Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
Rayan sakit


__ADS_3

•••


Nadia mundar-mandir di ruang tamu. Ia sedang sendiri di rumah Rayan belom pulang, muskipun rumah tangga mereka sedang enggak baik-baik saja, Nadia tetap ada rasa khawatir kepada suaminya itu yang belom pulang.


"Kak Rayan ke mana, ya Allah. Kenapa jam segini dia belom pulang?" gumam Nadia berjalan ke pintu dan membuka pintu, ia harap Rayan datang. Namun, nihil tetap Rayan tetap saja belom datang.


"Sekarang udah malam, dari tadi belom pulang, sebenernya kemana sih Kak Rayan itu?" ucap Nadia duduk di ruang tamu. Dirinya harus sabar enggak boleh terlalu khawatir, dia yakin Rayan pasti baik-baik saja.


"Hufft ... kenapa Nadia harus khawatir sama Kak Rayan sih?"


"Astaghfirullah ya Allah. Semoga aja Kak Rayan baik-baik saja, kenapa Nadia sangat khawatir kepadanya?" ucapnya lagi. Bagaimana pun istri itu pasti ada rasa khawatir kepada suaminya. Tapi, istri itu beda-beda ya gays ya.


"Bodo amat lah, Kak Rayan pun enggak pernah tuh khawatirin Nadia," ucap Nadia berjalan ingin ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti karena ada suara yang mengetuk pintu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Sebentar!" teriak Nadia.


"Aduh, cadar mana? Cadar mana? Gimana kalau itu bukan Kak Rayan? Ish, cadar ke mana yah, tadi Nadia taruh di mana, astaghfirullah lupa," ucap Nadia mondar-mandir mencari cadar. Setelah menemuinya ia memasangkan. Kemudian, menghampiri pintu.


"Assalamu'alaikum!" teriak seseorang dari luar.


"Wa'alaikumssalam," ucap Nadia membuka pintu.


"Ehh, Kak Devan, Kak Alex ... Kak Rayan?" ucap Nadia kaget pas melihat suaminya sangat lemas, wajah pucat, dan rambut acak-acakan seperti orang g1l4.


"Ka--Kak Rayan? Ini Kak Rayan? Kenapa dengan dia Kak?" tanya Nadia kepada Devan yang sedang merangkul Rayan. Lalu, Nadia menoleh ke arah Alex.


"Nadia, maaf fin gue," gumam Rayan dengan mata tertutup yang masih terdengar oleh Nadia.


"Lihat suami lo! Dia sedang sakit sekarang," ucap Devan.


"Sa--sakit?" tanya Nadia.


"Lo jadi cewek jangan egois, Rayan selalu bergumam manggil-manggil nama lo, sebenernya ada apa dengan kalian?" Bentak Devan. Alex hanya diam dan merangkul Rayan.


"Jika Rayan punya salah tolong maaf fin Nad, jangan seperti ini," ucap Devan dengan nada tinggi.


Degh!


Hati Nadia sakit pas di bilang dia egois oleh Devan sahabat suaminya sendiri, apakah benar dia egois? Enggak, enggak, ini itu bukan salah dirinya tapi salah Rayan. Nadia menundukkan pandangan tidak melawan ucapan Devan.


"Maaf fin gue, Naa," gumam Rayan lagi dan terus bergumam seperti itu.


"Bukannya gue so ngatur rumah tangga kalian yah, lihat ini Rayan, dia sahabat gue Naa, dia sahabat gue. Kalau kalian sedang berantem bicara 'kan dengan baik-baik. Gak usah sampai begini juga," ucap Devan menatap tajam seperti ingin emosi.


"Apalagi Rayan sampai gini," sambungnya.


"B3**n9s3k!" ucap Devan.


Devan rasanya ingin marah kepada Nadia. Kenapa gadis yang ada di hadapannya tidak bisa memaafkan Rayan? Segitu marahnya Nadia sama Rayan sampai-sampai tidak bisa memaafkan Rayan. Devan tidak mau melihat Rayan seperti ini, dan juga Devan tak bisa marah-marah begitu saja kepada Nadia, Nadia perempuan bukan laki-laki. Dan juga ia tidak tahu apa masalah rumah tangga mereka.


"Udah-udah, Devan," ucap Alex. Devan menghela nafas panjang.


"Ini Rayan bawa ke mana? Ke kamar yang itu, apa ke kamar yang mana?" tanya Devan.


"Ba--bawa ke kamar itu aja," ucap Nadia menunjukkan kamar Rayan.


Devan dan Alex membawa Rayan ke kamar dengan pelan-pelan, Rayan sama saja tidak membuka matanya masih menutup dan mulutnya terus bergumam. Nadia menutup pintu dan menyusul Devan dan Alex dari belakang.


Alex membuka pintu kamar Rayan dan merebahkan tub*h Rayan di kasur, bukan di laut ya gays ya, yakali haha.


"Makasih, Kak. Maaf, kalau merepotkan," ucap Nadia menunduk.


"Enggak kok, santai aja," ucap Devan dan Alex.


"Gue minta sama lo, maaf 'kan Rayan yah Nad, gue mohon. Gue emang gak tahu masalah rumah tangga kalian apa. Tapi tolong maaf 'kan dia," ucap Devan.


"Iya. Kak," jawab Nadia.


"Gue minta maaf tadi udah bentak lo," ujar Devan.


"Iya Kak, gak papah kok santai aja. Nadia tahu kok perasaan Kakak,"


"Lo ngediem min Rayan udah beberapah hari?" tanya Devan penasaran muskipun ia sudah tahu.


"Hah? Kok Kakak tahu Nadia ngediam min?" tanya Nadia seraya mengerutkan keningnya.


"Jawab aja, langsung!"

__ADS_1


"Dua hari Kak,"


"Lah? Masa sih? Lo pasti bohong 'kan?"


"Enggak, Nadia gak bohong Kak," ucap Nadia.


"Tadi pas siang Rayan curhat ke gue, lo nge cuekkin dia udah beberapah hari," ujar Devan.


"Astaghfirullah, enggak Kak. Nadia nge cuekkin Kak Rayan enggak beberapah hari," ucap Nadia menggeleng kepalanya, ia tidak mau di fitnah seperti itu.


"Lo yang benar Nadia, jangan bohong,"


"Mungkin kalau di pikiran Rayan, dua hari itu beberapah hari," ucap Alex.


"Iya Kak, Nadia benar enggak bohong," ucap Nadia tulus.


"Iya 'kan kalau beberapah hari mah misalnya udah empat hari, atau 5 hari. Nah itu beberapah hari, kalau baru dua hari mah bukan beberapah hari. Tapi, ngomong aja dua hari," ucap Devan.


"Lo nge diem min Rayan, ehh, maksudnya ngecuek kin Rayan kek gimana? Bukannya gue kepo yah sama rumah tangga kalian. Tapi, emang gue lagi kepo," ucap Devan ke Nadia.


"Yaelah kepo kek Dora, nge diem min sama ngecuek kin itu sama aja d0dol," ucap Alex.


"Beda," ucap Devan.


"Sama," ucap Alex.


"Beda Alex," ucap Devan.


"Nadia nge diem min Kak Rayan cuma ngomong seperlunya aja Kak, kalau masak yaa itu 'kan kewajiban Nadia sebagai istri, cuma aja sekarang ngomongnya seperlunya doang, biasanya 'kan kalau mau berangkat sekolah Nadia suka ngajak bareng. Tapi, sekarang Nadia enggak ngajak bareng, langsung aja berangkat gitu," jelas Nadia panjang lebar dengan jujur, supaya sahabatnya Rayan tidak salah paham.


"Lo ngediem min Rayan bukan enggak ngomong-ngomong 'kan?" tanya Devan.


"Enggak, kalau Kak Rayan nanya ke Nadia, yaa Nadia juga jawab lah, cuma aja ngomong seperlunya doang," ucap Nadia.


"Hufft ... oke, kalau gitu kita pamit yah," ucap Devan keluar dari kamar Rayan.


"Enggak mau minum dulu Kak? Soalnya baru aja sampai masa udah mau pergi aja, enggak capek?" tanya Nadia.


"Enggak usah, terima kasih tawarannya. Gue mau langsung pulang aja. Soalnya ini udah malam,"


"Oh yaudah. Kalau Kak Alex mau minum dulu? Bentar yah Nadia mau ngambil dulu," ucap Nadia mau pergi ke dapur.


"Gak usah Naa, gue juga sama kayak Devan langsung mau pulang aja," ucap Alex tersenyum.


"Iya sama-sama. Nanti, kalau ada apa-apa langsung hubungi gue aja," ujar Devan.


"Iya Kak. Siap,"


"Dan ingat pesan gue tadi," ucap Devan. Nadia mengangguk.


"Assalamu'alaikum," ucap Alex dan Devan. Lalu, turun dari tangga dan keluar rumah tersebut dan tidak lupa juga menutup pintunya kembali.


"Wa'alaikumssalam," ucap Nadia. Lalu, menghampiri suaminya.


"Hufft ... maaf fin Nadia Kak, emang Nadia salah, Kakak jadi gini itu semuanya gara-gara Nadia," gumam Nadia yang duduk di samping Rayan.


"Nadia, Nadia!" gumam Rayan yang masih posisinya sama kayak tadi menutup mata.


"Iya Kak, ada apa? Ini Nadia, Nadia ada di sini," ucap Nadia memegang tangan Rayan.


"Naa, maaf fin gue," ucap Rayan membuka matanya. Nadia tidak membalas ucapan Rayan ia menaruhkan tangan mungilnya di kening suaminya.


"Astaghfirullah," sontak kaget Nadia setelah menaruhkan tangannya di kening Rayan.


"Kakak panas banget, kita ke rumah sakit yah Kak," ucap Nadia kaget dan langsung berdiri.


"Gak usah Naa, ini udah malam," ucap Rayan tersenyum tipis.


"Enggak papah Kak, yang penting Kakak harus ke rumah sakit seka---"


"Gak usah, Nadia. Lo juga waktu sakit enggak mau ke rumah sakit 'kan?" tanya Rayan.


"Yaudah bentar, Nadia mau ke dapur dulu," ucap Nadia menghela nafas kasar.


"Mau ngapain?" tanya Rayan mencekal tangan Nadia.


"Bentar aja Kak. Enggak lama kok," ucap Nadia berusaha melepaskan tangan suaminya di tangan dirinya.


Nadia keluar dari kamar Rayan, dan beberapah menit kemudian. Ia kembali datang dan membawa sebuah baskom yang berisi air. Tidak lupa juga sama kainnya. Ia menghampiri Rayan dan duduk di samping suaminya yang sedang sakit itu. Lalu, memeras kain yang ia bawa dan menempelkan di kening Rayan. Rayan menutup mata sejenak dan kembali membuka.


"Buka cadarnya," ucap Rayan melihat Nadia yang masih pakai cadar.


"Iya Kak," Nadia membuka cadarnya dan menyimpannya di meja.

__ADS_1


"Nadia!"


"Iya Kak, ada apa?"


"Maaf 'kan gue," ucap Rayan.


Hening. Tidak ada balasan dari Nadia, Nadia malah memilih memeras kain dan kembali menaruhkannya di kening Rayan.


"Kakak, udah mak---"


"Enggak usah menggantikan pembicaraan, Nadia," ucap Rayan memotong ucapan Nadia.


"Jawab dulu, kalau lo belom bisa memaaf 'kan gue, kasih tahu gue gimana caranya biar lo maaf 'kan gue," sambung Rayan.


"Nadia mau ngambil makanan dulu," ucap Nadia.


"Jawab Na---"


"Iya, nanti Nadia akan jawab, setelah Kakak makan, ya," ucap Nadia yang di balas anggukan oleh Rayan.


"Kak, pinjam ponsel Kakak sebentar," ucap Nadia.


"Mau ngapain?"


"Sini aja dulu,"


Rayan mengambil ponsel di saku celananya dan memberikan ke Nadia.


"Ini kata sandinya apa?" tanya Nadia memberikan ponselnya kembali. Rayan mengambil ponselnya. Lalu, membuka kata sandinya dan kembali memberikan ponselnya ke Nadia.


Nadia membuka aplikasi warna hijau yaitu WhatsApp dan mencari nomor Devan. Setelah menemukannya dirinya mengechat.


"[Assalamu'alaikum Kak! Ini Nadia, Nadia minta tolong sama Kakak boleh, enggak? Tolong belikan obat untuk Kak Rayan. Nadia ingin membelinya. Tapi, takut. Soalnya, udah malam,]" itu lah pesan Nadia kepada Devan.


Nadia berdiri dan menyimpan ponsel Rayan di meja dekat cadarnya. Gadis mungil itu keluar kamar untuk mengambil makanan.


"Nih Kak," ucap Nadia yang sudah kembali ke kamar Rayan. Ia memberikan makanan kepada Rayan.


"Suapin dong, gitu aja gak peka," ucap Rayan ketus.


"Ohh mau di suapin," ucap Nadia tertawa kecil.


"Kirain Nadia Kakak gak mau di suapin," ucap Nadia dan langsung saja menyuapi Rayan. Rayan menarima suapan dari Nadia dengan lahap.


***


"Nih obatnya," ucap Devan memberikan obat ke Nadia.


"Makasih Kak,"


"Iya, yaudah gue pulang yah,"


"Enggak mau masuk dulu?" tanya Nadia.


"Enggak usah, semoga Rayan cepat sembuh,"


"Iya Kak, Aamiin. Do'a in aja terus semoga Kak Rayan cepat sembuh,"


"Pasti, yaudah assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumssalam,"


Nadia sudah sampai di kamar Rayan.


"Minum obatnya dulu Kak," ucap Nadia.


"Devan kok gak masuk dulu,"


"Enggak, mungkin mau istirahat," ujar Nadia. Nadia memberikan obatnya sama minumnya, dan langsung Rayan meminum obat tersebut yang di berikan Nadia.


"Alhamdulillah," gumamnya.


"Gimana?" tanya Rayan.


"Gimana apanya?" tanya Nadia balik.


"Maaf fin gue," ucap Rayan.


#Bersambung


Kira-kira Nadia bakal memaafkan Rayan gak yah?


**HAPPY READING**

__ADS_1


__ADS_2