
Reyhan melajukan mobilnya dengan santai. Dia tidak ingin terburu-buru kembali ke kantornya karna tadi Rendi menghubunginya mengatakan bahwa anisa sudah berada dikantor dan sedang membersihkan
ruangannya.
Reyhan berhenti disebuah cafe dekat dari kantornya. Hari ini memang tidak ada jadwal meeting atau apapun dikantor. Dia hanya memantau proyek papanya yang berjalan dengan lancar. Didalam cafe,dia memesan ruang VIP kepada sang pelayan.
Tapi sayang, ruang VIP sedang digunakan oleh orang lain dan hanya tersisa ruangan biasa yang artinya dia harus duduk bersama
semua orang yang datang tanpa kecuali.
Akhirnya dia duduk disalah satu pojok dan menghadap kearah kantor. Reyhan hanya memesan kopi panas untuk menghilangkan kekesalannya.
"Bisa bisanya dia mau ngerayu gue. Dia pikir gue sama kaya kebanyakan laki2 yang dia pacarin"Gumam Reyhan kesal.
Reyhan menyeruput kopinya sesekali untuk menghilangkan kesalnya. Setelah kopi itu habis, dia ingin kembali kekantor tapi teringat dengan anisa. Lalu dia masuk ke restoran yang ada disebelah cafe untuk membeli makan siang.
Setelahnya dia mengemudikan nabil dan bergegas menuju kantor. Setelah memberikan kunci mobilnya kepada satpam untuk diperkirakan, Reyhan masuk kedalam gedung dan berjalan menuju life.
Belum sampai dilift Reyhan mendengar percakapan anisa dengan salah satu karyawan sesama OG. Reyhan melirik sekilas melihat anisa sedang mengelap kaca dengan tangan kirinya dan tangan kanannya
disembunyikan dibelakang badan dengan balutan perban. Mungkin agar temannya tidak melihat balutan itu pikir Reyhan.
"Kenapa tangannya diperban? Apa dia terluka? Apa dia abis kecelakaan? Apa karna ini dia terlambat masuk kerja?" Banyak pertanyaan yang berkecambuk didalam otak Reyhan.
Reyhan mengabaikan anisa dan bergegas masuk ke dalam lift khusus pejabat.Didalam lift Reyhan menghubungi asistennya.
"Ren, tolong suruh anisa keruangan saya" Titah Reyhan
"Tuan Reyhan sudah kembali ke kantor?" Tanya Rendi
"Ya,cepat bawa anisa keruangan saya. Ga usah banyak tanya" Ucap Reyhan.
"Baik tuan. Saya cari anisa dulu" Ucap Rendi
"Anisa ada dilantai satu lagi ngelap kaca" Jelas Reyhan.
"Baik tuan. Saya kesana" Jawab Rendi disebrang telfon.
Reyhan keluar dari lift dan langsung menuju ruangan lalu meletakkan bungkusan makanan diatas meja.Sedangkan Rendi menuju ke lantai satu mencari anisa. Rendi melihat keseluruh ruangan dan menemukan anisa bersama karyawan lainnya membersihkan kaca.Diapun menghampiri anisa.
"Anisa dipanggil tuan diruangan" Ucapan Rendi menghentikan anisa dari pekerjaannya. Anisa menoleh ke arah Rendi.
"Tuan sudah kembali?" Anisa bertanya pada asisten bosnya
"Ya, dia memintamu menemui dia" Jawab Rendi
"Mba aku keruangan tuan dulu ya, makasih udah mau kenal sama nisa" Anisa pamit dengan temannya yang sedari tadi dia bantu pekerjaannya.
__ADS_1
"Kapan2 kalo istirahat ke kantin ya, kita ngobrol disana" Ucapnya
"Siap mba" Jawab anisa.
"Saya permisi pak" Kata anisa kepada Rendi.
Anisa pun pergi menuju ruangan bosnya. Sesampainya didepan ruangan, anisa mulai cemas dan gerogi,perasaan takut akan kemarahan bosnya bermunculan di otaknya.
Anisa mengetuk pintu ruangan itu dan terdengar suara bosnya dari dalam. Anisa membuka pintu dengan berlahan dan memasuki ruangan sangat bos. Didalam terlihat Reyhan duduk dikursi kebesarannya
menghadap kearah jendela
"Dari mana aja kamu?" Tanya Reyhan tegas.
"Saya membantu OG yang lainmembersih- kan kaca tuan" Jawab anisa
"Darimana kamu?" Tanya Reyhan kembali
"Sa-saya.."
"Darimana kamu sampai terlambat sangat lama??"Tanya Reyhan kembali.
"Saya...Sa-saya..."
"Jawab!!!"Reyhan bangkit lalu menggebrak meja dengan sangat keras sehingga membuat anisa kaget sekaligus takut.
"Ma-maaf tuan, saya terlambat ka-karna..." Ucapan anisa terputus kembali
Ruangan reyhan didesain dengan ruangan kedap suara sehingga tidak akan ada yang
mendengar keributan itu dari luar.
"Ka-karna saya ada urusan mendadak
dirumah tuan" Jawab anisa berbohong
"Urusan apa? Kamu kerja disini bukan untuk seenaknya kaya gitu. Kamu saya bayar disini bukan untuk terlambat apalagi ngurusin kerjaan orang lain. Kamu cuma ngurusin saya aja disini ga becus ngapain kamu sok-sokan bantuin yanglain?"
Reyhan benar-benar meluapkan emosinya pada anisa.
"Maafkan saya tuan. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi" Anisa menunduk ketakutan. Reyhan mendekati anisa tapi anisa semakin menundukan wajahnya, anisa berfikir bahwa bosnya akan menghukum anisa dengan pukulan karna kesalahannya tapi, anisa tersentak ketika bosnya itu menarik tangan anisa menuju sofa.
"Duduk" Perintah Reyhan. Anisa masih tetap diam ditempatnya,dia merasa bingung sekaligus takut. Segala fikiran negatif terlintas dibenaknya.
"Saya bilang duduk" Ucap Reyhan kembali. Anisa pun duduk disofa lalu Reyhan pergi ke sebuah ruangan yang ada didalam ruangan itu. Sejujurnya anisa tidak tau apa yang ada di dalam ruangan itu karna reyhan tidak
pernah mengizinkan dia untuk masuk
__ADS_1
bahkan untuk sekedar membersihkannya.
Anisa hanya melirik sekilas lalu tertunduk kembali saat melihat Reyhan keluar dari ruangan itu. Reyhan menghampiri anisa dengan membawa sebuah kotak P3K dan duduk disamping anisa.
Reyhan menarik tangan anisa yang terbalut dengan perban itu dan membukanya berlahan. Hening, tak ada satu patah katapun. Reyhan yang fokus dengan luka tangan anisa, dan anisa yang entah memikirkan apa.
Reyhan melihat luka bakar yang mungkin tidak anisa obati sehingga membuat tangan anisa membengkak dan melepuh parah. Reyha mengoleskan krim pereda nyeri keatas luka tersebut lalu menoleh kearah anisa.
"Kenapa ga diobati?" Tanya Reyhan.
"Sa-saya ga punya obatnya tuan" Jawab anisa sambil menahan perih.
"Ya sudah, saya panggilkan dokter untuk memeriksamu nanti" Reyhan menghela nafas berat dan bangkit dari duduknya
"Tidak usah tuan. Ini hanya luka ringan. Besok juga sembuh" Jawab nisa
"Saya tidak mau lukamu membuat kinerjanya yang lelet semakin lelet" Ucap Reyhan tegas Anisa hanya bisa diam tanpa
menjawab apapun.
"Kamu duduk disini sampai dokter datang ga usah ngebantah" Ujarnya lagi.
Anisa hanya diam, dia heran kenapa banyak desas desus yang mengatakan bahwa bosnya itu kejam padahal dia sendiri diperlakukan manis seperti ini.Anisa tersenyum memikirkan kejadian ini.Tanpa anisa sadari, Reyhan melihat senyuman itu.
"Manis juga senyumnya" Batin Reyhan.
"Ngapain senyum2? Jangan berfikir yang macam2 ya, saya tidak sebaik yang kau fikirkan" Ujar Reyhan membuat anisa mengerucutkan bibirnya.
Beberapa saat kemudian, dokter yang
diminta Reyhan datang dan langsung
menangani luka di tangan anisa.
"Lukanya cukup parah, ini jangan sampai terkena air ya untuk beberapa hari kedepan. Agar lebih mudah sembuhnya. Ini saya kasih obat pereda nyeri sekaligus krimnya olesi
saja 2x sehari pagi hari 1 jam sebelum diperban dan malam hari saat akan tidur.
Kalo bisa jangan diperban jika tidur dimalam hari. Biar lukanya cepet kering.Oya, satu lagi jangan melakukan pekerjaan yang berat dulu
dan dangan terkenal debu juga.Saya juga kasih resepnya biar jika obatnya habis dan belum sembuh, kamu bisa menebusnya di apotik" Anisa menganggukan kepalanya mendengar apa yang dijelaskan oleh sang dokter tersebut.
"Terimakasih dok sudah membantu saya" Ucap anisa kemudian.
"Sudah menjadi kewajiban saya. Kamu tenang aja" Dokter tersebut tersenyum mendengar kata terimakasih yang gadis itu ucapkan.
"Kalau udah beres cepat pergi.Jangan lama2 disini" Reyhan bersuara dari belakang kejam kerjanya. Entah kenapa dia tidak suka jika anisa tersenyum kepada dokter itu apalagi bersikap manis terhadapnya.
__ADS_1
"Baiklah,saya permisi dulu. Rey, jangan bikin wanitamu lelah dulu" Dokter itu mengangkat sebelah alisnya menggoda Reyhan.
"Sialan lu, cepat keluar dari sini" Reyhan yang mengerti arti ucapan itu langsung melempar pulpen kearah dokter tersebut. Sebelum mendapat lemparan yang lebih banyak lagi, sang dokter langsung keluar dari ruangan Reyhan.