
•••
"Iya, Nadia maaf fin kok," ucap Nadia. Bagaimana pun jadi manusia itu harus saling memaaf 'kan ya gays ya, gak boleh enggak mau. Soalnya pamali.
"Yang benar Nad," tanya Rayan langsung duduk yang tadinya rebahan.
"Iya, Nadia memaaf 'kan Kakak kok, dari dulu bahkan,"
"Bohong, lo pasti pura-pura 'kan?"
"Coba tatap mata Nadia," ucap Nadia menunjukkan mata indahnya ke arah Rayan. Rayan mendekat wajahnya dan wajah Nadia, memang benar Rayan menatap Nadia sepertinya emang gadis itu benar tidak bohong.
"Gak usah lama-lama ish, natapnya," ucap Nadia mengalihkan wajahnya karena j4ntungnya sudah deg-degan.
"Gimana? Udah percaya belom," ucap Nadia. Rayan mengangguk percaya.
"Makasih," ucap Rayan.
"Makasih udah memaaf 'kan gue yang jahat ini," ucap Rayan lagi.
"Gue minta maaf banget sama lo Nad, yang suka membentak lo dan bahkan suka menampar lo---"
"Iya, Kak. Udah jangan di bahas lagi, Nadia udah maaf fin Kakak kok, sekarang Kakak cepat sembuh," ucap Nadia memotong ucapan Rayan. Ia tidak mau Rayan ngebahas itu lagi, ia ingin melupakan itu semua.
"Gue enggak tahu harus berkata apa lagi Naa, intinya gue minta maaf," ucap Rayan tulus.
"Iya, Kak. Nadia juga minta maaf ini semua gara-gara Nadia sampai-sampai Kakak jadi sakit gini,"
"Enggak, ini bukan salah lo, ini semua salah gue, lo ngecuek kin gue karena lo ingin mengabulkan permintaan gue 'kan? Tapi, sekarang gue mohon sama lo jangan ngegini in gue lagi, gue gak mau,"
"Lah kenapa? Kok enggak mau?" tanya Nadia heran.
"Eng--enggak, enggak kenapa-kenapa sih," ucap gugup Rayan.
"Ta--tapi, kalau emang lo mau ngecuekkin gue lagi, ya silahkan, emang ini salah gue juga kok," ucap Rayan terpaksa tersenyum.
"Ya Allah, hahaha. Iya-iya Kak, Nadia enggak akan ngecuekkin Kakak lagi, Nadia janji," ucap Nadia.
"Tapi, emang benar Naa, kalau lo mau ngecuekkin gue, gue gak papah,"
"Kalau Nadia enggak mau, gimana?" tanya Nadia senyum.
Rayan tersenyum manis ke arah Nadia. Nadia diam pas Rayan tersenyum ke arahnya, ia baru pertama kali melihat Rayan tersenyum seperti itu. Rayan bergeser dan menepuk k4surnya agar Nadia duduk di dekatnya.
"Apaan?" tanya Nadia.
"Sini duduk,"
"Ini udah duduk,"
"Lo duduknya di b1bir ranj4ng, sini naik!"
"Iya, mau ngapain dulu, Kak?"
"Naik aja dulu,"
"Mau apa dulu, tinggal bilang aja,"
"Naik dulu," ucap Rayan. Nadia sedang tidak mau ribut dengan suaminya. Rayan emang selalu tidak mau mengalah, Nadia naik ke r4njang dan duduk di samping suaminya.
"Mau ngapain?" tanya Nadia yang sudah naik r4njang.
"Sini masuk ke selimbut,"
"Satu selimbut berdua? Tidur bareng?" tanya Nadia kaget dengan kelakuan Rayan.
"Iya, emm ... tapi, kalau lo enggak mau tidur bareng enggak papa hehe,"
"Kata siapa Nadia enggak mau? Ya mau lah, apalagi di suruh Kakak," ujar Nadia menarik selimbut dan langsung berbaring di samping Rayan.
Sekarang mereka sama-sama berbaring. Dan saling menatap satu sama lain, apalagi Nadia tak berkedip sama sekali, Nadia langsung membelakangi Rayan karena ia malu. Rayan mengkerutkan keningnya.
"Lo kenapa? Kok ngebelakangi gue sih,"
"Gak papah, Kak,"
"Ngadep gue lagi, ihh,"
Nadia ngadep Rayan kembali dan mereka pun bertemu lagi, Nadia menunduk, jujur ia tidak mau di tatap oleh Rayan seperti itu. Karena, itu membuat jantungnya berdetak kencang.
"Apaan sih, ngelihatin mulu," ujar Nadia risih ia rasa Rayan terus menatapnya.
"Makasih," bisik Rayan di telinga Nadia.
"Dari tadi perasaan Kakak itu bilang makasih mulu,"
"Kan gue sangat bersa---"
"Iya, Kakak. Sama-sama, udah jangan bahas itu mulu, Nadia udah melupakan itu semua kok, sekarang Kakak tidur ini udah malam banget,"
"Iy---"
"Udah, stop! Kakak jangan bicara lagi, kalau Kakak terus bicara, kapan akan tidur?"
Rayan diam tidak membalas ucapan Nadia. Karena, gadis itu menyuruh dirinya jangan berbicara lagi. Rayan kembali menatap Nadia karena posisi mereka sangat dekat mungkin kening mereka masing-masing pun hampir kena dan Rayan tidak bisa tertidur dirinya belom merasa hantuk.
__ADS_1
"Apaan?" tanya Nadia.
"Kakak bisa enggak sih jangan ngelihattin Nadia kek gitu," ucap Nadia lagi.
"Good nigth sweete," ucap Rayan pelan.
"Hah?"
"Enggak," jawab Rayan.
'Kok gue bisa keceplosan sih,' batinnya.
Nadia langsung menarik selimut dan menutup semua tubvhnya sampai kelapa ehh kepala. Karena ia juga mendengar ucapan Rayan yang berkata 'Good nigth sweet' ucapan Rayan itu membuat jantvngnya berdebar-debar ehh di hatii, eh maksudnya di jantvng. Meskipun tidak beberapah kata.
Nadia menutup matanya dengan pelan-pelan begitu juga dengan Rayan. Perlahan-lahan Rayan menutup matanya mungkin karena ia sudah merasa hantuk, Nadia sudah tertidur pulas. Sedangkan Rayan belom bisa dan tiba-tiba Rayan pun menyusul Nadia ke alam mimpi.
***
Di siang hari.
Ada seseorang gadis bercadar mengejar pria, dia berlari kecil dan terus memanggil nama pria itu. Namun, pria itu tak mendengarnya pria itu tetap saja berjalan seperti biasa. Pria tersebut berhenti karena dirinya mendengar seperti ada yang memanggil dirinya. Siapakah gadis bercadar itu? Yaitu Nadia, dan siapakah pria itu? Pria itu adalah bernama Sandi sahabat suaminya bukan? Nadia berjalan menghampiri Sandi yang berhenti itu.
"Kak Sandi!" teriak Nadia.
"Nah, 'kan benar, seperti ada yang manggil gue. Tapi siapa?" tanya Sandi kepada dirinya sendiri hahaha. Ia menoleh ke belakang dan ternyata ada Nadia.
"Hufft ... assalamu'alaikum!" ucap Nadia yang sudah sampai dan ngos-ngosan.
"Ehh, Nadia. Wa'alaikumssalam," ucap Sandi.
"Kak, Nadia mau bicara penting,"
"Penting?"
"Iya penting. Itu menurut Nadia sih penting. Tapi, entah menurut Kakak," ucap Nadia.
"Ohh, mau bicara apaan? Jadi, penasaran gue," ucap Sandi cengegesan.
"Tentang Kak Rayan,"
"Tentang Rayan?"
"Iya, tadinya sih mau nanyanya ke siapa aja, yang penting sahabat Kak Rayan. Ehh, pas tadi Nadia waktu ingin ke kantin melihat Kak Sandi. Jadi, nanyanya ke kak Sandi aja,"
"Bukannya Rayan sedang sakit, yah?"
"Iya, Kak Rayan sedang sakit,"
"Sekarang bagaimana? Udah mulai mendingan?"
"Iya langsung ke intinya aja hehe. Gimana-gimana?"
"Di sana aja Kak, di sini panas," ucap Nadia. Yang di balas anggukan oleh Sandi. Sandi dan Nadia berjalan ke suatu tempat, ngomong-ngomong sekarang itu mereka sedang sekolah ya gays ya, sedang istirahat.
"Jadi, gini Kak. Menurut Kak Sandi Kak Rayan orangnya gimana?" tanya Nadia.
"Menurut gue sih, Rayan itu orangnya baik Nad, enggak jahat. Tapi ke lo kayaknya jahat, ya?" tanya Sandi.
"Iya Kak, Kak Rayan kalau ke Nadia terkadang suka jahat,"
"Dia pernah ngomong ke gue, kalau dia itu enggak akan cinta sama lo bahkan akan terus membenci. Karena lo itu sudah menerima perjodohan, dia benci yang namanya di jodohkan, dan waktu itu dia ingin menolak. Namun, ia tidak mau menolak tawaran Papahnya ia tidak pernah melawan, ia selalu nurut sama Papahnya. Meskipun di hatinya tidak mau. Jadi, dia suka jahat sama lo itu. Karena, lo udah nerima perjodohan itu. Tapi, menurut gue nih yah itu mustahil,"
"Mustahil? Maksud Kakak?"
"Iya mustahil, dia enggak akan pernah cinta sama lo itu mustahil, gue yakin di suatu saat hari nanti Rayan akan cinta sama lo. Lo percaya sama gue Nad, kalau lo udah cinta sama Rayan perjuangan jangan gampang menyerah, gue sangat yakin Rayan itu udah cinta sama lo cuma saja ia masih gengsi,"
"Itu menurut Kakak. Tapi, kayaknya emang Kak Rayan enggak akan cinta deh sama Nadia, dan terus akan membenci," ucap Nadia.
"Itu menurut lo, manusia itu pasti ada perubahan Nadia, yang pertamanya benci dan akhirnya cinta, dia itu orangnya baik bahkan dia suka sama anak kecil. Tapi, sekalinya Rayan membenci seseorang ia tidak ada yang bernama tegaan. Tapi, nih yah Rayan itu suka berbeda. Maksudnya, di mulutnya suka berbicara gini. Tapi, di hati berkata itu," ucap Sandi.
"Kayak di novel-novel aja, yang pertama benci dan terakhirnya cinta,"
"Kan emang ada nyatanya Nadia, kalau lo memang benar-benar sudah cinta sama Rayan perjuangin jangan menyerah,"
'Kak Sandi enggak tahu, kalau Kak Rayan itu sudah pernah menampar Nadia beberapah kali. Dari situ Nadia ingin menyerah, yaa muskipun Nadia sudah mencintai Kak Rayan. Tapi, kenapa susah dan sampai sekarang Nadia masih di kehidupan Kak Rayan, Nadia waktu itu minta pisah, kenapa Kak Rayan tak menjawabnya? Apa jangan-jangan Kak Rayan enggak mau pis--- Enggak, enggak mungkin, Nadia jangan geer,' batin Nadia.
'Jika, Kak Rayan tidak bisa membalas cinta Nadia, Nadia akan menyerah dan pergi dari kehidupannya, enggak mungkin Nadia selalu memperjuangkan terus, Nadia capek seharusnya Kak Rayan sekarang itu waktunya membalas cinta Nadia. Tapi, sepertinya Kak Rayan akan terus membenci Nadia, rasanya ingin menghilang dari kehidupannya Nadia enggak mau terus-terusan rumah tangga seperti ini,' batin Nadia memejamkan matanya sejenak.
***
3 hari kemudian. Di malam hari, Rayan sedang berbaring di k4sur dan tidak lupa memainkan benda pipihnya. Sedangkan Nadia ia baru saja beres menyetrika baju dan menyimpankannya di lemari. Setelah itu ia menghampiri Rayan dan duduk di sampingnya. Rayan tersadar bahwa Nadia duduk di sampingnya, mau ngapain? Yang di pikiran Rayan.
"Ada apa, Naa?" tanya Rayan.
"Emm ... itu, emm ... Nadia mau nanya ke Kakak," jawab Nadia.
"Mau nanya apa?" tanya Rayan langsung duduk. Dan menaruhkan ponselnya di meja.
"Ka--Kakak, udah cinta sama Nadia?" tanya Nadia.
Degh!
Rayan bingung ia harus menjawab apa kepada Nadia? Ia harus bilang udah cinta? Apa belom? Kenapa Nadia bertanya seperti itu? Diam. Rayan tidak menjawab ucapan Nadia. Dirinya masih gengsi mengatakan perasaannya.
"Belom cinta yah, Kak?" tanya Nadia berkaca-kaca seperti ingin rasanya menangis.
__ADS_1
"Naa!" lirih Rayan.
Nadia cepat-cepat menghapus air matanya yang terjatuh begitu saja, tanpa ia suruh.
"Naa, Lo jangan nangis dong,"
"Lah kenapa, Kak? Kasihan?"
"Enggak gitu, Na---"
"Enggak papah kok Kak. Jika Kakak tidak bisa mencintai Nadia, mungkin Nadia bukan selera Kakak, makanya susah buat jatuh cinta sama Nadia, dan terus akan membenci Nadia," ucap Nadia
Ia menanyakan ini supaya ia cepat tahu, sebenernya Rayan sudah mencintainya apa belom. Jika, belom ia akan cepat-cepat pergi dari kehidupan pria yang ada di hadapannya, ia ingin seperti orang lain yang di cintai oleh suaminya. Rayan langsung memeluk tvbuh Nadia, ia menepis jauh-jauh rasa gengsinya. Gadis mungil itu kaget pas tubvnya di peluk oleh seseorang yang ia cintai.
"Gue udah cinta sama lo, Naa," bisik Rayan di telinga Nadia.
Nadia yang mendengar jawaban Rayan, mulai detik itu juga air mata Nadia luruh, ia tidak bisa menahan air matanya, baru kali ini Rayan mengungapkan perasaanya dan ucapannya sangat lembut, Nadia mensembunyikan wajahnya di d4da b1dang Rayan. Ia terisak kala, p3lukan Rayan semakin erat. Nadia masih tidak percaya Rayan mengatakan itu semua. Rayan mencintai dirinya, itulah yang Nadia ingin 'kan dari dulu, Nadia senang. Tapi, ia tidak mau banyak berharap, ia tidak boleh geer.
"Lo udah berhasil bikin gue jatuh cinta," ucap Rayan lagi.
"Kak Rayan jangan ngasih harapan Nadia lagi, Kakak tidak mau melihat Nadia menangis 'kan? Nadia tidak boleh geer 'kan, Kak? Kakak bilang gitu karena kasihan 'kan? Na---"
"Enggak Nadia, enggak. Gue tulus, gue beneran cinta sama lo," ucap Rayan.
"Beneran?" tanya Nadia yang masih di p3lukan Rayan.
"Lo enggak percaya?"
Rayan bertanya kepada Nadia. Namun, Nadia tidak membalas ucapan suaminya itu, ia masih agak tidak percaya, ia enggak boleh langsung percaya begitu saja, dan ia tidak boleh geer.
"Lo masih enggak percaya sama gue, Nadia?" tanya Rayan mengeratkan peluk4nnya.
"Nadia percaya," ucap Nadia tersenyum. Ia bisa mendengar jelas j4ntung Rayan yang berdebar kencang.
"Beneran lo udah percaya?"
"Iya, Nadia udah percaya,"
"Udah gak usah nangis," Rayan melepaskan peluk4nnya dan menghapus air mata gadis mungil itu.
Nadia tersenyum, ia benar-benar senang. Rasanya Nadia tidak mampu untuk berkata-kata. Nadia merasa ini seperti mimpi. Jika, memang benar ini mimpi tolong jangan sampai bangun 'kan dirinya. Rayan menghapur air mata Nadia bukan karena rasa kasihan, melainkan rasa cinta. Apa ini nyata? Bukan mimpi 'kan? Jika, ini benar nyata. Dirinya sangat senang akhirnya apa yang ia inginkan tercapai juga, yaa walaupun itu sangat lama, Di cintai oleh seseorang yang kita cintai itu sangat menyenangkan bukan?
"Makasih Kak, makasih, makasih udah cinta sama Nadia," Nadia kembali memelvk Rayan.
"Lah, kenapa lo bilang makasih? Seharusnya gue yang bilang makasih sama lo, lo udah tahan sama semua sikap gue. Nih yah kalau orang lain pasti kapok jadi istri gue. Lo kuat Naa, lo kuat, gue udah menampar lo pun, lo tetap bersama gue,"
"Iya, kuat. Meskipun tiap hari Nadia nangis, Na---"
"Enggak, lo kuat Naa, gue minta maaf sama lo, gue---"
"Nadia 'kan sudah bilang jangan minta maaf mulu, jangan bahas itu lagi, Nadia benci itu. Nadia mohon sama Kakak jangan bahas itu lagi Nadia sudah melupakan itu semua, Kakak harus janji sama Nadia jangan ulangi itu semua," ucap Nadia menatap ke arah Rayan.
"Iya gue janji," ujar Rayan meng3cup kening Nadia lama.
Air mata Nadia terus mengalir, tak ada hentinya, ia tidak bisa menghentikan air mata itu, ia sudah menahan pun agar air matanya tidak keluar lagi, tapi tetap susah.
"Udah, jangan nagis mulu,"
"Ini air matanya turun mulu Kak, jangan salahin Nadia, sa---" ucap Nadia terpotong karena Rayan m**c1vm b**irnya (teks di potong) Nadia memejamkan matanya.
•••
Penerangan.:
"Kenapa Nadia memaaf kan Rayan? Padahal Rayan jahat. Jadilah Pemaaf, di dalam ajaran Islam, setiap umat manusia di tekankan untuk senantiasa mengedepankan sikap memaafkan atas kesalahan dan menjalani hubungan sosial kepada sesama secara baik, termasuk ketika sedang terjadi perselisihan,
Memaafkan kesalahan orang lain dapat menambah kemuliaan bagi kita. Dalam menjalani kehidupan, pasti setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Namun, jika ada seseorang yang memiliki kesalahan kepada kita, memaafkan biasanya menjadi hal yang sulit untuk di lakukan.
Jangankan memaafkan untuk melupakan kesalahan orang lain kepada kita memang tidak mudah. Namun, sebagai manusia biasa sudah seharusnya kita berusaha untuk menjadi pribadi yang bisa memaafkan kesalahan seseorang dengan ikhlas, mau sebesar apa pun kesalahan itu. Sebab, Allah telah berjanji untuk memberikan balasan yang luar biasa kepada kita.
Allah berfirman,
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Waa Sallam bersabda, "Barang siapa memaafkan saat ia mampu membalas, maka Allah akan memberinya maaf pada hari kesulitan." (HR Ath-Thabrani)
Mulai sekarang belajarlah berdamai dengan perasaan, maafkanlah orang yang pernah menyakitimu, maafkanlah orang yang mungkin pernah berbuat zhalim kepadamu, maafkan kesalahan mereka sebagaimana kamu juga ingin Allah memaafkan kesalahanmu,
وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni dosa-dosa kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-nur 22)."
"Banyak yang ngomong gini 'Lebaran maaf-maaf fan. Maaf, musuh tetap lah musuh' heyy, kalian jangan sampai begitu, tetap lah jadi manusia pemaaf. Dan terkadang yah kita itu tidak merasa punya salah kepada seseorang. Tapi, tetap kita harus minta maaf, takutnya lisan kita menyakiti hati seseorang, dan ana juga minta maaf kepada kalian. Jika, lisan ana menyakiti hati kalian yang sengaja atau pun yang tidak sengaja," ucap AUTHOR.
𝗧𝗮𝗾𝗮𝗯𝗯𝗮𝗮𝗹𝗹𝗹𝗮𝗵𝘂 𝗠𝗶𝗻𝗻𝗮 𝗪𝗮 𝗠𝗶𝗻𝗸𝘂𝗺
𝗕𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝗹𝗹𝗮𝗵𝘂 𝗳𝗶𝗸𝘂𝗺.
(𝖲𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝖺𝗆𝖺𝗅𝗄𝗎 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗆𝖺𝗅 𝗄𝖺𝗅𝗂𝖺𝗇).
Gak seru? Skip! Jangan menyakiti perasaan saya, komenan bawelnya boleh? Author butuh supportnya dari kalian. Pokoknya harus buanyak😂. Tapi, gak maksa juga sih hehe.
Jika ada yang salah maka tolong di maaf 'kan. Jika, ada yang sayang tolong di ungkapkan!
__ADS_1
hehehe hnya bercanda