Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
Bangun terus


__ADS_3

•••


Semua anak sekolah pun bubar. Dan sekarang mereka pulang ke rumah masing-masing, ada yang di jemput sama p4carnya, ada yang di jemput sama Kakaknya, ada juga di jemput sama p0c0n9. Kalau Dara dan Zia ia malah diam gerbang sekolahan, entah sedang menunggu siapa.


"Ehh, Dira, Zia!" sahut Kelvin melihat Dira dan Zia masih belom pulang.


"Iya, Kak,"


"Kalian lagi ngapain? Nunggu siapa?" tanya Kelvin.


"Emm ... anu an--ana mau nanya ke Kak Devan," jawab Dira.


"Ohh, mau ke si Devan?" tanya Kelvin yang di balas anggukan oleh Dira. Kelvin pun langsung memanggil sahabatnya itu yang masih di kelas.


2 menit kemudian. Devan datang dan Alex dari kelasnya. Lalu, menghampiri mereka.


"Kak, gimana? Kak Rayan udah ngebalas, gak?" tanya Dira kepada Devan.


"Belom, gak aktip," jawab Devan melihat ponselnya. Sedangkan Dira dan Zia yang mendengarnya pun menghela nafas panjang.


"Hemm, bagaimana, kita ke rumahnya aja," ucap Sandi.


"Gak boleh, d0dol. Gimana mereka sedang romantisan, 'kan kita nanti jadi nyamuk," ucap Kelvin sambil menaiki motor miliknya itu.


"Lo mah, mikirnya itu romantisan mulu, yakali dari pagi sampai sekarang, romantisan mulu dah," ucap Alex.


"Assalamualaikum, Dira, Zia!" ucap seseorang pria menghampiri Dira dan Zia, siapa pria itu? Ia adalah bernama Farel, pasti masih ingat 'kan kalian? Ehh, yakali sih kalian lupa.


"Waalaikumssalam,"


"Aku cuma mau nanya, Nadia kok seperti gak masuk sekolah yah, kemana?" tanya Farel.


"Emm ... i--iya, Nadia memang gak masuk sekolah Rel," ucap Zia menjawab pertanyaan Farel.


"Kenapa? Kok tumben, apa aku ke rumahnya aja yah,"


"Heh! Si Nadia itu punya su---"


"Jangan, Kak. Soalnya, Nadia pasti sedang hiburan deh sama ke--keluarganya, nah, ehh iya, sama keluarganya," ucap Dira memotong ucapan Alex.


"Iya bener. Nadia, lagi hiburan sama keluarganya," ucap Zia.


"Ohh, tapi kalian beneran 'kan? Emm ... aku khawatir banget. Soalnya, tumben aja Nadia gak masuk sekolah gitu," ucap Farel.


"Iya Kak, kami bener kok,"


"Siapa sih dia? Bilang khawatir, khawatir, emang dia siapanya Nadia?" bisik Sandi ke Devan.


"Gak tau," bisik Devan.


"Oke, yaudah, aku pamit duluan yah, assalamualaikum," ucap Farel. Lalu, ia pergi dari tempat tersebut.


"Waalaikumssalam," sarentak mereka semua.


"Dir, dia siapa?" tanya Devan.


"Dia itu, dulu pernah suka sama Nadia. Mungkin iya, sekarang juga dia masih suka sama Nadia," jawab Dira.


"Oke, sekarang gini aja, kita pulang ke rumah dulu masing-masing. Nanti siapa tau 'kan si Rayan aktif," ucap Devan.


"Terus, gak ke rumah Rayan langsung, gitu?" tanya Sandi.


"Enggak, usah." jawab Devan.


"Ayo, mending kita pulang dulu. Ohh iya, Dira, aku minta nombor kamu, ja--jadi nanti gampang ngabarinnya hehe," sambungnya.


"Halah, ngabarin, ngabarin, bilang aja minta, gak usah banyak alesan lo," cerocos Sandi.


"Ish, udahlah mending lo diam,"


'Yaa Allah, gue di kac4ngin,' batin Zia lesu.


Devan pun menghampiri Dira. Untuk meminta nombornya, dengan senang hati Dira mengasihnya juga. Setelah Dira selesai menyebutkan nomornya Devan tersenyum, dan tidak lupa juga bilang 'terima kasih' lalu, Zia dan Dara pun langsung pulang. Soalnya supirnya sudah menjemput.


***


Pukul 23:00 WIB.


Rayan dan Nadia sudah tertidur nyenyak di kasurnya. Mereka berdua pun tidur bersama lagi, karena, kata Rayan juga, sebelum Nadia sembuh ia akan tidur bersama. Jadi bagaimana sih Rayan itu, mencari kesempatan dalam kesimpitan, bukan? Apa bagaimana? Haha sudah lah. Pas sedang mereka sedang enak-enaknya tidur. Tiba-tiba Nadia bangun.

__ADS_1


"Kak!" ucap Nadia membuka matanya. Namun, tidak ada jawaban dari Rayan.


"Kakak!" ucap Nadia lagi. Rayan yang mendengar suara Nadia ia segera membuka matanya dan menoleh kepada Nadia.


"Apa?"


"Dingin," jawab Nadia.


"Sini, peluk sama gue," ucap Rayan sambil masih memejamkan matanya. Nadia segera mendekatkan tub*hnya kepada Rayan. Dan langsung Rayan pun memeluk tubuhnya.


"Kak, masih dingin,"


"Terus gimana? Ini gue udah meluk lo tau,"


"Kakak, gak usah pakai selimbut," ucap Nadia seraya b1b*rnya sudah bergetar.


"Maksudnya gimana?"


"Selimbut Kakak ke Nadia. Jadi, Kakak gak usah pakai selimbut,"


"Maksudnya, lo pakai selimbut dua, gitu? Padahal lo udah pakai selimbut tau,"


"Kan masih dingin Kak,"


"Oke-oke," ucap Rayan tidak mau banyak bicara ia ingin cepat-cepat tidur kembali. Soalnya ini waktunya untuk istirahat apalagi masih malam, Rayan langsung bangun. Selimbutnya miliknya pun di pindahkan ke tub*h Nadia. Jadi, Nadia itu pakai selimbut dua.


"Nah, sekarang udah, cepat tidur!" ujar Rayan lalu kembali memeluk sang empu dengan erat. Mungkin Nadia sekarang sudah tidak merasa dingin, karena sudah pakai selimbut dua, dan di tambah lagi tub*h mungilnya di peluk oleh Rayan. ia pun memejamkan matanya.


Satu jam kemudian. Nadia pun bangun lagi, sama masih dengan posisi di p3luk oleh suaminya. Ia bangun karena sekarang dirinya merasa gerah. Terpaksa ia pun harus bangun lagi, dan kembali memanggil-manggil Rayan.


"Kak!"


"Hemm,"


"Gerah,"


"Ya Allah, pas tadi dingin, sekarang gerah. Terus, gimana?"


"Jangan di peluk, udah gak dingin lagi, Nadia sekarang pakai selimbutnya satu aja, yang Kakak ambil," ujar Nadia.


Rayan pun bangun lagi untuk mengambil selimbutnya dari tub*h Nadia. Selimbut Nadia pun di rapih 'kan oleh Rayan, agar sang empu lebih nyaman. Mereka berdua pun kembali tidur, Rayan sudah memejamkan matanya, tandanya seperti sudah tidur bukan? Namun, Nadia belom.


"Kak!" bisik Nadia pelan. Namun, masih terdengar oleh Rayan. Karena Nadia memanggil-manggilnya beberapah kali.


"Apa lagi, Nadia?" ujar Rayan kesal. Karena tidur nyenyaknya selalu di ganggu.


"Masih gerah," bisik Nadia.


"Hufft ... terus harus gimana lagi?" ucap Rayan. Sedangkan Nadia diam, ia juga bingung padahal sekarang gak pakai selimbut dan juga gak di p3luk lagi oleh suaminya. Tapi, kenapa masih saja gerah. Rayan sejenak berpikir.


"Oh iya, pakai kipas angin, mau?" tanya Rayan yang di balas anggukan oleh Nadia.


Rayan turun dari r4njang. Untuk mengambil kipas angin di ruang tamu. Tapi, kipas anginnya kecil bukan yang besar, yakali yang besar haha. Rayan sudah datang, lalu menyalakannya kipas angin tersebut.


"Nah, lo agak dekatan sama kipas anginnya, agar gak gerah lagi,"


"Iya Kak,"


Rayan memejamkan matanya sejenak.


"Aduh, kok gue jadi dingin sih," ucap Rayan kesal. Yaelah, yaa, iyalah, pasti orang kipas angin di hapadannya hahaha.


"Nadia, stop! Gue dingin b4n9s4t," sambungnya.


"Astaghfirullah, Kakak, gak boleh ngomong k4sar,"


"Ish, ribet banget sih, Nadia, stop! Lo mau ngebunuh gue,"


"Ihh, ini juga 'kan ide Kakak, bukan Nadia,"


"Coba, matiin dulu. Gue dingin," tegas Rayan. Nadia segera mematikan kipas angin tersebut.


"Ihhh, Nadia gerah, Kakak," rengek Nadia.


"Ribet banget sih lo, risih tau gak, kalau lo lagi sakit itu. Repotin gue aja terus," bentak Rayan. Namun, agak pelan. Nadia langsung mengrucutkan b1b1rnya dan menundukkan kepalanya.


"Oke, gini aja. Lo jangan pakai baju itu. Soalnya, itu agak tebal, jadi gerah. Lo ganti bajunya yang t1pis, dan bahannya yang dingin, mau?" tanya Rayan.


"Iya, Kak."

__ADS_1


"Oke, lo tunggu di sini! Gue mau ngambil baju lo dulu," ujar Rayan langsung bangun dari tempat tidurnya. Karena ingin mengambil baju untuk Nadia.


"Nah, yang ini," Rayan memberikan baju yang ia pegang kepada Nadia.


"Iya, Kak." Nadia bangun lalu ke kamar mandi untuk menggantikan bajunya. Setelah ia ganti. Lalu, menghampiri Rayan.


"Udah? Nah, sekarang masih gerah, gak?" tanyanya.


"Enggak, Kak."


Akhirnya mereka berdua tidur kembali. Nadia sekarang posisinya tidak pakai selimbut, sedangkan Rayan ia memakai selimbut. Kenapa Nadia tidak pakai? Yaa, pasti kalian sudah tau 'kan. Soalnya 'kan Nadia merasa gerah jadi terpaksa Nadia tidak memakai selimbut, kalau Rayan menuruti apa kata Nadia, kalau Nadia nyaman seperti itu, yaudah, Rayan hanya bisa menurutinya saja, yang penting gadis tersebut merasa nyaman.


Beberapah jam kemudian.


"Kakak, Nadia dingin lagi," rengek Nadia. Rayan pun dengar bahwa Nadia bilang dingin. Namun, Rayan tidak membalas ucapannya, Rayan langsung saja tanpa aba-aba segera memeluknya.


'Yaelah, kenapa pengen ke kamar mandi sih?' batin Nadia.


'Oke, Nadia ke kamar mandi aja. Tapi, Nadia gak usah manggil Kak Rayan lagi. Soalnya, Kak Rayan seperti sudah sangat capek, dari tadi bangun terus,' batin Nadia lagi. Ia melepaskan tangan kekar suaminya itu dengan pelan-pelan. Pas sudah lepas Nadia dengan cepat-cepat ke kamar mandi.


Rayan bangun lalu meraba-raba tangannya mencari Nadia. Padahal tadi tangannya sedang memeluk tub*h mungil Nadia. Tapi, sekarang kenapa tidak.


'Lah, kok Nadia gak ada?' batin Rayan.


'Padahal tadi gue lagi m3luk, kok sekarang gue jadi sendiri,'


"Nadia!" ucap Rayan.


"Iya Kak," teriak Nadia di kamar mandi. Nadia yang mendengar namanya di panggil oleh suaminya, ia langsung teriak.


"Lo lagi di kamar mandi?" tanya Rayan.


Nadia langsung keluar. "Iya Kak, hehe," jawabnya cengengesan.


"Sini naik! Gak dingin apa? Tadi ngomongnya dingin," ajak Rayan. Nadia naik dan merebahkan tub*hnya.


"Nadia, sekarang jam berapah?"


"Gak tau, Kak,"


"Yaudah, gue mau lihat jam dulu," Rayan bangun dari rebahannya dan melihat jam. Dan ternyata pukul 03:00 WIB.


"Jam berapah Kak?" tanyanya.


"Jam 03:00,"


"Ohh," ucap Nadia cuma hanya bilang 'oh' saja.


Seseorang pria itu pun setelah melihat jam. Ia segera ke kamar mandi. Entah mau ngapain, ehh, dan ternyata pria tersebut ke kamar mandi itu untuk mengambil wudhu. Karena mau melakukan sholat tahajjud.


"Kak, mau sholat apa?"


"Sholat isya, sholat tahajjud lah, yakali isya, 'kan gue udah,"


"Yaudah, Nadia juga mau, bareng yah Kak," Nadia langsung bangun.


"Gak, lo gak boleh,"


"Kenapa? Padahal Nadia pengen,"


"Lo sekarang lagi sakit, nanti lain kali aja, dan juga ke kamar mandinya dingin,"


"Tapi Na---"


"Gak usah keras kepala, Nadia. Lo tidur aja, masih malam,"


"Ish, iya-iya," ucap pasrah Nadia. Nadia hanya bisa menurutkan apa kata suaminya, Sebenernya ia ingin sholat, muskipun dirinya sedang sakit, apalagi sholatnya bareng suami terc1nta.


Rayan langsung melakukan sholat tahajjud. Sedangkan Nadia, hanya bisa melihatnya dari k4sur. Rayan pun sudah melakukan sholat tersebut ia langsung shalawatan. Setelah itu ia mengambil Al-Qur'an lalu membacanya dengan suara merdu.


'Yaa Allah, ternyata Kak Rayan, bisa membaca Al-Qur'an dan juga shalawatan, dugaan Nadia Kak Rayan gak bisa. Yaa Allah ampunilah hamba yang telah berburuk sangka kepada suami hamba ya Allah.' batin Nadia meneteskan air mata.


'Soalnya, Kak Rayan itu jahat banget sama Nadia, bahkan pernah menamparnya, dugaan Nadia Kak Rayan tidak bisa mengaji, dan ternyata semua dugaan itu Nadia salah, apa jangan-jangan Kak Rayan suka membentak Nadia dan menampar Nadia, apa karena Kak Rayan tidak mencintai Nadia, Ya Allah,' batin Nadia.


'Yaa Allah, semoga Kak Rayan berubah menjadi lebih baik. Dan semoga Kak Rayan terus seperti ini, jangan seperti dulu yang suka jahat, membentak, menampar, aamiin. Orang bisa tiba-tiba berubah, karena Allah membolak-balikan hatinya.' batin Nadia tersenyum sambil menatap Rayan yang sedang mengaji dengan suara merdu.


____________


**Happy Reading**

__ADS_1


__ADS_2