
Reyhan melajukan mobilnya menembus jalanan yang ramai saat ponselnya berbunyi dengan nyaring.
"Sudah dapat apa yang saya ingin?" Tanya Reyhan
"Sudah tuan. Orangnya sudah ada ditempat biasa beserta buktinya. Tinggal dibawa ke polisi tuan" Ucap seseorang disebrang telpon.
"Baik, saya kesana" Reyhan langsung mematikan sambungan teleponnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, bisa bantu saya?" Ucap Reyhan
"Halo, akhirnya kau menghubungiku. Pasti ada penjahat yang kau tangkap kan? Dimana orangnya?" Tanya seseorang disebrang telpon.
"Di tempat biasa. Bawa juga beberapa
teman polisimu. Dia tidak sendiri" Ucap Reyhan.
"Baiklah. Saya kesana sekarang juga" Ucap seseorang itu yang ternyata seorang polisi yang juga sahabat Reyhan. Polisi itu bernama brian, sahabat Reyhan sewaktu SMA.
Reyhan terus melajukan mobilnya menjauh dari jalan utama menuju sebuah bangunan tua disebelah hutan jauh dari kota. Dua jam perjalanan, reyhan sampai ditempat yang dituju.
Dia disambut oleh beberapa orang yang berjaga didepan pintu dan membukakan pintu tersebut untuk Reyhan. Reyhan masuk kedalam bangunan tersebut disambut oleh Rendi dan pengawal lainnya.
Didalam terlihat beberapa orang yang melakukan kecurangan didalam proyek yang sedang Reyhan kerjakan. Mereka diikat dengan tali dan ditutup mulutnya dengan kain.
"Bagaimana ren?"
"Semua beres tuan. Bukti sudah saya simpan. Dan mereka sudah mengakuinya" Jawab Rendi
"Bagus. Polisi akan segera datang" Ucap Reyhan.
"Kalian salah mencari lawan" Reyhan
menatap sinis pada orang-orang yang
sudah diikat itu. Beberapa menit kemudian, brian dan beberapa polisi sampai. Mereka
membawa orang-orang itu kedalam mobil polisi.
"Terimakasih kerjasamanya bro" Ucap brian.
"Kau ini polisi atau apa? Kerjanya cuma bawa penjahat tanpa turun tangan." Ucap Reyhan dingin. Brian bukan marah tapi tertawa mendengar ucapan Reyhan.
"Dalam hal menangkap penjahat begini kan sudah jadi keahlianmu. Ngapain harus susah-susah turun tangan. Iya gak bro" Brian menepuk bahu Reyhan dan merangkulnya.
"Ini bukti-bukti dari kejahatan mereka pak. Semua ada dalam flashdisk dan berkas ini" Rendi menyerahkan beberapa berkas dan
flashdisk tersebut kepada polisi.
__ADS_1
"Terimakasih bantuannya pak Rendi" Ucap salah satu polisi.
"Sama-sama Pak" Jawab Rendi.
"Ya sudah,karna urusannya sudah beres,aku pamit dulu ya rey. Kalo butuh apa-apa hubungi aku aja. Aku siap membantu" Brian menepuk pundak sahabatnya lalu pergi meninggalkan tempat itu diikuti beberapa mobil polisi lain dibelakangnya.
"Kamu ikut saya ren" Titah Reyhan pada sang asisten.
Rendi dan Reyhan meninggalkan bangunan itu dengan satu mobil yang dikemudi oleh Rendi. Sedangkan Reyhan duduk dikursi belakang dengan santai.
Disisi lain, anisa yang baru sampai didepan rumah, melihat ada mobil yang terparkir didepan rumah bibinya. Mungkin ada tamu dirumah, pikir anisa.
Anisa masuk kedalam rumah melewati pintu belakang.Dia tidak mau mengganggu keluarga pamannya yang sedang menerima tamu. Saat sampai didapur, anisa melihat Santi sepupunya yang terlihat sedang kebingungan.
"Lagi ngapain san?" Tanya anisa. Santi menoleh mendapati anisa sudah pulang dari kerjanya.
"Nah akhirnya kamu pulang juga. Cepat buatkan 2 cangkir kopi dan 2 teh manis dan bawa keruang tamu" Ujar Santi Tanpa membantah,anisa membuatkan minuman tersebut lalu membawanya keluar.
Sesampainya diruang tamu, anisa melihat pria berwajah tampan dan berseragam kantor sedang duduk didepan bibi dan pamannya. Disebelah pria itu,
ada Santi yang sedang bergelanyut
manja memeluk tangan pria tersebut.
Anisa menunduk meletakkan minuman tersebut dan kembali kedalam. Pria itu yang baru pertama kali melihat anisa, seakan tersihir oleh kecantikan anisa yang menurutnya lebih cantik daripada Sinta pacarnya. Ya, pria itu adalah pacar Sinta yaitu Sandi.
ayah Sinta
"Dia pembantu dirumah ini" Bukan Arya yang menjawab tapi murni istrinya.
"Apa dia tinggal disini juga?" Tanyanya kembali
"Iya dia memang tinggal disini. Dia.."
Ucapan Arya terpotong oleh anaknya
"Ngapain sih tanyain dia. Yang calon
istri kamu kan aku bukan dia" Ujar Sinta kesal.
"Iya maaf, aku cuma penasaran sayang" Rayunya.
"Om sama tante tinggal dulu ya, ada
kondangan dirumah rekan om. Kalian jaga diri baik-baik" Ucap Arya pada anak dan calon mantunya.
Kemudian Arya dan istrinya pergi meninggalkan Santi dan sandi dirumah.
__ADS_1
Selepas kepergian orang tua Santi, mereka berdua bermesraan diruang tamu.
Saat sedang bercengkrama,tiba-tiba Santi merasa mulas dan meminta ijin untuk kekamar mandi sebentar. Sandi pun mengijinkannya.Setelah Santi masuk ke kamarnya, sandi merasa punya kesempatan untuk berkenalan dengan anisa.
Dia masuk kedapur dan mencari gadis itu. Dia melihat anisa yang sedang memasak, menghapirinya dan mulai melancarkan aksinya.
"Manis, boleh kenalan gak?" Tanya
sandi yang sudah berada disamping nisa. Anisa terkejut dengan kedatangannya sehingga membuat anisa langsung bergeser tempat.
"Jangan takut, saya hanya ingin berkenalan denganmu. Namamu siapa manis?" Ucap sandi kembali
"Tolong jangan ganggu saya,nanti Santi marah" Ucap anisa dengan nada takut.
"Dia tidak akan marah jika tidak mengetahuinya.Kamu manis sekali. Saya minta nomer kamu ya"Rayu sandi yang terus mendekati anisa.
"Tolong jangan mendekat atau saya teriak!" Anisa mengarahkan pisau yang dia pegang kearah sandi sehingga membuat sandi terhenti.
"Wooww... Galak juga ya, kalau seperti ini kau terlihat semakin menarik manis" Sandi masih terus mencoba merayu anisa. Tapi anisa tetap mengarahkan pisaunya pada sandi.
Saat sandi ingin merebut pisau itu, suara Santi terdengar mencarinya. Diapun mengurungkan niatnya dan kembali ke ruang tamu menemui sang kekasih.
"Kamu dari mana sih, aku cariin juga" Ucap Santi kesal
"Aku tadi cari toilet, kebelet. Kalo nunggu kamu kelamaan. Kita jalan aja yuk, ke mall atau kemana" Sandi menutupi kelakuannya dengan mengajak sang kekasih pergi keluar.
"Oke, aku ambil tas sebentar. Kamu tunggu dimobil aja" Ucap Santi yang kembali ke kamarnya untuk mengambil tas. Sandi pun keluar dan menunggu kekasihnya dimobil.
Anisa bernafas lega saat Sinta memanggil pria itu sehingga dia bisa terlepas dari gangguan pria tersebut.
Anisa kemudian kembali melanjutkan
masaknya yang tadi sempat tertunda karna pria itu.
Setelah menyelesaikan masaknya, anisa masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya. Dengan memandangi atap kamar,dia merenungkan nasibnya.
Entah sampai kapan dia akan seperti ini,
mungkin seumur hidupnya akan bernasib seperti ini jika tetap berada dirumah pamannya. Lamunannya membuat dia tertidur begitu lelap.
Dia terbangun ketika suara bibi murni terdengar memanggil-manggil namanya. Anisa terbangun dengan panik, bagaimana tidak. Dia tertidur dengan lelap melupakan jemuran yang belum sempat dia angkat sedangkan hujan turun begitu lebatnya.
Dia kemudian berlari membuka pintu kamarnya mendapati bibinya sedang berkacak pinggang menunggu anisa membuka pintu.
"Enak ya bersantai didalam kamar dengan pintu terkunci? Gak dengar diluar hujan turun? Kamu membiarkan bajuku basah semua. Kamu sengaja hah?!"Bi murni
menunjuk anisa dengan nada marahnya.
__ADS_1