
•••
"Iya, diam aja lo di situ," teriak Rayan di dapur.
"Tapi, Nadia bosan Kak," ujar Nadia mengerucutkan b1b*rnya.
Rayan tidak membalasnya. Jika ia membalas ucapan Nadia terus, bisa-bisa bikin bubur belom beres-beres juga. Iya, sekarang pagi pun sudah tiba. Dan Rayan sekarang sedang di dapur membikin bubur untuk sang istri tercinta, alias untuk Nadia, untuk sang istri tercinta mah entar aja yah.
"Alhamdulillah, beres juga ternyata," gumam Rayan sudah beres perang di dapur.
Rayan langsung menaiki tangga yang menuju kamar Nadia. Setelah sampai ia duduk di samping Nadia, Nadia mengambil mangkok dan sendok yang Rayan bawa. Namun, di ambil lagi sama Rayan, mengapa hidangan punya dirinya Rayan ambil? Dasar pria aneh.
"Kak, sini aja sama Nadia,"
"Gue heran sama lo, lo itu lagi sakit, sama gue aja," Rayan menyuapi Nadia. Tapi, anehnya juga Nadia membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Rayan.
Sudah cukup kenyang. Nadia menyetop tangan Rayan agar tidak menyuapi dirinya lagi. Namun, Rayan tidak peduli dengan itu, ia terus saja menyuapi Nadia, sehingga Nadia pun mengeluarkan kata bicaranya.
"Kak, Nadia bilang sto---"
"Dikit lagi," ucapnya memetong perkataan Nadia. Nadia mendengus kesal.
"Nadia, udah kenyang," mengerucutkan b1b*rnya.
"Dikit lagi, aaa ... "
"Enggak, udah kenyang,"
"Hufft ... biar cepat sembuh Nadia, sama suami harus itu nurut,"
__ADS_1
"Emang Kak Rayan, suami Nadia?"
"Udah deh, gak usah bahas itu dulu. Gue lagi malas berdebat, cepat ihh, dikit lagi tau,"
Akhirnya Nadia nurut, Rayan kembali menyuapi Nadia. Nadia sudah merasa kesal karena dirinya sudah sangat kenyang.
"Kakak, udah makan?"
"Belom," ucap Rayan sambil menyuapi Nadia.
"Yaudah, sama Nadia suapin, aaa ... " ujar Nadia mengambil mangkok dari pegangan Rayan.
"Emang gue lagi sakit apa? Gue juga bisa sendiri,"
"Ish, sama istri itu harus nurut," ucap Nadia menuruti kata-kata Rayan yang tadi. Dan Rayan langsung membulatkan matanya.
"Gue mau makan nasi, ini mah bubur,"
"Beda, Nadia,"
"Sama, Kakak,"
"Udah deh, coba lo itu nurut, sini mangkoknya!"
"Enggak, kalau Kakak gak mau makan, yaudah Nadia juga gak mau,"
"Hufft ... oke-oke," ucap Rayan pasrah setelah mendengar perkataan Nadia. Rayan membuka mulutnya itu dan dengan senang hati Nadia menyuapi suaminya.
"Sini sekarang lo," Rayan mengambil mangkok dari tangan Nadia. Nadia langsung memberikannya.
__ADS_1
Rayan pun langsung menyuapi Nadia, hingga tak terasa bubur itu pun yang di mangkok sudah habis oleh mareka berdua. Sekarang Nadia sudah sangat kenyang. Tapi, entahlah ada apa dengan diri Rayan, bisa-bisanya Rayan menyuapi dirinya. Tapi, Nadia juga merasa ada senangnya.
Rayan memberikan minum untuk Nadia. Tapi, tangan Nadia menyetop. Rayan pun menaikan halisnya, ia bingung dengan gadis yang ada di hadapannya ini, kenapa menyetopnya? Apakah dirinya tak mau minum.
"Kakak, dulu, Baru Nadia," bisiknya di telinga Rayan.
"Oke, Sayang." bisiknya. Membalas bisikan Nadia.
Degh!
Mata Nadia langsung membulat begitu saja. Rayan yang melihat wajah Nadia seperti kaget, ia pun langsung tertawa.
"Gak usah baper," bisik Rayan lagi. Tidak banyak mikir Rayan langsung meminum, tidak lupa juga ia mengsisakan minumnya setengah, untuk gadis yang berada di depannya itu, yaitu Nadia.
"Ihhh," ujar Nadia kesal sambil memukul dada bidang milik Rayan. Dirinya itu sudah sangat baper, ehh malah Rayan bilang seperti itu haha.
'Apakah tidak merasa jij1k?' batin Rayan mengerutkan dahinya saat Nadia sedang meminum. Tidak sadar juga b*b1r Rayan tersenyum, ternyata Nadia tidak j1jik bekas mulutnya.
"Apa? Lihat-lihat? Nadia cantik yah? Yah?" ucap Nadia tersenyum saat Rayan menatap dirinya terus. Nadia terus mendekatkan wajahnya ke wajah tampan Rayan.
Rayan juga tidak kalah, ia juga mendekatkan wajahnya ke wajah cantik milik Nadia.
'Ehh, ehh, Kak Rayan, mau ngapain?' batin Nadia.
Rayan terus mendekatkan wajahnya, dan tiba-tiba ia begitu sweet saat tangannya mengusap b*b1r Nadia sedikit blepotan. Nadia membulatkan matanya dirinya merasa kaget akan tindakan yang di lakukan oleh Rayan.
Apakah Nadia tidak memakai cadar? Iya, Nadia memang tidak memakai cadar, Nadia bangun pas pukul 02:00 WIB dirinya merasa gerah jadi terpaksa membuka cadarnya. Dan Rayan pun bilang, bahwa dirinya itu sudah melihat wajah cantiknya.
Iya, memang begitulah saat sedang sakit, terkadang merasa dingin, dan juga terkadang merasa panas.
__ADS_1
Hadehh. Rayan itu memang yah, mencari kesempatan dalam kesempitan. Apa bagaimana sih? Hahaha.
*Happy Reading*