GADIS DESA DAN CEO GANTENG

GADIS DESA DAN CEO GANTENG
Eps 23


__ADS_3

Anisa yang tidak tau bahwa dirinya sedang diincar oleh kekasih dari sepupunya itu, masuk ke kamar tanpa mengunci pintu. Anisa kemudian bergegas masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang


kotor karna air juice tadi.


Beberapa saat kemudian,anisa keluar dari


kamar mandi dan berganti pakaian. Sandi yang merasa aman,memulai aksinya dengan mencari anisa. Saat memasuki dapur, dia tidak melihat anisa disana dan dia melihat ada sebuah pintu didekat dapur.


Sandi berfikir bahwa itu adalah kamar tidur


gadis yang sedang dia cari. Saat membuka pintu ternyata pintu tidak dikunci. Dia masuk dan melihat anisa sedang menyisir rambutnya. Anisa yang mendengar pintu dibuka, kaget ternyata itu adalah sandi kekasih Sinta.


"Ngapain kamu kesini?" Anisa mulai merasa tidak enak.


"Ssstt... Jangan takut, aku gak akan nyakitin kamu kok" Sandi menutup pintu itu dan mulai berjalan kearah anisa.


"Jangan mendekat!!"Anisa mulai ketakutan.


"Ayolah manis, aku hanya ingin mengajak bersenang-senang dengamu" Goda sandi.


"Saya bilang jangan mendekat!" Anisa mundur dengan berlahan.


"Jangan sok suci kamu manis,aku yakin kamu akan suka denganku setelah ini" Sandi terus melangkah berlahan mendekati anisa.


"Aku bilang jangan mendekat, atau aku teriak" Anisa terus mundur menghindar dari sandi.


"Kalo kamu teriak, kamu yang akan mati sayang" Ucap sandi. Anisa yang tak bisa mundur lagi karna terhalang tembok dibelakangnya, semakin panik dan ketakutan.


"Saya mohon jangan sakiti saya" Anisa memohon.


"Kita hanya akan bersenang-senang sayang, kamu tenang aja" Sandi mulai menyentuh wajah anisa tapi anisa selalu menepisnya.


"Aku mohon jangan sakiti aku" Kata anisa yang mulai menangis. Sandi tidak menghiraukan ucapan anisa, dia semakin mendekatkan dirinya pada gadis itu.


"Tidak ada gunanya kamu memohon sayang. Aku tidak akan melepaskanmu" Kata sandi. Sandi memegang kedua tangan anisa


dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah anisa. Dia menyeret anisa keatas ranjang sehingga posisi anisa berada dibawah sandi.


Dengan tatapan liar, sandi mencoba mencium bibir ranum anisa. Namun,


berkali-kali mencoba, sandi terus gagal karna gadis itu terus memberontak dan


menghindarinya.


"Jangan.... " Anisa terus memohon.

__ADS_1


"Sial, kau semakin menarik jika terus jual mahal begini sayang" Sandi terus mencoba mencium anisa. Sinta yang tidak melihat kekasihnya mencoba mencarinya kearah kamar mandi namun tidak ada. Dia mendengar suara pria yang tidak asing dari kamar anisa. Sinta pun membuka kamar tersebut tanpa permisi dan melihat sesuatu yang tidak dia duga sebelumnya.


"Aaaakkkhhhhh... Apa-apaan kalian hah??!" Sinta berteriak histeris saat melihat kekasihnya berada diatas tubuh anisa.


"Sayang, dia yang menggodaku" Sandi bangkit dan menghampiri Sinta.


"Kamu keterlaluan sandi. Aku kurang apa dimatamu? Kenapa kamu bermain dengan pembantu itu!" Ucap Sinta emosi.


"Sayang dengerin aku, dia yang menggodaku sayang.Aku gak mungkin duain kamu. Percaya sama aku" Sandi terus mengelak.


"Kamu gak bohong kan?" Tanya Sinta


penuh selidik.


"Aku gak mungkin bohongin kamu sayang.Aku digoda" Kata sandi meyakinkan.


"Kamu!! Dasar wanita ****** Berani-beraninya kamu godain cowoku!" Sinta mendekati anisa yang duduk terisak di tepi ranjang


"Enggak, bukan aku,bukan aku" Anisa menjawab sembari menggelengkan kepalanya. Plaakkk... Sinta menampar pipi anisa dengan keras.


"Bohong kamu.Dasar wanita ****** Murahan!"Ucapnya. Sinta menambah rambut anisa dengan keras sampai anisa meringis


kesakitan.


"Sakit sin... Lepasin" Ucap anisa


"Ada apa ini?" Tanya Arya yang baru pulang bersama istrinya.


"Sinta,lepasin rambut anisa. Kamu apa- apaan kamu." Arya melepaskan tangan anaknya dari rambut anisa.


"Pah, dia itu ******. Dia menggoda dan mau merebut sandi dariku" Kata Sinta pada ayahnya.


"Apa benar yang Sinta katakan anisa?" Tanya Arya pada anisa.


"Engga paman, anisa gak pernah ada niatan menggoda apalagi merebut pria itu. Dia yang tiba-tiba datang kekamar anisa" Anisa terus mengelak karna memang dia tidak bersalah.


"Dia bohong om, tadi dia yang menggoda saya Om,"Elak sandi.


"Dia bohong paman, dia bohong, dia yang jahat paman" Anisa terus menangis terisak.


"Sandi tidak mungkin berbohong, pasti dia pah yang menggodanya,"Ujar Sinta.


"Aku juga percaya sama sandi, pasti ****** ini yang menggoda," Ujar bi murni yang ingin memukul anisa tapi sangat suami menghalanginya.


"Dia harus keluar dari rumah ini. Biar dia jadi gembel sekalian,"Sambung bisa murni.

__ADS_1


"Udah, kita selesaikan diruang tamu. Ayo,"Ajak paman arya melerai


"Gak bisa. Dia harus dihukum pah. Dia udah nikung aku!" Ujar Sinta yang kembali menjambak rambut anisa.


"Sinta cukup! Kita selesaikan diruang tamu," Paman Arya membentak sang anak yang terus saja ingin menjambak anisa. Mereka semua akhirnya keluar menuju ruang tamu.


"Bagaimana bisa kalian berada di satu kamar?" Tanya Arya.


"Dia yang masuk ke kamar anisa paman,"Jawab anisa.


"Tidak om, saya sangat mencinti Sinta. Mana mungkin saya mengkhianati Santi demi seorang pembantu," Elak sandi.


"Aku percaya sama sandi, gak mungkin dia berani khianatin aku pah,"Ujar Sinta membela.


"Mama juga percaya sama sandi. Pasti dia yang keganjenan," Ucap bisa murni. Anisa yang tak punya keberanian untuk melawan, hanya diam tanpa melawan. Karna baginya percuma mengelak, tidak akan ada yang percaya dengannya.


"Pokoknya, aku gak mau lagi melihat dia ada dirumah ini!" Ucap Sinta.


"Ayo, kamu keluar aja dari rumah ini. Aku gak sudi nampung kamu lagi dirumah ini," Bi murni bangkit dan menarik tangan anisa dengan kuat dan mendorong anisa keluar rumah.


"Mah, udah mah. Biarin anisa tetap disini. Dia ponakanku, anak dari kakak kandungku. Kamu harus hargai dia murni," Ucap Arya pada istrinya.


"Kalo kamu terus ngebela dia, kamu keluar aja dari rumah ini. Lagian, rumah dan semua yang kamu punya atas namaku, jika kamu mau jadi gembel juga keluar aja dari rumah


ini!" Bi murni memarahi suaminya yang terus saja membela anisa.


"Tapi mah, kasian anisa. Dia mau tinggal dimana kalau keluar dari sini?" Timpal Arya.


"Udah paman, anisa tak apa. Biar anisa pergi saja dari sini," Ucap anisa.


"Nanti kamu mau tinggal dimana sa? Ini udah mau malam. Kalo mau pergi besok aja ya. Jangan dengerin bibi kamu," Kata pamannya.


"Tak apa paman, anisa bisa tidur dimana aja," Ucap anisa lagi. Santi keluar dari dalam rumah membawa barang-barang anisa dan


melemparnya ke lantai.


"Pergi lo! Jangan pernah injakan kaki lo lagi dirumah ini! Gak sudi aku saudaraan sama kamu!" Bentak Sinta


"Cepat pergi! Atau mau aku seret kamu sampai tengah jalan hah!" Bi murni mendorong anisa sampai terjatuh lagi.


"Mah, tolong jangan kaya gini mah. Kasian anisa," Paman Arya memohon pada istrinya.


"Udah. Papa gak usah belain dia terus!" Bentak bi murni pada sang suami. Arya yang tak bisa membantah ucapan istrinya, hanya diam menatap anak ponakannya yang mulai bergi meninggalkan rumah itu.


"Ayo masuk rumah. Jangan hiraukan dia lagi," Ajak murni pada suaminya. Mereka pun masuk kedalam rumah. Sedangkan anisa berjalan semakin jauh menyusuri jalanan yang mulai gelap.

__ADS_1


"Aku harus kemana sekarang?"Lirih anisa pada dirinya sendiri. Anisa menjinjing tas berisi pakaian dengan terus melangkah tanpa tujuan.


__ADS_2