
tak lama terdengar suara klakson dari belakang, serta teriakan dari seseorang dari dalam mobil itu yang ternyata adalah Zein.
"Woy! mau ikutan pulang gak?" Tawar Zein ketus.
"Idih,ogah!" balas Vania tak kalah tinggi
"Ini udah malam bego? lo apa ga takut disini sendirian?" tanya Zein, sambil celingak celinguk melihat keadaan sekitar
"Udah pigi sana lo! gue ga butuh tumpangan dari lo!" usir Vania.
"Ini udah malam, ga baik perempuan jam segini keliaran sendirian". ucap Zein
"Klo gue bilang gak, ya nggak! kok lo maksa sih?" omel Vania
Karena tak ingin terus berdebat, akhirnya Zein turun dari mobil, lalu langsung menggendong Vania, dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Eh apa-apaan nih?" tanya Vania ketakutan
Namun tak ada jawaban dari Zein, malah ia mulai melajukan mobilnya.
"Lo mau bawa gue kemana? jangan-jangan lo mau culik gue yah?" ucap Vania menerka-nerka
"Gausah geer jadi cewek, emang klo lo gue jual, bakal laku ya?" tanya Zein mengejek
"Woy!! jaga mulut lo ya!" ucap Vania marah, yang spontan langsung menjambak rambut Zein, karena emosi
"woy! rambut gue, sakit tau ga sih? "omel Zein
"Udah lah, turunin gue aja". rengek Vania,minta turun
"Gak! gue ga akan nurunin lo disini". tegas Zein
Akhirnya Vania pun pasrah, ia duduk diam sekarang dan tak ada pemberontakan sama sekali.
di perjalanan hening, hingga Zein memilih untuk membuka suara
__ADS_1
"Rumah lo dimana?" tanya Zein
"Gue ga punya rumah". ucap Vania asal
"Gue serius anjir, lo mau di anterin pulang aja ribet amat!" ucap Zein geram
"Ya sapa suruh lo mau nganterin gue? apa ada gue minta? ga ada kan?" ucap Vania membuat Zein semakin emosi
"Yaelah, untung cewek, klo lo cowok, dah abis lo gue embat". ucap Zein sambil menahan emosinya
"Ya udah, lo turun aja lah sana!" usir Zein
"Kok lo tega sih, ngusir gue? nanti klo gue kenapa-napa gimana?" ucap Vania dengan wajah memelas
"Nah,butuh juga nya loh!" celetuk Zein
"Yaelah, karena keplepet,klo ga sih ogah". ucap Vania
Zein selalu berusaha untuk sabar, "Wanita apakah dia ini? mengapa aneh sekali" ucap Zein dalam hati
"Itu, di jalan ujung sana". tunjuk Vania
Lalu mobil itu pun meluncur ke tempat yang dituju.
Saat Vania hendak turun, tiba-tiba tangan nya ditarik oleh Zein.
"Ini rumah lo?" tanya Zein memastikan lagi
"Iya, kenapa?" tanya Vania
"Ini bukannya kediaman Raka Group yah?" tanya Zein
"Emang iya, terus kenapa? "tanya Vania lagi
"Jadi kenapa lo turun di sini? jangan-jangan lo..?" ucapan Zein terputus begitu saja
__ADS_1
"Jangan-jangan apa? eh asal lo tau yah, rumah ini rumah abang gue!"ucap Vania
"lah, lo adik nya mas raka?" tanya Zein lagi
"Iya, emangnya kenapa? perasaan dari tadi lo nanya mulu dah, kaya wawancara tau ga sih". ucap Vania sewot
yah, Raka adalah rekan bisnis nya Zein.
Raka sudah memiliki cabang perusahaan dimana-mana, begitu pun dengan Zein
Cuman,masih lebih diatas Raka lagi sih. semenjak perusahaan Raka Group bergabung dan bekerja sama dengan perusahaan Zein, pendapan Zein menjadi bertambah berkali-kali lipat
Makanya, Zein selalu menjaga agar kerja sama ini selalu terjadi, dan tak putus di tengah jalan.
Zein memiliki sifat yang dingin, cuek, galak, jutek, semua nya lah. namun kelebihannya ia memiliki wajah yang tampan
yang membuat hati para wanita klepek-klepek dibuatnya.
Bagi Zein, tiada hari tanpa bekerja,bekerja, dan terus bekerja. hingga ia lupa namanya wanita, pacar, atau istri. ah... dia sungguh tak pernah kepikiran kesitu
bahkan yang ia tahu waniata hanya lah mamanya seorang.
"Eh, sorry! dah nah, klo lo mau turun-turun cepetan, ntar mobil gue licet lagi kelamaan numpangin lo". celetuk Zein
"idih! dasar modus, sok jual mahal pula". ucap Vania tak terima
lalu Vania keluar begitu saja, tanpa mengucapkan terima kasih pada orang yang menumpanginya
"woy! bilang makasih kek! "jerit Zein, yang membuat Vania langsung berbalik badan
"Sorry yah, ucapan terima kasih gue ga pantes buat loh! "ucap Vania
"sabar Zein, sabar!" ucap Zein sambil mengelus-elus dadanya
bersambung...
__ADS_1