
"Maaf bi, anisa ketiduran. Anisa angkat jemurannya dulu bi.Permisi" Anisa berlalu meninggalkan bibinya begitu saja membuat bibinya semakin geram dengan anisa.
"Dasar anak pembawa sial" Geram bi
murni.
Dengan berkacak pinggang, bi murni melihat anisa yang melewatinya begitu saja dengan membawa pakaian basah karna kehujanan. Anisa berniat untuk meletakkan pakaian itu kedalam keranjang untuk dicuci kembali besok pagi.
Bi murni melihat ponakannya yang hanya meletakkan tanpa mencucinya kembali, langsung mendekatinya dan memarahi anisa.
"Ngapain ditumpuk disitu? Cuci semuanya sekarang" Titah bi murni
"Tapi bi, ini udah malem. Besok pagi saja anisa cuci kembali pakaiannya" Ujar anisa
"Kamu udah mulai berani membantah ya" Bi murni berkata sambil menarik kuat rambut anisa.
"Aww.. Sakit bi sakit, maaf bi" Anisa merintih kesakitan.
"Rasain kamu. Ini akibatnya kalau kamu ngebantah perintahku" Bi murni tetap menarik rambut anisa tanpa memperdulikan rintihan itu.
"Iya anisa cuci sekarang, tapi tolong lepasin rambut anisa bi, sakit" Anisa terus memohon. Bi murni mendorong anisa sampai terjatuh dilantai.
"Cuci sekarang sampai bersih dan kamu tidak mendapatkan makanan malam ini" Ujarnya sembari meninggalkan anisa sendirian.
Anisa mengambil pakaian itu dan merendamnya didalam air. Sebenarnya ada mesin cuci dirumah bi murni, tapi anisa tidak pernah diperbolehkan memakainya.
Dia harus mencuci semua pakaiannya menggunakan tangan termasuk ketika
mencuci pakaian keluarga itu.
Dengan kondisi tubuhnya yang basah akibat kehujanan saat mengambil jemuran tadi, anisa tetap mencuci dengan deraian air mata yang mulai turun membasahi pipinya.
Larut malam,anisa baru selesai mencuci. Dia masuk kekamar dan mengganti pakaiannya yang basah. Kemudian dia kembali tidur.
Mentari pagi kembali bersinar, menandakan hari sudah berganti.
Pagi ini anisa bangun terlambat, dengan terburu-buru dia hanya memasak beberapa menu sederhana untuk mempersingkat waktu.Setelah selesai masak, anisa menghidangkan masakannya diatas meja makan. Semua orang sudah berada diruang
makan.
"Ngapain aja kamu dari tadi? Jam segini baru masak?" Tanya bi murni.
"Anisa bangun kesiangan bi" Jawabnya
"Halah.. Palingan sengaja bangun siang biar kita ga sarapan" Santi menyela dengan sinis.
"Udah, jangan berdebat. Mungkin anisa kelelahan jadi bangun terlambat.Iya kan nis?" Arya sang paman berusaha menengahi mereka.
__ADS_1
"Udah deh mas, gak usah belain dia. Dasarnya ponakanmu itu pemalas" Ucap bi murni.
"Udah,anisa kamu masuk aja kedalam."Ujar Arya kembali.
"Papa terlalu baik sama dia,dia jadi ngelunjak tau pa. Dia sekarang udah berani ngebantah gara-gara papa belain dia terus" Ujar Sinta dengan kesalnya.
"Sinta,dia masih saudara kamu ya, kamu jangan terlalu keras sama dia. Harusnya kamu yang akur sama dia" Ujar Arya mengingatkan anaknya
"Ogah saudaraan sama dia" Jawabnya
Mereka bertiga mulai sarapan, hanya denting sendok dan piring yang saling beradu.
Sedangkan anisa dengan terburu-buru pergi melalui pintu belakang agar keluarga itu tidak melihat kepergian anisa. Sesampainya dikantor, anisa langsung menuju ruangan bosnya.
"Untung dia belum dateng" Gumam anisa yang bernafas lega karna melihat ruangan itu masih kosong bertanda bosnya belum datang.
Dia mulai membersihkan ruangan itu hingga semua sudut. Namun,saat sedang mengelap meja kerja Reyhan, anisa merasa kepalanya begitu pusing. Dengan sekuat tenaga,dia
berusaha tetap kuat berdiri dan membersihkan meja itu.
Tapi, rasa lemas dan pusing dikepalanya tidak bisa anisa tahan. Anisa pun terjatuh
dan tak sadarkan diri. Reyhan membuka pintu terkejut melihat anisa yang terkulai lemas tidak sadarkan diri dilantai.
Dia mencoba membangunkan anisa tapi
tetap tidak sadar. Dengan sigap, Reyhan membopong anisa kedalam kamar pribadinya dan memerintahkan Rendi untuk
Reyhan duduk ditepi ranjang, menggenggam tangan anisa dan terus mengecek suhu tubuhnya dengan menempelkan tangannya diatas kening anisa.
Beberapa saat kemudian Alesa dokter pribadi Reyhan sampai. Rendi mengantarkan dokter Alesa menemui reyhan.
"Kau sakit apa rey?" Tanya Alesa saat Reyhan membukakan pintu kamar tersebut.
"Bukan saya. Tapi gadis itu. Tolong periksa dia dengan baik" Reyhan menunjuk seorang gadis yang sedang terbaring diatas ranjang.
"Dia siapa?" Dokter Alesa mengerutkan keningnya, dia merasa penasaran dengan gadis yang ada didalam sana.
"Tidak usah banyak tanya.Kerjakan saja tugasmu" Ujar Reyhan.
"Oke, aku akan periksa dia. Kalian tunggu diluar saja" Pinta Alesa. Reyhan menurut, dia dan asistennya keluar dari kamar itu sedangkan Alesa menghampiri anisa setelah
menutup pintu.
"Jadi ini, gadis pengganti shela. Cantik dan manis, dia terlihat lebih polos daripada shela" Alesa berkata dengan senyuman sinis.
Alesa memeriksa anisa dengan baik. Setelah selesai, dia membuka pintu dan mempersilahkan Reyhan untuk masuk.
__ADS_1
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Reyhan.
"Sedikit buruk. Dia terkena gejala tipes. Mungkin karna terlalu sering telat makan atau bahkan jarang makan. Saya sarankan jaga pola makannya, jangan terlalu sering
begadang dan tetap konsumsi makanan yang sehat. O ya,untuk sekarang sebaiknya biarkan dia beristirahat total" Jelas Alesa.
"Baiklah" Jawab Reyhan singkat.
"Yaudah kalo gitu saya pergi dulu" Ujar Alesa hanya dijawab lambaian tangan oleh Reyhan.
"Mari dok saya antar" Rendi menawarkan diri untuk mengantar dokter Alesa.
Dokter Alesa menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan itu.
Reyhan mendekati anisa yang masih terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang.
Reyhan terus memandangi wajah polos anisa yang terlihat pucat. Lama sudah Reyhan duduk menunggu anisa sadar dan akhirnya anisa membuka matanya.
"Aku dimana?" Tanya anisa yang masih belum sadar sepenuhnya. Tangannya terus memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Di akhirat" Jawab Reyhan singkat.
"Ja-jadi aku udah mati? Tapi kok ada kasur? Terus kok tuan ada disini??" Anisa yang masih belum sepenuhnya sadar langsung percaya dengan ucapan Reyhan.
Reyhan tak bergeming dari tempatnya melihat anisa yang masih saja bingung.
"Tapi ini kaya kam... ar tu...Tuan bohongin aku?? Ini kan dikamar tuan Reyhan" Anisa melihat sekelilingnya baru tersadar bahwa dia sudah dikerjai oleh bosnya itu.
Reyhan berniat meninggalkan anisa dikamar tersebut tapi saat mendengar anisa mengaduh, Reyhan membalikan badannya dan melihat anisa yang terjatuh.
"Aduh.." Keluh anisa
"Jangan sok kuat kalau masih sakit. Istirahat saja disini" Ucap reyhan seraya membantu anisa kembali berbaring.
"Tapi saya udah sering tidur disini. Kerjaan saya jadi terganggu. Saya gak mau makan gaji buta. Terus saya juga gak mau jadi bahan gosip dikantor ini" Ucap anisa.
"Ini kantor saya, saya yang menggaji kamu jadi terserah saya mau ngasih perintah apapun ke kamu. Dan siapa yang berani bikin gosip dikantor ini?" Reyhan masih terus menatap anisa, menantikan jawabannya.
"Emm..Saya cuma merasa takut aja tuan" Ucap anisa.
"Tidak usah memikirkan omongan orang lain. Istirahatlah" Reyhan kemudian pergi meninggalkan anisa. Anisa tersenyum senang, entah itu hanya perasaan dia yang terlalu percaya diri atau memang benar
bosnya memberikan perhatian yang lebih.
Terlintas bayangan Reyhan yang cemas saat dia terjatuh tadi.
"Tidak, tidak, sadar anisa sadar. Dia gak mungkin suka sama kamu.Kamu itu jangan seperti pungguk yang merindukan bulan Sa. Sadar." Anisa menggelengkan kepalanya,
__ADS_1
membuyarkan segala dugaan yang menurutnya tidak mungkin terjadi.
Anisa sadar dia siapa. Tidak mungkin seorang Reyhan memilih anisa. Anisa terus menepis segala kemungkinan yang tidak mungkin dia gapai. Anisa pun mencoba untuk tidur,setelah sebelumnya Reyhan mengirimkan makanan untuk dimakan.