Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
Kasar


__ADS_3

•••


"Kak, turunin!" ujar Nadia memukul d4da b1dang Rayan.


"Lo kenapa? Kita ke rumah sakit yah?" tanya Rayan.


"Turunin dulu," ucap Nadia yang masih di gendong oleh Rayan. Rayan merebahkan tub*h Nadia di atas r4nj4ng.


"Sanah awas! Nadia mau ngambil baju," ucap Nadia mendorong t*buh Rayan dan berusaha berdiri.


"Lo ini kenapa sih, hah?" bentak Rayan.


"Aku mau pergi dari rumah ini," jawab Nadia. Ia menghampiri lemari kembali muskipun dirinya masih merasa pusing dan kembali mengambil baju.


Rayan membulatkan matanya dan tanpa aba-aba Rayan merebut baju yang Nadia pegang.


"Kakak ini apa-apaan sih?" tanya Nadia bingung dengan sikap Rayan yang seperti ini, pria itu tiba-tiba mengambil pakaiannya yang ia pegang.


"Seharusnya gue yang nanya gitu sama lo, lo apa-apaan, hah?" ucap Rayan. Nadia yang sudah kesal pun mengambil kursi besi yang di depan mata indahnya itu dan melempar ke tub*h Rayan, agar pria itu terhindar.


"Awss," ringis Rayan.


"Aku capek Kak, ak---"


Plak!

__ADS_1


Tamparan keras berhasil di mendarat mulus di pipi Nadia, sudut bib*r gadis itu mengeluarkan darah akibat tamparan keras dari Rayan.


Rayan menggeram kesal. "Lo jadi cewek kasar banget sih," bentak Rayan.


"Terus, apa bedanya sama Kakak, hah? Kakak pikir sikap Kakak itu gak kasar sama Nadia?" balas Nadia.


Rayan membalikkan tub*hnya. Ia menatap Nadia dengan sorot mata yang tak mampu di artikan. Pria itu mendekat ke arah gadis yang ada di hapadannya ini.


"Karena gue punya alasan buat ngelakuin itu," ujar Rayan kepada Nadia.


"Sama, Nadia juga punya alasan buat ngelakuin itu," bentak Nadia tub*h yang sudah bergetar.


"Lo berani ngebentak gue lagi," teriak Rayan. Dan mengangkat tangan kirinya untuk menampar ke dua kalinya di pipi mulus gadis itu. Namun, tangan kekar tersebut terhenti.


"Jangan harap, lo bisa pergi dari rumah ini," bisik Rayan di telinga Nadia.


"Argh!" Rayan membalikkan b4d4nnya.


Bruk!


Rayan menutup pintu dengan keras, dan sebelum itu ia melempar pakaian milik Nadia ke sembarangan arah. Nadia yang mendengar Rayan menutup pintu dengan begitu sangat keras gadis itu menangis dan sembari menutup telinga.


♡ Pov Nadia.


"Yaa Rabb, kuat 'kan iman dan batinku, agar hamba mampu melewati ini semua tanpa rasa mengeluh, peluk aku ketika aku butuh seseorang untuk bersadar, bangkit 'kan aku ketika aku terjatuh, genggam aku ketika aku hilang arah ... " gumamku dengan seraya air mata terus mengalir.

__ADS_1


Aku menghapus air mataku dengan jilbabku. Lalu, meremas gamis yang aku pakai dan terus menangis tersedu-sedu, kalian jangan bertanya gimana sakitnya hatiku sekarang.


"Sakit sekali ya Rabb, hiks," gumamku.


Aku tidak tau bagaimana harus mengungapkan perasaanku dengan lewat kata-kata. Apakah Kak Rayan tidak akan pernah mencintaiku? Menyayangiku? Kak Rayan, tidak pernah merasa kasihan terhadapku. Tapi, aku sangat bingung kenapa pas aku ingin pergi dari sini, dari kehidupannya, ia tidak boleh dan terus melaranganku. Sebenernya apa yang ia inginkan? Aku bukan boneka yang cuma bisa di permainankan. Aku sudah lelah, aku tidak kuat lagi bersamanya, aku rasa ingin kabur dari sini. Dar4h terus mengalir di sudut bib*rku. Dan menggigit bib*r dengan sangat kuat, aku menahan suara yang akan mengambuk kuat.


Engkou maha mengatahui, tolong bantu aku untuk melewati semuanya, tolong ya Allah kuat 'kan aku untuk menahan rasa sakit dan tersiksa ini. Aku menghapus air mata, dan tub*hku merasa sangat lelah aku berjalan dan naik ke atas r4njang. Lalu, di situ aku menutup mata sejenak.


Ceklek!


Aku yang mendengar suara pintu terbuka pun aku bangun, dan aku melihat Kak Rayan berjalan untuk menghampiriku. Kak Rayan sudah memakai baju dengan rapih dan seperti ingin berangkat ke sesuatu tempat, Kak Rayan mendekatiku dan mendekatkan wajah tampannya. Jantungku berdetak kencang saat Kak Rayan mendekat, dan kalian jangan bertanya aku sudah mencintainya apa belom. Aku sudah mencintai pria kasar itu, entah sejak kapan, aku bingung dengan hati ini, kenapa aku harus cinta kepada seseorang yang sudah menyiksaku.


"Udah jangan nangis, jadi cewek cengeng banget sih," ucap Kak Rayan. Dan tangannya menghapus air mataku dengan lembut.


Argh, aku sungguh sekarang sangat bingung dan bingung pria yang ada di hadapanku ini sikapnya itu selalu berubah-ubah, tadi ia menamparku dan sekarang ... ahh, sudahlah.


Apa dia bilang? Cengeng? Hemm, apakah dia lupa ia menampar pipiku dengan begitu keras sampai-sampai keluar dar4h dari sud*t b*birku, wanita mana yang kuat di tampar oleh seseorang lelaki dan begitu menamparnya dengan sangat kasar. Apalagi oleh suami sendiri itu sangat sakit. Aku tidak membalas ucapan suamiku, aku hanya membisu saja.


"Gue mau pergi dulu, lo jangan ke mana-mana," ucapnya.


"Assalamu'alaikum," ujar Kak Rayan. Kemudian, menutup pintu kamar.


#Bersambung.


*Happy Reading*

__ADS_1


__ADS_2