GADIS DESA DAN CEO GANTENG

GADIS DESA DAN CEO GANTENG
Eps 7


__ADS_3

"Makanlah" Ucap Reyhan yang tetap fokus dg layar laptopnya.


Anisa masih terdiam dan menoleh kearah bosnya dengan tatapan bingung.Merasa tidak ada jawaban dari nisa, Reyhan mengalihkan tetapannya ke nisa yang juga sedang melihat kearahnya.


"Kenapa malah menatap saya? Saya tau saya tampan, tapi jangan harap saya akan tergoda olehmu" Reyhan berkata masih sambil melihat kearah anisa.


"ish siapa juga yg mau godain dia, dasar gila" Gumam nisa mencebikan bibirnya


"Ga usah ngatain saya, cepat makan setelahnya kamu boleh pulang lebih


awal" Kata Reyhan kembali.


"Makan? Ini? Ini untukku?" Tanya nisa bingung sambil menunjuk ke arah makanan yang ada didepannya sambil tetap melihat kearah sang bos.


"Ya."Jawab Reyhan singkat. Anisa masih tetap diam mematung bingung harus bagaimana. Apakah harus dimakan atau harus menolaknya. Jujur saja, perutnya


memang sangat lapar karna hanya makan di pagi hari itupun sisa dari keluarga bibinya.


Sedangkan uang dari reyhan dia pakai buat membantu gadis yang dia temui di restoran tadi. Tapi, dia juga gengsi kalau harus makan makanan yang bosnya berikan itu.


Melihat nisa yg hanya memandangi makanan itu, reyhan berjalan menghampiri nisa dan duduk tepat disamping nisa. Anisa masih tidak bergeming dengan lamunannya, dia sadar setelah suara reyhan terdengar dekat ditelinganya.


"Kenapa masih belum dimakan?" Tanya reyhan kepada nisa.Anisa menoleh, seketika tatapan mereka bertemu,tapi reyhan cepat2


memalingkan pandangannya ke arah lain.


"A-aku masih kenyang, kan tadi udah makan" Jawab nisa gugup Krrruuukkkk...krruukkkk...


"Katanya udah kenyang,kok cacingnya bunyi?" Reyhan terkekeh mendengar perut nisa yang berbunyi cukup keras. Nisa memalingkan mukanya menutupi pipinya yg


memerah karna malu.


"Duh perutt ga bisa diajak kompromi bnget si, aku kn jdi malu gini" Gumam anisa.


"Udah cepet makan, bentar lagi saya ada meeting. Kamu harus selesai makan sebelum saya keruang meeting"Tegas reyhan.


"Saya bisa makan dirumah nanti tuan" Ucap nisa tidak enak hati.


"Kenapa harus nunggu nanti? Sedangkan perutmu udah minta diisi dari tadi" Ucap reyhan kembali.

__ADS_1


"Tapi.. " Ucapan nisa menggantung terpotong oleh kata2 reyhan.


"Makan atau kamu harus tinggal dikantor ini sendirian" Reyhan kembali menegaskan.


Nisa membayangkan gelapnya malam


dikantor sebesar ini sendirian, dia mulai membayangkan yang aneh2 seperti hantu dan kuntilanak yang datang berkeliaran saat dia berasa dikantor ini. Nisa bergidik ngeri


membayangkan itu semua membuat Reyhan menatap bingung.


"Kenapa kamu? Ngebayangin tidur disini bareng kuntilanak?" Cibir reyhan.


"Enggak, yaudah aku makan" Ucap nisa gugup.


Lalu dengan cepat anisa memakan makanan didepannya dengan lahap.Reyhan yang melihat begitu lahapnya anisa, tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Dasar bocah aneh,katanya ga lapar tapi makannya rakus gitu" Batinnya Anisa selesai makan dan meneguk air minum yang ada digelas sampai habis.


"Sudah selesai?" Tanya Reyhan,


"Sudah tuan,terimakasih banyak" Jawab anisa dengan menahan malu.


Karna tanpa disadari,dia telah memakan semua makanan yg ada didepannya tanpa sisa sedikitpun.


ditangannya sudah menunjukan jam 4 sore.


"Baik tuan, sekali lagi terimakasih untuk makanannya. Saya pamit pulang" Anisa berdiri dan berpamitan pada sang bos.


"Ya.."Jawab reyhan singkat.


Anisa berjalan meninggalkan ruangan itu untuk segera pulang. Anisa setiap hari pulang dan pergi menggunakan kendaraan umum sehingga dia harus berjalan kaki terlebih dahulu menuju halte.


Beberapa saat menunggu akhirnya bisa yang biasa dia tumpangi datang. Sesampai dirumah, anisa melihat sang bibi dg sepupunya sedang mengomel-ngomel tanpa henti.Saat nisa masuk kedalam, mereka berdua langsung berhenti dan menatap tajam ke arah anisa.


"Dari mana aja kamu?" Tanya bibi murni


"Dari luar bi" Jawab nisa


"Saya tau dari luar,tapi darimana? Jam segini kamu belum masak,kami pulang dari luar kota bukannya disambut dg makanan enak malah boro2. Ada makanan juga engga" Ucap bi murni dengan nada marah.

__ADS_1


"Paling dia abis seneng2 diluar. Kesempatan kan ga ada kita dirumah jadi dia bisa seenaknya" Sarkas Sinta dengan nada sinis.


"Aku kerja bi" Jawab nisa dengan nada takut.


"Kerja apaan kamu? Emang siapa yg mau mempekerjakan orang sepertimu?"Sinta masih dengan tatapan sinisnya


"Kerja jadi pelayan" Ucap nisa


"Memang pantas si kamu jadi pelayan" Bibi murni menimpali disambut suara tawa Sinta.


"Baguslah kalo kamu udah kerja,jadi kamu ga jadi gelandangan setelah pergi dr rumah ini" Sambung bibi murni kemudian.


"Udah sana kebelakang, bikinin aku sama mama makanan yg enak, kami sangat lapar" Titah sinta.


Anis berjalan menuju rumah belakang sambil menahan isak tangisnya yg mulai tidak terkendali. Dia masuk kekamarnya yang kecil lalu menutup pintu dan diapun menangis


menumpahkan segala derita yang selalu dia alami.


Beberapa menit kemudian dia teringat harus


memasak untuk keluarga bibinya, dia menghapus air matanya lalu membuka pintu kamar dan pergi menuju dapur. Disana dia mulai mengeluarkan bahan2 yang akan di


masaknya dari dalam kulkas.


Tangan anisa meracik semua bumbu dan


memotong bahan2 itu dengan lihai dan cepat. Setengah jam kemudian semua masakan sudah siap untuk dihidangkan. Anisa lalu menata beberapa menu diatas meja makan.


Tidak lupa juga dia menambahkan puding untuk makanan penutupnya. Setelah semua tersaji dimeja makan, bibi, paman dan Sinta turun untuk menyantap makanan itu setelah sebelumnya sudah dipanggil oleh nisa.


Seperti biasa,anisa tidak pernah makan bersama mereka dimeja makan, dia kembali kekamarnya yang terletak disebelah dapur. Kamar yang kecil bahkan lebih kecil dari ukuran kamar ART tapi anisa tidak mempermasalahkannya karna bagi dia yang terpenting dia masih bisa tidur dengan tenang daripada harus tidur didalam gudang.


Anisa lalu membersihkan tubuhnya yang lengket akibat seharian bekerja tanpa henti.Setelah selesai mandi, dia membereskan meja makan, lalu


memakan apa yg masih tersisa dari meja makan itu untuk sekedar mengganjal perutnya.


Setelahnya, dia mencuci semua piring kotor. Setelah semua beres, dia pergi kekamar lalu merebahkan tubuhnya keranjang yang hanya dialasi oleh kasur tipis. Dia menatap langit2 kamarnya merenungi nasib hidupnya yang begitu buruk.


"Seandainya kedua orang tuaku masih ada, mungkin aku ga akan seperti ini. Aku ga akan sesusah ini. Mah,pah, nisa kangen sama kalian. Kenapa kalian pergi ninggalin nisa sendiri.

__ADS_1


Apa kalian tau bagaimana hidup nisa setelah kalian tinggalin? Kenapa kalian tega membiarkan nisa hidup susah seperti ini. " Batin nisa dengan deraiam air mata yang kian menderas.


Lama anisa menangis di pekatnya malam, membuatnya lelah dan akhirnya tertidur dengan air mata yang mulai mengering di pipinya yang mulus.


__ADS_2