
Ternyata tiga gaun yang dibawa Jasper hari itu cocok sekali di badan Tracy. Jasper perlu membawanya pulang lagi untuk mengecilkan gaun itu sedikit agar bisa lebih pas di tubuh Tracy yang kecil jadi pemotretan di jadwalkan di hari Senin—agar tidak mengganggu jadwal akhir pekan semua orang. Jasper dan Louis pulang beberapa menit sebelum jam 10, meninggalkan Tracy sendirian. Tracy mengunci pintu dan kembali ke lantai tiga, kali ini langsung membuka laptopnya di meja yang sudah ia pasang di sebelah tempat tidurnya di kamar. Tracy sekali lagi membuka foler itu. Adegan terakhir adalah ketika Henney—karakter utama perempuannya—kabur dari rumah karena orangtuanya yang bertengkar untuk ke sekian kalinya.
Tracy membayangkan dirinya, apa yang akan ia lakukan pertama kali saat kabur dari rumah? Tracy menghela napas, dan memutuskan kalau itu terjadi padanya mungkin ia akan menelpon orang terdekat yang bisa membantunya. Violetta? Tracy menggengkan kepalanya. Mungkin ia akan menelepon Violetta setelah ia mendapatkan tujuan dulu, karena gadis itu terlalu paranoid, dan sekarang ia tinggal dengan Jasper jadi tidak mungkin kan, Violetta menawarkan Tracy untuk tinggal dengannya dan Jasper?
Mungkin Louis? Karena laki-laki itu tinggal sendirian dan Tracy percaya padanya.
Pemikiran itu menganggetkan Tracy sendiri dan ia menggelengkan kepalanya, tidak, ia akan telepon Steve duluan. Pemikiran itu membuat Tracy sadar, besok akhir pekan, mungkin ia bisa pergi ke luar bersama Steve? Mentraktirnya nonton atau makan untuk jasanya yang luar biasa merapikan rumah baru Tracy.
Dengan cepat Tracy membuka ponselnya dan seperti biasa menemukan chat Steve yang belum ia respond. Melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit, Tracy memutuskan untuk mengirimnya pesan dulu.
“Sorry, lagi-lagi aku tidak balas pesanmu.” Tracy mengeja kata-kata yang ia kirim pada Steve keras-keras. “Kau
mau pergi besok? Sepertinya aku perlu inspirasi.” Tracy mengirim pesan itu, dan menunggu. Steve tidak langsung balas, jadi Tracy mengunci layar ponselnya dan menaruh benda itu di samping laptop. Perhatiannya kembali ke laptop, melihat apakah ia bisa melanjutkan barang sepatah-dua patah kata. Tracy memaksakan jemarinya untuk kembali ke keyboard.
“Troy.” Suara Henney bergetar saat teleponnya pada Troy diangkat dengan cepat.
“Henney? Kau kenapa?” Kata Troy cepat, suaranya berubah panik. Mendengar suara lembut itu air mata Henney menghabur.
“Aku tidak kuat ada di rumah lagi. Lagi-lagi papa memukul mama, dan aku tidak digubris.”
Tracy menggelengkan kepalanya. Setelah dipikir-pikir, kalau Henney benar-benar sayang pada Troy, ia tidak akan
menelepon Troy. Ia takut Troy mengkhawatirkannya berlebihan, sama seperti bagaimana Tracy takut Violetta akan kepalang cemas padanya kalau ia kenapa-napa. Apalagi Troy bukan orang yang rasional kalau emosinya sudah mengambil alih. Kalau Tracy menjadi Henney, Tracy rasa ia akan menelepon seseorang yang ia percaya, tapi tidak seintim itu dengannya. Setidaknya tidak sekarang, supaya mereka tidak panik, ia harus mengamankan dirinya dulu baru menelepon mereka semua, untuk mengabari bahwa Tracy baik-baik saja. Tracy membuang kalimat-kalimat terakhir dan kembali menulis paragraph baru. Ia perlu tokoh baru. Tokoh yang tidak memandang Henney dengan pandangan romantis, tapi juga tidak terlalu peduli kalau Henney memperlakukan mereka dengan agak semena-mena.
Henney mencari orang yang bisa dihubungi di ponselnya, dan nama yang tidak asing keluar, Terrence. Rekan kerja sekaligus sahabatnya. Mungkin memang masalah keluarga ini terlalu tidak ada sangkut pautnya dengan Terrence, tapi membeberkan soal masalah ini pada Troy bukan pilihan. Henney sudah berkali-kali mengeluh pada Troy soal keluarganya, ia tidak mau kelihatan selemah itu di depan Troy.
“Terrence.” Panggil Henney, suaranya bergetar karena udara dingin di luar.
“Hey, tumben kau telepon malam-malam.”
“Kau sedang di rumah kan?”
Mendengar suara Henney yang tidak sebercanda biasanya, nada bicara Terrence pun berubah lebih serius.
“Ya Hen, seperti biasa. Kau sedang di luar?”
Henney menghela napas, keputusannya untuk menghubungi Terrence adalah keputusan terbaik untuk sekarang.
“Boleh aku ke sana? Setelah itu aku akan menceritakan kondisiku padamu.”
“Ya, ya, tentu saja. Hati-hati di jalan, aku akan menunggumu.” Jawab Terrence ringan. Henney tersenyum tipis, lega dengan kalimat itu.
“Sorry merepotkan. Sampai ketemu.”
Tracy menghela napas dan bersandar ke kursinya, dan layar teleponnya menyala, menampakan wajah Steve yang meminta video call. Tracy mengangkat telepon itu dan kembali bersandar di kursinya.
“Hey.” Sapa Steve dari seberang telepon.
“Hey, kau sudah mau tidur ya?”
“Belum juga, kamu?”
Tracy menggelengkan kepalanya, “Aku masih mencoba untuk menulis.”
“Oh, sudah sampai mana?”
Tracy tersenyum geli, “Baru maju satu paragraf, memalukan sekali.”
“Lho, kupikir kehadiranku akan membantu perkembangan novelmu.”
Tracy mengangguk kecil, memang benar, ia juga sempat berpikir begitu. Troy dan Steve bisa dibilang lumayan mirip dalam soal sabar dan bijaksana. Buktinya Steve tidak pernah uring-uringan kalau Tracy tidak membalas chat dan selalu berada untuk Tracy, tanpa pamrih.
“Tentu saja membantu.” Bohong Tracy, “Kalau tidak kan tidak mungkin aku bisa melanutkan ke paragraph itu.”
Steve tertawa kecil, “Kau sudah meninggalkan novel itu untuk kira-kira satu, dua minggu, mungkin karena kau sudah meninggalkannya terlalu lama.”
“Betul juga. Jadi bagaimana dengan jalan-jalan besok?”
Senyum Steve kembali mengembang. “Aku menelepon untuk mengatakan iya, aku bisa. Mau kuajak nonton?”
“Mau. Apa boleh kubawa laptopku? Siapa tahu tiba-tiba inspirasi datang.”
“Tentu saja, Trace, apapun untukmu.”
Tracy lalu tersenyum, sekali lagi, merasa sangat senang dengan perhatian Steve padanya. Tracy terdiam, hanya memandangi wajah Steve yang tanpak sudah berbaring di bantal kasurnya. Bagaimana kalau ia tanya soal cinta pada Steve? Mendadak jantung Tracy berlari kencang memikirkannya. Apa karena ia suka pada Steve? Jadi rasanya topik cinta-cintaan itu berat untuk dibahas dengannya?
__ADS_1
“Kamu lagi mikirin apa?”
“Hm?” Tracy terbangun dari lamunannya. “Memikirkan lanjutan novelku. Kalau kamu adalah Henney, Steve, seorang gadis muda yang kabur dari rumahnya karena tidak nyaman dengan kondisi orangtuanya yang terus-terusan bertengkar, siapa orang pertama yang akan kamu telepon?”
“Kamu.” Jawabnya cepat tanpa ragu.
“Begitukah?” Tracy mulai meragukan tulisannya.
“Kamu juga akan menghubungiku, kan?”
“Itu yang sedang aku pikirkan.” Jawab Tracy jujur. “Aku rasa hal itu akan membuatmu terlalu khawatir. Ketika aku
meleponmu hal yang ingin aku sampaikan padamu adalah aku baik-baik saja.”
Steve tersenyum. “Aku akan telepon kamu karena aku merasa hanya kamu yang bisa mengerti seberapa aku butuh dukungan saat itu.”
“Bagaimana dengan teman-teman dekatmu? Kau tidak akan ke mereka dulu?”
Steve menggelengkan kepalanya. “Mungkin karena aku laki-laki dan teman-temanku juga laki-laki. Kurasa kalau aku kabur ke rumah mereka karena orang tuaku mereka akan menertawakan aku.” Steve tertawa pahit.
“Hm… kurasa perempuan lebih perhatian pada teman perempuannya. Teman laki-laki juga kalau temannya adalah perempuan kurasa akan bersimpati kalau ditelepon dalam keadaan begitu.” Kata Tracy, namun ia sadar ia bukan laki-laki dan ia sedang bicara pada laki-laki, “Iya, kan?”
“Ah… jangan naif, Trace.” Steve tertawa kecil. “Aku selalu yakin perempuan dan laki-laki tidak akan bisa jadi sahabat. Pasti ada salah satu yang merasakan hal yang lebih pada yang lainnya.”
Tracy tidak menjawab, memikirkan kalimat itu. Benarkah? Tapi Tracy dengan yakin hubungannya dengan Louis akan berkembang menjadi persahabatan yang erat dan heboh, asyik dan seru, bukannya romantis dan manis. Atau jangan-jangan Louis tidak berpikir demikian? Memikirkan itu jantung Tracy berdebar-debar untuk beberapa saat.
“Memangnya kau tidak punya sahabat perempuan?” Tanya Tracy pada Steve. Steve melihat ke langit-langit, berpikir.
“Hm… tidak ada yang sedekat itu. Lagipula aku agak canggung dengan orang, kau tahu lah.” Steve tersenyum canggung, Tracy hanya balas tersenyum. Ia ingat, karena Steve telalu peduli pada pendidikkannya, lingkaran sosialnya lumayan kecil. Banyak orang-orang yang mau jadi temannya, tapi karena Steve terkesan dingin dan serius, banyak yang mengira Steve tidak akan mau bersahabat dengan orang yang tidak selevel dengannya.
“Kalau kau mungkin bisa. Tapi dengan kecantikkan dan sifatmu yang manis aku tidak yakin ada laki-laki yang tahan dengan pesona itu.” Steve tersipu. Tracy hanya tersenyum kecil, karena yang ia tahu yang ia miliki adalah pesona dan kecantikkan Gracy. Kalau mereka kenal Gracy, mereka jelas akan lebih memilih Gracy karena Gracy lebih manis darinya. Setidaknya itu yang Tracy yakini.
“Jangan gombal.” Balas Tracy singkat, merasa ia sudah diam terlalu lama. “Jadi besok kita ketemu di mall? Atau kau mau menjemputku?”
“Motorku sedang di bengkel, jadi kurasa aku tidak akan bisa menjemput. Sorry ya.”
“Santai saja. Jam 12? Jadi kita bisa makan siang dulu sebelum nonton.”
“Ok, jam 12.”
Setelah itu Tracy berusaha untuk kembali mengetik dan Steve hanya diam memandangi Tracy yang serius dengan laptopnya sendiri. Sesekali Tracy memandangi wajah Steve yang langsung tersenyum saat Tracy menatapnya. Apa sebenarnya yang Tracy rasakan pada Steve? Ia senang setiap kali Steve menghubunginya, tapi apa itu cinta?
“Trace, aku sepertinya mau tidur. Kau juga jangan tidur terlalu malam.”
Tracy mengangguk, berhenti mengetik dan mengangkat ponselnya mendekat ke wajah. “Aku pun sepertinya mau tidur. Tidurlah, Steve, mimpi indah, sampai ketemu besok.”
Steve tersenyum dengan wajah mengantuk. “Bye, see you besok.” Gumamnya lalu sambungan telepon dimatikan. Tracy menghela napasnya, kali ini ia jadi penasaran soal sesuatu.
Dengan tanpa ragu, Tracy mengirimkan sebuah chat untuk Jasper, yang ia tidak harapkan untuk di jawab sebenarnya, tapi ternyata Jasper masih bangun. Dari situ lah Tracy mendapatkan nomor telepon Louis dan tanpa ragu-ragu Tracy menelepon nomor itu, tidak peduli Louis sudah tidur atau belum.
“Halo?” Sapa Louis hati-hati.
“Hey, Troya.” Jawab Tracy dengan suara yang sama sekali berbeda dengan suara yang ia gunakan pada Steve tadi. Menyadari hal itu, Tracy ingin menertawakan dirinya sendiri. Ternyata ia berusaha sekeras itu agar Steve bisa menganggapnya sebagai gadis manis yang polos dan baik hati.
“Manson? Dari mana kau dapat nomorku?”
“Jasper, siapa lagi.” Sesuatu dalam hati Tracy lega, saat suara Louis juga mencair.
“Dasar penguntit. Sudah kuduga kau itu ada maksud kan denganku?”
Tracy memutar bola matanya.
“Sudah kuduga kau akan jadi menyebalkan kalau kutelepon seperti ini. Sudahlah, tidak jadi. Bye, semoga malam ini kau tidak bisa tidur dihantui setan genit yang akan muncul dari bawah tempat tidurmu.” Tracy hendak menjauhkan telepon itu dari telinganya untuk dimatikan tapi suara Louis kembali terdengar.
“Hey! Jangan sembarangan! Kolong kasurku lumayan seram, jangan begitu. Tarik kembali kutukanmu lalu aku akan mendengarkan apa maumu.”
“Yasudah, kutarik kembali kutukannya.” Tracy menahan tawa.
Louis menghela napas lega. Tracy lumayan kaget ternyata lelaki itu bisa ditakut-takuti semudah itu.
“Jadi, tujuanmu meneleponku jam segini adalah?” Kali ini suara Louis menjadi lebih sopan, Tracy langsung mengayunkan lengannya di udara, ingin memukul Louis saat itu juga.
“Jangan sok manis. Aku mau tanya, menurutmu kira-kira Steve suka padaku atau tidak?”
Suara tawa Louis menggelegar dari telepon.
“Tracy Manson, apa sih yang kau pikirkan? Kau kira aku cenayang? Kau kira aku peramal? Oh… bola Kristal ajaib… tolonglah Tracy Manson…” Louis menjampi-jampi. Tracy semakin ingin memukulnya.
“Bukan begitu maksudku, bodoh. Kau kan kemarin sempat lihat kita berdua, katanya kalau orang jatuh cinta itu kan buta, jadi karena kemungkinan sekarang aku buta, beri tahu aku apa yang kau lihat dari kami kemarin.”
__ADS_1
Louis menghela napas. “Manson, aku hanya melihat kalian berdua kira-kira….tiga menit lamanya. Dari mana aku bisa menilai?”
“Ya kan… ku kira…” Tracy ikut menghela napas. Entah apa juga yang ada di pikiran Tracy saat ia hendak menelepon Louis. “Tadi aku sempat telepon dia.”
“Lalu?” Kali ini suara Louis terdengar sedikit penasaran.
“Aku sebetulnya ingin tanya pertanyaan soal cinta yang sempat kita bicarakan itu dengan Steve tapi entah kenapa aku merasa malu bertanya hal itu pada Steve.”
“Mungkin karena kau suka padanya? Jadi sedikit banyak canggung kan membicarakan soal cinta dengan orang yang kita…” Louis agak ragu untuk sesaat, “Cinta?”
Tracy mulai menyadari. Di titik ini Louis dan dia sama bodohnya soal cinta.
“Betul juga.” Tracy mengiyakan, walaupun dirinya masih meragukan hal itu. “Lalu dia bilang cewek dan cowok itu tidak mungkin bisa jadi sekadar teman, pasti ada yang akan berakhir suka.”
“Lalu?”
“Mungkin perlu kuingatkan kalau kamu itu cowok dan aku cewek.” Wajah Tracy mendadak terasa panas dan ia ingin mematikan sambungan telepon saat itu juga. Kenapa mendadak pertanyaannya terdengar seperti menanyakan pada Louis apakah mereka akan berakhir jatuh cinta pada satu sama lain?
“Cewek? Di mana?” Jawab Louis, santai dan bodoh seperti biasa. Tangan Tracy sekali lagi memukul udara dan rasa gugupnya menghilang begitu saja.
“Makhluk bodoh. Lelah aku ngobrol denganmu.”
“Lho.. kan kau yang telepon aku.”
“Iya, tapi—“ Tracy mendecakkan lidah, ia kalah.
Louis tertawa, “Entahlah Trace, kalau kau khawatir aku akan jatuh cinta padamu kurasa itu bisa kau lupakan.”
Tracy mengernyit, sebagian dirinya merasa lega, dan sebagian lain merasa kecewa. Tracy langsung merasa ingin menampar dirinya sendiri, kenapa ia merasa kecewa?
“Karena kau gay?” Tracy memutuskan untuk mencairkan suasana yang mendadak terasa berat. Louis tertawa.
“Manson!” Teriaknya kesal.
“Karena kau suka pada Jasper?”
“Manson!!” Louis merengek. Tracy tertawa. “Bukan, jujur saja aku nyaman denganmu.”
Tracy berhenti tertawa detik itu juga, dan ia menelan ludahnya sepelan mungkin agar Louis tidak mendengar kegugupannya yang entah mengapa tiba-tiba muncul.
“Nyaman? Kau kira aku sofa?” Tracy berusaha mencairkan suasana sekali lagi.
Louis mendecakkan lidahnya kesal, tapi ia tidak bisa menahan tawanya yang lolos.
“Seriuslah sebentar dan dengarkan aku. Aku nyaman denganmu, tapi karena kita baru kenal berapa? Dua hari? Aku rasa kau juga belum lihat sisi-sisi burukku, dan sebaliknya.”
Tracy mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. Jantungnya berdebar-debar, tapi bukan karena gugup, tapi karena kagum dengan seberapa dewasanya Louis. Lelaki itu bisa jadi kekanak-kanakan. Tapi di balik kedok itu kelihatannya ia lumayan bijaksana.
“Setuju. Sekarang aku tidak bisa menahan diri untuk membayangkan rahasia-rahasia gelap yang kau punya. Misal ternyata kau itu punya hobi mengupil di tempat umum, atau ilermu baunya seperti kentut kerbau.”
Suara tawa Louis menggelegar, Tracy ikut tertawa kecil.
“Sialan kau Manson, aku pencinta kebersihan, tolong jauh-jauhkan pikiran seperti itu dari kepalamu.” Louis
berusaha menenangkan tawanya. “Kembali ke pembicaraan serius.”
Tapi kali ini Tracy sudah tidak bisa seserius tadi, senyum lebar tidak bisa meninggalkan wajahnya.
“Menurutku begitulah, tapi kalau kau ternyata suka padakku tolong jangan sakit hati—“ Tracy hendak menyangkal, tapi lelaki itu dengan cepat menyambung kalimatnya. “Mungkin kalau kau lebih sering baik-baik padaku, memanggilku Tuan Louis Yang Paling Ganteng Sedunia, Memuji-muji ketampanan dan keseksianku lebih sering, mungkin aku bisa berubah pikiran. Jadi jangan kecewa dulu.”
Tracy mengusap dahinya, tidak menjawab.
“Tracy? Kau tidak pingsan kan?” Tanya lelaki itu setelah keheningan beberapa saat.
“Tidak, hanya sedikit mual karena kenarsisanmu. Siapa juga yang bilang kalau aku suka padamu!” Tracy menirukan bunyi meludah, “Lagipula bagaimana kalau ternyata kau yang diam-diam suka padaku? Menatap foto-fotoku setiap hari, dengan iler bau kerbaumu menetes dari sudut bibir. Lalu berbisik—“ Tracy berdeham, menirukan suara Louis sebaik yang ia bisa, “Oh Tracy Manson! Keindahanmu tiada tara!”
Tapi tawa Louis tidak menggelegar, hanya tawa kecil seadanya. Tracy mengangkat alis.
“Jangan-jangan itu benar?!”
“Manson! Aku bukan orang mesum, tidak lah! Jadi sebetulnya tujuanmu menelepon itu apa??”
Tracy tertawa kecil, mungkin memang sudah waktunya ia berhenti mengganggu Louis.
“Hanya ingin pendapatmu soal apakah cewek dan cowok itu bisa berteman baik atau tidak.”
Louis menghela napas. “Aku sedang menggunakan indra keenamku yang meramalkan…. Sepertinya kita—cewek dan cowok—bisa berteman baik.” Tracy mengangguk-angguk kecil.
“Kuharap begitu.”
__ADS_1