Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
di jodohkan


__ADS_3

***


"Bagaimana Nadia? Kamu mau, 'kan menikah dengan sahabat Abi?" tanya Pak irham. Abinya Nadia.


Nadia menunduk, rasanya ingin menolak tapi tapi dia tidak mau menjadi anak durhaka.


"Na'am Abi, Nadia mau. Nadia yakin pasti keputusan Abi yang terbaik buat Nadia," jawab Nadia.


"Yasudah ayo ke ruang tamu mereka pasti menunggumu," ajak Pak irham yang di balas anggukan oleh Nadia.


"Maaf yah Pak lama," ucap Pak Irham dan langsung duduk di atas kursi


"Iya, tidak apa-apa," jawab Pak Arka tersenyum dia adalah Bapaknya Rayan, dan dia mau menjodohkan anaknya dengan anak Pak Irham yaitu Nadia.


"kenalan sana, sama anaknya Pak Irham," bisik Pak Arka menyenggol Rayan yang sedang melamun sambil memperhatikan wajah Nadia yang berpakai cadar.


"iya-iya. Ihh," ucap kesal Rayan.


"Rayan. Nama loh siapa?" ucap Rayan mengalurkan tangannya kepada Nadia yang tidak di balas oleh Nadia.


"Nadia, afwan bukan muhrim, " ucap Nadia dan langsung menundukkan pandangannya.


'Jeuhh, sok alim banget sih jadi cewek, nyesel gue udah mengalurkan tangan gue dan dia malah tidak membalasnya," batin Rayan memutarkan bola matanya malas. Dan langsung menarik kembali tangannya, lagipula tidak gunanya menjambat tangan gadis seperti Nadia.


"Oh iya, jadi bagaimana Nadia apakah kamu mau?" tanya Pak Arka.


'Yaa Allah bagaimana ini? Nadia tidak kenal sama sekali sama Rayan ini, muskipun Rayan satu sekolah tapi Nadia tidak dekat dengannya, tapi ... hamba tidak mau menjadi anak durhaka,' batin Nadia.


"Iya Pak, Nadia mau. Tapi bagaimana dengan sekolah? Nadia, 'kan masih sekolah SMA," jawab Nadia sambil terus menundukkan pandangan karena dia ingin menjaga pandangannya.


"Tidak papah, sebentar juga akan lulus bukan? Nanti di sana Rayan akan selalu menjaga nak Nadia. Iya, 'kan Rayan?" ujar pak Arka menyenggol lengan Rayan yang di balas anggukan oleh Rayan.


'Oh jadi, dia setuju,' batin Rayan.

__ADS_1


'Si*lan dia tidak pernah penatap wajah gue, emang gue jelek apa? Kaya dia yang wajahnya di tutup. Rupanya dia jelek, burik, banyak jewaratan, jeuh naj*s,' batin Rayan.


"Kalau kamu bagaimana Rayan? Setuju apa tidak?" tanya Pak arka


***


"Heum, Rayan setuju Pah," jawab Rayan sambil terus memandang wajah Nadia yang tertutup itu.


'Nj*r, gadis si*l emang, kenapa sih dia terus menatap kebawah mulu? Gak tau apa wajah gue seganteng gini, banyak di luar sana cewek-cewek pengen minta poto bareng gue Seharusnya gue gak mau liat wajah dia b4ng*at,' batin Rayan.


"Alhamdulillah." ucap Pak Arka dan Pak Irham bersamaan.


Kini keluarga Nadia dan keluarga Rayan begitu ngobrol lama dan sambil menentukan tanggal pernikahan mereka berdua. Tidak terlalu lama Papahnya Rayan dan Rayan pun pamit pulang kini hanya ada Nadia dan Abinya Nadia.


"Nadia, tapi Abi tidak memaksa jika kamu tidak mau menerima perjodohkan ini,"


"Tidak, Nadia tidak keberatan Abi. Oh iya, kalau gitu Nadia mau ke kamar dulu," ucap Nadia pergi ke kamarnya lalu dia duduk dan memikirkan Rayan.


"Yaa, walaupun aku dan dia tidak kenal sama sekali. Semoga saja aku bahagia dengannya setelah menikah. Aamiin ya Allah," gumam Nadia lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan membaca Al-Qur'an supaya biar tenang dan tidak memikirkan Rayan.


***


Seorang pria sedang duduk di kasurnya dan sambil memikirkan Nadia. Kenapa wajah gadis itu terus di tutup? Itu lah yang ada di pikirannya sekarang tidak butuh waktu lama dia langsung mengambil ponselnya lalu menelepon sahabatnya.


Tut! Tut! Tut!


"Lama banget sih di angakatnya? Argh lagi ngapain sih itu orang," gumam Rayan kesal.


"[Halo! Ada prend?]" tanya yang ada di dalam teleponnya yaitu sahabatnya dia bernama Sandi.


"Heh! Lo lagi di mana?" tanya Rayan.


"[Lagi di caffe, bareng teman-teman. Kenapa emang?]"

__ADS_1


"Lo bisa ke sini gak? Sekarang gak usah pake lama. Bareng teman, 'kan? Gue mau curhat nih,"


"[Hah curhat? Tumben mau curhat haha,]"


"Cepat. Sekarang!"


"[Iy--]"


Tut! Tut! Tut!


"Kebiasaan tuh anak, siapa yang nelepon? Siapa yang di matiin?" ucap Sandi.


"Siapa?" tanya seseorang pria yang di situ dia juga adalah sahabat Rayan.


"Tuh si kodok, ehh si kodok. Si Rayan maksudnya,"


"Iya, kenapa?"


"Gak tau. Ayo lah bro kita ke rumah si Rayan, katanya sih mau curhat,"


"Hah? Curhat?" ucap semua temannya yang di situ.


"Iya-iya, buru et dah."


***


"Apa? Loh mau di jodohin?" ucap semua sahabatnya Rayan.


"Astaghfirullah, kalian bisa gak sih? Ngomongnya pelan-pelan. Kuping gue sampai mau terbang gini." ucap Rayan kesal lalu mengambil ponsel dan bermain game.


•••


sekian dulu yah mohon kritikannya

__ADS_1


__ADS_2