
Lalu Vania menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Zein
Lalu Vania pergi kembali
"Oh astaga! lo gila Zein! lo udah ngehancurin hati seseorang". gumamnya
lalu Zein pun kembali kedepan, ia berusaha mencari Vania namun tak ketemu.
Hari itu pun berlalu, dan kini Zein telah beraktivitas seperti biasanya
Pikiran Zein tak ber konsentrasi, sebab ia kepikiran dengan Vania
Baginya, hari-hari nya sepi sebab tak ada kehadiran sosok Vania
Sungguh ia sudah menyukai Vania, namun ia malu mengungkapkannya.
"Van, lo masih marah sama gue? please dong, jangan giniin gue, gue ga sanggup". lirih Zein
Tiga hari pun berlalu, namun seperti biasa Vania masih tetap belum masuk juga
"Van, gue kangen!! " lirih nya sambil terisak
"Permisi pak Zein, saya ingin mengirimkan dokomen-dokumen penting ini". ucap wanita itu, yang berhasil membuat Zein tersadar dari isakannya
"Pak Zein nangis?" tanya wanita itu
"Tidak! sudah pergilah, nanti dokumen ini saya antar". ucap nya sambil mengusir wanita itu untuk pergi
Wanita itu menurut dan pergi meninggalkan Zein
Karena kepikiran, dan merasa tak enak hati. Zein lebih memilih mendatangi kediaman Vania langsung.
__ADS_1
saat tiba makan siang, dia langsung meluncur ke rumah Vania
sampai lah dia dirumah Vania, ia langsung masuk kedalam rumah besar nan mewah itu
"Eh Zein, ada apa?" tanya raka
"E...ini mas, saya mau berjumpa dengan Vania, karena sudah beberapa hari ini dia tidak masuk". jelas Zein sambil menyesap kopi yang dihidangkan oleh bik minah barusan
"oh, kirain mau ngelamar". celetuk Raka dan berhasil membuat Zein menyemburkan kopi yang sudah ia minum tadi
"Eh, hati-hati dong! ga sabaran amat, masih panas itu". ucap Raka
"Eh iya mas, panas!" kilah nya
Ternyata, raka memang tidak pernah merubah sikapnya. tetapi, klo sudah ber hubungan bisnis, ia sangat serius sekali. giliran di luar jam kerja, yaelah nyeselin bukan mainn
"Bentar yah, mas panggilin dulu". ucap Raka, lalu pergi memanggil Vania
Saat telah melihat Vania, senyum Zein langsung merekah
"Ini Vania nya Zein, klo gitu mas pergi dulu ya". ucap Raka lalu pergi meninggalkan mereka berdua
"Mau ngapain lo kemari? mau nyakitin perasaan gue lagi, iya? "tanya Vania, yang sama sekali tak menatap wajah Zein
"Gue sibuk, langsung aja ga usah pake basa basi". ucap Vania ketus
"Lo kok ga masuk-masuk sih?" tanya Zein lembut
"Gile ni orang, bentar-bentar ngeselin,bentar-bentar baik huh pening ah". batin Vania
"Gue udah Resign". jawab Vania, tanpa menoleh Zein seikit pun
__ADS_1
"Ha, Risaign? kok gue gatau?" tanya Zein terkejut
"Lo ga bisa putusin sepihak gitu dong, gue aja ga tau kapan lo Resign nya". ucap Zein tak terima
"Lo masih marah ya, sama gue? kan gue udah minta maaf, gue ga sengaja Van". ucap nya meminta maaf, sambil memegang tangan Vania
Jantung Vania, berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Yaelah, kenapa lah dengan jantung ku ini? kok gue jadi panas dingin gini?" ucap Vania membatin
"Please, lo masuk lagi ya? gue sepi banget tanpa lo". mohon Zein
"Ha? lo sepi tanpa gue?" tanya Vania tak percaya
"Eh, maksud gue kantor sepi klo lo ga masuk, karena ga ada yang bantuin gue". jelas Zein
"Lo liat aja lah besok, klo gue masuk berarti penawaran lo gue terima, tapi klo gue ga datang, berarti penawaran lo gue tolak, dan lo ga usah datang-datang kemari". jelas Vania
"gue tunggu besok". ucap Zein semangat
"Dah pulang sana lo! gue sibuk". usir Vania
"ya udah, klo gitu gue pigi dulu assalamualaikum". salamnya lalu pergi meninggalkan rumah Raka
"yes! yes! yes... " soraknya sambil melompat-lompat kegirangan
Vania yang mengintip dari jendela, tersenyum-senyum sendiri
Oalah, orang cinta kok gengsian
bersambung....
__ADS_1