Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
01. Tinggal Bersama


__ADS_3

Bagaimana rasanya melihat darah? Bagaimana rasanya hidup dikelilingi senjata api? Apakah kalian akan merasa takut atau sebaliknya? Mungkin kebanyakan orang akan membenci gabungan antara darah dan senjata api, mendengarnya saja bisa membuat merinding. Bagaimana jika bergabung hanya ada dua kemungkinan yaitu terluka atau mati?!


Orang-orang yang masih waras kemungkinan akan menjauhi dua hal itu, namun lain halnya dengan seorang pria yang bernama Xavion Kenzie Alexander yang saat ini memegang glock kesayangannya. Baginya, darah dan senjata api adalah hidupnya. Dia sudah terbiasa dengan dua hal itu.


Ketika semua orang menjauhi dua hal mengerikan itu, namun Xavion malah mendekatinya. Senjata api adalah temannya, sedangkan darah adalah sesuatu yang amat menarik perhatiannya. Hidupnya melekat dengan dua hal itu.


Xavion dengan mata tajamnya itu, kini duduk di kursi kebesarannya dengan topeng menutupi sebagian wajahnya. Ruangan yang di dominasi dengan warna hitam terlihat begitu menyeramkan.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," ujar Xavion saat pintunya diketuk. Seorang pria berbadan kekar berpakaian pengawal masuk. Dia menunduk hormat pada atasannya yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Transaksi lancar, Tuan." Xavion diam menunggu pengawalnya melanjutkan ucapannya. "Rabu ini ada acara lelang di tempat Tuan Albert."


"Kau boleh pergi." Pengawal itu menunduk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Xavion kembali fokus pada senjata kesayangannya. Sudah lama dia tidak menggunakannya dan dia merindukan saat senjata itu menemukan mangsanya.


Drettt... Drettt... Drettt...


Handphone Xavion bergetar. Menandakan ada sebuah panggilan masuk dari seseorang yang membuat senyumannya terbit, meski itu senyuman yang sangat tipis. Dia meletakan glock miliknya dimeja dan mengangkat panggilan itu.


"Kak," suara suara penuh keraguan terdengar di seberang sana. Xavion diam menunggu orang itu melanjutkan ucapannya. "Bisa kesini? Aku takut."


"Sepuluh menit."


Xavion mematikan teleponnya tanpa bertanya apapun. Dia menyimpan glock kesayangannya ke dalam tempat senjata miliknya. Kakinya berjalan ke keluar, aura menakutkan terpancar kuat dari tubuh Xavion. Setiap anak buahnya yang berpapasan dengannya akan menunduk hormat padanya.


Kakinya mendekati Lamborghini Aventador hitam. Grex membuka pintu mobil itu untuk Tuannya. Xavion mengendarai mobilnya pergi menuju tempat dimana seseorang tengah menunggunya.


"Kenapa?"


Suara dingin terdengar dari mulut Xavion saat seorang gadis membukakan pintu untuknya. Xavion menatap gadis yang menjadi calon istrinya itu dengan dingin, gadis itu hanya menunduk tanpa berani menatap pria menyeramkan di depannya.


"Masuk dulu, Kak." Gadis itu mempersilahkan Xavion masuk ke dalam. "Tadi ada yang kirim itu." El menunjuk ke sebuah kardus berukuran sedang di atas meja.


Xavion mengerutkan keningnya, kaki panjangnya melangkah mendekati kardus itu. Tangannya membuka kardus itu dan membelalak kaget melihat isinya. Seekor tikus mati dengan isi perut yang berceceran dan secarik kertas bertulisan 'MATI' membuat Xavion mengepalkan tangannya dengan erat.


'Siapa yang berani mengganggu miliknya?'


"Kapan ini dikirim?" Tanya Xavion. El gelagapan karena matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Xavion. Selama INI El tidak pernah menatap Xavion saat berbicara, karena dia takut. Selain itu, dia juga masih canggung pada Xavion calon suaminya.


"Se-sekitar dua puluh menit yang lalu," ujar El gugup karena tanpa sengaja bertatapan dengan Xavion lagi. Bukan hal baru bagi Xavion melihat calon istrinya yang gugup saat bertatapqn dengannya, karena saat bertemu dan berkenalan calon istrinya memang begitu.


El benar-benar memenuhi kreteria calon istrinya. Bahkan El lebih muda tujuh tahun darinya itu sang at jarang menatap matanya meaki mereka sudah resmi bertunangan dua bulan lalu. Jika mereka bertatapan itupun tanpa sengaja seperti sekarang ini, El akan gugup dan gelisah saat tanpa sengaja menatapnya.


"Kemasi barangmu. Aku ingin kau tinggal di mansionku mulai sekarang!"


"A-apa, Kak?"


"Kau mendengarnya. Seminggu lagi kita menikah jadi tidak masalah," jelas Xavion panjang. Hanya pada El, dia bisa berbicara sepanjang ini, hanya pada Maurelle Anderson, calon istri tersayangnya.

__ADS_1


"Lima menit." Tanpa banyak bicara El mengemasi pakaian dan beberapa barang penting menurutnya. Tepat lima menit, dia sudah kembali ke hadapan Xavion dengan koper berukuran sedang ditangnnya.


Xavion mengambil alih koper El, sedangkan tangan lainnya memeluk pinggang El dengan posesif lalu berjalan keluar dari rumah kontrakan El. El merasa sesak karena tangan calon suaminya yang bersarang di pinggangnya. Jarak mereka terlalu dekat membuat El kesulitan bernafas karena gugup.


"Bernafas, My Little girl," bisik Xavion tepat di telinga El. El semakin gelagapan hingga hampir terjatuh jika tangan Xavion tidak memeluk pinggangnya. Xavion terkekeh pelan melihat tingkah lucu gadis kecilnya.


"Kak," panggil El. Mereka baru saja masuk mobil Xavion.


"Hmm?"


"Si-siapa yang mengirim paket itu? A-aku tidak pe-pernah merasa punya mu-musuh." Tanya El dengan suara bergetar. Untuk ukuran gadis seperti El, akan sangat wajar jika dia ketakutan dengan berlebihan. Dan Xavion memaklumi hal itu lebih tepatnya menyukai hal itu. Calon istrinya memang harus ketakutan dan bergantung padanya saja.


"Tidak perlu memikirkan hal tidak penting itu, fokus saja pada pernikahan kita." Xavion mendekat ke kursi El.


"Biar itu jadi urusanku!" Bisik Xavion seduktif. Xavion sangat suka menggoda calon istrinya itu. Ekspresi penuh keterkejutan dan gelisahnya membuat Xavion ingin melahap calon istrinya itu.


"Kak Xavion."


Untuk pertama kalinyq, El menyebut nama Xavion. Wajah penuh keterkejutan bukan ditampilkan oleh Xavion tapi El. Mungkin El tidak sadar akan apa yang dilakukannya.


Wajah cantiknya dipalingkan kearah jendela mobil. Tubuhnya bergerak gelisah, karena kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya saat Xavion berbisik padanya.


"Aku suka saat kau memanggil namaku, menggemaskan!" Bisik Xavion lagi.


"Aduh."


Sekali lagi sikap bodohnya muncul saat Xavion berbisik seduktif di telinganya. El yang sebelumnya menatap keluar mobil, refleks menoleh saat mendengar suara calon suaminya berbisik hingga terantuk kepala Xavion yang belum menjauhkan wajah darinya.


"Kak jangan terlalu dekat," cicit El kecil. El merasa terbebani akan kontak fisik mereka. El belum terbiasa meski sudah mengenal Xavion Kenzie Alexander selama tiga bulan lamanya.


Aura mendominasi yang dimiliki Xavion terlalu kuat. El merasa bagaikqn 'tikus kecil' yang tidak berdaya di hadapan 'singa sang raja rimba'. Selama mengenal Xavion, El tatap tidak terbiasa dengan kehadiran Xavion di dekatnya.


"Hmm?" Xavion semakin mendekati El dengan niat menjahilinya. Meski otanya memikirkan hal jahil tapi wajahnya tetap datar. "Coba bicara dengan menatapku, Love."


"Kak..." Rengek El perlahan. El mendorong sedikit dada Xavion agar mereka tidak terlalu dekat. Jantungnya tidak baik-baik saja saat Xavion perlahan-lahan mendekat hingga mengikis jarak antara mereka.


Sementara Xavion tersenyum kecil melihat El yang memejamkan mata rapat karenanya. Menggoda El menjadi hobbi baru bagi Xavion. Dia benar-benar menyukai hal itu.


Drettt... Drettt... Drettt...


Suara dering handphone Xavion menghentikan aktivitasnya yang menjahili El. Tangannya mengankat telepon itu dan menghidupkan pengeras suara saat tau mommynya menelepon.


"Ya, Mom?"


"XAVION? KAMU BAWA CALON MENATU MOMMY KEMANA?!"


"Jangan Teriak, Mom! Jelasin!" Seru Xavion pada El.


"Mom, Kak Xavion membawa El ke mansionnya. Tadi El dapat paket isinya tikus penuh darah, Mom. Sekarang El dibawa pergi sama Kak Xavion."

__ADS_1


"Ya Tuhan! Tapi kamu baik-baik saja kan, Sayang? Tidak ada lukakan? Mommy lagi diluar kota Sayang, tidak bisa nemanin kamu. Kamu ikut Xavion dulu Sayang, kalau anak mommy itu macam-macam pukul saja!" Suara dibalik telepon terdengar Marsh dan khawatir. "Xavion, kalian belum menikah! Jangan macam-macam dulu! Awas saja kau!"


"Iya."


"Kam..." Ucapan sang mommy terpotong, karena Xavion mematikan panggilan teleponnya. Telinganya panas mendengar ocehan sang mommy.


"Sudah makan?" Tanya Xavion sambil memasangkan seatbelt pada El.


"Belum," jawab El sambil mengeleng kecil membuat Xavion berdecak pelan karena kesal. Ini sudah lewat dua jam makan siang dan gadis kecilnya belum makan.


Xavion melajukan mobilnya dan membelah padatnya jalanan menuju restoran khas Indonesia kesukaannya. Sesekali ujung mata Xavion melirik El yang sedang menatap keluar kaca mobil samping. Maurelle Anderson adalah gadis berusia 20 tahun yang paling menarik sepanjang hidup Xavion yang dia tau.


Sementara, El menatap jalanan yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit yang berjajar rapi yang ada di samping kiri jalan.


El menoleh ke arah Xavion yang ada di sampingnya saat mobil berhenti di parkir restoran Indonesia. Dia bergegas keluar mobil saat calon suaminya membukakan pintu untuknya.


Jari jemari kecil El di genggam erat oleh Xavion. Sepanjang jalan El hanya menunduk menatap gengaman tangan keduanya. Dia hanya mengikuti kemanapun Xavion membawanya.


"Masih suka nasi goreng cumi?"


"Suka," jawab El pelan. Tangannya sibuk membolak-balikan menu, berusaha terlihat sibuk walaupun kenyataannya dia tidak fokus melihat menu.


"Nasi goreng cumi, Nasi rendang sambal ijo, dua es jeruk, dan dua porsi kue lumpur pisang."


"Baik. Saya ulangi sekali lagi pesanannya, Tuan. Nasi goreng cumi, Nasi rendang sambal ijo, dua es jeruk, dan dua porsi kue lumpur pisang. Tunggu sebentar, saya permisi." Ujar seorang pelayan yang melayani mereka.


Setelah El mengembalikan menu kepada pelayan itu. Dia bingung, apa yang harus dilakukan untuk mengalihkan perhatian pria pemilik manik biru dan tajam itu. Apalagi dia juga merasa Xavion di depannya menatapnya dengan intens.


'Huh... Baru saja begini, dirinya sudah sepanik dan segelisah ini. Bagaimana kalau sudah tinggal bersama nanti?'


Maurelle Anderson adalah seorang yatim piatu. Selama ini dia tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana milik bos cafe tempat dia bekerja dulu. Nyonya Lyn adalah seorang wanita paruh baya yang sangat baik hingga mau memberika tempat tinggal sejak El berusia sepuluh tahun.


Sejak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Dia tinggal sendiri dan sekolah sambil bekerja di cafe milik Nyonya Lyn. Hingga tiga bulan lalu mommy Xavion, Carol datang ke cafe memintanya menjadi menantunya.


Awalnya, El menolak karena tidak kenal dengan wanita paruh baya itu. Tapi wanita paruh baya itu terus membujuknya hingga dia menerimanya. Sifat El yang lemah lembut dan ramah membuat mommynya Xavion tertarik memintanya menikahi sang putra.


"Kenapa kau bersedia menjadi istriku?"


Pertanyaan Xavion menarik El dari lamunannya. Saat El menoleh ke Xavion tanpa senga bertatapan dengan manik abu-abu milik Xavion yang sedang menatapnya. Rona merah menjalar dengan cepat di pipinya karena malu bercampur gugup.


"Karena Mommy memintanya."


"Lebih spesifik."


El menghela nafas pelan. "Karena Mommy bilang Kak Xavion membutuhkan El. Mommy menangis sambil memohon agar aku bersedia menikah dengan kakak. Aku tidak tega jadi menyetujui hal itu, lagipula aku tidak punya siapa-siapa lagi. Mungkin dengan menikah dengan kakak aku bisa merasakan memiliki keluarga lagi."


"Kasihan?" Xavion memiringkan kepalanyavpelan sambil mendengar penjelasan dari El. Selama INI memang dirinya tidak sekalipun bertanya akan alasan El bersedia menikah dengannya. Awalnya dia pikir tidak penting tapi sekarang dia jadi penasaran.


"Mommy bilang kakak akan menjaga aku, kakak butuh aku yang lemah supaya kakak tetap waras. Aku tidak mengerti maksudnya tapi aku tetap jawab 'iya' waktu bos tempat aku bekerja suruh terima."

__ADS_1


Xavion mengangguk puas mendengar jawaban El. Dia memang membutuhkan sosok istri penurut yang lemah dan bergantung padanya. Entah kenapa namun semakin El bergantung padanya maka dia merasa semakin menginginkannya.


Namun, bukan berarti Xavion akan membuangnya saat sesekali El memberontak atau merengek membantahnya. Singkatnya, Xavion menginginkan El menjadi istrinya terlepas apapun alasannya.


__ADS_2