Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
Tantangan_ Ingin pisah


__ADS_3

•••


Rayan dan Nadia sudah sampai di rumahnya.


"Astaghfirullah. Capek banget," ujar Nadia sembari merebahkan tub*hnya di kusri ruang tamu.


"Nadia, gue pengen minum, tolong ambilin!" ucap Rayan.


"Baik Kak," Nadia bangun dari duduknya menuju ke dapur mengambil minum untuk suaminya dan juga dirinya.


Nadia kembali ke ruang tamu sambil membawa minum, dua gelas. Nadia memberikan minum tersebut kepada pria yang ada di hadapannya ini. Rayan menerima gelas dari Nadia dan langsung meminumnya hingga habis.


Tok!


Tok!


Tok!


"Siapa sih, Nad?" tanya Rayan. Yang mendengar mengetuk suara pintu.


"Gak tahu, Kak. Coba bentar Nadia buka dulu," ucap Nadia. Gadis mungil itu berlari kecil untuk menuju ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum!" ucap yang di luar.


"Wa'alaikumssalam, bentar," teriak Nadia lalu membuka pintu tersebut.


"Ehh, kalian hehe sini masuk!" ucap Nadia mempersilahkan masuk tamu tersebut. Siapa? Biasa temannya Rayan yaitu Devan, Alex dan Sandi.


"Rayannya ada?" tanya Devan.


"Ada Kak. Kakak, masuk aja dia sedang istirahat," jawab Nadia.


"Gue gimana? Gak boleh masuk?" ucap lesu Zia. Zia dan Dira juga ada, mereka bareng-bareng ke rumah Rayan. Teman Rayan pun sudah masuk ke dalam rumah dan tinggal saja Zia dan Dira.


"Oh iya, silahkan masuk ukhcan," ucap Nadia cengegesan.


"Ukhcan?" tanya Dira.


"Ukhty cantik," jawab Nadia.


"Ahh lo ini bisa aja," ucap Zia.


"Heh, tadi bagaimana pas di gendong Kak Rayan? Aaa romantis banget sih kalian berdua," ucap Zia senyum genit.


"Ish, apaan sih. Ngemeng-ngemeng kalian mau masuk, apa diam di sini terus?" ucap Nadia mengalihkan topik pembicaraan dan wajahnya sudah merah merona.


"Ngomong-ngomong, bukan ngemeng-ngemeng," ujar Dira.


"Nah, iya itu maksudku,"


"Ehh, gue mau nanya," ucap Alex.


"Mau tanya apaan?" tanya Devan.


"Kalau pacaran emang haram?"


"Hah? Ngapain lo tanya itu? Apa jangan-jangan lo nembak cewek yah? Terus di tolak hahaha," ucap Sandi tertawa berbahak-bahak.


"Haish, bukan gitu maksud gue dodol,"


"Yaa terus apa? Haha, ngapain lo tanya-tanya itu, yakali pacaran h4ram" ucap Sandi.


"Heh, Mang Udin tukang es cendol! Kata siapa pacaran gak haram?" ucap Zia melototkan matanya.


"Kata gue lah, yakali pacaran har4m, noh lihat di sana banyak banget yang pacaran," ucap Sandi sambil mainkan ponsel.


"Pacaran itu har4m Udin," ucap Zia melempar bantal ke arah Sandi.


"Heh, ngapain lo lempar bantal ke gue?" ucap Sandi.


"Emang di Al-Qur'an ada? Surah berapa?" tanya Alex.


"Surah Al-Irsa," ucap Devan.


"Ayat 32," lanjut Rayan.


"Allah berfirman:


وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا


𝙬𝙖 𝙡𝙖𝙖 𝙩𝙖𝙦𝙧𝙤𝙗𝙪𝙯-𝙯𝙞𝙣𝙖𝙖𝙖 𝙞𝙣𝙣𝙖𝙝𝙪𝙪 𝙠𝙖𝙖𝙣𝙖 𝙛𝙖𝙖𝙝𝙞𝙨𝙮𝙖𝙝, 𝙬𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙖`𝙖 𝙨𝙖𝙗𝙞𝙞𝙡𝙖𝙖


'𝘿𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝙯𝙞𝙣𝙖; (𝙯𝙞𝙣𝙖) 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙟𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠.'


(𝙌𝙎. 𝘼𝙡-𝙄𝙨𝙧𝙖' 17: 𝘼𝙮𝙖𝙩 32)" ucap Dira.


"Hah? Kok gue baru tahu yah?" tanya Sandi.


"Lo ini yah udah ketinggalan zaman, baru tahu lo?" tanya Rayan.


"Makannya buka ponsel itu jangan bucin-bucin mulu. Jadi, kan baru tahu, alhamdulillah sih sekarang udah tahu," ucap Dira tersenyum.


"Udah ah, jangan bahas pacaran mulu," ucap Rayan.


"Ehh, bentar. Dari pada bahas bucin terus, atau bahas gak penting, mending bahas pacaran aja. Soalnya gue ketinggalan baru tahu prend," ucap Alex.


"Bener si Rayan, jangan bahas pacaran mulu bosan gue, skip!" ucap Devan.


"Ish, lo ngapain ikutan Rayan? Main skip-skip aja," ucap Sandi.


"Bentar, gue mau nanya lagi nih," sambung Sandi.


"Boleh, yah?" ucap Sandi lagi.


"Dengan senang hati," ucap Dira tersenyum.


"Oke. Gue mau nanya ini. Banyak orang yang pacaran. Tapi, kok makin langgeng aja? Padahal sudah jelas-jelas, perbuatan itu di larang oleh Allah Subhanahu Waa Ta'alaa,"


"Hati-hati, bisa jadi itu adalah ISTIDRAJ" ucap Nadia menatap tajam.


"Istidraj?" tanya Alex mengerutkan dahinya.


"Istidraj itu apa?" tanya Sandi.


"Nah bener itu, kalian harus hati-hati, bisa jadi itu istidraj, ihh na'udzubillah," ucap Devan.


"Taukah apa itu istidraj? Yaitu adz4b berupa kenikm4tan, di mana keadaan yang paling bahagia bagi seorang hamba. Karena, Allah sudah tidak peduli lagi kepada hambanya. Di mana keadaan Allah memberikan hamba tersebut suatu jebakan seperti di bukanya pintu kenikmat4n, sehingga merasa senang dan begitu nyaman dengan kem4ksiatan dan di sertai hilangnya ingin bertaubat apalagi menyesali perbuatannya," ucap Dira.


"Na'udzubillah, semoga kita semua terhindar dari perbuatan tersebut," ucap Zia.


"Aamiin," ucap Alex, Rayan dan Devan.


"Aamiin, Aamiin, Aamiin," ucap Sandi.


"Aamiin Allahumma Aamiin," ucap Nadia dan Dira, Zia.


"Gue kira Allah merestui," ucap Alex.


"Apa? Di restui Allah? Lawak lo Lex, "Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kamu berbicara dengan aku." (Al-Mu'Min : 108)" ucap Devan.


"Jika tidak pacaran. Bagaimana, bisa menikah?" tanya Alex menggaruk-garuk pipinya yang tidak gat4l.


"Ya Allah, pertanyaan apa itu? Lo nanya aneh banget," ucap Zia.


Nadia tersenyum sembari balik bertanya. "Apakah syarat mati harus sakit? Apakah yang pacaran akan selalu berakhir dengan pernikahan? Begitu tak percayanya kou kepada Allah, hingga bertanya hal b0doh?" tanya Nadia.


"Ketika pertanyaan itu keluar dari mulut kalian, iman kalian p4tut di pertanyakan. Karena sadar tidak sadar, kalian telah meragukan kekuasaan Allah," ucap Dira menggeleng-geleng kepal4.


"Lo ini gimana sih Lex? Ngaji makanya biar tahu. Ingat yah pacaran itu haram, lihat noh di Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 32," ucap Devan.


"Iya, maaf, 'kan gue kagak tahu, maklum gak pernah ngaji, dan shalat aja jarang hehe," jawab Alex cengegesan.


"Yee tampan aja lo buat keren, iman kagak. Masa iya, lo mati bawa tampan doang, kagak bawa amal. Gimana mau dapat jodoh sholehah? Sedangkan Allah aja lo lupain," ucap Devan.


"Percuma ganteng, kalau kagak punya iman. Sholat selalu di lupakan, ngaji pun kagak pernah, kerjaan cuma rebahan, makan, game, pacaran, dan lain-lainnya," ucap Zia.


"Biasa aja kali, lo juga belom tentu benar shalatnya," ucap Alex menundukkan pandangan.


"Emang kata siapa shalat gue benar? Ingat yah shalat itu wajib, gak boleh di tinggal. Mau di terima atau kagak itu urusan Allah, gue mah kagak tahu benar apa enggaknya, intinya kita itu gak boleh tinggalin shalat," ucap Zia.


"Gue mau berubah terlambat gak yah?" tanya Sandi.


"Lo mau berubah jadi apa Bang? Jadi bekmen?" ucap Zia tertawa berbahak-bahak.


"Bekmen-bekmen, ironman Zia cantik," ucap Alex.


"Maksud gue mau berubah jadi lebih baik, bukan bekmen atau pun ironman," jawab Sandi memutarkan mata bola malas.


"Tak ada kata terlambat untuk berubah, ketahuilah bahwa setiap tarikan nafasmu, ialah kesempatan dirimu," jawab Nadia.


"Ehh, kalian kalau shalat pernah merasakan ini gak? Maksud gue, lupa rakaat terus suka menguap atau mengantuk?" tanya Rayan.


"Nah, iya bener, gue juga suka gitu. Apalagi gue suka memikirkan hal-hal lain, dan terkadang gue tiba-tiba ingat ke lo Ray, pas lagi shalat argh! Terus, telinga, hidung, kepala terasa gatal," ucap Devan.


"Ngapain lo ingat gue?"


"Kangen, hehe. Canda, yakali gue kangen sama lo amit-amit," jawab Devan.


"Lakukan ini prend. Menyempurnakan wudhu, membaca surah An-Nas, sebelum shalat baca doa ini "Allhumma inni a'udzubika minsyaithoonil was wasti khonazab" artinya yaitu (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari khanzab, setan pembawa was-was)" ucap Zia.


"Oh gitu. Oke, makasih yah Zia," ucap Devan tersenyum.


"Iya, Kak. Sama-sama,"


"Oh iya, kalian pasti haus yah? Maaf, hehe tadi Nadia lupa, bentar yah Nadia bawa minuman dulu sama cemilan," ucap Nadia tersenyum.


"Oke, di tunggu. Cepetan Nad!" teriak Alex.


"Oke, Kak." ucap Nadia.


Nadia ke dapur untuk mengambil minum dan cemilannya. Beberapah menit kemudian, Nadia datang bawa cemilan dan air putih 2 gelas. Karena gadis itu susah membawanya.


"Ini buat Zia dan Dira dulu yah, buat laki-lakinya bentar perempuan dulu hehe," ujar gadis itu yang membawa minum, kalian tahu 'kan? Si Nadia maksud author.


"Yaelah. Oke dah sabar muskipun haus," gumam Alex.


"Nadia, mau aku bantuin?" tanya Dira.

__ADS_1


"Gak usah, kamu duduk aja di situ," teriak Nadia.


"Ohh, o--oke," gumam Dira.


Akhirnya, Dira minum yang tadi Nadia bawa sampai habis, sepertinya ia sangat haus. Sedangkan Zia hanya diam tidak minum seperti Dira. Alex yang menyadar pun bahwa Zia tidak minum mengerutkan keningnya. Dan yang lainnya sedang sibuk sama ponselnya masing-masing.


"Zi, lo gak minum? Kenapa?" tanya Alex.


"Zi? Zi siapa?" tanyanya.


"Yaelah, lo 'kan namanya Zia? Yaudah gue panggilnya Zi," jawab Alex.


"Ohh. Enggak, gue gak minum,"


"Kenapa? Gak haus?"


"Bukan, gue itu sedang puasa," jawab Zia.


"Puasa? Puasa apa?"


"Puasa hari senin kamis," jawab Zia.


"Ohh pantesan lo diem mulu. Zia, gue haus banget itu minum yang lo buat gue yah?" tanya Alex.


"Boleh. Silahkan,"


"Emm ... gue minum di sini gak papah kali yah?"


"Gak papah lah, emang kenapa kalau lo minum di sini?"


"Kan lo lagi puasa, takutnya pengen," ucap Alex.


"Santai aja kali, gak papah kok," ucap Zia.


"Lagi ngapain sih? Ngomongnya berdua mulu, aku gak di ajak?" tanya Dira.


"Ini si Zia lagi puasa," ujar Alex. Lalu, pria itu meminumnya hingga habis.


"Hah? Zia, kamu sedang puasa? Ya Allah, aku minta maaf tadi minum dekat kamu. Soalnya, aku gak tahu kamu sedang puasa," kaget Dira.


"Ish, santai aja kali, gak papah kok," ucap Zia.


"Bener? Sekali lagi minta maaf banget," ucap Dira


"Iya. Cantik,"


"Kalau puasa hari senin kamis, niatnya gimana?" tanya Alex.


"Niat Puasa Senin,


نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى


(Bacaan latin: Nawaitu sauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta'alaa.)


artinya: 'saya niat puasa sunnah hari Senin, sunnah karena Allah Ta'alaa.' Ini yang hari senin," ucap Zia.


"Niat Puasa Kamis,


نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى


(Bacaan latin: Nawaitu sauma yaumal khomiisi sunnatan lillahi ta'ala.)


artinya: 'saya niat puasa sunnah hari Kamis, sunnah karena Allah Ta'alaa.' Nah ini yang hari kamis," ucap Zia.


"Si Nadia, lama banget ngambil minumnya," ucap Rayan menyimpan ponsel miliknya.


"Kayaknya ke kamar mandi dulu deh, Kak," ucap Dira.


"Ohh," ucap Rayan.


"Ray, tadi lo sekolahan kenapa? Hebat lo tiba-tiba ngegendong si Nadia," tanya Devan.


"Heh, kalau gak di suruh oleh kalian, gue kagak mau tuh gendong si Nadia," jawab Rayan.


"Di suruh?" tanya Dira dan Zia kaget yang mendengar pembicaraan Rayan.


"Iya, tantangan," ucap Rayan.


"Idih, kita 'kan bilangnya cuma tantangan doang yekan? Lo sama si Nadia harus romantis, bukan tadi kita suruh lo gendong si Nadia, tadi mah lo sendiri yang mau, bukan suruhan kita," ucap Alex.


"Akhh, sama aja itu 'kan romantis, tantangan kalian harus romantis 'kan bareng Nadia? Pokoknya tadi gue gendong si Nadia itu tantangan," ucap Rayan kagak mau kalah.


"Tan--tantangan?" tanya Nadia berkaca-kaca. Iya, itu Nadia, kenapa Nadia mendengarnya? Padahal tadi dia lagi di dapur? Karena, pas Rayan ngomong seperti itu tiba-tiba Nadia datang.


Nadia, gadis mungil yang membawa minum itu mematung pas mendengar omongan Rayan, ia sangat kaget. Intinya yang di duganya itu selalu salah, kenapa Rayan seperti itu? Membuat hatinya itu selalu berdebar kencang, padahal itu cuma hanya tantangan. Bukan hanya karena cinta, pantesan saja Nadia sangat bingung pas semenjak Rayan pulang, ia tiba-tiba baik, tidak kasar pula. Dan ternyata itu semua hanya tantang. Apakah tidak ada rasa cinta sedikit saja buat dirinya? Rayan yang melihat Nadia langsung kaget.


"Na--Nadia!" ucap Rayan.


"Iya. Kak," jawab Nadia yang rasanya ingin menangis.


"Lo 'kan udah tahu bahwa itu semua tantangan, intinya semenjak semalam. Jadi, lo gak boleh baper yah," ucap Rayan.


"Iya. Kak, tenang aja Nadia enggak baper kok," ucap Nadia tersenyum hambar.


"Nadia, lo gak baper?" tanya Devan. Dira dan Zia hanya diam meraka tidak mengerti dengan semua ini.


Degh!


Jantung Rayan berdebar kencang. Dadanya sesak ketika melihat orang yang di cintai berkata berusan yang Nadia ucapkan, sebelum pergi. What? Orang yang di cintai? Akhh entahlah, Rayan diam dan memegangi dad4nya yang terasa sesak. Lalu, menginguti Nadia dari belakang.


Sebelum Rayan menginguti Nadia, Rayan mengusir temannya untuk pulang, termasuk teman Nadia juga. Tega bener dah si Rayan mengusir temannya.


"Nadia!" ucap Rayan yang sudah sampai kamar Nadia.


"Nadia!" ucap Rayan. Lagi-lagi Nadia tidak membalas ucapan suaminya.


"Gue minta maaf," ucap Rayan lagi. Nadia sama seperti tadi tidak membalas ucapan suaminya. Hanya membisu, sekarang Nadia posisinya itu merebahkan tub*hnya lalu memejamkan matanya dan semua tub*hnya di tutup oleh selimbut sampai kepala.


"Nadia, lo ini kenapa diam aja sih?" bentak Rayan kesal dan tangannya membuka selimut yang nempel di tub*h Nadia. Dan Rayan melihat wajah Nadia, wajah Nadia pucat dan sepertinya yang sudah menangis. Bisa-bisanya ia mempermainkan perasaannya, Nadia orangnya selalu baper.


"Jelasin Kak," gumam Nadia yang masih terdengar oleh Rayan.


"Hufft ... oke, pas semalam gue telat pulang, bukan?" ucap Rayan menghela nafas.


Flashback on.


"Truth or dare?" tanya Devan kepada Rayan.


"Dare," jawab Rayan.


"Wah, berarti lo mau tantangan?" tanya Sandi.


"Apa yah kira-kira tantangannya? Bingung gue," ucap Alex sambil memikir.


"Emm ... bentar yah Ray, gue sedang mikir dulu," ucap Devan dan memikir sejenak.


"Oh ini, San, Lex, lo sini," ucap Devan.


"Apaan sih?" ucap Sandi. Alex dan Sandi mendekatkan t*buhnya dan temannya. Lalu, mereka berbisik-bisik entah sedang berbisik apa. Rayan yang melihat temannya berbisik mengerutkan dahinya sejenak.


Akhirnya mereka bertiga pun sudah berbisiknya.


"Apa tantangannya?" tanya Rayan.


"Gini, tantangannya itu adalah, lo sama si Nadia romantisan satu hari full," ucap Devan mengedipkan matanya.


"Hah? Gak salah dengar gue? Maksud kalian apa?" tanya Rayan kaget.


"Gini nih Ray, lo sama si Nadia itu seperti sudah cinta banget, lo baik banget sama Nadia, jangan galak-galak mulu, lo 'kan belom cinta sama Nadia? Kata lo juga 'kan? Lo pernah bilang sama kita. Jadi, tantangannya itu lo harus baik dan seperti sudah cinta," ucap Devan.


"Enggak, gue kagak mau! Tantangan yang lain aja," ucap Rayan.


"Kenapa? Wahh, kalah lo Ray, di kasih tantangan gitu aja udah nolak," ucap Sandi sembari tertawa. Dan Rayan langsung melotot.


"Oke-oke, gue terima," ucap Rayan yang tidak mau kalah.


Flashback off.


***


"Awsss," ucap gadis meringis yang tangannya kena pisau. Gadis itu sedang memotong-motong tomat entah dia sedang melamun atau apa. Jadi, pisau pun kena tangan mungilnya dan keluar dar4h.


Gadis mungil itu sedang masak untuk suaminya dan dirinya. Rayan sedang sibuk memainkan ponsel pas sedang asik-asiknya pun Rayan menghentikan main ponselnya karena ia mendengar Nadia meringis langsung berlari dan menghampiri Nadia.


"Nadia, lo kenapa?" tanya Rayan kaget pas melihat dar4h keluar dari tangan mungil Nadia.


"Enggak papah kok Kak," ucap Nadia.


"Lo lagi mikirin apaan sih? Sampai-sampai begini?" tanya Rayan.


"Emm ... enggak, Kak. Nadia gak mikirin apa-apa,"


"Sini gue obatin," ujar Rayan dan menarik tangan Nadia.


Pria itu sekarang sedang mengobati tangan istrinya, ehh salah. Si Nadia maksudnya hehe. Belom anggap istri yah gays yah haha.


"Awss, perih Kak, itu obat apa sih?" omel Nadia.


"Diam, lo bisa diam gak sih? Mau cepat sembuh gak?" ucap Rayan menatap tajam ke arah Nadia. Nadia yang mendapatkan tatapan tajam dari Rayan gadis itu diam dan sekali-kali meringis.


'Aku yakin banget, Kak Rayan itu sudah mencintaiku. Namun, hanya gengsi saja. Jika, belom, dia enggak mungkin seperhatian gini, ya muskipun dia suka melotot dan masih membentak,' batin Nadia sambil tersenyum ke arah Rayan yang sedang mengobatinya.


"Nah, udah beres. Sekarang gue aja yang masak, lo diam di situ," ucap Rayan.


"Ta---"


"Nadia," ucap Rayan memotong ucapan Nadia sembari melototkan matanya.


"O--oke,"


***


Satu hari kemudian. Sekarang anak-anak sekolah bubar seperti biasa waktunya pulang rumah masing-masing, karena tadi suara bell berbunyi.


"Sekarang gue mau pulang bareng Nadia aja," gumam Rayan.


"Mana sih tuh orang," gumam Rayan mencari Nadia.

__ADS_1


Di sisi lain ada tiga gadis sedang berngobrol.


"Aku duluan yah, gak papah 'kan?" tanya Dira kepada sahabatnya.


"Iya, gak papah kok," ucap Nadia dan Zia.


"Iya. Assalamu'alaikum, sampai jumpa besok di sekolahan," ujar Dira.


"Wa'alaikumssalam,"


"Ehh, Nad. Itu kayaknya Abangku udah datang," ucap Zia yang melihat Abangnya sudah datang menjemput dirinya.


"Mana?" tanya Nadia yang tidak melihat.


"Itu," ucap Zia menunjukan Abangnya.


"Ayo, kita pulang bareng," ajak Zia.


"Maaf, Zia. Enggak bisa, lihat deh Abang kamu 'kan bawa motor. Jadi, agak sempit hehe," tolak Nadia.


"Emangnya kamu gendut? Sampai bilang sempit gitu,"


"Bukan gitu maksud aku, Zia," ucap Nadia.


"Hehe iya-iya, gue ngerti. Terus, kamu sama siapa?" tanya Zia.


"Sama emm ... sama Kak Rayan. Nah, iya Kak Rayan hehe," ucap Nadia cengegesan.


"Ohh. Yaudah deh, aku duluan yah,"


"Iya, hati-hati di jalan," teriak Nadia.


Nadia melihat punggung sahabatnya yang sudah agak jauh, semangkin lama punggung mungil sahabatnya itu menghilang.


"Hufft ... terus, aku pulang sama siapa? Gak mungkin 'kan bareng Kak Rayan?" gumam Nadia menghela nafas panjang.


"Nadia!" teriak seseorang pria.


"Ehh, Farel, mau ke mana?" tanya Nadia.


"Mau ke kamu lah. Terus, mau ke mana lagi coba?" ucap Farel. Iya, yang memanggil Nadia itu Farel.


"Kamu belom pulang?" tanya Farel.


"Belom,"


"Bareng aku aja, gimana?"


"Hemm ... enggak akhh, kita 'kan bukan mahram," tolak Nadia.


"Agak jauhan Nadia, duduknya. Cepat ayo! Lihat sekarang sepertinya mau hujan," ucap Farel. Sekarang cuacanya sedang tidak mendukung sepertinya sebentar lagi hujan akan turun.


"Ayo, Nadia!" ajak Farel lagi.


"Gimana yah Rel, aku takut. Gimana kal---"


"Udah, ayo!" ujar Farel memotong pembicaraan Nadia dan menarik tangan Nadia.


"Kak, lepas ihh! Bukan mahram Kak," teriak Nadia berusaha melepaskan tangannya.


"Nadia!" teriak seseorang.


"Kak Ra--Rayan," ucap Nadia kaget. Dan Farel langsung melepaskan tangan Nadia.


"Nadia, lo murah banget mau di pegang sama yang bukan mahram," bentak Rayan kepada Nadia.


Plak!


Farel langsung menampar pipi Rayan, Farel marah, ia sangat benci. Jika, Nadia di bentak.


"Lo siapa? Yang berani-beraninya membentak Nadia?" tanya Farel. Rayan tersenyum sinis sembari memegang pipinya yang di tampar oleh Farel.


"Seharusnya gue yang nanya itu ke lo. Lo siapa berani-beraninya memegang tangan Nadia?" bentak Rayan.


"Gue teman," jawab Farel.


"Hemm, cuma teman 'kan? Bukan suami?" tanya Rayan smrik.


"Maksud lo apa? Lo sebenernya siapa?" tanya Farel mengerutkan dahinya.


"Oke, kenalin gue suaminya," ucap Rayan.


Degh!


"Su--suami? Na--Nadia maksudnya ini apa? Dia bohong 'kan?" tanya Farel kaget.


"Ma--maaf. Rel, memang dia suami aku, aku minta maaf banget, tidak memberitahumu Rel," ucap Nadia.


"Tega banget lo Nad, kenapa lo gak bilang sama gue?" ucap Farel bergemetar. Nadia memejamkan matanya sejenak.


"Maaf," ucap Nadia.


"Akhh, kalian lebay bangett sih. Sini lo Nadia! Ayo pulang, dasar murahan," ucap Rayan menarik tangan Nadia dengan kasar.


"Enggak Kak, aku bukan mur4han," ucap Nadia tidak terima dan terus menggeleng kepalanya.


"Lo bisa gak sih, nariknya pelan-pelan. Jadi, suami kasar banget," bentak Farel.


"Lo gak usah ngurusin rumah tangga orang," ucap Rayan.


"Ayo, cepat jalan!" Rayan terus menarik tangan Nadia.


"Pelan-pelan, Kak. Awss sakitt,"


Hati Farel sedih, sakit dan terluka semua tercampur aduk. Bagaimana tidak, wanita yang selama ini ia cintai sudah menikah dengan pria lain. Mukanya yang sudah merah padam, ia mencoba menahan amarah yang sudah menyelimutinya.


"Mungkin lo bukan jodoh gue, Nad. Semoga lo bahagia," gumam Farel tersenyum hambar.


"Cepat, masuk mobil!" suruh Rayan.


"Bu---"


***


Plak!


Lagi-lagi Rayan menampar keras berhasil mendarat mulus di pipi milik Nadia, sudut bib1r gadis itu mengeluar kan d4rah lagi, akibat tamparan keras dari Rayan.


"Nadia, gue gak nyangka banget sama lo. Ternyata lo murahan yang mau di pegang sama yang bukan mahram, bukannya berontak malah diam aja, luarnya aja baik dalamnya seperti ular," bentak Rayan yang sudah sampai rumahnya.


Nadia hanya bisa menangis pas di bentak oleh Rayan dan di tambah lagi di fitnah, istri mana sih yang kuat di lakukan seperti ini oleh suaminya, pasti tidak kuat 'kan.


"Dia siapa? Jelasin sama gue!" bentak Rayan lagi.


"Hiks ... di--dia bukan siapa-siapa Kak," jawab Nadia sambil memegang pipinya.


"Halah, gak usah bohong deh lo,"


"Jawab! Dia siapa, Nadia," teriak Rayan.


"Itu urusan Nadia, bukan Kakak," jawab Nadia membuat sang empu melotot 'kan matanya.


"Itu juga urusan gue. Karena lo itu istri gue,"


"Sejak kapan Kakak menganggap Nadia istri? Sejak kapan Kak?"


"Oke. Fine, Nadia akan jawab. Dia hanya teman Nadia, tidak lebih. Emangnya kenapa? Bukannya Kakak pernah ngomong dulu, urusan Nadia ya Nadia, urusan Kakak ya Kakak. Pas Kakak sedang pacaran sama Desi apakah Nadia marah? Apakah Nadia menampar Kakak? Enggak, 'kan? Tapi apa? Pas tadi Nadia bareng teman aja Kakak sudah marah, tadi itu Farel ngajak Nadia pulang bareng, dan Nadia menolaknya. Sejak kapan Kakak mengaggap Nadia istri? Kakak dulu pernah ngomong 'kan? Bahwa Kakak itu tidak akan pernah mengaggap Nadia istri? Dan pernikahan kita itu privasi,"


"Apakah Kakak lupa? Dulu Kakak pernah ngomong itu. Dan ketika Kakak ingin berangkat ke sesuatu tempat, Nadia bertanya 'Kakak mau kemana?' Tapi apa balasan Kakak? Kakak jawab seperti ini 'Ini urusan gue bukan urusan lo' dan sekarang oke fine. Jika, Kakak ingin berangkat Nadia tidak akan bertanya lagi, mulai sekarang kita masing-masing, terserah Kakak mau ke mana Nadia tidak akan bertanya apalagi melarang. Aku capek Kak, aku manusia bukan robot yang selalu kuat," lanjut Nadia dengan di iringi tangisan. Sedangkan Rayan hanya membisu mendengarkan omongan istrinya itu.


"Kamu mengingatkan aku tentang semua hal, buruk yang pernahku alami dalam hidupku. Penyiksaan, kekerasan," bentak Nadia menunjukkan pipinya yang memerah akibat Rayan.


"Bahkan keluarga aku tidak pernah melakukan kekerasan terhadap aku. Dan kamu? Kamu orang yang baru masuk ke dalam hidupanku dengan memberi luka baru, dalam fisik maupun batin, Kak Rayan!" teriak Nadia dengan wajah yang memerah akibat emosi yang meluap.


"Aby, Kak. Aby, apakah Aby pernah memukul Nadia? Menampar Nadia? Tidak, Kak. Aby belom pernah melakukan semua itu, membentak pun belom pernah apalagi menampar. Muskipun dulu Nadia pernah salah. Tapi, Aby tidak pernah membentaknya, sedangkan Kakak? Kakak baru datang, Kak. Kakak baru datang dari kehidupanku dan Kak Rayan mengingatkan Nadia tentang semua hal. Apalagi Umy, dulu pas Umy belom meninggal Umy sama kayak Aby, belom pernah membentak," lanjut Nadia dengan b4dan yang bergematar.


"Kamu baru datang, dan kamu tidak pernah mengaggap aku istri. Semua itu maksudnya apa? Kamu jadi 'kan aku sebagai tempat pelampiasan n4fsu, iya? Kalau begitu pukul aku! Jika, mau bun*h saja aku," ujar Nadia dengan suara bergetar.


Rayan terpaku melihat kondisi Nadia yang begitu kacau. Sesering itu kah ia melukai gadis di depannya ini? Ingin rasanya ia memeluk dan memberikan ketenangan pada Nadia. Tapi, lagi dan lagi egonya terlalu besar untuk melakukan hal itu.


Nadia berjalan ingin ke kamarnya. Namun, tangannya di cekal oleh seseorang.


"Mau ke mana? Jelasin dulu dia siapa, Nadia?"


"Udah deh gak usah ganggu Nadia, sekarang urus diri Kakak sendiri dan Nadia urus diri Nadia sendiri, dan juga itu urusan Nadia bukan urusan Kakak, dan mulai sekarang kita masing-masing,"


"Ta---"


"Tapi apa Kak? Itu 'kan yang Kakak ingin 'kan? Sekarang udah Nadia nurutin dan Kakak bebas bisa punya hubungan dengan siapa pun, dan mau ke mana pun Nadia tidak akan bertanya. Tapi, ingat! Jangan pernah larang Nadia buat punya hubungan dengan siapa yang Nadia mau. Karena, itu urusan Nadia,"


Plak!


Rayan tidak sadar dan tangannya pun menampar kembali ke pipi Nadia. Sontak Rayan kaget dan matanya melotot ke arah tangannya yang ia barusan menampar Nadia.


"Kamu jahat, aku membencimu!" teriak Nadia.


Degh!


Rayan menegang mendengar perkataan Nadia. Nadia tidak boleh membencinya.


"Sa--Sayang," Rayan tersadar dengan apa yang dia lakukan. Rayan membawa Nadia ke dalam dekapannya Nadia tidak menolak karena kondisinya lemah.


"Na--Nadia, maaf 'kan gue. Gue khilaf," ucap Rayan.


"Hiks ... hiks ...." isak Nadia menangis segukan.


"Maaf, maaf gue khilaf. Jangan menangis lagi," ucap Rayan.


"Khilaf?" lirihnya


"Khilaf aja terus, siapa tahu kamu juga khilaf bun---"


"Bisa gak sih? Gak usah ngomong itu?" ujar Rayan. Nadia melihat ke wajah Rayan sejenak. Lalu, menyembunyikan wajahnya di d4da b1dang milik Rayan. Kemudian, nangis kembali.


"Jika, Kakak terus membenci Nadia, Nadia mau kita pisah,"


#Bersambung

__ADS_1


*HAPPY READING*


__ADS_2