
•••
"Kak, ish, Kakak ini kenapa sih?" tanya Nadia bingung dengan sikap Rayan. Tapi tetap saja Rayan tak membalasnya.
"Kak, lepas dulu, malu sama orang,"
"Ohh, Kakak nyaman 'kan sama Nadia? Sampai-sampai ini meluk belom di lepas," ucap Nadia lalu Rayan pun yang tadinya memejamkan matanya, sekarang langsung membuka mata, karena mendengar suara Nadia yang seperti itu, dan langsung mendorong tub*h Nadia sedikit.
"Ish, si--siapa juga yang nyaman sama lo," ucap Rayan.
"Terus tadi apa? Meluk terus juga,"
"Ta--tadi gue ngantuk banget, jadi yaa meluk lo. Pengen tidur,"
"Halah, pasti bohong 'kan?"
"Gak, gue gak bohong, geer amat sih lo,"
"Heh, ingat yah! Jadi orang tuh, jangan suka geer, gue tadi cuma ngantuk," sambung Rayan lagi.
"Iya-iya, Nadia ngalah deh," ucap Nadia langsung pergi dari taman tersebut.
"Nadia, lo mau ke mana?" teriak Rayan yang masih diam di taman.
"Mau ke hati Kakak," ucap Nadia. Rayan yang mendengar ucapan Rayan pun langsung membulatkan mata miliknya.
"Mau pulang," sambungnya.
"Lo ninggalin gue, gak sopan banget sih," ucap Rayan langsung mengejat Nadia yang sudah agak jauh.
***
Malam pun tiba pukul 20:00 WIB. Sekarang pasangan suami istri sedang duduk di kursi, seperti biasa Rayan memainkan ponselnya, sedangkan Nadia duduk sambil menonton televisi dan sudah memakai selimbut.
'Tumben Nadia udah pakai selimbut,' batin Rayan heran seraya mengerutkan dahinya.
Memang iya, ini baru pertama kalinya Nadia sudah memakai selimbut di ruang tamu, biasanya sih sudah sampai kamar, baru pakai selimbut.
"Kak, Nadia duluan ke kamar yah, soalnya udah ngantuk," ucap Nadia.
"Hmm,"
Nadia segera naik tangga, yang menuju kamarnya. Nadia sudah sampai kamar dan langsung masuk tidak lupa juga ia menutup kembali pintu kamarnya. Rayan yang melihat Nadia sudah masuk ke kamar, Rayan langsung berdiri dan mengingutinya.
Cklek!
Rayan membuka pintu kamar Nadia, dengan pelan-pelan agar sang empu tak mendengarnnya.
Dan pelan-pelan Rayan jalan untuk melihat wajah Nadia, yang sudah tidur, apakah belom.
'Emm ... udah tidur ternyata, ehh tapi, kok sekarang Nadia agak beda,' batin Rayan.
__ADS_1
"Nadia!" sahut Rayan dengan suara pelan. Nadia yang mendengar suara Rayan ia langsung bangun.
"Ehh, Kakak, mau ngapain?" tanya Nadia.
"Nadia, lo kenapa?"
"Gak papah, Kak," ucap lesu Nadia. Rayan yang mendengar ucapan Nadia pun tidak percaya, ia langsung menempelkan tangan miliknya ke kening Nadia.
"Astaghfirullah, Nadia lo sakit?" tanya Rayan kaget. Pas dia sudah memeriksa kening Nadia yang sangat panas.
"Enggak, Nadia gak sakit,"
"Lo bohong, ini panas banget, gue bawa ke rumah sakit yah,"
"Gak usah Kak, pasti ngerepotin,"
"Nah lo tau, makanya gue bawa lo ke rumah sakit, biar gak ngerepotin, dan biar cepat sembuh,"
"Nadia udah bilang Kak, gak usah,"
"Yaudah, terserah lo, gue mau ngambil sesuatu dulu,"
"Ngambil apaan sih, Kak?"
"Bentar, gak usah bawel deh lo, lo diam aja di situ, jangan ke mana-mana," ucap Rayan keluar dari kamar Nadia, beberapah menit kemudian. Rayan pun datang sambil membawakan baskom yang berisi air, lalu ia menghampiri Nadia yang sedang berbaring.
"Kak, bawa apa?" tanya Nadia. Namun, Rayan tidak membalasnya. Rayan duduk di samping Nadia dan ia memeras kain yang ia bawa.
"Lo tadi ke mana aja emang? Sampai-sampai panas gini," tanya Rayan sambil menempelkan kain yang sudah ia peras ke kening Nadia.
"Pasti bohong, 'kan?"
"Enggak, Nadia tadi cuma ke taman aja,"
"Beneran?"
"Bener Kak, masa Nadia bohong,"
"Oke, lo tidur lagi, gue mau ngambil selimbut dulu,"
"Ini selimut Kak, buat apa lagi sih? Banyak amat,"
"Lo kira, buat lo? Enak aja, yaa, buat gue lah,"
Rayan pun segera berdiri dari duduknya dan keluar dari kamar tersebut. Sebenernya Nadia itu sekarang sedang binggung dengan sikap Rayan, apa Rayan di masuki s3t4n? Astaghfirullah, Jangan begitu sama suami. Tidak lama Rayan datang sambil membawa selimbut miliknya lalu naik ke k4sur Nadia.
"Kakak, mau ngapain?"
"Ma--mau tidur," ucap Rayan gugup sambil membereskan b4nt4l yang sedikit acak-acakan.
"Ngapain tidur di sini? 'Kan biasanya juga tidur masing-masing,"
__ADS_1
"Iy--iya, tapi 'kan se--sekarang lo lagi sakit. Nah, nanti gimana, kalau lo bangun malam-malam, terus ngetuk-ngetuk pintu kamar gue, 'kan gue jadi bangun gara-gara lo,"
"Bilang aja kasihan sama Nadia," ucap Nadia tersenyum kerena melihat Rayan sangat gengsi dan berbicaranya gugup.
"Idih, gak usah geer lo jadi manusia, siapa juga yang kasihan sama lo," Rayan berdecak pelan.
"Udah ahh, gue mau tidur," sambungnya elak. Rayan menarik selimbut. Lalu membaringkan tubuhnya.
"Kak!"
"Apaan?"
"Dingin," ucap Nadia sambil b1b*rnya bergetar karena menurutnya sangat dingin.
Grep!
Rayan yang mendengar jawaban dari Nadia tanpa aba-aba ia langsung m3meluk, agar sang empu tidak dingin. "Sekarang dingin gak? Hmm," tanya Rayan kepada Nadia yang wajahnya sudah pucat.
"Eng--enggak, Kak," jawab Nadia gugup. Bagaimana tak gugup, Rayan kenapa jadi seperti ini? Biasanya juga suka membentak, jahat, dan sekarang tiba-tiba perhatian.
'Ternyata, dari balik sifat yang jahat, Kak Rayan juga penya sifat kasihan sama Nadia, kalau Nadia seperti ini,' batin Nadia tersenyum dan menatap wajah tampan milik Rayan. Rayan pun sadar sepertinya Nadia sedang menatap dirinya.
"Ingat yah! Gak usah geer, gue gini itu biar lo cepat sembuh, kalau lo lama sembuhnya 'kan pasti ngerepotin gue," ucap Rayan.
"Ihh, siapa juga yang geer, Nadia juga sadar kok, Kak Rayan itu gak bakal sayang, atau cinta sama Nadia,"
"Nah itu tau," ucap Rayan pedas. Mungkin iya, menurut Nadia ucapan Rayan itu pedas, sampai-sampai ia meneteskan air mata dan dugaan Nadia itu, kirain suaminya sudah mulai cinta atau sayang kepada dirinya, dan ternyata belom.
Rayan yang melihat Nadia seperti mengeluarkan air mata, ia langsung mengeratkan pelukannya, Rayan juga sadar mungkin ucapan barusannya sangat sakit kalau menurut Nadia.
"Udah sekarang lo tidur, udah malam,"
"Iya, Kak," Nadia mengelap air matanya sama selimbut.
'Pokoknya gue gak boleh cinta sama Nadia. Tapi ... ahh, sudahlah,' batin Rayan.
Tring!
Ponsel Rayan bunyi seperti ada yang ngechat di ponsel miliknya itu. Rayan melepaskan p3lukannya pelan-pelan agar Nadia tidak bangun. Dan ia mengambil yang berbunyi itu di atas meja, entah siapa yang mengechatnya. Setelah ia membaca dan menyimpannya kembali di atas meja.
"Kok lo belom tidur sih?" heran Rayan pas melihat Nadia yang belom tidur.
"Ohh, gue tau, lo mau di peluk gue lagi, 'kan?" sambungnya.
"Na---"
Cupp!
"Nah, sekarang cepat tidur," Rayan mengecup pipi chubby Nadia dan kembali m3meluk tub*h sang istri, ehh salah 'kan Rayan belom nganggap Nadia istri, maksudnya memeluk tub*h Nadia.
Sontak Nadia kaget dan langsung banting nenek.
__ADS_1
Nenek bi like: jahat sekali you Nad:(
* Happu Reading*