Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
Makan di luar bersama


__ADS_3

Saat di perjalanan Rayan hanya pukus menyentir saja, dan tiba-tiba ia pun langsung mengingat Nadia. Dan saat itu di perjalanan ia melihat seorang gadis bercadar berteriak-teriak. Dan tangannya di pegang oleh pria yang berbadan besar.


"Hah? Itu kayanya Nadia?" gumam Rayan melihat dari kejauhan.


"Loh kok cadarnya seperti mau di buka sama preman itu? Wah kur4ng hajar itu orang," ucap Rayan. Lalu turun dari mobilnya dan menghampiri berdua preman itu.


"Tolong ... tolong ... tolong!" teriak Nadia. Sambil menangis.


"Gak bakal ada yang nolongin Neng, makannya jalan itu jangan sendiri, iya gak bro haha? Sini cadarnya buka dong saya pengen lihat!" ucap preman tersebut sambil tertawa dan ingin membuka cadar Nadia.


"Ana mohon, jangan buka cadar ana hiks ...." ucap Nadia sambil menangis.


"Woi! Hentikan b4ngs4t!" teriak Rayan dan segera memukul preman tersebut. Lalu Rayan pun melihat Nadia yang sudah gemeteran dan menangis dan segera memeluknya.


"Kakak!" teriak Nadia lalu membalas pelukan Rayan dengan erat.


"Loh gak papah, 'kan Nad?" tanya Rayan. Nadia tidak membalas ucapan Rayan ia hanya menangis saja.


"Loh Nunggu di sini yah, gue mau haj4r preman dulu," ucap Rayan lagi. Dan Nadia pun segera melepaskan pelukannya.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Rayan pun langsung mengh4jar dua preman tersebut. Dan setelah preman itu kalah oleh Rayan, lalu preman tersebut itu segera cabut.


"Bro, ayo cabut, cepat!" ucap salah satu preman kepada temannya. Dan di balas anggukan oleh temannya itu dan mereka pun segera cabut dari situ.


"Kakak, kakak gak papah 'kan?" tanya Nadia.


"Gak papah kok, loh gak di apa-apain 'kan?" tanya Rayan balik.


"Ya Allah Kak, b1b1r Kakak luka. Gak kok Kak. Nadia gak di apa-apain tadi cuma preman itu ingin buka cadar Nadia,"


"Syukurlah. Gak papah ini cuma luka dikit kok, ayo pulang!"


Rayan dan Nadia pun segera pulang. Beberapa menit kemudian. Akhirnya mereka berdua pun sampai rumah juga dan segera masuk.


Saat ini Rayan sedang duduk di kursi. Dan sedangkan Nadia ia sedang mencari kotak p3k. Tidak terlalu lama Nadia pun langsung menemukannya lalu Nadia duduk di samping Rayan.

__ADS_1


Nadia mengeluarkan kapas dan obat merah. Gadis itu mulai memngobati sudut b1b1r pria itu.


"Awss," Rayan meringis kesakitan saat Nadia menyentuh sudut b1b1rnya itu.


"Tahan yah Kak,"


"Pelan-pelan dong Nad, awss!"


Saat Nadia pokus mengobati b1b1rnya Rayan. Rayan pokus menatap matanya Nadia. Karena sekarang posisi meraka sangat dekat dan sepertinya hidung mereka pun hampir bersentuhan.


Degh!


Jantung Rayan sekarang sangat berdetak kencang. Dan terus menatap Nadia sampai tak berkedip.


'Kenapa jantung gue berdetak kencang sih? Dan kenapa kalau dekat Nadia kok beda? gak seperti Desi?' batin Rayan.


'Perasaan gue dulu sama si Desi gak deg-degan gini, tapi ini kenapa saat dekat Nadia deg-degan gini?' batinnya lagi.


'Apa gue udah jatuh cinta sama gadis si4l4n ini? Gak, gue gak mau. Ish, ini orang kenapa dekat-dekat lagi bikin gue jantungan aja. Huftt ... kenapa gue penasaran banget sama muka nih cewek sih?'


•••


"Kak, kenapa lihat Nadia seperti itu?" tanya Nadia heran kepada Rayan kenapa menatapnya seperti itu? Apakah ada yang salah.


"Ohh,"


"Awwss, pelan-pelan dong, sakit tau!"


"Iya Kak, ini juga pelan-pelan kok,"


"Nah udah," ucap Nadia yang baru beres mengobati sudut b1b*r Rayan.


Nadia pun yang tadinya duduk bersama Rayan. Ia langsung berdiri dari kursinya untuk menyimpan kotak p3k, Nadia membalikan tubuhnya, kakinya tak sengaja terpeleset karena tak pokus, dirinya kehilangan keseimbangan.


Brukk!


Nadia pun langsung jatuh ke tubuhnya Rayan. Dan sekarang posisi mereka berdua itu Nadia m3n1nd1h tubuh Rayan.


Degh!


Jantung Rayan pun kembali berdetak kencang, dan Rayan hanya membengong sambil kembali menatap Nadia.

__ADS_1


'Duh gawat, ini jantung kenapa lagi sih? Gimana kalau Nadia dengar? Nanti bisa-bisa dia geer lagi, ya Allah hamba mohon hilangkanlah hamba ya Allah,' batin Rayan.


Nadia jangan di tanya ia dari tadi jantungnya sudah berdegup kencang seperti ada yang berdisko begitu pun dengan Nadia ia sama menatap Rayan dan tidak berbicara sedikit pun dan terjadilah mereka saling bertatapan.


Beberapah menit kemudian Nadia pun segera memalingkan wajahnya yang terus ditatap oleh Rayan dan langsung bangun dari tubuhnya Rayan itu.


"Ma--maaf Kak, ta--tadi Nadia ga--gak sengaja," ucap Nadia gugup.


"Iy--iya, eng--enggak papah," ujar Rayan yang ikutan gugup.


'Ahh si4l, nih ngomong kenapa ikutan gugup juga sih,' batin Rayan.


Kruyuk!


Waduh? Bahaya, mengapa perutnya gak bisa di ajak berkompromi sih?


Nadia menahan senyumnya. Saat perut Rayan berbunyi Rayan menyadari jika Nadia menahan senyumnya, diri Rayan sangat malu, ini semua gara-gara perutnya yang berbunyi tanpa ia suruh.


"Kakak, lapar yah?" tanya Nadia seraya tersenyum kepada Rayan.


"Hihihi. Iya," jawab Rayan cengegesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Yaudah bentar yah Kak, aku mau masak dulu!"


Nadia segera ke dapur untuk memasak, ia pun segara melihat ke kulkasnya bahan apa-apa saja yang masih ada. Namun, pas ia lihat di kulkas miliknya bahan masaknya sudah habis.


"Kak, bahan-bahannya sudah habis. Gimana dong?"


"Yaudah sekarang kita makannya di luar aja, setelah itu baru membeli keperluan dapur,"


"Iya Kak."


Rayan dan Nadia segera berangkat. Beberapa jam kemudian. Rayan terhenti di sebuah lestoran, Rayan dan Nadia langsung berjalan dan duduk di belakang dekat tembok dan tidak lama seorang pelayan menghampiri bangku yang di duduki keduanya. Lalu pelayan itu pun menyerahkan buku menu kepada Rayan.


"Gue pesan ini sama ini, minumannya yang ini!"


"Loh pesan apa Nad?" tanya Rayan.


"Nadia samain aja sama Kakak,"


Beberapah menit kemudian. Akhirnya hidangan pun tersaji. Nadia dan Rayan melahap makanan itu dengan nikmat. Rayan menatap Nadia heran.

__ADS_1


***semoga suka***


""selamat membaca""


__ADS_2