
•••
Beberapah tahun kemudian pun sudah tiba. Sekarang adalah hari minggu, Rayan libur kerja. Dia sekarang sudah berkerja di perusahaan Papahnya. Papahnya sudah meninggal sejak Rayan kuliah. Karena sebuah kecelakaan waktu dirinya ingin berangkat karja. Hubungan Nadia dan Rayan semangkin ke sini semangkin membaik. Jika, ada salah pahaman mereka bicaran dengan baik-baik, dan pada akhirnya mereka saling memahami satu sama lain dan menyadari kesalahan mereka masing-masing.
Mereka berdua menikah ulang. Sejak Rayan mengungkapkan perasaannya, semuanya menjadi berubah dan di ulang kembali. Saat itu juga Rayan langsung merencanakan akan nikah kembali bersama Nadia. Saat Rayan kuliah, Nadia tidak kuliah ia memutuskan untuk mengurus rumah tangga saja bersama Rayan.
Dia dulu memang punya cita-cita. Namun, cita-cita itu sekarang berubah. Nadia sekarang sedang hamil 3 bulan anak pertama, Rayan suaminya dan Abynya Nadia, sangat bahagia saat mendengar Nadia hamil. Sandi, Alex, Devan, Dara dan Zia tidak tahu ke mana, author tidak mengurusnya. Terserah kalian anggap Devan dan teman-temannya mau sudah menikah kek. Terserah, anggap sedang nyungsep juga gak papah, saya ikhlas. Langsung aja yaa gays yak gak usah banyak (teks di potong) cangkeul tangan saya euy.
"Kak, makan yuk!" ucap Nadia menghampiri Rayan yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Makan? Ayok!" jawab Rayan. Namun, matanya masih menatap kepada laptop.
"Kak, udah ihh. Sibuk mulu sama laptopnya." protes Nadia duduk di dekat suaminya.
"Iya, bentar."
3 menit kemudian.
"Ayok makan!" ujar Rayan berdiri.
"Enggak mau makan di sini, Kak,"
"Lah, terus di mana, hem?" tanya Rayan duduk kembali.
"Hamm, hemm, hamm, hemm," ejek Nadia. Rayan tersenyum geli saat Nadia mengejek dirinya.
"Kenapa? Iya, di mana makannya sweete," tanya Rayan mencubit hidungnya.
"Di luar Kak, di cafe *** di situ enak loh kayaknya, Nadia belum pernah makan di cafe itu,"
"Ck, ya iya lah, 'kan itu cafe baru, Naa,"
"Iya cafe baru, makanya Nadia pengen ke sana,"
"Yaudah, ayok!" ajak Rayan menarik tangan Nadia.
"Ke mana?" tanya Nadia. Sedangkan Rayan ia diam menatap istrinya.
"Ke kandang ayam,"
"Ayok!"
"Ya ke cafe Nadia, astaghfirullah," ucap Rayan berjalan ke kamarnya. Nadia, gadis yang sedang hamil itu malah tertawa bukannya siap-siap.
"Malah tertawa, ayo siap-siap!" ajak Rayan. Kemudian, membuka pintu kamarnya, dan di ikuti oleh Nadia dari belakang.
***
Nadia bersama Rayan sudah siap, berdua human itu berjalan menghampiri mobil hitam dan menaikinya, gak mungkin 'kan menghilangkannya yak gays yak.
__ADS_1
Saat di perjalanan Nadia pokus ke depan melihat orang-orang yang di lewati oleh mobil suaminya. Sedangkan Rayan pokus menyetir dan tangan yang satunya terus mengelus p3rut Nadia.
"Kak, pokus aja sama nyetirnya. Nanti kalau di rumah baru di lanjut ngelus-ngelus perut Nadia," Rayan tidak mendengerkan omongan Nadia.
"Kakak!" ucap Nadia.
"Iya, Naa," Rayan berhenti mengelus perut Nadia. Dan pokus menyetir.
"Kak, Kakak, stop!" ujar Nadia menghentikan Rayan agar berhenti menyertir.
"Kenapa?"
"Kak, itu namanya apa? So---soto? Itu soto kak?"
"Mana?"
"Itu, noh yang itu, ihh rame banget. Enak yah Kak kayaknya kalau makan soto,"
"Kak, itu beneran soto 'kan? Kakak lihat gak sih? Itu ada bacaannya loh, noh itu," lanjutnya.
'Soto,' batin Rayan.
"Ehh, iya, itu soto," ucap Rayan.
"Nah 'kan, yaudah. Ayo Kak, turun!"
"Nadia, cuma ini di jalan loh, masa makan di jalan, panas,"
Rayan diam sejenak.
"Gak papah Kak, Nadia udah gak sabar lapar banget," lanjut Nadia.
"hah? Iy---iy---iya, yaudah ayo!" ucap Rayan sedikit tidak mau. Lalu, mereka berdua turun dari mobil. Ia ingin makannya di cafe, bukan di jalan seperti ini. Tapi, yaaa bagaimana lagi, ini kemauan Nadia. Jadi, dirinya harus menurut apa yang Nadia ingin 'kan apalagi sekarang istrinya itu sedang hamil.
***
Malam pun sudah tiba.
"Kak, ayo!"
"Enggak mau,"
"Enak loh, Kak,"
"Enggak, Nadia,"
"Ayo Kak, enak ihh," rengek Nadia.
"Kalau gak mau Nad---" ucapan Nadia terpotong.
__ADS_1
"Iya, kamu sih malam-malam minta begini," ucap Rayan kesal.
"Yaa gimana dong, Kak, orang aku lagi pengen,"
"Nadia, kamu lagi hamil loh. Emangnya gak takut apa? Nanti gimana sama dedek bayinya?"
"Ya Allah, Kakak. Yaa, In Syaa Allah gak akan kenapa-napa, ayo!" ucap Nadia.
Akhirnya, mereka melanjutkan aktifitas. Bersama keringat dan nafas yang mulai taberaturan.
"Nadia, saya udah gak kuat," ucap Rayan.
"Hah? Masa gitu aja udah gak kuat, Kak Rayan itu lemah, Nadia aja masih kuat,"
"Naa, udah, berhenti yuk!"
"Enggak mau, Kak,"
"Nadia, udah berhenti," ucap Rayan agak sedikit menaikan suaranya.
"Ini malam Nadia, nanti besok aja pagi gimana, mau?" tanya Rayan.
"Enggak, orang Nadia pengennya sekarang,"
"Ayo, Kak. Dikit lagi aja, nurut sama Nadia, Kakak pasti kuat kok," Nadia terus membujuk Rayan.
"Pagi aja pagi, oke?"
"Dikit lagi, cuma dikit, sebentar," ucap Nadia memohon.
'Astaghfirullah, ya Allah, hamba sudah tak kuat. Nadia, Nadia, untuk kamu orang yang saya cintai, kalau bukan, sudahlah,' batin Rayan. Nadia dan Rayan kembali melanjutkan aktifitasnya yang tadi tertunda gara-gara Rayan.
"Nadia, lain kali kalau ngajak makan mie pedas kayak gini, jangan malam-malam ya? Siang aja, biar makin enak," ujar Rayan mencari minum.
"Ish, justru enak malam-malam begini, Kak,"
"Tetap aja saya gak bisa, Naa. Udah ihh, kamu ini ngeyel banget, makan mienya udah, ini pedas banget gak baik loh," Rayan merebut mie yang sedang di makan oleh Nadia.
"Kak, aduh, pedas," ucap Nadia mulai kepedasan.
"Nah, rasain tuh,"
"Ya Allah. Kakak, minum mana?" Nadia seperti ingin menangis.
"Nih, minum!"
Rayan memang tak kuat makan pedas, itu sebabnya selalu menggerutu saat Nadia mengajak untuk makan mie pedas. Kalau Nadia sedikit agak kuat dari pada suaminya (maksudnya sedikit lebih kuat makan pedas ygy).
#Bersambung
__ADS_1
Haii, gimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja yah. Aamiin. Maaf, ana sengaja di percepatkan aja ygy. Biar cepat tamatnya. Maaf, kalau gaje. Soalnya, ana udah bingung batt jujur dah. Kalau gak suka, skip aja yah gak usah banyak ngomong hehe:) yaudah cuma itu doang sih sampai jumpa di part selanjutnya.