Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
Tantangan_ingin pisah


__ADS_3

•••


"Tan--tantangan?" tanya Nadia berkaca-kaca. Iya, itu Nadia, kenapa Nadia mendengarnya? Padahal tadi dia lagi di dapur? Karena, pas Rayan ngomong seperti itu tiba-tiba Nadia datang.


Nadia, gadis mungil yang membawa minum itu mematung pas mendengar omongan Rayan, ia sangat kaget. Intinya yang di duganya itu selalu salah, kenapa Rayan seperti itu? Membuat hatinya itu selalu berdebar kencang, padahal itu cuma hanya tantangan. Bukan hanya karena cinta, pantesan saja Nadia sangat bingung pas semenjak Rayan pulang, ia tiba-tiba baik, tidak kasar pula. Dan ternyata itu semua hanya tantang. Apakah tidak ada rasa cinta sedikit saja buat dirinya? Rayan yang melihat Nadia langsung kaget.


"Na--Nadia!" ucap Rayan.


"Iya. Kak," jawab Nadia yang rasanya ingin menangis.


"Lo 'kan udah tahu bahwa itu semua tantangan, intinya semenjak semalam. Jadi, lo gak boleh baper yah," ucap Rayan.


"Iya. Kak, tenang aja Nadia enggak baper kok," ucap Nadia tersenyum hambar.


"Nadia, lo gak baper?" tanya Devan. Dira dan Zia hanya diam meraka tidak mengerti dengan semua ini.


"Enggak, Kak. Soalnya, Nadia belom cinta sama Kak Rayan," ucap Nadia berbohong. Setelah mengatakan itu Nadia pergi dari tempat itu dengan berlari kecil.


Degh!


Jantung Rayan berdebar kencang. Dadanya sesak ketika melihat orang yang di cintai berkata berusan yang Nadia ucapkan, sebelum pergi. What? Orang yang di cintai? Akhh entahlah, Rayan diam dan memegangi dad4nya yang terasa sesak. Lalu, menginguti Nadia dari belakang.


Sebelum Rayan menginguti Nadia, Rayan mengusir temannya untuk pulang, termasuk teman Nadia juga. Tega bener dah si Rayan mengusir temannya.


"Nadia!" ucap Rayan yang sudah sampai kamar Nadia.


"Nadia!" ucap Rayan. Lagi-lagi Nadia tidak membalas ucapan suaminya.


"Gue minta maaf," ucap Rayan lagi. Nadia sama seperti tadi tidak membalas ucapan suaminya. Hanya membisu, sekarang Nadia posisinya itu merebahkan tub*hnya lalu memejamkan matanya dan semua tub*hnya di tutup oleh selimbut sampai kepala.


"Nadia, lo ini kenapa diam aja sih?" bentak Rayan kesal dan tangannya membuka selimut yang nempel di tub*h Nadia. Dan Rayan melihat wajah Nadia, wajah Nadia pucat dan sepertinya yang sudah menangis. Bisa-bisanya ia mempermainkan perasaannya, Nadia orangnya selalu baper.


"Jelasin Kak," gumam Nadia yang masih terdengar oleh Rayan.


"Hufft ... oke, pas semalam gue telat pulang, bukan?" ucap Rayan menghela nafas.


Flashback on.


"Truth or dare?" tanya Devan kepada Rayan.


"Dare," jawab Rayan.


"Wah, berarti lo mau tantangan?" tanya Sandi.


"Apa yah kira-kira tantangannya? Bingung gue," ucap Alex sambil memikir.


"Emm ... bentar yah Ray, gue sedang mikir dulu," ucap Devan dan memikir sejenak.


"Oh ini, San, Lex, lo sini," ucap Devan.


"Apaan sih?" ucap Sandi. Alex dan Sandi mendekatkan t*buhnya dan temannya. Lalu, mereka berbisik-bisik entah sedang berbisik apa. Rayan yang melihat temannya berbisik mengerutkan dahinya sejenak.


Akhirnya mereka bertiga pun sudah berbisiknya.


"Apa tantangannya?" tanya Rayan.


"Gini, tantangannya itu adalah, lo sama si Nadia romantisan satu hari full," ucap Devan mengedipkan matanya.


"Hah? Gak salah dengar gue? Maksud kalian apa?" tanya Rayan kaget.


"Gini nih Ray, lo sama si Nadia itu seperti sudah cinta banget, lo baik banget sama Nadia, jangan galak-galak mulu, lo 'kan belom cinta sama Nadia? Kata lo juga 'kan? Lo pernah bilang sama kita. Jadi, tantangannya itu lo harus baik dan seperti sudah cinta," ucap Devan.


"Enggak, gue kagak mau! Tantangan yang lain aja," ucap Rayan.


"Kenapa? Wahh, kalah lo Ray, di kasih tantangan gitu aja udah nolak," ucap Sandi sembari tertawa. Dan Rayan langsung melotot.


"Oke-oke, gue terima," ucap Rayan yang tidak mau kalah.


Flashback off.


***


"Awsss," ucap gadis meringis yang tangannya kena pisau. Gadis itu sedang memotong-motong tomat entah dia sedang melamun atau apa. Jadi, pisau pun kena tangan mungilnya dan keluar dar4h.


Gadis mungil itu sedang masak untuk suaminya dan dirinya. Rayan sedang sibuk memainkan ponsel pas sedang asik-asiknya pun Rayan menghentikan main ponselnya karena ia mendengar Nadia meringis langsung berlari dan menghampiri Nadia.


"Nadia, lo kenapa?" tanya Rayan kaget pas melihat dar4h keluar dari tangan mungil Nadia.


"Enggak papah kok Kak," ucap Nadia.


"Lo lagi mikirin apaan sih? Sampai-sampai begini?" tanya Rayan.


"Emm ... enggak, Kak. Nadia gak mikirin apa-apa,"


"Sini gue obatin," ujar Rayan dan menarik tangan Nadia.


Pria itu sekarang sedang mengobati tangan istrinya, ehh salah. Si Nadia maksudnya hehe. Belom anggap istri yah gays yah haha.


"Awss, perih Kak, itu obat apa sih?" omel Nadia.


"Diam, lo bisa diam gak sih? Mau cepat sembuh gak?" ucap Rayan menatap tajam ke arah Nadia. Nadia yang mendapatkan tatapan tajam dari Rayan gadis itu diam dan sekali-kali meringis.


'Aku yakin banget, Kak Rayan itu sudah mencintaiku. Namun, hanya gengsi saja. Jika, belom, dia enggak mungkin seperhatian gini, ya muskipun dia suka melotot dan masih membentak,' batin Nadia sambil tersenyum ke arah Rayan yang sedang mengobatinya.


"Nah, udah beres. Sekarang gue aja yang masak, lo diam di situ," ucap Rayan.


"Ta---"


"Nadia," ucap Rayan memotong ucapan Nadia sembari melototkan matanya.

__ADS_1


"O--oke,"


***


Satu hari kemudian. Sekarang anak-anak sekolah bubar seperti biasa waktunya pulang rumah masing-masing, karena tadi suara bell berbunyi.


"Sekarang gue mau pulang bareng Nadia aja," gumam Rayan.


"Mana sih tuh orang," gumam Rayan mencari Nadia.


Di sisi lain ada tiga gadis sedang berngobrol.


"Aku duluan yah, gak papah 'kan?" tanya Dira kepada sahabatnya.


"Iya, gak papah kok," ucap Nadia dan Zia.


"Iya. Assalamu'alaikum, sampai jumpa besok di sekolahan," ujar Dira.


"Wa'alaikumssalam,"


"Ehh, Nad. Itu kayaknya Abangku udah datang," ucap Zia yang melihat Abangnya sudah datang menjemput dirinya.


"Mana?" tanya Nadia yang tidak melihat.


"Itu," ucap Zia menunjukan Abangnya.


"Ayo, kita pulang bareng," ajak Zia.


"Maaf, Zia. Enggak bisa, lihat deh Abang kamu 'kan bawa motor. Jadi, agak sempit hehe," tolak Nadia.


"Emangnya kamu gendut? Sampai bilang sempit gitu,"


"Bukan gitu maksud aku, Zia," ucap Nadia.


"Hehe iya-iya, gue ngerti. Terus, kamu sama siapa?" tanya Zia.


"Sama emm ... sama Kak Rayan. Nah, iya Kak Rayan hehe," ucap Nadia cengegesan.


"Ohh. Yaudah deh, aku duluan yah,"


"Iya, hati-hati di jalan," teriak Nadia.


Nadia melihat punggung sahabatnya yang sudah agak jauh, semangkin lama punggung mungil sahabatnya itu menghilang.


"Hufft ... terus, aku pulang sama siapa? Gak mungkin 'kan bareng Kak Rayan?" gumam Nadia menghela nafas panjang.


"Nadia!" teriak seseorang pria.


"Ehh, Farel, mau ke mana?" tanya Nadia.


"Mau ke kamu lah. Terus, mau ke mana lagi coba?" ucap Farel. Iya, yang memanggil Nadia itu Farel.


"Belom,"


"Bareng aku aja, gimana?"


"Hemm ... enggak akhh, kita 'kan bukan mahram," tolak Nadia.


"Agak jauhan Nadia, duduknya. Cepat ayo! Lihat sekarang sepertinya mau hujan," ucap Farel. Sekarang cuacanya sedang tidak mendukung sepertinya sebentar lagi hujan akan turun.


"Ayo, Nadia!" ajak Farel lagi.


"Gimana yah Rel, aku takut. Gimana kal---"


"Udah, ayo!" ujar Farel memotong pembicaraan Nadia dan menarik tangan Nadia.


"Kak, lepas ihh! Bukan mahram Kak," teriak Nadia berusaha melepaskan tangannya.


"Nadia!" teriak seseorang.


"Kak Ra--Rayan," ucap Nadia kaget. Dan Farel langsung melepaskan tangan Nadia.


"Nadia, lo murah banget mau di pegang sama yang bukan mahram," bentak Rayan kepada Nadia.


Plak!


Farel langsung menampar pipi Rayan, Farel marah, ia sangat benci. Jika, Nadia di bentak.


"Lo siapa? Yang berani-beraninya membentak Nadia?" tanya Farel. Rayan tersenyum sinis sembari memegang pipinya yang di tampar oleh Farel.


"Seharusnya gue yang nanya itu ke lo. Lo siapa berani-beraninya memegang tangan Nadia?" bentak Rayan.


"Gue teman," jawab Farel.


"Hemm, cuma teman 'kan? Bukan suami?" tanya Rayan smrik.


"Maksud lo apa? Lo sebenernya siapa?" tanya Farel mengerutkan dahinya.


"Oke, kenalin gue suaminya," ucap Rayan.


Degh!


"Su--suami? Na--Nadia maksudnya ini apa? Dia bohong 'kan?" tanya Farel kaget.


"Ma--maaf. Rel, memang dia suami aku, aku minta maaf banget, tidak memberitahumu Rel," ucap Nadia.


"Tega banget lo Nad, kenapa lo gak bilang sama gue?" ucap Farel bergemetar. Nadia memejamkan matanya sejenak.


"Maaf," ucap Nadia.

__ADS_1


"Akhh, kalian lebay bangett sih. Sini lo Nadia! Ayo pulang, dasar murahan," ucap Rayan menarik tangan Nadia dengan kasar.


"Enggak Kak, aku bukan mur4han," ucap Nadia tidak terima dan terus menggeleng kepalanya.


"Lo bisa gak sih, nariknya pelan-pelan. Jadi, suami kasar banget," bentak Farel.


"Lo gak usah ngurusin rumah tangga orang," ucap Rayan.


"Ayo, cepat jalan!" Rayan terus menarik tangan Nadia.


"Pelan-pelan, Kak. Awss sakitt,"


Hati Farel sedih, sakit dan terluka semua tercampur aduk. Bagaimana tidak, wanita yang selama ini ia cintai sudah menikah dengan pria lain. Mukanya yang sudah merah padam, ia mencoba menahan amarah yang sudah menyelimutinya.


"Mungkin lo bukan jodoh gue, Nad. Semoga lo bahagia," gumam Farel tersenyum hambar.


"Cepat, masuk mobil!" suruh Rayan.


"Bu---"


***


Plak!


Lagi-lagi Rayan menampar keras berhasil mendarat mulus di pipi milik Nadia, sudut bib1r gadis itu mengeluar kan d4rah lagi, akibat tamparan keras dari Rayan.


"Nadia, gue gak nyangka banget sama lo. Ternyata lo murahan yang mau di pegang sama yang bukan mahram, bukannya berontak malah diam aja, luarnya aja baik dalamnya seperti ular," bentak Rayan yang sudah sampai rumahnya.


Nadia hanya bisa menangis pas di bentak oleh Rayan dan di tambah lagi di fitnah, istri mana sih yang kuat di lakukan seperti ini oleh suaminya, pasti tidak kuat 'kan.


"Dia siapa? Jelasin sama gue!" bentak Rayan lagi.


"Hiks ... di--dia bukan siapa-siapa Kak," jawab Nadia sambil memegang pipinya.


"Halah, gak usah bohong deh lo,"


"Jawab! Dia siapa, Nadia," teriak Rayan.


"Itu urusan Nadia, bukan Kakak," jawab Nadia membuat sang empu melotot 'kan matanya.


"Itu juga urusan gue. Karena lo itu istri gue,"


"Sejak kapan Kakak menganggap Nadia istri? Sejak kapan Kak?"


"Oke. Fine, Nadia akan jawab. Dia hanya teman Nadia, tidak lebih. Emangnya kenapa? Bukannya Kakak pernah ngomong dulu, urusan Nadia ya Nadia, urusan Kakak ya Kakak. Pas Kakak sedang pacaran sama Desi apakah Nadia marah? Apakah Nadia menampar Kakak? Enggak, 'kan? Tapi apa? Pas tadi Nadia bareng teman aja Kakak sudah marah, tadi itu Farel ngajak Nadia pulang bareng, dan Nadia menolaknya. Sejak kapan Kakak mengaggap Nadia istri? Kakak dulu pernah ngomong 'kan? Bahwa Kakak itu tidak akan pernah mengaggap Nadia istri? Dan pernikahan kita itu privasi,"


"Apakah Kakak lupa? Dulu Kakak pernah ngomong itu. Dan ketika Kakak ingin berangkat ke sesuatu tempat, Nadia bertanya 'Kakak mau kemana?' Tapi apa balasan Kakak? Kakak jawab seperti ini 'Ini urusan gue bukan urusan lo' dan sekarang oke fine. Jika, Kakak ingin berangkat Nadia tidak akan bertanya lagi, mulai sekarang kita masing-masing, terserah Kakak mau ke mana Nadia tidak akan bertanya apalagi melarang. Aku capek Kak, aku manusia bukan robot yang selalu kuat," lanjut Nadia dengan di iringi tangisan. Sedangkan Rayan hanya membisu mendengarkan omongan istrinya itu.


"Kamu mengingatkan aku tentang semua hal, buruk yang pernahku alami dalam hidupku. Penyiksaan, kekerasan," bentak Nadia menunjukkan pipinya yang memerah akibat Rayan.


"Bahkan keluarga aku tidak pernah melakukan kekerasan terhadap aku. Dan kamu? Kamu orang yang baru masuk ke dalam hidupanku dengan memberi luka baru, dalam fisik maupun batin, Kak Rayan!" teriak Nadia dengan wajah yang memerah akibat emosi yang meluap.


"Aby, Kak. Aby, apakah Aby pernah memukul Nadia? Menampar Nadia? Tidak, Kak. Aby belom pernah melakukan semua itu, membentak pun belom pernah apalagi menampar. Muskipun dulu Nadia pernah salah. Tapi, Aby tidak pernah membentaknya, sedangkan Kakak? Kakak baru datang, Kak. Kakak baru datang dari kehidupanku dan Kak Rayan mengingatkan Nadia tentang semua hal. Apalagi Umy, dulu pas Umy belom meninggal Umy sama kayak Aby, belom pernah membentak," lanjut Nadia dengan b4dan yang bergematar.


"Kamu baru datang, dan kamu tidak pernah mengaggap aku istri. Semua itu maksudnya apa? Kamu jadi 'kan aku sebagai tempat pelampiasan n4fsu, iya? Kalau begitu pukul aku! Jika, mau bun*h saja aku," ujar Nadia dengan suara bergetar.


Rayan terpaku melihat kondisi Nadia yang begitu kacau. Sesering itu kah ia melukai gadis di depannya ini? Ingin rasanya ia memeluk dan memberikan ketenangan pada Nadia. Tapi, lagi dan lagi egonya terlalu besar untuk melakukan hal itu.


Nadia berjalan ingin ke kamarnya. Namun, tangannya di cekal oleh seseorang.


"Mau ke mana? Jelasin dulu dia siapa, Nadia?"


"Udah deh gak usah ganggu Nadia, sekarang urus diri Kakak sendiri dan Nadia urus diri Nadia sendiri, dan juga itu urusan Nadia bukan urusan Kakak, dan mulai sekarang kita masing-masing,"


"Ta---"


"Tapi apa Kak? Itu 'kan yang Kakak ingin 'kan? Sekarang udah Nadia nurutin dan Kakak bebas bisa punya hubungan dengan siapa pun, dan mau ke mana pun Nadia tidak akan bertanya. Tapi, ingat! Jangan pernah larang Nadia buat punya hubungan dengan siapa yang Nadia mau. Karena, itu urusan Nadia,"


Plak!


Rayan tidak sadar dan tangannya pun menampar kembali ke pipi Nadia. Sontak Rayan kaget dan matanya melotot ke arah tangannya yang ia barusan menampar Nadia.


"Kamu jahat, aku membencimu!" teriak Nadia.


Degh!


Rayan menegang mendengar perkataan Nadia. Nadia tidak boleh membencinya.


"Sa--Sayang," Rayan tersadar dengan apa yang dia lakukan. Rayan membawa Nadia ke dalam dekapannya Nadia tidak menolak karena kondisinya lemah.


"Na--Nadia, maaf 'kan gue. Gue khilaf," ucap Rayan.


"Hiks ... hiks ...." isak Nadia menangis segukan.


"Maaf, maaf gue khilaf. Jangan menangis lagi," ucap Rayan.


"Khilaf?" lirihnya


"Khilaf aja terus, siapa tahu kamu juga khilaf bun---"


"Bisa gak sih? Gak usah ngomong itu?" ujar Rayan. Nadia melihat ke wajah Rayan sejenak. Lalu, menyembunyikan wajahnya di d4da b1dang milik Rayan. Kemudian, nangis kembali.


"Jika, Kakak terus membenci Nadia, Nadia mau kita pisah,"


#Bersambung


terima kasih sudah mampir


*Happy Reading*

__ADS_1


__ADS_2