADS_1
Tracy menepuk dahinya. Ia menyebut Louis brengsek.
Kenapa ia harus memperburuk keadaan?