
Jika di kantor, Zein merasa senang sebab Kania, wanita yang ia sukai secara diam-diam mulai masuk kerja kembali
Sedangkan dirumah, Karina sedang sibuk di buat oleh kedua anak kembarnya yang masih bayi, jadi sedikit agak rewel.
Sudah berulang kali disuruh menerima jasa baby sitter, namun tetap saja ia menolaknya.
Terlebih bingung, saat Abiyasa dan Adita nangis secara bersamaan. Bayangin coba, betapa repot nya harus mengurus dua bayi sekaligus.
"Kita pake jasa baby sitter aja ya sayang?" Tanya Raka
"No! kan aku udah bilang sih mas, aku ga mau pake jasa baby sitter, aku bisa menjaga mereka sekaligus". Tolak Karina, sambil meyakinkan suaminya bahwa ia bisa mengurus dus bayi nya sendiri
"Tapi buktinya mana? Kamu malah sangat kerepotan sayang! Kamu ngeluh tiap malam, kamu ga bisa tidur, badan kamu pegal- pegal lah, semua". Omel Raka
"Oke, aku ga akan ngeluh sama kamu tentang apa pun! Aku akan tahan sendiri". Ucap nya marah, lalu menangis dan pergi meninggalkan Raka sendiri di kamar
"Hey, sayang! Mas ga maksud marahin kamu. Mas cuman ga tega, lihat kamu begini terus-terusan". Ucap nya meminta maaf, sambil memegang kedua tanganku
"Tapi mas, ini lah yang memang aku impikan". Jawab Karina lembut.
"Oke, mas tau maksud kamu. Cuman kali ini ga ada penolakan, kita harus memakai baby sitter sekarang juga". Ucap raka tegas, sambil menelpon seseorang
"Tapi ma...s" ucap nya terhenti, saat Raka meletakkan jari telunjuk nya di bibir Karina
"Ga ada tapi-tapian! Ini adalah cara yang terbaik untuk kita semua". Jelas Raka, yang membuat Karina tak bisa berkutik sama sekali
"It's okey, no problem! "Jawab Karina sambil mengangkat kedua bahunya
"Nah gitu dong sayang, kan jadi makin cinta". Balas Raka sambil terus menciumi wajah Karina, hingga membuat nya marah
"Cup! Cup! Cup! Mau lagi?" Tanya Raka
"Udah ih, aku tabok mau nih? " Ucap Karina sambil meletakkan telapak tangannya di udara.
"Eits, galak bener! "Jawab Raka cengengesan
Mendengar bayi nangis, mereka berdua langsung lari masuk ke kamar.
"Nah, coba liat. Mereka nangis nya bersamaan, mungkin kah kamu bakal menggebdong kedua nya?" Tanya raka
"Mungkin aja, kenapa ngga?" Jawab karina enteng
"Hem, seterah kamu. Yang penting bentar lagi baby sitter akan datang kemari". Oceh Raka yang sama sekali ga di respon oleh Karina.
"Udah ih, ngomel mulu! Ini gendong anaknya kek, apa kek, ini malah ngoceh mulu di situ". Omel Karina balik
Karina sangat suka melihat bayi perempuannya sebab, sangat mirip sekali dengannya.
Sedangkan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki, sangat mirip dengan suaminya yaitu si Raka
Begitu lah kesehari-hariannya kehidupan Raka dan Karina, yang selalu di sibukin oleh kedua bayinya
Sedangkan Zein yang kini sedang berada di kantor, hatinya sangat berbunga-bunga.
"Tumben diem, biasanya ngoceh mulu tu mulut". Sindir Vania
Namun tak ada respon sama sekali dari mulut Zein
__ADS_1
Namun Vania pun tak ingin kalah, iya terus mengoceh dan mengoceh hingga membuat seseorang yang sedang fokus di sana merasa terganggu.
"Bisu, atau sakit gigi kali ya? Oh bisa jadi juga ga punya mulut kan? " Ucap Vania yang tak henti-hentinya memanas- manasi
Sesekali matanya melirik Zein yang masih sibuk dengan laptop nya
"Duh, masih ga mempan juga rupanya? Em.. gue harus cari ide nih, supaya si hantu blau itu marah! Sepi juga sih dia ga ngomel-ngomel kek biasa". Pikir Vania membatin
Saat ia hendak menarik nafas, tuk bicara tiba-tiba langsung di potong oleh Zein.
"Jangan suka gangguin singa lagi tidur, ntar di terkam nangis". Sindir Zein
"Yaelah, klo di terkam ya terkam balik dong, ribet amat". Jawab Vania sewot
"Emang bisa naklukin singa yang lagi bangun dari tidurnya?" Tanya Zein remeh.
"Yaelah, gitu mah kecil". Ucap nya sambil menautkan jari jempol dan kelingkingnya
"Tapi ini bukan singa biasa, ini singa yang super duper luar biasa, apa lagi mangsanya perempuan". Jawab Zein sambil tertawa
"Yee, itu mah lain kali. Dasar otak mesum". Balas Vania lalu melanjutkan pekerjaannya
Saat Vania sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba Zein datang menghampiri tempat ia bekerja
"Woy, gimana berani ga? "Tanya Zein sambil mengedipkan matanya sebelah
"Astagfiruallah. Woy! Lu setan atau apaan? Kok tiba-tiba nongol, bikin gue kaget aja". omel Vania sambil mulai mengatur nafas nya
"Udah, gitu aja lu kaget. Lemah amat sih !" Ucap Zein meremehkan
"Yaelah, baperan amat sih lu? Itu tadi cuman bercanda, lagian pikiran lo tuh, malah lari ntah kemana dasar ga waras". Oceh Vania
Karena merasa tak terima di bilang tidak waras, Zein akhirnya menarik tangan Vania, hingga wajah mereka saling bersitatap satu dengan yang lain.
Bahkan tak ada celah sedikit pun. Mereka saling bertatap-tatapan, bahkan keduanya bisa merasakan hembusan nafas dari lawannya masing-masing.
Zein tak henti-hentinya menatap mata Vania, baginya ada rasa cinta yang tumbuh di sana. Rasa cinta yang begitu teramat besar dan sangat dalam
Saat mereka sibuk menatap mata satu sama lain, seketika ada seseorang yang sedang mengetuk lalu membuka pintu, dan.. seseorang ada yang memergoki mereka
"Permisi pa...k a..a...aaa... "ucapan wanita itu terhenti, dan lalu menjerit.
"Eh-eh mbak, ini semua ga seperti yang mbak pikirkan". Ucap Vania mencari kebenaran
Karena mendengar jeritan wanita tadi, akhirnya para karyawan lain mulai pada berdatangan, dan mengumpul di ruangan kerja Zein
"Wih, ga nyangka yah sama pak Zein, ternyata orang nya ga bener juga masa nekat berbuat hal tak senonoh di kantor"
"Iya, ga nyangka juga yah. Luaran nya aja yang baik, ternyata dalamnya busuk"
"Itu pun si perempuannya kok murahan banget yah? Ih ga kebayang klo aku mah".
Dan banyak hinaan, dan cibiran lainnya yamg mereka dapati
"Dengar semua! Saya dan Vania ga ada ngapa-ngapain, semua ini salah paham". Ucap Zein membenarkan keadaan sebenarnya
"Alah, ngeles aja taunya! Mana ada maling yang ngaku, ntar penjara penuh dong?" Ucap seseorang karyawan tak percaya
__ADS_1
"Oke, oke! Jika memang kalian percaya atau tidak, saya ga peduli. Yang penting saya tidak melakukan sesuatu hal kotor seperti itu". Tegas Zein
"Sudah lah pak, kami sudah tau ke benarannya". Kata karyawan yang lain
Vania yang merasa terpojok dan di kucilkan, ia hanya bisa menangis
Melihat Vania menangis, hati Zein sungguh sangat sakit sekali
"Ini adalah kunci jawabannya, ga da cara lain". Gumam Zein
"Kalian dengar ya semua! Vania ini adalah istri saya! Saya di jodohkan oleh orang tua saya, tuk menikah dengan Vania. Dan pernikahan ini hanya pernikahan sirih saja. Paham kalian semua?" Jelas Zein, tanpa ragu sedikit pun
"Jadi jika kami memang melakukannya pun, tak masalah bukan? Tapi percayalah tadi itu kalian semua salah paham. Itu semua tak seperti yang kalian bayangkan". Jelas Zein lagi
"Oh iya pak Zein, kami minta maaf. Lalu mereka satu per satu pergi meninggalkan ruangan Zein".
"Ey, udah dong jangan nangis terus". Bujuk Zein
"Ini semua gara-gara lo! Gue benci sama lo! Gue benci!" Ucap Vania terus menangis dan sambil memukuli dada Zein
Lalu Zein langsung memeluknya.
"Ey, ya udah iya aku salah, aku minta maaf oke". Jawab Zein
"Maaf lo ga akan cukup tuk membayar malu gue, tau lo?" Ucap Vania marah dan disertai tangis
"Itu lagi, ngapain lo ngaku-ngaku klo gue istri lo? Lo tu ya, iss ga bisa lagi mulut gue ngomong lagi".
"Lo mau tau, gue ngomong gitu biar ga malu bego! Lgian mereka percaya juga kan? Ya udah apa lagi yang harus dipikirin?" Tanya Zein tanpa beban
"Mulut lo enak ngomongnya, lah nasib gue gimana?" Tanya Vania
"Ikuti aja drama ini". Jawab Zein santai sambil belik lagi ketempat duduknya
"Jadi maksud lo, gue harus pura- pura ngaku klo lo itu adalah suami gue gitu? " Tanya Vania emosi
Zein hanya mengangguk
"Huh, sebel! Sebel! Sebel! Malas kali gue". Ucap Vania tak terima
"Ya itu terserah lo, emang lo mau ntar dinikahin sama gue? Gue sih ogah ya! "Ucap Zein yang membuat Vania semakin marah
"Heh, lo pikir gue mau gitu nikah sama lo? Idih ogah! Lo bukan tipe gue kali, jauh banget malah". Omel Vania tak terima
"Ya itu terserah lo sih! Udah sana cabut, ganggu gue aja lo". Usir Zein
"Dasar cowo rese, jijik gue liat lo tau ga sih?" Ucap Vania lalu lergi ke mejanya kembali
Sedangkan Zein, ia malah senyum-senyum sendiri
"Andai itu nyata, tapi pasti gue yakinkan klo lo bakal jadi milik gue seutuhnya". Batin Zein lalu kembali bekerja
"Ah, andai saja ini benar-benar terjadi, betapa bahagianya gue bisa menikah dengan Zein rese itu.huh.." batin Vania, lalu lanjut bekerja
Cocok ga sih klo mereka bakal menikah? Atau kita buat ttm aja?
Bersambung.....
__ADS_1