
•••
"Si k0dok mana sih? Tumben belom datang," ucap Sandi menunggu Rayan di depan pintu kelas.
"K0dok?" tanya Alex.
"Rayan, maksud gue itu,"
"Kebiasaan, lo itu manggil si Rayan, k0dok mulu," ucap Devan yang baru datang dan melemparkan tasnya ke sembarangan arah.
"Aduh," ucap Kelvin mengelus-ngelus kepalanya yang kena tas milik Devan.
"Astaghfirullah, hehe maaf gue sengaja," ucap Devan cengengesan. Yang melihat Kelvin sedang kesakitan karena ulahnya.
"Lo sengaja, atau enggak sengaja,"
"Gak sengaja. Tapi, niat,"
Plak!
"T0l*l, lo sama teman sendiri jahat banget sih," Kelvin langsung memukul lengan Devan.
"Ihhh, kata gue juga se---"
"Assalamualaikum!" ucap Zia dan Dara menghampiri mereka. Iya, ucap Devan terpotong oleh mereka berdua.
'Hah, ini 'kan Dara dan Zia,' batin Devan.
"Waalaikumssalam, ada apaan?" tanya Kelvin kepada gadis berdua itu.
"Emm ... kami berdua cuma mau bertanya, boleh?" tanya Dara sambil menundukkan kepalanya.
"Boleh, mau nanya apa?" tanya Kelvin.
"Kalau Kak Rayan udah datang gak sih? Soalnya si Nadia seperti be---"
"Nah, itu dia, gue juga lagi nungguin si k0dok," teriak Sandi di depan pintu kelas dan menghampiri mereka. Semua orang yang di sana sedang asik mengobrol pun langsung menoleh ke Sandi.
"B4n9s4t, kalau ngomong itu gak usah teriak-teriak juga kali," tegas Kelvin sembari menutup telinga oleh tangannya.
"K0dok?" tanya Zia mengerutkan dahinya. Dara dan Zia 'kan cuma nanya Rayan, kenapa mereka ngomongin k0dok? Siapa k0dok? Yaa, seperti itu lah di batin Zia.
__ADS_1
"Hehehe, kod0k itu si Rayan maksudnya," jawab Sandi cengengesan seraya menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
"Ohh,"
"Apa jangan-jangan mereka---" ucap Sandi menggantungkan ucapannya.
"Apa?"
"Bangun kesiangan?" ucap Sandi mel0totkan matanya.
"Heleh, yakali si Rayan bangun kesiangan, palingan juga lagi romantisan dulu," ucap Devan.
"Iya sih, bener juga yah. Terkadang si Rayan itu kalau di depan kita, suka gengsian, padahal mah hemm, yang aslinya udah cinta sama si Nadia," ucap Sandi.
"Nah, sekarang ini udah mau masuk, tapi si Rayan belom datang juga," sambungnya melihat jam yang ia pakai di tangannya.
"Coba di salah satu kalian, chat Kak Rayan, siapa tau 'kan ngebalas," ucap Dara.
"Iya, tadi aku juga udah ngechat, tapi belom di balas, lagi gak aktif orangnya," ucap Devan mengeluarkan ponselnya di saku celana.
Glek!
Kelvin, Alex, Sandi, menelan s4livanya dengan kasar, saat mendengar ucapan Devan berkata aku, bukan gue. Emang iya, ini Devan baru pertama kalinya lagi berbicara seperti itu kepada perempuan, setelah ia putus dengan pacarnya. Biasanya sih, mau ke perempuan mau ke laki-laki ia berbicara gue-lo, tapi kenapa sekarang? Teman-temannya pun langsung heran.
"Iya bener, apa jangan-jangan si Devan bener-bener suka sama di Dara?" bisik Kelvin.
"Mana gue tau, 'kan gue buaya,"
"Buaya-buaya. Tapi, lo jom---"
"Coba si Nadia chat sama kamu, siapa tau dia aktif," ucap Devan memotong bisikan Kelvin dan Sandi.
Glek!
Lagi-lagi Kelvin dan Sandi menelan s4livannya.
"Wah bener-bener ini mah, si Devan jatuh cinta lagi," bisik Kelvin.
"Iya, sekarang jatuh cintanya kepada gadis bercadar, beuhhh, hebat juga ternyata si Devan, kirain gue dia kagak suka sama cewek kayak seperti itu, yaa, maksud gue bercadar,"
"Ini juga udah Kak. Tapi, sama belom di balas juga," ucap Dara.
__ADS_1
***
"Kakak!" teriak seorang gadis di kamar.
"Apaan? Dari tadi lo teriak mulu dah, gue lagi nyuci piring dulu," teriak seorang pria yang sedang di dapur.
Setelah pria itu beres mencuci piring tersebut. Ia langsung menghampiri gadis yang tadi berteriak itu. Seseorang gadis itu sedang menatap jendela yang di kamarnya. Ia melihat matahari yang sangat indah, di pagi hari ini.
"Ada apaan?" tanya pria tersebut. Ia mengambil kursi dan duduk di samping gadis itu.
"Ternyata, Kakak bisa masak juga yah," ucap Nadia.
"Lo kira gue enggak, gitu?"
"Iya, hehe, soalnya 'kan perasaan Nadia, Nadia itu gak pernah lihat Kak Rayan masak,"
"Bukan perasaan lo, tapi emang itu kenyataan, emang iya, gue belom pernah masak, semenjak nikah sama lo. Tapi, pas belom nikah gue sering masak di rumah,"
"Ohh, pantesan,"
"Ohh iya, Kakak, gak sekolah?" sambungnya
"Gak," jawab Rayan singkat.
"Kenapa?"
"Kan lo lagi sakit, kalau gue sekolah, lo sendiri dong di rumah,"
"Gak papah Kak, soalnya Nadia sekarang udah sehat kok,"
"Halah, sehat-sehat, pas semalam aja lo bangun terus, udah bilang gerah, udah dingin, terus pengen makan malam-malam, ke kamar mandi mulu, capek bener dah gue,"
"Iya-iya, Nadia minta maaf ngerepotin," ucap Nadia mengrucutkan b***rnya dan menundukkan pandangannya.
"Kan emang lo ngerepotin,"
"Yaudah, kalau Kakak gak ikhlas, ngurus Nadia. Mending Kakak gak usah ngurusin Nadia, sana cepat sekolah!"
"Heleh, gitu aja baper," ucap Rayan.
Bruk!
__ADS_1
Rayan langsung membantingkan Nadia. Yakali membanting Nadia mana bisa haha, maksud author membantingkan t*buhnya ke k4sur milik Nadia. Jujur, ia sekarang hari ini sangat lelah. Nadia yang melihat suaminya rebahan di k4sur, ia juga langsung berdiri dan menaiki k4sur tersebut lalu merebahkan tub*hnnya.
**Happy Reading**