Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 28


__ADS_3

Ternyata pukul sepuluh Steve melepon Tracy, mengabari bahwa ternyata mobil yang biasa dipakai ibunya menganggur hari itu, jadi Steve akan menjemput Tracy dengan mobil. Tracy bersorak senang tentunya—bukan karena ia cewek manja yang hanya bisa kemana-mana pakai mobil—karena ia bisa pakai rok. Tracy mengganti celana jeansnya dan memakai rok mini berwarna kuning, memadupadankannya dengan sweater hitam polos dan kaus kaki panjang. Rambutnya dikeriting manis dan make-upnya tipis, membuat wajahnya kelihatan segar.


Jam dua belas kurang lima belas, ternyata Steve sudah sampai di bawah, rapi dengan kemeja putih dan celana jeans biru. Tracy tersenyum lebar, benar kan, Steve kelihatan keren sekali kalau ia berpakaian rapi seperti itu. Setelah kunci pintu dibuka, Steve membuka tangannya lebar dan menarik pinggang Tracy untuk membawanya mendekat. Tracy balas memeluk Steve, menikmati wangi colognenya yang berbau maskulin.


“Kamu cantik sekali.” Kata Steve sambil melepaskan pelukannya, dan mengusap rambutnya.


Tracy hanya bisa tersenyum dan Steve membawanya masuk ke kursi penumpang, dan ia masuk untuk duduk di kursi pengemudi. Mobil itu kelihatan baru, dengan wangi bersih yang khas, dan belum ada hiasan apa pun dipajang di dashboard maupun spion.


“Siap?” Tanya Steve sebelum menyalakan mobilnya, dan Tracy mengangguk.


Mereka melaju pelan ke salah satu tempat perbelanjaan yang tidak jauh dari kantor Tracy dan langsung menuju ke bioskop. Tentu saja Tracy dan Steve memilih film romansa—yang bahkan Tracy lupa judulnya—sebetulnya Tracy lebih ingin menonton Ready or Not, tapi Steve yang memberikan rekomendasi dan kelihatan tidak manis juga kan kalau Tracy lebih memilih untuk nonton film thriller? Setelah memberli tiket barulah mereka makan siang.


Film? Tidak terlalu berkesan, makan siang? Tidak terlalu berkesan. Tapi Tracy menimati kencan itu, cerita-cerita


Steve tentang adiknya yang manis—Casey yang baru berumur tujuh tahun—membuat Tracy senang, mengingatkannya pada masa kecilnya dan Gracy. Ditambah Steve benar-benar menggiurkan hari itu.


“Kamu mau ke toko buku sebentar?” Tanya Steve pada Tracy. Semenjak setelah makan siang, Steve dengan cantai meraih tangan Tracy dan menggandengnya kmanapun ia pergi. Tracy tidak keberatan. Tangan Steve yang besar dan hangat membuatnya nyaman.


“Boleh, ayo kita lihat apa bukuku masih ada di sana?”


Mereka lalu berjalan ke dalam toko dan menemukan salah satu buku Tracy masih menjadi best seller di sana, dan stoknya sudah tinggal sedikit. Tracy tersenyum kecil.


“Ini semua berkat Gracy.” Katanya lemah, tapi Steve mendengarnya.


“Kalau katamu dia sibuk, darimana dia bisa selalu tahu buku-buku yang kau tulis?” Steve meraih buku Tracy yang masih di pajang di sana dan mengusap covernya sebelum menggumamkan “Aku juga punya ini.”


“Aku selalu menulis e-mail untuk Gracy. Gracy juga akan selalu mengosongkan waktu di setiap tanggal 21, tanggal

__ADS_1


kelahiran kami untuk pulang ke rumahku dan rumah orang tua kami. Tapi ini sudah tanggal lima belas dan aku belum mendapatkan kabar darinya.” Tracy melihat Steve kembali menaruh buku itu dan meraih tangannya lagi.


“Kau pasti senang akan bertemu Gracy sebentar lagi.” Steve meremas tangan Tracy. Tracy tersenyum, ia tidak sabar.


“Sangat. Tapi entahlah, ada kalanya dia tidak pulang kalau sedang sibuk sekali, semoga bukan bulan ini.” Tracy balas meremas tangan Steve ketika memikirkan kemungkinan Gracy tidak pulang. Kalimat 'sepertinya kita tidak akan bertemu bulan ini’ di e-mail Tracy terbayang dan hal itu membuatnya menggelengkan kepala dengan cepat, membuang pikiran itu jauh-jauh.


“Kalau Gracy memang tidak pulang, kau bisa panggil aku ke rumahmu. Aku akan menemanimu.” Steve menyisipkan rambut Tracy ke belakang telinganya. Tracy menyentuh tangan itu.


“Oke.” Jawabnya singkat. Mereka kembali berjalan ke luar, dan setelah merasa tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan di tempat itu, Steve memutuskan untuk mengantar Tracy kembali ke rumah.


Saat mobil keluar dari parkiran, di luar sudah gelap. Jalanan lumayan macet.


“Trace, kau suka mendengarkan radio?” Tanya Steve yang menyalakan radio di mobilnya.


“Lumayan.” Tracy mengangguk-angguk, “Aku suka tapi karena aku tidak punya radio di rumah, aku jadi jarang mendengarkannya lagi. Dulu di mobil Ayah terpasang satu, dan aku selalu mendengarkan radio ketika ia menjemputku pulang.”


Steve hanya menjawab singkat, “Hm…”


Michael Jackson. Ketika mereka sudah hampir sampai di kantor Naka, lagu-lagu itu berhenti dan disela oleh seorang pembawa acara.


“Selamat malam para pendengar setia. Pastinya kalian semua sedang menikmati malam minggu kalian dengan cara masing-masing, tentunya akan lebih menyenangkan di temani oleh 99 degree radio.” Suara pembawa acara itu adalah satu-satunya suara yang ada di dalam mobil. Keheningan itu tidak canggung, tapi ada sesuatu yang membuat Steve gugup saat itu, tapi Tracy tidak tahu bagaimana cara menanyakan soal hal itu. Bisa saja itu hanya firasatnya, kan?


“Seperti biasa di spesial malam minggu, kita punya sebuah corner acara, Lovfest, dimana kita membantu para pendengar yang ingin menyatakan cintanya pada cowok, atau cewek idamannya, melalui lagu dan surat cinta yang kami bacakan.” Tracy tersenyum. Ia ingat acara ini. Beberapa surat-surat itu bisa jadi inspirasinya, dan mengingat itu Tracy merasa ia harus kembali mendengarkan radio lagi.


“Hari ini kita punya beberapa surat nih yang masuk, salah satunya…” Lalu terdengar suara kertas dibuka. “Namanya tidak disebutkan, tapi biar saya bacakan dulu suratnya siapa tahu nanti pengirim surat ini akan menelepon kita ya.” Sang pembawa acara berdeham, membersihkan tenggorokannya sebelum membaca, “Surat ini untukmu. Iya, kamu yang duduk di dalam mobil, tepat di sebelahku. Mungkin saat surat ini dibacakan, kita sedang melewati blok C2, di depan restoran dimana kita pertama kali bertemu setelah beberapa tahun lamanya.”


Mata Tracy membaca tulisan “Hudson’s Steakhouse” yang baru saja dilewati mereka. Tracy mengangkat alisnya, bukannya restoran itu adalah restoran dimanaia pertama kali bertemu Steve? Kebetulan? Tracy langsung menoleh cepat pada Steve yang masih diam-diam saja, fokus menyetir. Tracy kembali melihat ke depan, mendengarkan pembawa acara yang melanjutkan suratnya.

__ADS_1


“Aku sudah suka padamu semenjak SMP—hal itu kau sudah tahu, karena aku sudah bilang padamu—tapi setelah kembali bertemu denganmu aku yakin perasaan itu bukan sekadar cinta monyet.” Kali ini Tracy tertawa kecil dan memecah keheningan di antaranya dengan Steve.


“Steve, jangan—“


“Ssst, dengarkan.” Steve meraih tangan Tracy dengan tangannya yang kosong. Tracy kembali mendengarkan.


“Awalnya aku cuma menganggumi kerendahan hatimu, dan cantiknya senyummu setiap kali kau melihat keberhasilan orang lain. Kukira itu hanya kepolosan anak kecil saja tapi ternyata sifat itu kau bawa sampai sekarang. Aku ingin belajar banyak darimu, aku ingin melihat bagaimana dunia berputar disekelilingmu. Tapi menyadari betapa rendahnya hatimu, kau mulai banyak mengorbankan diri demi orang lain dan aku benci melihatnya.” Tangan Steve meremas tangan Tracy dan mata Tracy mendadak terasa pedas.


“Aku ingin melindungi kamu, dan membuatmu sadar bahwa kamu pantas mendapatkan hal-hal yang terbaik, kamu pantas menjadi yang terbaik. Aku ingin berada disana ketika kamu dituntut untuk mengorbankan diri lagi, tapi kali ini aku yang akan bilang, “Aku saja.” Karena kamu bukanlah seseorang yang patut dikorbankan. Aku ingin jadi sandaranmu di saat kamu kesepian, sendirian menulis cerita cinta di rumah, tapi tidak mendapatkan cinta yang kau layak dapatkan. Aku berjanji bahwa aku bisa memberikan cinta itu untukmu.”


Mata Tracy buram dan akhirnya satu, dua tetes air mata mengalir ke pipinya.


“Tracy Manson…” Panggil Steve, dan Tracy menoleh ke arah Steve yang masih fokus ke arah jalan, membawa mobilnya yang sudah hampir sampai di tujuan.


“Apakah kamu bersedia jadi pacarku?” Lanjut sang pembawa acara, tepat setelah Steve memanggilnya.


Lalu mobil mereka berhenti tepat di depan kantor Naka. Steve merogoh ke kantung belakang celananya dan mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang. Ia menoleh ke arah Tracy, melepaskan genggamannya dari tangan gadis itu untuk membuka kotak itu di depan mata Tracy. Di dalam kotak itu terbujur rapi sebuah kalung cantik dengan gantungan mahkota berhiaskan permata biru langit.


Tracy tidak dapat berkata-kata dan memeluk Steve erat-erat.


“Thanks, Steve, aku mau.” Bisik Tracy, dan Steve membalas pelukan itu.


“Aku tidak tahu harus memakimu karena nembak cewek lewat radio itu sudah kuno dan menggelikan, atau memujimu karena timing di radio itu bisa kau atur sedemikian rupa.” Lanjut Tracy melepaskan pelukannya. Steve hanya terkekeh kecil, memakaikan kalung itu pada Tracy, lalu mencium keningnya.


“Yang penting kau menerimanya, kan?” Steve membelai rambut Tracy. Tracy mengangguk-angguk.


“Wow, ini surat paling mengharukan yang pernah kita terima.” Pembawa acara radio itu masih melanjutkan, “Sayangnya kita tidak bisa memastikan apa mereka mendengarkan atau tidak karena penulis surat tidak memberikan nomor teleponnya di surat ini, tapi mari kita sama-sama berharap rencananya sukses dan mereka sudah jadi pasangan sekarang.”

__ADS_1


Tracy tersenyum lebar, hatinya hangat dan ia tidak pernah merasa sebahagia ini.


Rencana Steve, sukses besar.


__ADS_2