Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
berubah


__ADS_3

•••


Rayan tidak membalas ucapan Nadia ia hanya milih mematung dari pada menjawab. Ia sangat bingung menerima atau menolaknya? Cuma hanya bilang mau atau gak mau? Pikirannya sekarang sedang bingung, dulu ia suka berharap ingin rasanya Nadia berbicara seperti itu. Tapi, sekarang Nadia sudah seperti itu yaitu ingin pisah dengannya, kenapa ia bingung? Sekarang tidak mau rasanya Nadia bilang seperti itu. Ada apa dengan perasaan ini, padahal cuma hanya menjawabnya saja menolak atau menerima? Tapi, kenapa susah sekali? Yang di pikir Rayan.


Gadis, yaitu Nadia, tidak berbicara lagi setelah ngomong seperti itu, ia hanya terus menangis di dekapan Rayan. Rayan tidak mendengar suara Nadia yang isak-isak 'kan lagi, Rayan melihat ke wajahnya dan ternyata gadis itu tidur mungkin karena capek terus menangis.


Rayan pun memindahkan istri mungilnya ke kasur, Rayan membuka cadar milik Nadia dan ia melihat sud*t b1b*rnya itu berd4rah pria yang berstatus suaminya itu kaget. Apa gara-gara ia terlalu ker4s m3namparnya? Sampai-sampai berd4rah.


"Maaf, maaf 'kan gue, Nadia," gumam Rayan.


Nadia tertidur pulas sedangkan Rayan mencari kotak p3k. Tidak lama Rayan menemukannya. Lalu, menghampiri Nadia yang sedang tidur. Rayan pokus mengobati su*ut b***r Nadia, dan kali-kali pria itu menatap mata indah milik Nadia yang tertutup. Karena, posisi mereka sangat dekat, bib1r dirinya dan b1b1r Nadia hampir bersatu.


Degh!


Jantung Rayan berdetak kencang seperti ada yang berdisko.


'Kenapa deg-degan gini sih? Dan ini jantung kenapa kencang amat? Padahal orangnya sedang tidur juga,' batin Rayan.


Beberapah menit kemudian. Mengobatinya sudah beres Rayan naik ke kasur dan ikut tidur di samping Nadia tangannya memeluk tub*h gadis yang ada di dekatnya.

__ADS_1


***


Malam pun tiba pukul 20:00 WIB.


"Lapar banget," ucap Nadia setelah shalat isya.


"Mau makan dulu akhh," gumamnya. Dan berjalan menuju dapur.


Pas enak-enaknya sedang makan Rayan datang dari kamarnya.


"Lagi ngapain?" tanya Rayan.


"Nyuci baju," jawab Nadia.


"Mau makan, tumben gak ngajak?" ucap Rayan lagi. Nadia bangun dari duduknya dan membawa piring. Kemudian, menyucinya.


"Udah makannya?" tanya Rayan. Nadia tidak merespon malah berjalan ke ruang tamu.


"Belom tidur?" tanya Rayan setelah makan kepada Nadia, yang masih menonton televisi.

__ADS_1


"Kakak lihat Nadia udah tidur apa belom?" tanya Nadia ketus.


"Emm belom," jawab Rayan.


"Nah, itu tahu. Malah nanya lagi," ucap Nadia memutarkan bola matanya malas.


'Nadia, sekarang lo kenapa sih? Apa masih marah sama gue?' batin Rayan bingung dengan sikap Nadia.


Rayan duduk di dekat Nadia ikut menonton televisi. Rayan melihat ke samping ternyata Nadia ketiduran, Rayan pun memindahkan tub*h Nadia ke kasur, begitu pun Rayan ia juga langsung tidur lagi dan m3meluk tub*h munggil Nadia dengan erat.


Pagi pun tiba. Matahari yang masuk ke dalam celah-celah kamarnya membuat Nadia terbangun, ia tersontak kaget melihat dirinya yang ada di dalam pelukan suaminya, ia tidak langsung bangun hanya saja ia ingin melihat ke tampanan wajah suaminya ini.


"Apa? Tampan yah? Jangan di lihatin terus dong," ujar Rayan.


Nadia pun tersentak kaget dan langsung berdiri ke atas sopa.


"Kenapa lari? Kenapa, gak jadi di liatin? Terlalu tampan?" dengan pdnya ia berkata begitu.


Nadia yang mendengar itu langsung melemparkan batal sopa dengan tepat sasaran kena wajahnya Rayan.

__ADS_1


#Bersambung


**Happy Reading**


__ADS_2