Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
25. Penyesalan Xavion


__ADS_3

Xavion mencium telapak tangan istri kecilnya lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuan kelinci kecilnya--menunjukkan rasa penyesalan yang begitu besar di wajahnya. Pria yang terkenal datar dan kejam itu sekarang merasa bersalah pada istri kecilnya itu.


"Kak Xavion tidak salah, El yang terlalu berlebihan." Bantah El saat melihat sang suami menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang tidak dia lakukan. Bukan salah suami tampannya jika El ketakutan. Bukan salah suaminya jika ada pelayan yang berkhianat dan melakukan hal buruk.


Ini salahnya yang tidak bisa menahan rasa takutnya saat melihat lorong gelap itu. Andai saja dia bisa mengatasi rasa takutnya, maka dia tidak akan membuat suami tampannya menyalahkan dirinya sendiri.


"Kamu tidak berlebihan jika itu hal yang kamu takuti, Bee. Tidak ada seorangpun yang mengkritikmu karena hal itu."


"Kak Xavion juga tidak salah, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri. El merasa buruk menjadi istri karena membuat suami El seperti ini," ujar El menatap suaminya wajah sedih suaminya itu.


"Bangun Kak, ayo duduk di samping El."


Xavion mengikuti permintaan El untuk duduk di sampingnya. Pria itu merangkul pinggang istri kecilnya untuk mendekat padanya. "Sudah tenang? Tidak takut lagi?"


"Iya, El sudah lebih baik sekarang."


"Ke depannya kamu tidak akan menemukan lorong gelap lagi, jadi kamu bisa pergi kemana pun yang kamu mau."


"Terima kasih Kak Xavion, kamu selalu memberikan semua yang El butuhkan. Maaf jika El membuat Kak Xavion kesusahan." El mencium pipi suaminya sedikit lebih lama dari biasanya. Gadis cantik itu merasa bahwa dirinya adalah wanita yang paling beruntung di dunia, karena telah menjadi istri Xavion yang selalu memberikan apapun kepadanya.


Saat hendak melepaskan ciumannya, tengkuk El di tahan oleh Xavion. Pria datar itu m*nci*m bibir El dengan penuh perasaan.

__ADS_1


Tangan El yang ada di pinggang El menarik tubuh gadis itu supaya bisa lebih dekat dengannya. Mata abu-abunya menatap istrinya yang menutup mata sambil berc*um*n. Dia menggigit bibir bawah istrinya pelan untuk mau membuka mulutnya.


Bibir keduanya terlepas saat El memukul dada Xavion pelan menandakan bahwa dia mulai kehabisan nafas. Xavion tersenyum kecil melihat kelinci kecilnya meraup udara sebanyak mungkin saat c*um*n keduannya terlepas. Pria itu hanya fokus pada bibir sang istri yang sedikit membengkak.


"Kamu ingin liburan, Bee? Sahabatku mengajak kita ke pedesaan untuk berlibur," ucap Xavion. Dia ingin mendengar pendapat El, jika dia tidak ingin pergi maka mereka tidak akan pergi.


"El ikut Kak Xavion saja. Kalau Kak Xavion mau pergi, El pun akan pergi juga. Apapun keputusan Kakak, El akan mengikutinya."


"Baiklah, lagipula kamu pasti bosan tinggal di mansion saja. Tidak banyak orang yang akan ikut hanya dua sahabatku dan istri mereka."


"Kapan kita berangkat, Kak? Biar El menyiapkan keperluan kita nanti," ujar El. Dia lumayan antusias mendengar ajakan suaminya, apalagi kemungkinan dia bisa berteman dengan kedua istri sahabat suaminya itu. Mereka mungkin akan menjadi teman pertama El setelah menikah.


"Masih belum tau, aku tidak bertanya tadi. Biar saja, nanti akan diberitahu oleh pria gila itu. Dan tidak perlu repot-repot untuk mempersiapkan apapun! Biar pelayan yang melakukannya. Mengerti, Bee?" Tanya Xavion. Dengan mata abu-abunya, dia menatap El dengan intens supaya kelinci kecilnya menuruti ucapannya. Meskipun dia mengatakannya dengan lembut, tapi tetap ada ketegasan di dalamnya.


"Sekarang ayo kita makan, aku sudah lapar." El menurut saat tangannya di tarik oleh suaminya ke ruang makan. Kebetulan sekali El juga lapar, namun dia sungkan kepada suaminya itu. Apalagi setelah menangis membuat tenaganya habis terkuras.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya muda. Kami telah menyiapkan makanannya."


Xavion dan El duduk di meja makan yang sudah di penuhi dengan berbagai macam makanan. Karena sekarang memang sudah jam makan malam, jadi tidak mengherankan lagi jika makanannya sudah di tata rapi di meja sebelum Xavion menyuruhnya. Para pelayan meninggalkan mereka berdua supaya bisa menikmati makan malam mereka dengan tenang.


"Kak Xavion mau aku suapi?"

__ADS_1


"Tidak perlu. Kamu makan saja," tolak Xavion. El mengambil makanan untuk Xavion. Pria itu merasa senang karena istrinya mengambil makanan untuknya. Mereka mulai makan tanpa berbicara hanya suara dentingan sendok yang menyentuh piring.


....


"Morning."


El baru membuka matanya saat mendengar suara Xavion menyapanya. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, tubuh suami kekar suaminya hanya di balut handuk di bagian bawah perut. El memejamkan matanya saat keningnya di kecup sekilas oleh Xavion. Mata gadis itu mengikuti langkah suaminya hingga pria itu menghilang di balik walk in closet.


Gadis itu bangun dan mendudukkan dirinya di ranjang dan menyandarkan kepalanya di headboard. Hari ini dia bangun kesiangan padahal biasanya dia selalu bangun lebih dulu dibandingkan sang suami.


"Apa yang kamu pikirkan, Bee?" Tanya Xavion. Pria itu sudah memakai setelan lengkap berwarna hitam, berjalan mendekati istrinya yang melamun itu.


"El kesiangan, Kak." Ucap El seraya menundukkan kepalanya karena tidak mau menatap suaminya. Dia malu karena bangun telat, bahkan suaminya itu sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Seharusnya dia bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan segala keperluan suaminya itu.


"Lalu masalahnya dimana?" Tanya Xavion bingung. Apa salahnya jika kelinci kecil kesayangannya bangun kesiangan? Dia juga tidak akan mempermalasahkan hal itu sedikitpun. Istrinya bebas bangun kapanpun yang dia mau tanpa perlu khawatir dirinya marah atau sebagainya. Lagipula dia bangun terlebih dahulu untuk berolahraga dulu, lalu mandi dan bersiap pergi kekantor.


"Seharusnya El bangun duluan untuk menyiapkan keperluan suami El. Maaf Kak!"


"No problem. Itu bukan hal yang penting, kamu bebas mau bangun jam berapa, Bee. Aku tidak akan mempermasalahkannya."


"Ta--" Ucapan El terhenti saat merasakan sebuah benda kenyal menempel di bibirnya. Gadis itu terdiam karena serangan tiba-tiba dari suami tampannya itu. Xavion mencium dengan sangat lembut dan penuh cinta, sesekali El berusaha untuk membalas c*um*n Xavion dengan sebisanya.

__ADS_1


Xavion menarik ujung bibirnya sehingga membentuk senyum kecil saat merasakan kelinci kecilnya membalas c*um*nnya dengan kaku. Dia menggigit bibir bawah istrinya untuk dapat masuk ke dalam mulut kelinci kecil kesayangannya itu, untuk memperdalam c*um*n mereka.


Pria datar itu melepaskan c*um*nnya saat merasakan El memukul pelan dadanya, tanda gadis itu sudah kehabisan nafas. Xavion terkekeh kecil saat melihat bibir istri kecilnya membengkak karena ulahnya. Juga wajah kelinci kecil merona seperti buah ceri hingga membuat dia gemas dan ingin menggigit pipi itu.


__ADS_2