GADIS DESA MENIKAH DENGAN CEO TAMPAN

GADIS DESA MENIKAH DENGAN CEO TAMPAN
bab :40 ( panen ) happy reading


__ADS_3

"ya udah deh mah, klo berkebun boleh ga?" tanya ku meminta izin


"berkebun?" tanya mama


"iya, kemarin ada beberapa sayuran yang karina tanam, cuma udah lama juga gak keurus,kan sayang mah". ucap ku


"boleh yah ma? "rengek ku


"ya udah! hati-hati yah, jangan terlalu cape. klo misalnya lelah, masuk aja istirahat. dengar kan?" ucap mama


"iya ma". balas ku lalu pergi ke taman belakang.


lalu aku pergi menuju taman belakang, sesampainya di halaman belakang, terlihat beberapa yang sudah tumbuh, dan ada juga yang sudah berbuah, dan untuk sayur-sayuran rata-rata pada siap panen semua.


"wah? sudah berapa lama aku tak kemari, ternyata tanamanku tumbuh semua." gumamku dengan hati gembira


lalu aku masuk kembali untuk mengambil keranjang, untuk tempat menaruh sayuran ku nanti


"loh? katanya mau berkebun, kok balik? apa gak jadi?" tanya mama


"eh enggak kok ma,cuman mau ngambil keranjang untuk menempati sayuran ku nanti". jawab ku


"oh, udah pada siap panen yah?" tanya mama lagi


"iya ma, tapi gak semua lah". ucap ku


"oh... "ucap mama lagi

__ADS_1


"yaudah, nanti klo mama udah selesai masak, nanti mama nyusul". ucap mama


aku hanya mengangguk, memberi tanda bahwa setuju


dengan gembira, sambil bersenandung kan lagu aku mencabut bayam, sawi, dan kangkung tiba-tiba...


"Aaaaa..." jeritku reflek


lalu mama, dan ibu berlari menyusulku


"kenapa rin? "tanya kedua nya panik


"huh..huh..huh..." aku mulai mengatur nafas terlebih dahulu


"ini mah, buk, reflek gara-gara kepegang ulat di sayur ini". ucap ku tak enak, karena membuat dua wanita paruh baya ini panik


"oalah rin..rin.., kepegang ulat aja kok keter sih?9 ucap ibu


"walah, pke acara terkejut segala, dulu waktu dikampung itu kok mainanmu". ucap ibu yang sepertinya sengaja membuka aib ku di depan mertua ku


aku yang malu, kini nunduk tak berani memandang wajah orang yang sudah melahirkanku itu


tertangkap oleh ekor mataku, klo ibu sama mertuaku sedang tertawa tapi tak bersuara


"sudah lah bu darmi, kasian karina nya tuh kan jadi malu". ucap mama


"duh,ini mama membelaku atau malah ikutan mengucilkan ku sih?" ucapku dalam hati.

__ADS_1


"sudah-sudah, ayo mana yang harus di panen? biar mama sama bu darmi bantuin! iya kan bu darmi? "ucap mama lalu di angguki oleh ibu


lalu kami bertiga turun semua untuk berkebun.


terlihat ibu sangat gembira mengobrol dengan mama mas raka.


mereka bernyanyi, tertawa, namun tak ada yang teringat aku disini.


namun tak masalah bagiku, malah aku senang klo liat ibu sama mama mertuaku akur dan sangat akrab begini.


aku senang karena mereka telah menerima ku, dan juga kedua orang tua ku di dalam keluarga elit ini


klo soal derajat mah beda jauh, papa mas raka yang seorang ceo juga di perusahaan ternama, mama lastri mempunyai butik besar, dan mas raka juga telah menjadi ceo di perusahaan berpengaruh di negeri. berarti sudah amat besar bukan? bahkan sudah memili banyak cabang


sedangkan aku dan kedua orang tuaku hanya sebagai seorang buruh tani, yang gaji nya tak seberapa dan berbeda sangat jauh, bahkan berkali-kali lipat penghasilan mereka.


sungguh aku tak pernah membayangkan klo ada orang kaya, pluss tampan melamarku dan menjadikan aku sebagai istrinya. dan menerima segala kekurangan ku maupun kedua orang tua ku.


dah ah, kok curhat mulu sih?


tak sadar, bulir-bulir bening lolos mengalir di pipiku tanpa bisa ku kendalikan lagi.


ia terus saja mengalir, dan mengalir tanpa henti.


ternyata mama melihat ku menangis


"loh? kamu kenapa sayang?" tanya mama

__ADS_1


"ga papa kok mah, cuman sedikit kelilipan aja tadi ".ucapku berbohong


bersambung....


__ADS_2