
•••
"Aduhhh," ucap Rayan yang kena bantal wajahnya.
"Ohh. Jadi, lo pengen main sama gue?" tanya Rayan seperti ingin bermain sama Nadia.
Nadia yang mendengar itu hanya memutarkan bola matanya malas. Lalu, berjalan keluar kamar.
"Mau ke mana?" tanya Rayan.
"Kakak, itu waktu kemarin pura-pura lupa? Atau gak punya kuping sih?" tanya ketus Nadia membalikkan tub*hnya.
"Iya, maaf. Soalnya, 'kan lo ketiduran yaudah gue bawa ke sini,"
"Kan bisa aja langsung bawa ke kamar Nadia, Nadia 'kan udah bilang kita masing-masing," ucap Nadia melototkan matanya.
"Tapi, gue---"
"Apa?" tanya Nadia. Sedangkan Rayan diam.
"Nadia, cuma hanya nurutin kemauan Kakak aja. Itu 'kan yang Kakak mau?" tanya Nadia.
Diam. Rayan hanya diam tidak menjawab, emang itu salah sendiri. Nadia melanjutkan jalannya untuk keluar kamar Rayan. Dan masuk ke kamar yang sendiri. Lalu, gadis itu berjalan ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
Bugh!
Rayan memukul meja dengan kuat. Dan muka yang sudah merah seperti tomat.
"Kenapa sekarang gue gak bisa melawan? Yang dulu suka membentak dan menamparnya. Tapi, sekarang?" gumam Rayan.
"Hufft ... seharusnya Nadia gini itu gue bangga. Gue 'kan emang dulu ingin Nadia seperti ini. Oke, mulai sekarang gak usah nanya lagi tuh sama gadis s14l4n," ujar Rayan dan langsung mengambil handuk untuk melakukan ritual mandinya.
Nadia sudah memakai baju seragam sekolahnya, untuk berangkat ke sekolahan. Tapi, ia akan sarapan dulu di rumahnya, ya iya lah untuk berangkat sekolah yakali untuk berenang. Kemudian, turun dari tangga dan duduk di meja makan, Rayan belom keluar dari kamarnya.
"Ihh, kok gak ngajak gue sih?" tanya Rayan dan langsung duduk di dekat Nadia. Nadia berdiri dan mengambil cadar yang di taruh meja sedari tadi. Lalu, memakainya.
"Nadia, bareng sama gue aja," ucap Rayan yang tadinya mau makan langsung berdiri.
__ADS_1
"Gak usah, Kakak 'kan mau makan, Nadia bisa sendiri kok,"
"Enggak, nanti makannya di kantin aja. Soalnya, gue belom lapar," ucap Rayan mengambil tas.
"Gak usah Kak. Makasih," ucap Nadia langsung menarik tangan Rayan dan mengec*pnya. Kemudian, keluar. Namun, tangannya di cekal oleh Rayan.
"Lo sendirian gak baik loh, Nad," ucap Rayan.
"Hey, Kakak ke mana aja? Nadia 'kan emang suka sendiri, cuma waktu itu aja sekali bareng Kakak. Nadia suka sendiri dan juga kalau Nadia pengen bareng sama Kakak, Kakak suka nolak. Mungkin, Nadia selalu merepotkan Kakak. Tapi, tenang, sekarang Nadia tidak akan mengaganggu Kakak lagi kok," ucap Nadia tersenyum tipis di balik cadarnya dan langsung pergi.
"Kenapa gue nanya lagi sih, akhhh. 'Kan katanya gak akan nanya lagi," gumam Rayan menepuk keningnya.
"Makan dulu lah, laper gue," ucap Rayan membalikkan bad4nnya dan duduk kembali.
'Ish kok sakit yah, ketika di gini in sama Nadia,' batin Rayan.
***
"Nadia, ke kantin yok!"
"Enggak Kak, masih kenyang,"
***
"Tadi Nadia udah janjian sama Dara dan Zia,"
***
"Mau ke kantin? Bareng gue aja, ayo!"
"Maaf, aku sudah janjian,"
***
"Makanya punya b4dan tuh yang tinggi dong. Jadi, susah 'kan ngambil bukunya,"
"Makasih,"
__ADS_1
***
"Kepedesan yah? Nih, ada minuman buat lo,"
"Nadia, gak suka minuman itu Kak,"
***
"Ayo pulang, bareng gue aja. Soalnya tadi waktu mau berangkat lo nolak,"
"Makasih Kak. Tapi, Nadia pengen sendiri,"
***
"Lo tugas dari sekolahan udah di kerjain belom?"
"Belom,"
***
"Tugas lo sama gue kerjain yah,"
"Enggak usah, Kak. Ini 'kan tugas Nadia,"
***
"Nadia, lo kenapa sih? Masih marah sama gue? Maaf fin gue dong,"
"Udah di maaf 'kan kok,"
***
"Lo kenapa cuekkin gue mulu, Nad?"
"Gak papah,"
•••
__ADS_1
...----------------...
**HAPPY READING**