
"Sakit!"
El mengusap keningnya yang disentil pelan oleh suaminya itu. Dia menatap takut pada suaminya yang menampilkan wajah datarnya. Fine, suaminya kan memang berwajah datar, tapi kali ini wajah datar dari biasanya.
'El salah apa? Apa ucapannya ada yang salah?'
"Kamu tidak penasaran tentang James, Bee?" Tanya Xavion. Dia sangat menggemaskan saat kebingungan seperti itu. Apalagi bibir istrinya sedikit dimajukan seraya tangannya mengusap keningnya pelan.
Pria itu mengalihkan pembicaraan, bisa berbahaya seandainya jika pembicaraan mereka tetap di lanjutkan. Xavion bukannya tidak tertarik, dia sangat tertarik apalagi saat mereka mandi bersama kemarin. Dia melihat tubuh istri kesayangannya itu tanpa menggunakan sehelai benangpun.
Hanya saja dia tidak ingin melakukannya sekarang. Dia tau jika istrinya masih merasa canggung padanya. Biarlah mereka berdua dekat terlebih dahulu. Xavion masih harus menunjukkan seluruh dunia pada kelinci kecilnya itu.
Untuk sekarang, dia ingin menghabiskan waktu berdua saja, sedangkan untuk urusan ranjang bisa nanti saat El sudah merasa nyaman dekat dengannya. Maka mereka bisa melakukannya atas dasar cinta bukan hanya karena kewajiban.
Jika di tanya apakah Xavion ingin memiliki keturunan? Jawabannya jelas dia sangat menginginkannya. Tapi tidak sekarang, dia tidak buru-buru tentang hal itu. Dia ingin mereka belajar tentang parenting yang baik supaya anak-anak mereka nanti tumbuh menjadi seseorang yang baik. Dia tidak anak-anaknya masuk ke dalam dunia yang sama dengannya. Dunia itu terlalu berbahaya, biarlah hanya dia saja yang berada dunia yang penuh dengan darah tapi tidak dengan anak-anaknya.
"James? Siapa James?" Tanya El bingung. Dia baru mendengar nama itu, apakah julukan untuk pelayan? Atau pengawal? Atau pasukan mengerikan dengan wajah tertutup tadi?
"Itu nama pria yang menyapamu tadi, Bee." Jawab Xavion santai. Pria itu duduk di atas ranjang disamping istri kecilnya itu. Dia meraih kepala kelinci kecilnya supaya bersandar di dada bidangnya itu.
Xavion memutuskan untuk menceritakan semuanya pada sang istri. Siapa dirinya, apa pekerjaannya, seberapa berbahaya lingkungannya, seperti apa pria yang dia nikahi itu, Xavion sudah siap. Karena mengingat sifat penurut istri kecilnya itu, kemungkinan kecil El meninggalkannya. Meskipun itu terjadi, dia akan mencari istri kecilnya sampai kelubang semut sekalipun.
__ADS_1
"Pria menyeramkan itu?" Tanya El saat dia mengingat sosok pria berbadan kekar yang terlihat menyeramkan itu. Hal itu membuat El tidak ingin bertemu lagi dengan pria menyeramkan itu.
El memejamkan matanya saat Xavion mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil saat merasakan usapan lembut itu. Gadis itu tidak pernah membayangkan bisa menikah dengan seorang pria tampan yang berwajah datar namun memperlakukannya dengan penuh kelembutan dan cinta. Belum lagi pria itu memiliki rumah Megan bak istana.
Sekalipun El tidak pernah berpikir akan menikah dengan pria hebat seperti suaminya itu. Dengan kondisinya dulu, dia sangat bersyukur jika hanya menikah dengan seorang pelayan restoran atau mungkin staf biasa. Tidak masalah asalkan pria itu mencintainya dan memperlakukannya dengan baik. Tapi, Tuhan memiliki rencana yang lebih indah darinya, karena mendatangkan Xavion dalam hidupnya.
"Dia asistenku. Orang yang paling aku percaya di dunia bawah tanah. Ketua tim Mafia milikku, Demonio."
"Kakak Mafia?" Tanya El. Gadis itu menatap wajah suami tampannya itu. Setelah beberapa saat, gadis cantik itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan supaya dia tidak berteriak. "El istri mafia?"
"Iya. Kamu istri mafia. Para pria yang wajahnya tertutup tadi adalah bawahanku, James adalah ketua timnya. Mungkin kamu mendengar aku menyebut Diavolo tadi?" El mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Xavion. Tubuh gadis itu diangkat lalu ditaruh di atas pangkuan Xavion.
"Kenapa disebut Diavolo, Kak? El baru mendengar kata itu," tanya El antusias. Gadis cantik itu menempelkan telinganya di dada bidang suaminya dan mendengar jantung suami tampannya berdetak dengan cepat. Mungkin dia gugup karena harus menceritakan rahasianya?
"Diavolo memanggilku Imperatore dan istriku Imperatrice. Diavolo biasanya tidak menggunakan pin atau menunjukkan identitas dari mana mereka berasal. Biasanya mereka menyamar menjadi anggota mafia lain dan menggunakan lambang dari grup tersebut untuk mendapatkan informasi. Tapi, kamu harus ingat Bee, saat dalam bahaya dan melihat seseorang yang mirip dengan Diavolo, tanyakan padanya siapa dirimu."
"Jika dia menjawab Imperatrice maka kamu harus menjauh darinya. Diavolo sudah diberitahu jika ingin menghampirimu dalam kondisi darurat maka mereka harus memanggilmu Regina bukan Imperatrice."
"Kak, apakah ada hal khusus yang bisa membuat El tau jika mereka Diavolo milik Kak Xavion?" Tanya El penasaran.
"Ada. Tarik penutup wajah mereka. Diavolo milikku memiliki tato hitam kecil berbentuk ular di sudut bibir mereka. Tidak ada yang tau hal ini, karena tato itu akan menghilang jika pemilik tubuh meninggal."
__ADS_1
"El tidak percaya bisa menikah dengan seorang mafia," gumam El antusias. Sejujurnya gadis cantik itu sangat menyukai dunia mafia yang ada dalam novel yang dia baca. Gadis cantik itu sangat suka dengan tema tentang mafia. Dia selalu membayangkan jika suatu hari dia akan menikah dengan seorang pemimpin mafia. Siapa yang menyangka jika impiannya itu jadi kenyataan.
El tau jika kehidupan nyata tidak seindah apa yang diceritakan dalam novel. Dia juga tau seberapa berbahaya dunia bawah tanah itu baginya yang lemah, tapi dia memiliki Xavion, kan? Pria tampan itu akan menjaganya, lagipula dia tidak akan ikut campur urusan pekerjaan suaminya baik di perusahaan maupun di dunia bawah. Kecuali, suaminya membutuhkannya.
Jika ditanya apakah dia takut? Ya, El takut karena menikah dengan seorang mafia seperti Xavion. Yang membuat dia takut bukanlah tentang keselamatannya, tapi dia lebih takut suami dan anaknya akan terluka. Bisakah dia meminta Xavion berhenti berurusan dengan dunia bawah tanah saat mereka sudah mempunyai anak nanti?
"Kamu takut? Menyesal karena menikah denganku, Bee?"
"Kak Xavion gila? El justru senang dan bersyukur bisa mendapatkan suami seperti Kak Xavion, terlepas dari pekerjaan Kakak. Kamu tau Kak, jika El sangat menyukai tentang mafia saat membaca novel."
"Tapi dunia itu tak seindah yang kamu bayangkan, Bee." Ujar Xavion. Dia mengatakan seperti itu karena memang dunia bawah tanah itu sangat berbahaya dan kejam.
"El tau dan El menerimanya. Bukankah menikah memang untuk menerima kelebihan dan kekurang pasangan kita untuk saling melengkapi?" El tersenyum pada suaminya itu. Dia memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat dan menatap wajah suaminya.
Senyuman kecil muncul di wajah datar Xavion. Dia benar-benar tidak salah dalam memilih El sebagai istrinya. Apalagi ucapannya yang tulus dan tidak mempermasalahkan pekerjaan di dunia bawah tanah.
Bibir Xavion mendekati bibir istrinya itu, lalu menci*m lembut dan penuh rasa cinta untuk menyalurkan perasaan yang begitu besar. Tidak ada kata lain selain bersyukur karena telah diberi malaikat cantik dan baik hati seperti Maurelle Alexander sebagai istrinya.
"I love u, Bee. Terima kasih karena sudah mau menerimaku."
"El yang harus berterima kasih pada Kak Xavion dan juga Mommy karena sudah mau memilihku menjadi bagian dari keluarga kalian. Kalian memberikan gadis yatim piatu ini keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang tanpa melihat latar belakang El." Ucap El. Akhirnya dia bisa mengungkapkan rasa bahagia dan terima kasihnya pada pria yang sedang memangkunya ini.
__ADS_1
Andai saja bukan pria itu suaminya, akankah El bisa bahagia seperti ini?