
Mentari pagi bersinar dengan cerah menembus tirai dikamar reyhan. Membuat pria itu bangun dari tidurnya. Dia bangkit dan segera membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai berpakaian, reyhan mengambil jas dan tas kerjanya lalu turun kebawah. Dibawah sudah ada orang tuanya dan juga sesil adik perempuannya yang sedang bersiap untuk sarapan.
"Pagi rey" Sapa rina pada sang anak
"Pagi juga" Jawab reyhan singkat. Kemudian reyhan berlalu tanpa ikut sarapan dimeja makan.
"Rey, sarapan dulu nak" Ujar sang mama
"Nanti aja" Jawabnya singkat. Dan berlalu meninggalkan rumah.
"Sampai kapan kakak kaya gini si mah, pah. Sesil kangen sarapan bareng sama kakak kaya dulu. Sesil kangen dijahilin kakak lagi. Sesil kangen kakak yang lembut kaya dulu"
Ucap sesil yang sedih setiap kali melihat kakaknya bersikap begitu cuek pada keluarganya.
Sesil yang memang selalu dimanja oleh kedua orang tuanya dan juga kakaknya membuat dia tumbuh menjadi perempuan yang manja tapi angkuh dan sombong.
Tapi dibalik semua itu, dia adalah perempuan yang lemah lembut. Dia berubah setelah sang kakak keluar dari rumah
meninggalkan dia bersama keluarganya.
"Sabar ya, kakak kamu masih butuh waktu buat sendiri" Ucap sang papa.
"Ini semua gara2 kalian. Kalau kalian merestui kakak dengan kak shela dulu, pasti kak Rey ga akan kaya gini sekarang" Ucapan sesil membuat kedua orang tuanya naik pitam.
"Sesil! Jaga ucapanmu!" Ucap sang papa
"Sesil benci sama papa, sesil benci sama mama,sesil benci semuanya" Sesil menggebrak meja dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
"Anak itu bener-bener! Ini semua karna mama, mama yang terlalu memanjakan anak-anak sampai mereka menjadi pembangkang seperti ini!" Andre meluapkan emosinya pada istrinya.
"Kok jadi nyalahin mama si pah,kan papa juga manjain mereka berdua sejak kecil" Rina tidak mau kalah.
"Sudahlah. Papa mau kekantor aja. Lama2 kepala papa pecah dirumah terus" Andre mengambil tas kerjanya dan bangkit meninggalkan istrinya dimeja makan.
"Pah, papa belum sarapan." Rina memanggil suaminya lagi.
Tapi andre tetap berlalu meninggalkan rumah tanpa menghiraukan panggilan istrinya. Sesil yang sudah tidak mood lagi untuk sarapan, kembali ke kamar lalu mengambil tas sekolahnya.
Kemudian turun lagi kebawah untuk pergi kesekolah. Saat diruang tamu, sesil bertemu dengan rina ibunya,tapi dengan cepat sesil melewati sang ibunya tanpa berpamitan.
Sesil membawa mobilnya melaju membelah keramaian ibu kota yang tiap hari padat dan penuh kemacetan. Sedangkan reyhan baru saja tiba di sebuah restoran miliknya yang tak jauh dari kantor, dia memesan makanan untuk sarapan di ruang pribadinya.
Ya, reyhan memang selalu sarapan di restoran miliknya tersebut selama kembali ke tanah air. Dia tidak pernah sekalipun ikut sarapan dirumah.
Selain makan diluar bersama orang lain yang ikut makan dengan keluarganya, reyhan tidak akan mau makan semeja dengan keluarganya itu. Rasa benci dan sakit hati dimasa lalu terhadap orang tuanya belum bisa dia lupakan.
Meskipun dia mau tinggal bersama keluarganya lagi. Setelah selesai makan, dia memesan sandwich dan air putih untuk dikemas. Semua pelayan heran
dengan sikap atasannya itu.
Rumornya kali kedua dia meminta dibungkuskan makanan untuk dibawa kekantor setelah kemarin disalah satu restoran disebrang kantornya dengan alasan tidak ingin ribet.
Padahal bisa saja dia menelfon pelayan restoran untuk mengantarkan makanan ke kantornya langsung.
__ADS_1
"Buatkan sandwich 4 potong dan air mineral untuk saya bawa kekantor" Perintahnya kesalah satu pelayan restoran itu.
"Baik tuan. Apa ada lagi?" Tanya pelayan?
"Untuk makan siang nanti,tolong bawakan saya makanan yang sehat ke kantor saya" Lanjutnya.
"Baik tuan.Saya segera siapkan" Pelayan tersebut kemudian undur diri dari hadapan reyhan.
Tak menunggu lama, makanan yang
reyhan inginkan datang. Reyhan menenteng paperbag itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Sesampainya dikantor,Rendi sudah menantinya didepan pintu masuk.
"Pagi tuan" Sapa Rendi
"Pagi.Apa ada sesuatu?" Tanya reyhan.
"Ada tuan" Jawab Rendi
"Oke.kita bicara diruangan ku" Reyhan terus berjalan menuju ruangannya sendiri diikuti oleh Rendi dibelakangnya.
Setiap karyawan yang berpapasan hanya bisa menunduk memberi hormat tanpa berani menyapa. Sesampainya di dalam ruangan, Reyhan melihat anisa yang sedang membersihkan ruangannya.
Tanpa menghiraukan keberadaan anisa, Reyhan duduk dikursi kebesarannya sedangkan Rendi berdiri tak jauh dari meja Reyhan.
"Laporkan" Titah Reyhan. Anisa yang melihat bos dan asistennya yang terlihat sedikit tegang, merasa tidak pantas berada
diruangan itu sehingga dia pamit untuk keluar. Saat baru menyentuh handle pintu,
suara Reyhan menghentikannya.
membuka pintu untuk segera ke pantri.
"Bagiin tuan, ada yang berbuat curang diproyek kita sehingga pembangunan proyek terhambat.Ada yang menilep dana untuk pembangunan mall tersebut" Jelas Rendi
"Korupsi? Siapa?" Tanya Reyhan.
"Saya masih menyelidikinya tuan. Karna orang tersebut sangat pintar menyembunyikan kelicikannya." Ujar Rendi kemudian.
"Terus selidiki. Jangan hanya berfokus pada pemegang dana.Tapi selidiki juga semua karyawan dibawahnya" Titah Reyhan
"Baik tuan. Akan segera saya selidiki" Ujar Rendi
"Cepat selesaikan masalah ini dan bawa orangnya kehadapan saya. Beraninya main-main dengan saya!" Ucap Reyhan mengepalkan tangannya diatas meja.
Saat yang bersamaan anisa datang membawa secangkir kopi dan meletakkannya didepan reyhan. Reyhan hanya melirik sekilas dan kembali berkata.
"Kau tetap pantau dan selidiki masalah ini. Saya masih mengurus proyek papa" Ujar Reyhan
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi"
Pamit Rendi. Rendi keluar dari ruangan Reyhan diikutin oleh anisa. Namun saat baru sampai dipintu, Reyhan memanggilnya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?" Tanya Reyhan tegas.
__ADS_1
"Rendi dan anisa sama2 berhenti dan
berbalik menghadap reyhan karna mereka tidak tau siapa yang mereka maksud oleh bosnya.
"Ren,keluar" Ucap Reyhan. Asistennya itu pun akhirnya keluar. Dan kini tinggal anisa yang berdiri sendiri memegang nampan dengan sangat erat.
"Apa kau tidak tidur semalam?" Tanya Reyhan
"Saya? Saya tidur tuan" Jawab anisa
"Saya paling tidak suka dibohongi"
Ucap Reyhan menyenderkan tubuhnya pada kursi yang sedang dia duduki.
Anisa hanya diam, mengapa bosnya begitu teliti dengan penampilannya, padahal pagi tadi sebelum berangkat, anisa sudah berusaha menyembunyikan sembab di mukanya dengan bedak tabur batin anisa.
Karna tidak mendapatkan jawaban
dari gadis itu, Reyhan bangkit dan
menghampirinya.
"Duduklah" Titahnya. Tapi anisa masih tetap berdiri melihat kearah bosnya dengan tatapan bingung.
"Saya bilang duduk!" Ucapnya sekali
lagi dengan nada sedikit keras membuat anisa bergegas mengikuti perintahnya.
"Makan" Ucap Reyhan singkat. Aniss
tidak bergeming dari tempat duduknya.
"Apa kamu tuli? Saya perintah kamu
makan bukan diam!" Sekali lagi ucapan Reyhan yang tegas membuat nisa merasa ketakutan.
"Sa-saya belum lapar tuan" Jawab anisa.
"Makan atau saya pecat?!" Ancaman Reyhan membuat anisa menuruti kata-katanya dan segera membuka bungkus makanan itu. Anisa memakan sandwich yang Reyhan bawa dengan hati-hati.
"Habiskan semuanya" Ucapnya dan hanya dijawab anggukan oleh anisa. Aniss memakan semua sandwich yang ada dan meminum minuman tersebut.
"Kemarilah" Titah Reyhan diikuti oleh anisa.
"Beristirahatlah. Jangan keluar dari ruangan ini jika saya belum memanggil" Reyhan membuka satu ruangan yang selama ini tidak boleh dibuka oleh anisa.
Dan anisa tercengang melihat didalamnya yang ternyata sebuah kamar yang sangat bersih. Anisa masuk melewati bosnya yang berdiri diambang pintu.
"Ini kamar?" Tanya anisa polos
"Kamu pikir ini gudang?" Tanya Reyhan balik.
"Tapi tuan, bagaimana kalau saya ingin ketoilet kalau ga boleh keluar dari sini?" Tanya anisa.
"Ada kamar mandi didalam lengkap dengan bathtub. Jika kau ingin mandi, kau bisa gunakan itu" Jelas Reyhan.
__ADS_1
"Tapi, apa tidak apa saya disini tuan? Kalau tuan membutuhkan bantuan?" Tanya anisa kembali.
"Tidak usah banyak tanya. Tidurlah. Akan saya bangunkan jika saya butuh" Jawab Reyhan kemudian menutup pintu tersebut.