
Meskipun, El sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu khawatir karena hal itu sudah biasa baginya, tapi tetap saja Xavion khawatir. Xavion sungguh membenci saat kelinci kecil kesayangannya diusik sedikitpun, apalagi sampai merasakan hal yang menyiksa seperti ini.
"Kak."
Suara lembut El menyapa indra pendengaran Xavion saat dia menjawab sebuah panggilan telepon dari kelinci kecilnya. Keningnya berkerut ketika mendengar suara kelinci kecilnya sedikit bergetar. "Lima menit."
"John, bereskan."
"Baik Tuan besar."
Xavion melangkah dengan cepat keluar ruangan menelusuri lorong gelap yang panjang sebelum naik melalui tangga menuju ke dalam mansion. Sepanjang jalan dia sesekali mengumpat karena belum sampai ke kamarnya.
Sampai di depan kamar, Xavion menyesuaikan retina matanya pada sensor agar pintu kamar terbuka. Pemandangan pertama yang dilihat Xavion adalah kelinci kecil kesayangannya tengah merintih dibalik selimut tebal.
"Love?" Panggil Xavion sembari menyentuh kening kelinci kecilnya yang sedang mengeluarkan banyak berkeringat. Suhu tubuh kelinci kecilnya sangat tinggi, namun dia tidak membuka matanya sedikitpun.
"Love, bangun." Kata Xavion sambil menggguncang pelan tubuh kelinci kecilnya.
"Kak," kata El. Dia membuka matanya saat merasakan sedikit guncangan di tubuhnya. Bibirnya menyunggingkan senyuman kecil untuk calon suaminya itu. "Tadi El dengar pintu balkon seperti di lempar."
"Aku periksa dulu." Xavion melangkah menuju balkon sesuai perkataan kelinci kecil kesayangannya. Dia memang memberikan perintah pada calon istrinya itu supaya selalu mengatakan apapun padanya jika ada sesuatu yang aneh.
Dia mengambil sebuah batu kecil yang ada di bawah pintu balkon dengan kening berkerut. Dia lantas melangkah menuju pagar balkon untuk melihat situasi sekitar. Tidak ada yang aneh selain para penjaga yang berpatroli seperti biasanya.
Manik abu-abunya memperhatikan dengan teliti keadaan sekitar karena mungkin saja ada sesuatu yang aneh. Tidak mungkin batu kecil ini bisa ada begitu saja tanpa sebab apapun di pintu balkon. Matanya memicing melihat sesuatu yang bergerak di balik pohon yang ada di dalam hutan.
__ADS_1
'Sial! Aku kecolongan!' Xavion memberikan kode penjaga sekitar gerbang yang kebetulan menatapnya untuk mengejar seseorang yang baru saja bergerak ke dalam hutan.
Dia berpikir sambil berjalan bolak-balik di balkon. Tidak mungkin penyusup itu hanya meleparkan batu saja untuknya. Itu sama saja dengan bunuh diri meskipun dia terpancing masuk ke hutan.
"KAK!"
Teriakan kelinci kecilnya membuat Xavion segera masuk kembali ke dalam kamar. Bibirnya mengumpat kasar saat melihat kelinci kecilnya berdiri menatap seekor ular sendok berukuran sedang di atas kasur king size miliknya. Kedua mata El mengeluarkan airmata karena takut.
Dengan cepat namun tetap hati-hati, Xavion mendekat ke arah ranjang. Dalam sekali percobaan, kepala ular itu berhasil dia tebas dengan menggunakan pisau kesayangannya. Matanya melirik kelinci kecil kesayangannya yang berdiri dengan tubuh bergetar karena takut.
Dia melangkah mendekati kelinci kecil kesayangannya itu. El bahkan masih sakit dan so karang harus dihadapkan dengan hal yang mengerikan seperti ini, jelas sekali dia akan sangat terguncang. Tangannya meraih tubuh El dan menggendongnya ala bridal.
"JASON!"
"Bereskan. Pastikan aman." Xavion keluar dari kamarnya. Dia melangkah menuju lift dan menekan tombol yang akan membawanya ke lantai paling atas mansion ini.
Xavion menurunkan calon istrinya di atas ranjang yang berukuran king size di kamar rahasia miliknya. Tidak ada seorangpun yang tau ruangan ini selain para pelayan terpilih. Ruangan rahasia ini tepat berada di rooftop namun letaknya ada di bagian dalam. Mereka yang naik lewat lift hanya akan diantar pada bagian rooftop bukan ruangan ini.
Saat ingin masuk ke ruangan rahasia, harus menemukan tombol tersembunyi di balik rumput buatan sepanjang rooftop. Barulah pintu rahasia akan muncul di balik dinding.
"Takut?"
"Sedikit," jawab El. Dia menatap dada bidang calon suaminya yang dilapisi kaos berwarna hitam. Bibirnya mencium pipi Xavion dan menyunggingkan senyuman tulus. "Terima kasih sudah melindungi El."
El berkata dengan tulus disertai senyuman hangat. Dia benar-benar bersyukur menjadi sosok calon istri yang akhirnya dipilih oleh pria di depannya ini. Xavion adalah sosok pria sempurna di mata El.
__ADS_1
El yatim piatu yang hidup dengan sederhana dan sendirian. Sebelum mengenal Xavion, El selalu menjaga dirinya sendiri. Menjauhi hal-hal yang bisa membuatnya berada dalam bahaya. Dia berdiri sendiri karena tidak memiliki siapapun.
Sekarang El memiliki Xavion. Seseorang yang mungkin akan menjadi sandaran untuknya hingga dia tua nanti. Dia sangat bersyukur calon suaminya itu bisa menerima dirinya tanpa menuntut apapun bahkan setelah tau latar belakang kehidupannya. Xavion tidak pernah mempermasalahkannya sedikitpun.
Dia akan melakukan apapun untuk membalas semua kebaikan Xavion padanya. Bahkan jika seandainya Xavion menginginkan nyawanya maka dengan senang hati dia menyerahkan nyawanya.
"Tidurlah!" Seru Xavion. Suhu tubuh kelinci kecilnya itu masih tinggi. Seharusnya kelinci kecilnya itu tidur dan beristirahat tapi nyatanya kejadian tadi membuatnya tidak bisa beristirahat. "Disini aman."
"Kak," panggil El. Dia meraih jari telunjuk calon suaminya untuk menghentikan pergerakan pria itu. "Bisakah temani El tidur? El takut sekali."
"Baiklah." Xavion merebahkan tubuhnya di samping kelinci kecil kesayangannya itu. Tangannya memeluk tubuh kelinci kecilnya itu dengan erat sambil mengelus rambut panjang kelinci kecilnya dengan lembut dan pelan.
Xavion sudah berjanji akan menemani kelinci kecilnya jadi dia akan menepatinya sekarang. Walaupun tadi sempat tertunda karena harus memberikan beberapa pelajaran pada para tikus itu serta kejadian soal ular tadi.
"Selamat tidur Kak, semoga mimpi indah." Ujar El sembari mencium pipi Xavion lalu menutup matanya dengan pipi yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Xavion terkekeh, mommynya benar-benar memberikan nasihat pada calon istrinya yang sangat disukai olehnya. Rasanya menyenangkan mendapat ciuman di pipi sebagai bentuk ucapan terima kasih dan ucapan selamat tidur supaya tidak bermimpi buruk.
Kelinci kecilnya yang penurut dan mommynya yang sedikit licik supaya dirinya bisa luluh. Nyatanya hanya dengan melihat kelinci kecilnya menurut dan bergantung padanya sudah membuatnya sangat, sangat, sangat luluh. Dia merasa jiwa dominan dalam dirinya terpuaskan atas hadirnya kelinci kecilnya ini.
El bahkan tidak bisa menatap wajahnya apalagi matanya. Walaupun begitu dia akan selalu mencium pipinya saat berterima kasih dan saat akan tidur. Bagaimana jika dirinya meminta sang mommy memberikan nasihat lain untuk kelinci kecilnya itu.
Sesuatu yang menyenangkan seperti selalu memakai pakaian terbuka saat di kamar setelah mereka menikah. Atau harus mencium bibirnya setiap satu jam sekali.
'Bisa dicoba nanti.' Xavion merasa sangat menyenangkan jika kelinci kecilnya melakukan semua hal yang sedang dia bayangkan.
__ADS_1