
Reyhan menyeruput kopi yang anisa buat sembari mengecek berkas yang ada diatas meja.
"Tuan," Panggilan anisa. Reyhan mengalihkan pandangannya pada anisa.
"Bolehkah saya meminjam ponsel tuan?" Tanya anisa lagi.
"Untuk apa?" Tanya reyhan.
"Kalau boleh, saya ingin menghubungi sahabat saya tuan,itu kalo tuan ijinkan" Jelas anisa.
"Perempuan?" Tanyanya.
"Iya perempuan tuan," Jawab anisa.
"Ponselmu dimana?" Tanya reyhan lagi.
"Saya,,saya tidak punya ponsel," Ujarnya.
"Dua menit, jangan lebih" Ujar reyhan. Reyhan kemudian mengambil polselnya dari dalam saku jas dan memberikannya pada anisa.
"Terimakasih tuan," Anisa menerima ponsel tersebut dan langsung menghubungi sahabatnya.
"Halo? Siapa ya?" Tanya sindi disebrang telpon.
"Sindi,ini aku anisa," Ucap anisa.
"Anisa? Ya ampun, kamu apa kabar
Akhirnya kamu hubungin aku," Kata sindi.
"Aku baik, kamu apa kabar?" Tanya anisa.
"Aku baik juga Sa, kenapa kamu lama sekali gak hubungin aku? Aku nungguin tau," Ujar sindi.
"Maaf, akku belum beli ponsel. Ini aku pinjem sama bosku," Ujar anisa
"What? Pinjem sama bosmu? Bukannya bosmu itu Reyhan? Yang terkenal kejam itu? Kok bisa pinjem sama dia? Apa gak jadi masalah?" Tanya sindi beruntun.
"Iya, dia baik kok. Ya udah aku mau kerja lagi ya, aku cuma pengen ngobrol dikit aja sama kamu sama mau kasih tau sekarang aku udah gak dirumah paman Arya lagi," Ujar anisa.
"Seriusan kamu? Terus sekarang tinggal dimana?" Tanya sindi.
"Waktu tinggal sepuluh detik lagi" Reyhan mengingatkan.
"Udah dulu ya, aku cuma dikasih waktu sedikit," Ujar nisa pada sang sahabat.
"Ya udah, nanti pulang kerja aku jemput ya, kita ngobrol dulu sebelum pulang,"Pinta sindi.
"Oke, jemput di halte aja ya, bye" Ujarnya
"Oke sa,bye" Jawab sindi. Anisa memarikan sambungan telfonnya dan menyerahkan lagi
ponsel tersebut pada reyhan.
"Makasih banyak tuan," Ujar anisa.
"Ini tidak gratis," Ujar reyhan.
"Jadi, saya harus bayar berapa tuan?" Tanya nisa.
"Bukan itu yang saya mau,"Ucap reyhan.
"Lalu?" Tanya anisa lagi.
"Nanti siang ikut saya," Ucapnya.
__ADS_1
"Kemana?" Tanya anisa.
"Nanti juga tau, kembali kerja saja," Ujarnya kembali.
"Ish dasar, selalu aja bikin penasaran," Gumam anisa.
Anisa kembali mengerjakan pekerjaannya dengan telaten. Sedangkan Reyhan berkutat dengan berkas dan file yang ada didpannya. Sampai akhirnya jam istirahat datang.
Reyhan beranjak dari duduknya, mencari keberadaan anisa yang sudah tak terlihat sejak beberapa menit lalu. Reyhan masuk kedalam pantri dan melihat anisa yang sedang mengambil air minum.
Beberapa karyawan yang melihat reyhan masuk ke pantri langsung berdiri dan menundukan kepalanya dengan hormat.
"Tumben tuan bos datang ke pantri, ini keajaiban banget ya," Ujar salah satu karyawan.
"Iya, biasanya juga tinggal manggil OB kalo butuh apa-apa," Ujar satunya lagi. Reyhan tidak menghiraukan bisikan-bisikan karyawannya.Dia masuk dan memanggil anisa.
"Anisa, keruangan saya," Ujarnya.
"Loh, kok tuan kesini? Kan bisa manggil lewat telpon,"Tanya nisa kaget. Reyhan bukannya menjawab, malah pergi dari pantri tersebut.
"Nis, kok mau-maunya si bos nyamperin kamu kesini? Kamu ada apa-apa ya sama bos?" Tanya salah satu karyawan.
"Iya, kamu ada main sama bos ya? Ngaku kamu?" Ucap satunya lagi.
"Engga mbak, aku juga gak tau kenapa dia sampai nyari kesini," Ujar anisa.
"Alaah, tinggal ngaku aja apa susahnya," Ujar karyawan lainnya.
"Serius mbak, aku gak ada hubungan apapun sama tuantuan reyhan," Anisa meyakinkan.
"Udah, anisa cepat ke ruangan tuan bos. keburu marah nanti,"Ujar atika melerai.
Anisa pun pergi meninggalkan karyawan yang masih saja berbisik. Sesampainya diruangan reyhan, anisa melihat reyhan yang sedang membereskan berkas laporan yang
telah dia kerjakan.
"Kemana tuan?" Tanya anisa.
"Gak usah banyak tanya," Jawab reyhan.
Reyhan bangkit dan keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh anisa. Di luar kantor, sudah ada Rendi yang menunggu disamping mobil. Rendi membukakan pintu mobil untuk
reyhan dan anisa. Mereka pun meninggalkan kantor.
"Sebenarnya kita mau kemana tuan?" Tanya anisa.
"Nanti juga tau sendiri," Ujar reyhan.
"Ish, ditanya baik-baik juga,"Ucap anisa lirih.
Reyhan melirik kearah anisa yang sedang menatap keluar jendela. Senyumnya sedikit mengembang, membuat rendi yang melihatnya lewat kaca mobil ikut tersenyum pula. Mobil mereka berhenti di lobi sebuah
mall besar,Reyhan meminta anisa turun dan mengikutinya.
"Apa tuan ada meeting sama klien disini?" Tanya anisa bingung.
"Tidak," Jawabnya singkat.
"Terus mau ngapain?" Tanya anisa.
"Belanja,"Jawabnya lagi.
"Belanja? Saya baru tau kalo pria yang dinginnya kaya kutub suka belanja juga," Cetus anisa.
"Emang kamu pikir pria gak boleh belanja?"Tanya reyhan.
__ADS_1
"Ya boleh, tapi heran aja," Ujar anisa. Mereka sampai di sebuah toko pakaian khusus wanita.
"Pilihlah sesukamu," Titah reyhan.
"Maksud tuan?" Tanya aniss bingung.
"Pilih baju untukmu," Ucap reyhan.
"Untukku? Maksud tuan? Bukannya tuan yang mau belanja?" Tanya anisa.
"Gak usah banyak tanya.Pilih saja," Ujar reyhan.
"Ini terlalu mahal tuan, biar saya beli sendiri saja dipasar," Ucap anisa ketika melihat harga yang tertera dibaju-baju itu.
"Saya bilang pilih,"Titah reyhan kembali.
"Tapi tuan,," Ucapnya.
"Saya bilang pilih ya pilih," Ucap reyhan lagi.
"Iya, iya tuan,"Jawab anisa singkat.
Anisa memilih satu pakaian yang menurut- nya paling murah disana, lalu membawanya kehadapan reyhan.
"Udah tuan," Ujar anisa.
"Hanya itu?" Tanya reyhan.
"Iya tuan, ini sudah cukup," Ujar anisa.
"Bungkus semua yang sudah dia pegang," Titahnya pada seorang pelayan.
"Kok dibungkus semua? Apa tuan juga mau beli buat kekasih tuan?" Tanya anisa.
Reyhan tidak menjawab pertanyaan anisa, dia keluar dari toko itu setelah membayar- nya. Kemudian reyhan membawa anisa kedalam toko sepatu.
"Pilih yang pas untukmu, minimal tiga pasang," Ujar reyhan.
"Tidak usah tuan, sepatu saya masih layak pakai," Tolak anisa.
"Saya tidak suka dibantah," Ujar reyan lagi.
Akhirnya anisa memilih tiga buah sepatu yang menurutnya cocok dan lebih murah dari sepatu yang lain. Setelahnya, reyhan juga membawa anisa kesebuah toko tas dan
memintanya untuk memilih beberapa tas lagi.
Anisa pun menurut dan memilih dua tas dengan warna yang berbeda. Setelah itu Reyhan pun membawa anisa kebeberapa toko untuk membeli keperluan anisa.
"Tuan, ini terlalu banyak," Ucap anisa yang melihat begitu banyak paperbag yang dibawa oleh rendi.
"Hanya segitu gak akan membuatku bangkrut," Ujar Reyhan.
"Tapi ini namanya pemborosan tuan," Ucap anisa.
"Ini uang saya, suka-suka saya mau buat apa. Jika kamu gak mau memakai barang-barang dariku, biar rendi suruh buang semuanya," Tegas reyhan.
"Maaf tuan. Jangan dibuang," Jawab anisa.
"Makanya diem. Jangan banyak tanya," Tegasnya lagi.
Anisa mengikuti Reyhan tanpa berani mengucapkan sepatah katapun. Sampai akhirnya mereka keluar menuju lobi tempat mobilnya diparkirkan.
Sepanjang perjalanan, anisa hanya melihat keluar jendela. Memandang jalanan ibu kota yang ramai penuh kemacetan. Lagi-lagi reyhan melirik kearah anisa, entah apa yang dia fikirkan.
Namun, senyumnya selalu mengembang setiap melihat wajah cantik gadis itu. Rasa damai dan nyaman saat gadis itu berada didekatnya,masih tidak reyhan sadari.
__ADS_1
"Nona anisa memang gadis yang cocok untuk tuan Reyhan. Aku yakin dia bisa mengembalikan reyhan yang dulu," Batin rendi sembari melirik kearah bosnya lewat kaca mobil.