Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy

Gadis Bercadar Dan Cowok Badboy
Romantis


__ADS_3

•••


Kak Rayan keluar dari kamarku. Dan dia sepertinya sekarang sedang di tangga, untuk menuju ke bawah.


Dan sekarang Kak Rayan sudah tiba di bawah. Karena, aku mendengar suara motor miliknya. Aku berdiri dari dudukku dan menghampiri jendela untuk melihat suamiku yang ingin berangkat. Aku terus memperhatikan dia, Kak Rayan pun melajukan motornya.


***


Alhamdulillah isya pun sekarang sudah tiba. Aku yang tadinya sedang duduk di kursi ruang tamu. Karena, aku mendengar suara adzan berkumandang aku berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi, seperti biasa aku ingin berwudhu dan melakukan shalat isya.


Setelah aku melakukan shalat isya. Aku kembali duduk di kursi ruang tamu tadi, dan kadang-kadang aku melihat ke arah pintu, aku harap Kak Rayan pulang. Namun, tetap saja Kak Rayan belom pulang. Iya, Kak Rayan sekarang masih belom pulang, dari tadi siang sudah lama, bukan? Aku mondar-mandir rasa khawatirku tiba-tiba datang, aku memikirkan Kak Rayan bagaimana pun Kak Rayan tetap suamiku, muskipun ia suka jahat dan terkadang juga suka lembut.


Aku berjalan ke ruang meja makan dan melihat makanan yang sudah dingin. Iya, sejak tadi aku sudah masak dan makanan itu untuk suamiku yaitu Kak Rayan, aku kira Kak Rayan akan pulang setelah magrib, dan ternyata sekarang sudah isya pun tetap masih belom pulang.


Pukul 20:00 sudah tiba.


"Aduh, Kak Rayan ke mana sih?" ucapku.


"Ya Allah, kenapa suamiku belom pulang juga?" ucapku lagi. Sembari mondar-mandir gak jelas.


Sekarang aku sedang posisi mondar mandir gak jelas, aku berjalan ke ruang tamu. Lalu, berjalan ke ruang meja makan, ke ruang tamu lagi, dan seterusnya aku bulak-balik seperti itu, pas aku sedang berjalan ke ruang tamu lagi, mataku tiba-tiba mengantuk seperti ingin tidur, aku melirik ke jam sebenernya sudah pukul berapah? Sampai-sampai aku sudah mengantuk banget, dan ternyata setelah aku melihat ke jam sekarang sudah pukul 21:00 sudah lama, bukan? Tapi, kenapa Kak Rayan tetap belom pulang juga sih? Aku berjalan ke kamarku.


Setelah sampai di ke kamar, aku berbaring di at4s r4j4ng karena aku sudah tidak ku4t lagi. Aku pun tidur duluan. Dan mataku menutup dengan pelan-pelan.


***


"Kakak, sudah siap, belom?" teriakku di bawah, di ruang meja makan. Sedangkan Kak Rayan sedang di tangga berjalan menuju ruang makan.


"Sudah. Lo beneran mau sekolah? Emang udah sembuh?" tanya Kak Rayan kepadaku. Oh iya, Kak Rayan sudah pulang pas semalam pukul 23:00 WIB.


"Alhamdulillah, sudah sembuh kok Kak," ucapku tersenyum.


"Lebih baik, lo gak usah sekolah dulu deh, gimana kalau nanti malam sakit lagi," ucap Kak Rayan sambil merapihkan baju seragamnya. Lalu, duduk di kursi meja makan.


"Enggak Kak, Nadia sudah sembuh kok, dan juga kalau di rumah mulu, bosan," ucapku sambil mengambil nasi.


"Oke,"


"Nadia!"


"Iya, Kak?" tanyaku.


"Emm ... lo 'kan baru sembuh. Nah, jadi gue pengen suapin lo, ma--mau?" tanya Kak Rayan.


Aku mengerutkan keningku. Aku bingung dengan ucapan Kak Rayan, kenapa ia tiba-tiba ingin menyuapiku? Aku mematung.


"Mau?" tanyanya lagi.


Sontak aku kaget. Kenapa dengan Kak Rayan? Argh, Kak Rayan ini memang aneh yah, ya, iyalah, aku mau, yakali nolak di suapin oleh suami tercinta haha, aku mengangguk dan tersenyum malu.


"Yaudah sini, lo duduknya di sini deketan sama gue," ujar Kak Rayan sambil menepuk-nepuk kursi makan. Aku menghamiri dan duduk di dekatnya.


Kak Rayan tersenyum dan langsung menyuapiku, dengan senang hati aku menerima suapan dari suamiku. Setelah beberapah suapan aku menghentikan tangan Kak Rayan agar berhenti, Kak Rayan mengerutkan kening aku mengambil sendok yang ia pegang dan menyuapi dirinya juga. Soalnya, Kak Rayan belom sarapan ia sibuk menyuapiku, padahal aku juga bisa makan sendiri hadehh. Aku mulai menyuapinya dan Kak Rayan juga menerima suapan dariku dia tidak menolak sama sekali.


Sarapan kami pun sudah selesai. Aku berdiri dari kursi meja makan, dan Kak Rayan pun membuatku terkejut lagi, ia mengajakku berangkat sekolah bareng, kaget bukan? Ya, iyalah kaget, yakali kagak, kalau gak salah aku dan dirinya baru pertama kali berangkat sekolah bareng.


Pagi ini aku sangat bahagia. Aku berangkat bersama Kak Rayan. Di dalam mobil, kami berdua saling diam, tak membuka suara sedikit pun sejak tadi, aku pokus menatap jalan yang di lewati mobil Kak Rayan, sedangkan Kak Rayan pokus menyetir mobil.


***

__ADS_1


"Nadia, gue khawatir banget sama kamu," ucap Zia di dalam kelas. Iya, sekarang aku sampai di kelas.


"Masa sih?" ucapku canda.


"Iya, ihh, yakali gue bohong, tanya aja sama si Dira kalau kamu gak percaya," ucapnya.


"Iya Nad, kita berdua khawatir banget sama kamu, pas kemarin kita mau ke rumah kamu, takutnya kenapa-napa cuma gak jadi. Soalnya, ada halangan. WhatsApp kamu juga gak online mulu," ucap Dira membaca buku.


"Pas kemarin kamu kemana aja? Kak Rayan gak sekolah, kamu juga gak sekolah," tanya Zia.


"Aku ada kok---"


"Kamu baik-baik aja 'kan?" ucap Zia memotong ucapan aku.


"Iya, aku baik-baik aja Zia cantik, yang imut, tenang aja. Kalian berdua jangan khawatir yah, 'kan ada Kak Rayan," ucapku tersenyum.


"Ehh, iya, yah,"


"Kamu pas gak sekolah ngapain aja sama Kak Rayan? Hayoh," ucap Zia lagi.


"Private. Gak, ngapain-ngapain kok," jawabku.


"Halah kamu bohong, cepat ngomong ngapain aja kamu sama Kak Rayan? Aku pengen denger, pasti romantis 'kan?" tanya Zia tersenyum genit dan mengedipkan matanya. Dan kalau Dira yang sedang membaca buku langsung membulatkan matanya.


"Ayo, cur---"


"Zia, kamu ini apa-apaan sih? Kepo banget, urusan orang, mereka 'kan sudah menikah. Jadi, bebas mau ngapain aja, sedangkan kita jomblo," ucap Dira menatap tajam ke arah Zia. Zia yang mendengarkan ucapan dari Dira langsung cemb3rut, aku dan Dira langsung tertawa melihat kelakuan Zia yang seperti marah.


***


♡Pov Author.


"Heleh, kamunya aja yang gak belajar, kalau kamu sudah belajar, pasti gampang kok," ucap Dira.


"Emang kamu tadi, bisa?" tanya Zia mengerutkan dahinya.


"Kagak," jawab Dira.


Zia dan Nadia yang mendengar jawaban dari temannya langsung diam. Lalu, saling memandang, beberapah detik kemudian. Nadia dan Zia langsung tertawa berbahak-bahak dan Dira pun ikut tertawa, biasa gays kalau kita suka lihat teman tertawa pasti kita juga ikut tertawa 'kan? Muskipun itu menertawakan diri kita sendiri haha.


"Yaaa 'kan abisnya kalau belajar itu malas, yekan?" tanya Dira.


"Iya, bener banget," ucap Nadia tersenyum.


Sekarang itu Nadia, Zia dan Dira sedang berjalan menuju keluar gerbang. Karena, sekarang sekolah sudah pulang, dan waktunya pulang rumah masing-masing. Mereka bertiga baru sampai lapangan. Lalu, tiba-tiba ada teman Rayan menghampiri gadis bertiga itu termasuk Rayan.


"Assalamu'alaikum!" sahut teman-teman Rayan.


"Wa'alaikumssalam," ucap Nadia, Zia dan Dira.


"Emm ... haii Dira!" sapa Devan tersenyum ke arah Dira.


"Haii juga," ucap Dira.


"Cie ... cie ... hahaha. Oh iya, tadi pelajaran apa sih? Susah banget yah? 0t4k gue mau hancur," ucap Sandi.


"Nah, iya bener. Gue juga sama susah," ucap Zia.


"Wahh, yang bener lo?" tanya Sandi.

__ADS_1


"Yakali gue bohong," ucap Zia memutar bola matanya malas.


"Berarti sama kek gue dong? Yaudah cis dulu atuh," ucap Sandi mengajak cis kepada Zia. Zia tersenyum dan seperti ingin cis bareng Sandi. Namun, di larang oleh Dira.


"Astaghfirullah, Zia ingat! Bukan mahram," ucap Dira menatap tajam.


"Innalilahi, eh, iya," ucap Zia.


"Kamu ini gimana sih? Suka lupa, istighfar,"


"Astaghfirullah, makasih Dira hehe, lupa tadi," ucap Zia cengegesan.


"Ini semua gara-gara lo sih, 'kan gue jadi lupa," ucap Zia nuduh Sandi.


"Lah, kok salah gue?"


"Ya, iyalah. Ngapain juga lo cas cis ces" ucap Zia.


"Seharusnya lo yang salah, kenapa mau?" ucap Sandi menjulurkan lidahnya.


"Karena gue lupa, Udin," ucap Zia tidak mau ngalah.


"Berarti lo udah tua dong?" ucap Sandi.


"What? Lo ngomong sembarangan, gue it---" ucapan Zia terpotong oleh Nadia.


"Udah, Zia kam---" Nadia yang belom beres pembicaraannya pun langsung di gend0ng oleh Rayan.


Sontak Nadia kaget. Bagaimana tak kaget sih? Si Rayan kenapa? Kok tiba-tiba ngegend0ng Nadia, apalagi tempat ramai ini, di sekolah.


"Kakak, kok di gendong?" ucap Nadia kaget.


"Abisnya lama, dan juga ngapain gue dengerin omongan mereka berdua, buang waktu aja. Terus, di k4cangin lagi," jawab Rayan santai.


Sedangkan Nadia malu. Ia lebih memilih menyembunyikan wajahnya di leh3r milik Rayan. Karena banyak teman-teman sekolahnya memperhatikan mereka berdua. Karena, masih banyak yang belom pulang. Ada yang sedang p4c4ran ada yang ngobrol, dan ada juga yang ngobrol bareng p0c0n9.


"Ihh, pengen,"


"Aaaa, gue pengen banget,"


"Pakai cadar. Tapi, kok kelakuannya seperti itu,"


"Aaaa, sweett banget sih,"


"Si Nadia dan Kak Rayan cocok banget,"


"What? Dia 'kan pakai cadar? Tapi, kok gitu sih?"


"Ish, si Nadia bukannya berontak malah menyembunyikan wajahnya di l3her Rayan,"


"Hello, mereka bukan mahram!"


"Ya Ampun, romantis banget,"


"Gue kapan, ish, jadi iri gue,"


Seperti itulah celoteh-celotehan makhluk-makhluk, yang melihat Nadia dan Rayan. Ada yang berbisik-bisik dan juga ada yang berteriak karena mereka melihat kelakuan Rayan. Semua teman-teman sekolahnya kaget. Iya, begitulah pernikahan privasi. Cuma saja yang tidak kaget itu Zia dan Dira, dan teman-teman Rayan yaitu Alex, Sandi, Devan, teman Rayan yang sekolah cuma segitu Kelvin tidak ada. Karena, sama author di buang dulu ke laut amazon.


*HAPPY READING*

__ADS_1


__ADS_2