Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 15


__ADS_3

“Oke.”


Violetta menepukkan telapak tangannya untuk meminta perhatian semua model dan tim event yang sudah berkumpul di depannya. Tracy tidak dapat menahan rasa antusiasnya dan melirik sedikit-sedikit ke arah panggung yang sekarang menyala berwarna putih.


“Perkenalkan, ini Tsuki, stage manager kita hari ini. Tsuki yang akan mengatur semua timing dan pergerakan model, serta masuk dan keluarnya. Tolong sound dan lighting juga dicoba ya, silakan pilih lagu dan sesuaikan lightingnya, nanti ketika kita coba untuk run through akan saya evaluasi semuanya. Terimakasih. Semangat!” Violetta meninggalkan kerumunan setelah selesai memberikan arahan.


“Baiklah, untuk sekarang, mari semuanya naik ke atas panggung.” Ujar Tsuki sambil memimpin kerumunan model ke atas panggung, sedangkan staff mulai di persiapkan oleh Reth yang langsung mengambil alih.


“Siapakah yang akan jadi pembukaan untuk Modern Kimono?” Tsuki mengangkat tangannya, lalu dengan cepat Shu langsung mengangkat tangan.


“Oh, Shu? Ok. Lainnya bisa langsung ke belakang panggung ya, dan stand by di sisi pintu masuk.” Tsuki mengarahkan dengan cepat. Seluruh model langsung berjalan ke arah celah masuk belakang panggung dan Tracy juga dengan cepat mengikuti. Tracy mengintip dan memperhatikan cara Tsuki mengarahkan Shu.


Dulu, Tracy pernah ikut beberapa fashion show juga. Tidak sebesar ini, tapi kurang lebih caranya sama. Tapi pelatih yang mengarahkannya sangat, sangat menakutkan. Hal itu membuatnya cukup trauma, kepada semua stage manager. Tracy sempat menangis sekali, tapi karena ada Gracy di sebelahnya, tidak ada yang tahu soal itu.


“Ok, jadi setelah Shu berjalan kembali dan berhenti di sini.” Tsuki berbicara keras-keras dan berhenti di celan belakang panggung. Semua model yang berdiri di sekitar sana langsung mundur beberapa langkah untuk memberikan mereka ruang. “Model selanjutnya akan langsung masuk, anggap saja urutannya seperti ini.” Tsuki langsung membariskan semua model dengan sembarang di sisi kiri, membuat sisi kanan sebagai jalur keluar panggung.


“Oh ya, kecuali model terakhir.” Tsuki mencari-cari di antara kerumunan, dan dengan sedikit ragu Tracy mengangkat tangannya dan keluar dari barisan agar Tsuki bisa dengan lebih mudah melihatnya.


“Oh, Miss Manson. Kemarilah ke sebelah Shu.” Tsuki menggerakan jari-jarinya ke arah Tracy, dan tanpa pikir-pikir,


Tracy berlari kecil ke arah Shu yang tersenyum ke arahnya.


Sesuatu di balik senyuman Shu menyingkirkan sedikit rasa canggung Tracy. Senyum itu seolah-olah mengatakan bahwa Shu—yang adalah model professional—mengakui Tracy sebagai sepadannya. Padahal menurut Tracy hal itu cuma mimpinya.


Shu dan Tracy berdiri di sisi panggung, memperhatikan Tsuki menyuruh model-model itu untuk berjalan satu persatu bergantian dari sisi kanan, ke sisi kiri, dan begitu seterusnya.


“Ya, seperti biasanya ya, ladies. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sekarang kembali lah ke belakang panggung, ke barisan tadi, aku akan mengarahkan…” Tsuki berbalik dan menatap Tracy. “Miss Manson.”


“Y-ya.” Tracy menjawab dengan tegas. Tsuki tersenyum, lalu menggerakan jari-jarinya lagi di udara ke arah Tracy seperti tadi.


“Ikut aku.”


Tsuki berjalan sampai ke pintu masuk, dan Tracy berlari mengikutinya. Begitu Tracy berada cukup dekat dengan Tsuki, ia memegang pundak Tracy untuk memposisikannya tepat di tengah-tengah pintu.


“Baiklah, Miss Manson. Aku yakin aku tidak perlu bicara banyak karena aku begitu terkesan dengan penampilanmu di runway Kyoto.”


Tracy hendak membuka mulutnya untuk protes, tapi ia yakin ini bukan saatnya. Tracy mengangguk kecil.


“Saya… akan memberikan yang terbaik. Mohon bantu saya.” Tracy membungkuk kecil, Tsuki dengan spontan balas membungkuk sambil tertawa kecil.


“Kau terlalu rendah hati, Miss Manson.” Tsuki menepuk-nepuk pundak Tracy.


Tracy berpikir dalam hatinya. Tsuki tahu kan, dia bukan Manson yang itu?


“Kau hanya perlu berjalan pelan-pelan, Manson, lalu naik ke runway. Ocean Tears adalah gaun yang elegan, jadi jangan terlalu banyak bermain-main.” Tsuki memperagakannya dengan badannya. Langkahnya tinggi dan tegas. Tracy hanya bisa mengangguk-angguk sambil memperhatikan Tsuki.


“Naiklah, dan berputar. Tunjukkan gaun itu dari bagian depan. Lalu kau bisa lanjut berjalan sedikit, dan berhentilah di sisi kanan.” Tsuki memperagakannya. Ia berhenti dan menghadap ke sisi kanan, dan memindahkan seluruh berat tubuhnya ke sisi kanan sambil berpose kecil. “Lalu lanjutkan, dan berhenti di sisi kiri.” Tsuki mempercepat laju peraganya, “Jalan lagi, dan seperti Shu, berpose—“ Tsuki memegang bahu Tracy sekali lagi untuk memposisikannya di tengah-tengah celah belakang panggung, menghadap pintu masuk. “Di sini.”


Tracy mengangguk. Ia sudah cukup mengerti apa yang ia harus lakukan.


“Lampu juga akan mati seperti Shu, dan kau harus mencari cara untuk turun tangga belakang panggung dengan aman. Kau boleh berjalan pelan-pelan, tapi pastikan seluruh dirimu dan ekor gaunmu yang panjang sudah sepenuhnya berada di belakang panggung dalam hitungan lima.” Tsuki berhenti di depan Tracy, menghadapnya. Tsuki mengangkat alisnya yang digambar sempurna.


“Paham?”


Tracy mengangguk dalam-dalam. “Terimakasih Tsuki-san.”

__ADS_1


Tsuki hanya kembali mengangkat alisnya.


“OK, kita coba sampai sini. Lighting? Sound?” Tsuki berteriak sambil mengangkat tangannya. Kedua staff di dekat pintu mengangkat jempol mereka dan lampu sorot mulai dinyalakan.


Bunyi lagu house santai mulai menyala, volumenya semakin lama semakin kencang. Tracy langsung berjalan menuruni panggung dan berlari ke arah pintu.


“Shu.” Panggil Tsuki. Ketika Tracy menoleh dan berhenti di tengah jalannya untuk melihat Shu, gadis itu sudah dipakaikan ornament kepala berbentuk sanggul tinggi dan jarum sanggulnya berbentuk kipas merah yang lebih tinggi lagi dari sanggul itu sendiri. Beberapa rantai emas kecil dengan berlian-berlian berkilau jatuh di dahinya, mengitari kepalanya.


Shu seolah-olah adalah orang yang berbeda. Sinar matanya tajam dan senyumnya halus. Ia berjalan dengan percaya diri, perlahan-lahan menelusuri runway. Tsuki memperhatikannya, dan mengangguk-angguk puas. Setelah sampai di ujung runway, Shu membungkuk hormat, dengan sabar ia mengatur postur tubuhnya dan keseimbangan ornament berat di kepalanya supaya tidak jatuh, sebelum kembali tegak, dan dengan elegan berbalik untuk berjalan ke arah celah belakang panggung. Ia berpose cantik, dan lalu lampu dan lagu mati bersamaan.


Tracy hampir terkesiap, ketika lampu mati, ia benar-benar tidak bisa melihat apapun. Secercah cahaya yang tersisa hanyalah garis putih yang membingkai runway, dan cahaya itu tidak menerangi jalan menuju belakang panggung. Dalam kegelapan itu Tracy sudah tidak bisa melihat Shu sama sekali.


“Model memasuki panggung dalam 3…2...”


Tracy hampir melompat ketika ia mendengar suara Tsuki dari depan panggung. Tracy menelan ludah.


“1!”


Detik itu juga lampu kembali menyala dan lagu kembali dimulai. Model selanjutnya langsung melanjutkan catwalk tanpa jeda. Tracy memicingkan matanya lagi, untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang tiba-tiba terang. Tracy


terkesima dalam hati. Ia sudah meninggalkan dunia modelling terlalu lama, ia lupa rasanya.


Semua model yang menelusuri runway terlihat professional. Tracy baru bisa melihat koleksi Modern Kimono sekarang, karena kemarin ia berdiri di belakang panggung. Tracy melihat model-model itu mengenakan koleksi ini di belakang panggung, tapi aura mereka membuat semua baju-baju itu tampak lebih megah daripada kelihatannya.


Tracy menyadari, model sudah tidak ada yang keluar dari belakang panggung. Tapi tanpa perlu melihat, Tsuki mengangkat telapak tangannya di udara ke arah Tracy. Matanya memperhatikan model terakhir dan menunggunya sampai masuk ke celah di belakang panggung. Setelah itu ia mengangkat jempolnya, dan lampu sorot semua di arahkan ke Tracy.


Tracy menjenjangkan badannya, dan berjalan perlahan ke arah panggung. Tidak sepelan Kyoto, tapi tidak secepat tempo lagu.


Tracy membayangkan gaun Ocean Tears sudah membalut badannya. Ia bahkan bisa meyakinkan dirinya, bahwa ia dapat merasakan bahan velvet gaun itu halus di jemarinya.


“Ok, ok, stop, stop!”


Lampu kembali di nyalakan. Tsuki mengangguk-angguk.


“Kerja bagus, Miss Manson. Tingkatkan aura itu, aku tidak bisa melihat percaya dirimu. Tapi aku yakin dengan gaun dan adrenalin, semuanya akan indah pada waktunya.” Tsuki mengangguk sambil menepuk bahu Tracy.


“Baiklah.” Tsuki menghela napas.


“Untuk Frozen Flower, kita tidak bisa banyak latihan, karena Aya Eiko baru akan sampai di Tokyo besok pagi, dan kita tidak akan ada waktu untuk berlatih dengannya. Yang akan kita gunakan adalah versi mp3nya, tapi jangan harap semuanya akan persis. Aya suka vocalizing, jadi pasti akan ada banyak bunyi yang kau baru dengar besok, maklumlah.” Tsuki menghela napas lagi sambil berkacak pinggang.


“Ok, kita mulai sekarang. Pembuka untuk Frozen Flower?”


Nana dengan cepat maju ke depan, menerobos kawanan model yang berkumpul di depan Tsuki. Tsuki mengangguk lalu menunjuk ke arah payung putih yang harus dibawa oleh Nana nantinya, sambil mengatakan sesuatu dalam Bahasa Jepang. Nana dengan cepat mengambil payung itu.


“Semua kembali ke belakang panggung, Miss Manson, kau juga kembali ke belakang panggung.” Tsuki menepuk bahunya lagi, kali ini mendorongnya pelan ke arah model-model lain yang sudah berjalan ke belakang panggung.


“Ingat, buat ronde ini menyenangkan. Aku mau lihat ekspresi, tarian, lipsync, semua yang bisa kalian lakukan untuk


membuat mereka percaya kalau sepatu yang kalian pakai tidak menyakitkan.” Tsuki berteriak agar semuanya dapat mendengar suara di belakang panggung.


Lampu lalu kembali di matikan, dan lagu diputar.


Tracy mengangkat kepalanya. Ia tahu lagu ini! Violetta suka lagu ini dan beberapa kali Violetta mendengarkan lagu ini saat Tracy ada bersamanya.


Tanpa sadar Tracy sudah mengangguk-anggukkan kepalanya sesuai tempo lagu, dan ia melihat Nana mulai berjalan ketika lagu sampai di reff pertama. Tracy menghela napasnya, ia ingin lihat Nana berjalan, tapi sayangnya ia ada di paling belakang dan belakang panggung cukup gelap. Ia bahkan tidak bisa melihat orang di depan orang di depannya dengan jelas. Ketika Nana kembali, model mulai berjalan satu-satu, dan Tracy dapat mendengar Tsuki meneriaki mereka untuk lebih menikmati lagunya dan menganggap Tsuki sebagai Aya Eiko. Tracy mulai gugup. Ia fans besar fashion show Victoria Secret, tapi ia belum pernah melakukan fashion show seperti itu.

__ADS_1


Gilirannya tidak lama lagi tiba, dan ia bisa melihat punggung Tsuki tepat di tengah-tengah runway, sedang memperhatikan model sebelumnya, mencoba untuk menikmati lagu. Tracy mengambil napas dalam-dalam dan mulai mengikuti lirik lagu itu pelan-pelan, membayangkan kalau Tsuki adalah Violetta. Ia tidak dapat menahan senyum, dan ketika sudah gilirannya untuk berjalan, dengan percaya diri ia sibakan tirai di depannya dan ia ikut menyanyi dalam hati. Tangannya terangkat di kedua sisi badannya sebelum kembali jatuh di sisi-sisi badannya. Ia melakukan putaran kecil saat melewati Tsuki, sambil memberikan kontak mata, sebelum kembali berjalan ke depan.


Tracy berpose tiga kali, kali ini, karena ia harus menunggu tibanya bridge, Tracy mengekspresikan lirik lagu itu, membayangkan seolah-olah ia adalah fans emosional Aya Eiko dan sedang hadir di konsernya sekarang. Saat bridge tiba, ia berbalik, berlari kecil ke arah Tsuki, dan meraih tangannya ke depan. Tsuki bergeming, tapi Tracy bisa melihat senyumnya sekilas. Tracy lalu perlahan-lahan memutari Tsuki, dan ketika ia sampai di punggung Tsuki, Tracy berputar dan kembali berjalan perlahan lahan ke arah celah belakang panggung, dan lagu mendekati akhirnya.


Saat Tracy menginjakkan belakang panggung, ia disambut tepuk tangan, dan ia tersadar dari lamunannya.


“Terimakasih.” Bisik Trace sambil membungkuk kecil.


“Kerja bagus.”


Trace berbalik, dan menemukan Tsuki di belakangnya.


“Situasi mungkin saja berbeda besok, dengan Aya Eiko yang sesungguhnya. Aya bukan penari, jadi gadis itu tidak akan banyak bergerak dari titik ia bernyanyi. Aya juga cukup penuh penghayatan, kalau ia tidak sadar berdiri tidak di tengah, lakukanlah sesuka kalian, Frozen Flower harus terkesan menyenangkan.” Tsuki mengangguk-angguk puas.


“Tidak sempurna, tapi kerja yang bagus. Setelah ini aku akan panggil Miss Naka dan kita akan melakukan semuanya lagi dari awal, ok?”


Semuanya menjawab Tsuki, dan lalu ia berbalik pergi. Tracy menghela napas lega. Setidaknya semuanya tidak


semenyeramkan yang ia bayangkan.


“Hey, kerja bagus.” Nana menghampirinya. Tracy tertawa kecil.


“Kau juga. Aku benar-benar ingin melihatmu di runway untuk opening Frozen Flower, sayang aku di belakang.” Tracy menghela napas. Nana terkekeh kecil dengan centil.


“Kau bisa lihat videonya nanti. Ketika mereka bilang Manson, aku pikir yang akan muncul adalah Gracy Manson, tapi kau… berbeda. Aku sekarang mengerti kenapa mereka memilihmu untuk penutupan.” Nana tersenyum, lalu menepuk pundaknya. “Kerja bagus.” Katanya sekali lagi.


Setelah itu, suara Tsuki kembali terdengar dari luar.


“Model, crew! Sekali lagi!”


Lampu mulai meredup, dan Tracy dapat mendengar suara Tsuki yang mengobrol dengan Violetta di depan panggung dalam Bahasa Jepang. Lalu bunyi music house mulai menyala lagi dan runway mulai dilakukan dari awal.


Setelah melakukan semuanya lagi dari awal, Violetta memberikan kritiknya, yang tidak terlalu banyak sebenarnya, tapi cukup membebani semua orang, karena mereka tidak diberikan kesempatan lagi untuk berlatih. Tracy cukup kecewa, dua, tiga kali latihan yang dijanjikan oleh Violetta kemarin seolah hilang begitu saja. Ternyata panitia dekorasi tidak mengizinkan mereka berlatih terlalu lama karena panggung masih perlu ditata.


Beberapa timing kembali di cocokkan, karena Aya akan bernyanyi dengan iringian Mp3, bukan band live. Tapi Tracy


tetap sedikit cemas, prestasinya akan menentukan kesuksesan Violetta untuk show kali ini, dan mata yang akan menonton akan sangat banyak. Setidaknya lebih banyak dari yang ia bayangkan.


“Ok setelah ini, semua model kembali ke belakang panggung dan coba semua gaunnya ya, kalau sizenya tidak pas akan kami cocokkan.” Violetta kembali memandu semua model ke belakang panggung dan beberapa staff mengikuti ke panggung untuk meminta saran Violetta.


Tracy langsung mencari gaun Frozen Flower yang perlu ia coba, dan Candice—dengan cepat dan tanpa perlu dimintai tolong—memberikan gaun yang dicari Tracy sebelum langsung pergi untuk mengurusi model yang lain, tanpa mengatakan apapun.


Tracy menikmati tekstur dan kecantikan gaun di pelukannya. Bahan gaunnya tebal dan halus, dengan warna oranye terang di bagian atas yang menggradasi menjadi warna putih di bagian bawahnya. Beberapa bagiannya dihiasi batu-batu permata kecil yang berkilauan. Simpel, tapi mewah.


“Violetta?” Suara Juan terdengar dari pinggir panggung, dan Candice sontak berteriak.


“Nanti, tunggu disana, jangan ke sini!” Ia langsung berlari menuju arah Juan. Tracy melihat ke sekelilingnya, beberapa model masih ditengah-tengah mengganti bajunya. Mereka tidak terlalu terganggu juga dengan keberadaan laki-laki di tengah-tengah mereka, mereka pastinya sudah terbiasa dengan keadaan genting yang memaksa mereka harus berganti baju secara tiba-tiba di tempat manapun. Maka itu model-model ini sudah siap dengan baju dalam yang tertutup, celana yang terlihat seperti short dan bra yang tertutup.


“Nanti akan ada Louis di belakang panggung, untuk bagian Modern Kimono, aku perlu video kegiatan di belakang panggung.” Suara Juan terdengar sayup-sayup, Tracy mendecakkan lidahnya sedikit. Louis? Kenapa harus dia dibelakang panggung?


“Nanti saat Frozen Flower mungkin akan digantikan oleh Derrian. Pokoknya akan ada satu perwakilan dari bagian


dokumentasi, aku minta tolong model-model diminta berinteraksi juga dengan kamera.” Tracy menghela napas. Setidaknya selama Modern Kimono dia akan berada di belakang pintu masuk, ia hanya akan bertemu Louis saat ia kembali ke belakang panggung, setidaknya lelaki itu tidak akan punya waktu untuk bicara lama-lama dengan Tracy.


“Baiklah, sudah, nanti saja urusan itu, kami masih ganti baju. Sana!” Candice mengusir mereka dan Tracy melanjutkan urusannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2