
•••
Beberapah hari kemudian. Nadia tetap seperti itu berbicara dengan Rayan cuma hanya ada kepentingan saja. Sampai-sampai Rayan bingung kenapa bisa menjadi seperti ini? Mulai sejak hari itu Nadia benar-benar sangat berubah seratus persen, ia tidak peduli dengan Rayan. Nadia benar-benar seperti masing-masing, ucapannya tidak berbohong.
Terkadang Rayan sampai str3s memikirkan Nadia, apakah gadis itu tidak bisa memaafkan dirinya? Emang iya, kalau di mulut mengucapkan 'Udah di maaf 'kan kok' tapi, itu palsu Rayan mengerti dengan perasaan Nadia, Rayan tahu memang itu salah dirinya.
Rayan benar-benar menyesal atas semua apa yang ia lakukan sampai-sampai ia sekarang sedang sakit memikirkan Nadia. Kenapa memikirkan Nadia sih? Abaikan saja lah, itu selalu yang ada di pikiran Rayan, tapi di hati susah, Nadia dan Nadia, kenapa? Kenapa, menjadi seperti ini? Rayan sedang duduk dan tiba-tiba Nadia keluar dari kamar. Lalu, mengambil sepatu, Rayan hanya menatap gadis itu. Gadis mungil itu mau mau kemana? Pergi? Pergi ke mana? Di pikiran Rayan.
Rayan terus menatap Nadia, apakah Nadia akan minta izin dulu kepada dirinya? Apakah Nadia akan salim? Etss, salah. Nadia langsung saja membuka pintu rumah tanpa salim juga kepada Rayan. Kenapa Nadia berubah menjadi seperti ini? Rayan berdiri dan terus menatap Nadia dari jendela. Segitunya Nadia marah kepada dirinya? Minta izin pun tidak? Nadia tahu, bahwa seseorang istri itu. Jika, ingin ke mana-mana keluar dari rumah, harus meminta izin dulu kepada suaminya bukan? Tapi, apalah dengan rumah tangga mereka? Mereka berbeda dengan yang lain.
Gadis mungil itu sedang menunggu di luar, entah sedang nunggu apa, dan ternyata mobil taxi tiba. Kemudian, Nadia masuk mobil tersebut. Rayan kembali meringis merasakan pening di kepalanya, tes! Cairan entah dari mana meluncur mengenai baju bagian bawahnya. Mata Rayan membulat, dengan tangan gemetar ia menyentuh bagian di atas b1b*r kecilnya.
"Da--dar4h?" ucap Rayan memandang telapak tangannya yang terkena noda merah menyala itu. Benda pipihnya jatuh begitu saja, saat Rayan mulai panik mencari tissu atau apalah yang bisa membersihkan itu.
Tiba-tiba benda pipihnya berbunyi ada yang menelepon dan ternyata Devan. Namun, tak di anggat sama sekali oleh Rayan, balasan panggilan vidio maupun suara tak terjawab.
Pergi ke dalam kamar mandi dengan wajah pucat, terasa seperti ada yang menusuk-nusuk kepalanya. Rayan memandangi dirinya dari pantulan cermin tidak terlalu besar.
"Kenapa gue selalu memikir Nadia sih? Ada apa dengan gue?" ucap Rayan.
"Ada apa dengan perasaan ini ya Allah? Kenapa di pikiran ini selalu ada Nadia, Nadia dan Nadia. Apakah gue udah mulai cinta yah?" gumam Rayan. Rayan segera menangkup air mengalir lalu membasahi wajahnya, warna merah itu sudah bersih. Wajahnya terlihat semangkin pucat, suhu tvbuh juga semangkin meningkat. Sepertinya, sepertinya Rayan sudah mulai cinta. Namun, belom sadar saja sepertinya ya gays ya.
"Ini Devan ngapain coba nelepon? Ke rumahnya aja kali ah, di rumah mulu gabut gue. Nadia juga kagak ada lagi," gumam Rayan.
Rayan mengambil jaket dan langsung melajukan motornya untuk menuju ke rumah Devan. Muskipun kepalanya suka sering pusing. Namun, ia tetap maksa 'kan. Karena, di rumahnya sendiri, tidak ada siapa-siapa.
***
"Ray, lo kenapa? Kok wajah lo pucat banget, sakit?" tanya Devan cemas.
Rayan tidak membalas ucapan sahabatnya itu ia malah rebahan di kasur milik Devan.
"Gue bingung sama sikap Nadia sekarang," ucap Rayan lesu.
"Nadia? Kenapa dengan dia? Berubah? Lo sedang berantem?"
"Ish, bisa gak sih lo nanyanya satu-satu gue pusing," ucap Rayan.
"Sedang berantem sama Nadia?" tanya Devan mematikan ponselnya.
Rayan diam. Devan paham ia sangat mengerti sepertinya sahabatnya itu dengan istrinya sedang berantem. Ia kembali menyalakan ponselnya dan lanjut memainkan gamenya.
"Dia enggak bisa maaf fin gue, Dev," lirihnya.
"Berarti benar, lo sedang berantem?" kaget Devan.
"Enggak tahu gue bingung, gue udah minta maaf beberapah kali tapi ia seperti belom memaaf 'kan gue," ucap Rayan meneteskan air mata.
"Rayan! Lo kenapa? Kok lo nangis?" kaget Devan menepuk pundak Rayan.
"Enggak lah, siapa juga yang nagis? Lo kira gue cowok apaan? Nangisin cewek ke dia," ucap Rayan berbohong dan mengelap air mata oleh bajunya.
"Nah 'kan lo bohong, gue tahu Ray. Kalau lo sedang bohong apa enggaknya, tadi aja lo ngelap 'kan?"
Prang!
Rayan membantingkan gelas yang ada di hadapannya, kepalamya terus berpusing apa yang ia lihat seperti bermutar-mutar.
__ADS_1
"B4n9s4t," kaget Devan langsung berdiri.
"Istighfar Rayan, istighfar!" ucap Devan dengan nada tinggi.
"Nadia benci gue Devan," bentak Rayan dengan rambut acak-acak 'kan.
"Nadia benci gue Dev," ucap Rayan lesu. Devan terus menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
'Kata gue juga apa, Ray? Lo pasti bakal cinta sama Nadia. Jika, lo belom cinta sama Nadia enggak mungkin lo sampai gini,' batin Devan terus menepuk-nepuk pundak Rayan dan menatap wajahnya Rayan yang sudah sangat pucat.
"Apa gue udah cinta yah sama Nadia, Dev? Gue bingung dengan perasaan gue sekarang," ucap Rayan pelan. Namun, masih terdengar oleh Devan.
"Udah sekarang lo istirahat dulu, lihat wajah lo pucat banget, gue mau ngambil air minum dulu buat lo," ucap Devan berdiri dari duduknya dan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil minum.
Rayan melamun, kenapa dirinya menjadi g1l4 seperti ini? Ini juga salahnya sendiri bukan? Rayan terus menatap jendela.
'Dia cuma hanya teman,'
'Pas Kakak pacaran sama Desi apakah Nadia marah? Apakah Nadia menampar Kakak? Enggak 'kan?'
'Kamu mengingatkan aku tentang semua hal, buruk yang pernahku alami dalam kehidapanku. Penyiksaan, kekerasan,'
'Kakak itu baru datang kehidupanku dan Kakak langsung mengingatkanku itu semua,'
'Aby, Kak. Aby belom pernah membentak Nadia, apalagi menampar. Sedangkan Kakak?'
'Mulai sekarang kita masing-masing,'
'Kamu baru datang, dan kamu tidak pernah mengaggap aku istri,'
'Kamu jadi 'kan aku sebagai tempat pelampiasan n4fsu, iya? Kalau begitu pukul aku! Jika, mau bun*h saja aku,'
Kepala Rayan kembali pusing dan terus pikirannya itu semua tentang Nadia, dan ucapan Nadia selalu ada di pikirannya. Rayan memegang kepalanya dan terus selalu ada ucapan Nadia.
'Kak gerah,'
'Kak, pengen di peluk,'
'Ish, Kakak gak boleh ngomong k4sar,'
'Kakak juga harus makan,'
'Kak, berangkat sekolahnya bareng,'
'Nadia udah sembuh kok,'
'Kakak jangan meluk Nadia lagi,'
'Ambil selimbutnya Kak,'
'Kakak pengen di peluk,'
Rayan terus memegang kepalanya, ia sangat kangen dengan ocehan Nadia, apalagi waktu gadis itu sedang sakit. Namun, sekarang sangat berbeda, seperti bumi dan langit, sangat jauh bukan? Devan datang sambil membawa minum, ia kaget pas melihat Rayan seperti sedang pusing.
Tanpa ba-bi-bu Devan langsung menaruhkan gelasnya di meja. Dan menghampiri Rayan.
"Nadia, maaf fin gue," gumam Rayan yang masih terdengar oleh Devan.
__ADS_1
'Lo jahat banget, Nad. Kenapa lo tidak memaaf 'kan Rayan?' batin Devan.
'Ray, lo ini kenapa sih sampai segininya? Wajah lo sekarang sangat pucat, sebenernya ada apa sih dengan kalian?'
***
"Iya, gue jujur banget, gue enggak tahu dia mukanya ke gimana, intinya dia itu paham agama banget. Tapi, sayang gue belom pernah ketemu sama dia. Tapi, entah kenapa gue tiba-tiba cinta sama dia," ucap Zia yang sedang curhat bersama sahabatnya.
"Wahh, kamu yang benar Zia? Belom pernah ketemu? Terus, itu kamu ketemu di mana?" tanya Dara sambil mengemil.
"Di facebook," jawab Zia.
"Maksudnya mencintai diam-diam, apa gimana?" tanya Nadia.
"Enggak, dia mengungapkannya. Setelah itu dia kagak ngechat lagi," ucap lesu Zia.
"Uwih, fiks dia benar cinta sama kamu Zii," ucap Dira tersenyum bahagia.
"Enggak tahu sih. Tapi, kayaknya benar kali yah, dia cinta sama aku? Soalnya, setelah dia mengungapkan perasaannya. Kemudian, tidak ngechat lagi. 'Kan kalau misalnya dia mengungapkan perasaannya terus ngechat mulu tanpa kepentingan berarti dia palsu dia tidak cinta itu mah," ucap Zia.
"Ta--tapi, bagaimana kalau dia bohong?" tanya Zia lesu.
"Ehh, dia berniat untuk mengahalalkan mu, 'kan?" tanya Dira.
"Ngomongnya si dia gitu. Tapi, enggak tahu, yaa semoga aja omongannya benar," ucap Zia.
"Tapi, gue pengen---" ucapan Zia terpotong oleh Nadia.
"Ingat, Zia! Tiada yang lebih indah daripada dua raga yang saling menjaga. Tidak bertemu tapi saling menunggu, tidak berpapasan namun saling memataskan, jauh di mata dekat di do'a, tidak bersama tapi Allah jaga. Saat ini kita sejauh isya dan subuh, semoga kelak kita sedekat magrib dan isya," ucap Nadia.
"Aamiin," ucap Dira.
"Aamiin, aamiin, aamiin, hehe," ucap Zia.
"Ihhh, kok jajanan gue habis Dir?" tanya Zia kaget.
"Abisnya kamu dari tadi ngomong mulu, kagak ada hentinya," ucap Dira cengegesan.
***
"Kenapa si Rayan selalu bergumam memanggil-manggil Nadia sih?" tanya Devan mengkerutkan keningnya. Ia sedang menonton televisi di kamarnya dan ia menoleh ke samping, dirinya melihat Rayan yang sedang tertidur dan terus bergumam memanggil-manggil Nadia.
"Ehh, ehh, ya Allah. Panas banget keningnya, wah-wah ini anak benar-benar sedang sakit," ucap Devan kaget pas memeriksa kening Rayan dan sangat panas.
"Udah malam lagi sekarang, sepertinya si Rayan harus gue bawa pulang deh, kagak benar kalau di sini terus. Soalnya dia selalu manggil-manggil Nadia," gumam Devan mengambil ponselnya.
"Chat Alex kali yah, biar gue ada temannya," gumamnya.
Beberapah jam kemudian.
"Yaelah, Ray, Ray. Kenapa dengan dia Dev? Lagi sakit?" tanya Alex yang baru datang.
"Bukan, lagi bahagia," jawab Devan mengambil jaket.
"Biasa aja kali. Terus, ini kita bawa Rayan ke mana?" tanya Alex.
"Ke kubur4n, ya ke rumahnya lah Alex, astaghfirullah,"
__ADS_1
#Bersambung.