
Jam menunjukan pukul empat sore, anisa yang melihat bosnya bersiap untuk pulang, segera menghampirinya dan mengutarakan maksudnya.
"Maaf tuan, saya ingin bicara sebentar" Ucap anisa
"Ada apa?" Tanya Reyhan cuek
"Bisakah saya tetap bekerja walaupun tangan saya terluka?" Tanya anisa dengan sedikit rasa takut
"Kenapa kamu kekeh ingin tetap bekerja dalam kondisi seperti itu?" Reyhan bertanya
"Saya butuh kerjaan ini tuan, saya janji akan tetap bekerja semaksimal mungkin. Tapi tolong biarkan saya tetap masuk kerja" Anisa memohon kepada bosnya. Reyhan terlihat berfikir sejenak. Lalu menyetujui permintaan anisa.
"Baiklah,kami tetap masuk tapi tidak untuk bekerja seperti biasa" Ucap Reyhan.
"Benarkah? Terimakasih tuan, terimakasih. Saya siap bekerja apapun yang penting saya tetap disini" Ucap anisa senang.
"Sudah, sekarang pulanglah.Ini ongkosmu" Reyhan memberikan beberapa lembar uang 100 ribuan yang memang sengaja dia simpan didompet jika sewaktu-waktu membutuhkannya.
"Terimakasih tuan. Terimakasih banyak. Tapi uang ini terlalu gede, ongkos naik bus cuma 5ribu tuan" Anisa ingin menolak pemberian bosnya.
"Tak apa, simpanlah untuk keperluanmu. Untuk membeli obat juga" Ucap reyhan.
"Terimakasih banyak tuan.Semoga kebaikan tuan dibalas dengan kebaikan yang lain" Ucap anisa penuh syukur karna memiliki bos yang walaupun terlihat kejam tapi masih
punya sisi baiknya.
"Saya permisi pulang tuan. Sekali lagi terimakasih" Ucap anisa membungkukan badannya lalu berlalu meninggalkan ruangan
Reyhan.
Sebelum pulang, anisa mampir ke apotik untuk membeli perban dan beberapa keperluan lainnya untuk luka ditangannya. Setelahnya, dia menuju halte yang tak jauh dari sana.
Saat sedang menunggu bus, anisa melihat sosok yang sangat dia kenali. Sinta, ya dia melihat Sinta akan masuk kedalam mobil mewah berwarna putih bersama seorang pria yang jika dilihat dari tampangnya berumur sama dengan umur pamannya.
Perlakuan pria itu yang begitu mesra dengan Sinta membuat anisa penasaran. Saat ingin mendekati mobil tersebut, bus yang anisa tumpangi datang membuat dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri sepupunya itu.
Anisa kemudian naik kedalam bus yang akan membawanya pulang. Sesampainya dirumah,anisa membersihkan diri lalu mengambil jemuran yang tadi pagi dia jemur.
__ADS_1
Setelahnya membawa kedalam ruang setrika untuk disetrika nanti. Jam menunjukan pukul 17:30 dan anisa harus memasak untuk makan malam keluarga pamannya. Anisa meracik semua bahan masakan dan
memasaknya.
Tangannya yang terluka tidak membuat anisa menjadi malas untuk bekerja. Namun karna luka tersebut, anisa tidak bisa dengan maksimal mengangkat panci yang berisi sup panas sehingga panci itu terjatuh ke lantai dan isinya tumpah semua.
Untung saja anisa bisa menghindari dengan cepat sehingga kakinya tidak terkena sup panas tersebut. Bi murni yang sedang bersantai diruang TV mendengar suara benda jatuh bergegas menghampiri sumber
suara.
Saat melihat lantai yang kotor dan terdapat panci dan sup yang tercecer membuat bi murni marah besar.
"Apa-apaan kamu ini. Kerja aja ga becus" Bi murni berkacak pinggang memarahi anisa.
"Maaf bi, anisa ga sengaja" Ucap anisa. Namun ucapan anisa bukan membuat dingin suasana malah membuat bibi murni tambah marah.
"Kamu pikir beli bahan makanan ini
ga pake duit hah? Seenaknya buang-buang makanan kaya gini. Aku ga mau tau. Kamu harus ganti semua ini dengan uang dan malam ini kamu tidak boleh makan" Ujar bibi murni dengan nada tinggi.
"Ga butuh janjimu. Kamu pasti punya uang. Kamu kerja kan. Ga mungkin ga punya uang. Apalagi kamu tiap hari naik kendaraan umum pasti uangmu udah banyak." Tuding bibi murni pada anisa.
Lalu bergegas menuju kamar nisa yang berada disamping dapur. Bibinya membuka lemari anisa dan menemukan beberapa lembar uang 100ribuan dibawah bajunya.
"Ini dia. Ternyata kamu diam-diam punya banyak uang ya. Dari mana kamu dapat uang segini banyaknya? Atau kamu ngejual diri?" Tuduh bibinya
"Jangan bi, itu buat beli obat dan perban anisa. Anisa mohon jangan diambil semua" Anisa memohon pada bibinya.
"Enak aja kamu. Ini buat ganti sup yang tadi. Dan inget kamu disini juga harus bayar. Dari dulu kamu udah aku bebasin buat ga bayar tapi sekarang kamu harus bayar jika ingin tetap tinggal disini" Ucap murni pada
ponakannya.
"Bi, anisa mohon sisakan selembar untuk anisa bi, anis ga punya uang lagi selain itu. Anisa mohon" Anisa bersimpuh memohon dikaki bibinya berharap sang bibi menaruh simpati dan bemberinya sedikit uang. Tapi apa yang anisa lakukan hanyalah sia-sia karna sang bibi tidak menghiraukannya.
"Denger! Kamu disini cuma numpang. Dan udah saatnya kamu balas budi dengan memberiku uang sebagai ganti rugi uang yang udah suami saya keluarkan untuk
membiayaimu sekolah dan makan disini. Cepat siapkan makan malam. Dan kamu ga ada jatah makan malam ini. Satu lagi. Jangan sampai kamu mengadu pada pamanmu kalau aku melakukan ini padamu. Kalau sampai itu terjadi, kamu akan tau akibatnya" Bibi murni menghempaskan kakinya membuat anisa terjatuh.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan keponakannya yang tersungkur ke lantai, bibi murni keluar dari kamar anisa dan pergi menuju kamarnya.
Anisa yang tak bisa berbuat apa2 dengan tingkah bibinya hanya menangis terisak.
Anisa bangkit dan mengelap air mata di pipinya saat teringat bahwa dia harus cepat
menyelesaikan masakannya jika tidak ingin terkena amarah bibinya kembali.
Anisa kembali ke dapur membereskan kekacauan yang ada dan melanjutkan masaknya. Setelah semua masakan terhidang dimeja makan, anisa kemudian pergi ke kamar.
Dia tidak ingin menimbulkan banyak pertanyaan jika sampai pamannya melihat tangannya yang terluka. Anisa merebahkan tubuhnya diatas ranjang kecilnya.
Berniat mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya. Tak terasa anisa tertidur karna saking lelahnya. Anisa terbangun saat Sinta mengguyur tubuhnya dengan air dingin mengagetkan anisa.
"Enak banget ya jam segini tiduir.Lo lupa kerjaan lo masih numpuk hah?!" Ucap Sinta marah.
"Maaf, aku ketiduran" Jawab nisa sambil merapihkan rambutnya yang berantakan karna air itu.
"Maaf maaf, gue ga butuh maaf lo. Cepat sekarang lo setrika baju gue semuanya. Gue mau pake besok pagi" Ucap Sinta kemudian.
"Iya, aku setrika sekarang. Tapi aku mau ganti baju dulu, bajuku basah" Jawab nisa
"Udah berani ngejawab sekarang ya, sekarang juga cepat setrika ini baju gue" Ucap Sinta.
"Iya" Anisa bangkit dan keluar kamar
menuju tempat khusus setrika tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.
Disana sudah ada dua keranjang besar berisi pakaian yang harus anisa setrika. Setengahnya sudah anisa setrika tapi bibi dan sepupunya itu sengaja memintanya untuk disetrika ulang.
Anisa tidak bisa menolak ataupun membantah, dia kemudian menyetrika pakaian itu satu persatu. Jam menunjukan pukul sepuluh malam dan anisa belum juga menyelesaikan pekerjaanya.
Sesekali anisa menguap merasakan kantuk
yang mulai menyerang. Dia bangkit menuju dapur dan membuat segelas kopi panas untuk menghilangkan kantuknya.
Setelah itu, dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Pukul dua belas malam anisa baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Setelahnya,dia bergegas kekamar untuk beristirahat.
__ADS_1